
"Woy sat, ngelamun aja, gue tahu nih, mikirin si Adel pasti kan lo, udah sih lupain aja, cewek masih banyak kali bro, ck lagian lo kan jagonya ngerayu cewek, masa layu cuma gara-gara ditinggal sama satu cewek, payah lo!" cerocos Iqbal, yang kini duduk disampinya.
"Ck, mana sih Satria yang gue kenal, gila man, jadi loyo kek gini!" timpal Galih.
Sore ini ketiganya nongkrong diBase camp yang terletak tidak jauh dari rumah Galih, untuk menghibur Satria yang sedang mengalami patah hati akibat di putuskan dan ditinggal pindah sekolah oleh pacarnya.
"Adel itu cewek yang paling gue sayang diantara cewek gue yang lain," balas Satria dengan suara sendunya.
"Beneran galau ternyata ni bocah." lanjut Iqbal sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Percuma Sat, si Adel udah pindah, elo bisa apa coba?" timpal Galih.
"Gue nggak yakin kalau gue bisa lupain dia, gue juga nyesel udah bohongin dia selama ini." Satria mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya dengan perasaan gusar.
"Gue nggak nyangka, ternyata playboy model lo ini bisa galau juga ya!" Iqbal terkekeh geli.
"Udah man udah, entar beban hidup ni bocah makin nambah lagi." balas Galih.
Tidak ada yang spesial di waktu kebersamaan nya sore itu, karena Satria sang biang rusuh hanya diam dengan wajah murungnya, terlebih saat Satria memilih pulang lebih awal di banding yang lainnya.
.....
Ditempat lain, Ando dan Nada menunggu dengan cemas kepulangan Satria, karena kini waktu sudah hampir memasuki waktu magrib, namun yang mereka tunggu tak kunjung pulang, membuat perasaan keduanya berkecamuk tak karuan.
Tidak biasanya putra mereka yang satu itu terlambat pulang seperti sekarang, karena di Hari-hari sebelumnya Satria akan pulang, paling telat sebelum Ashar.
"Kamu gimana sih Sat, masa nggak tahu Satria kemana, makanya kalau main itu bareng aja kenapa sih, kalian kan sodaraan." ujar Nada, menghampiri Satya yang sedang duduk sembari memainkan game favoritnya diatas sofa.
"Ck, itu kan dirumah bun, kalau disekolah ya beda lagi lah, punya temen masing-masing, lagian paling bentar lagi tuh anak pasti pulang kok," balas Satya santai.
"Kalau nggak gimana?" sambung Nada.
"Udah udah sayang, kita tunggu aja sebentar lagi, kamu ke kamar aja gih, biar aku yang nunggu si Satria disini!" ujar Ando menenangkan.
Akhirnya dengan segala bujukan yang Ando lakukan, Nada pun menurut dan bergegas kekamar nya.
............
"Dari mana kamu?" tegur Ando, saat memperhatikan salah satu dari anak kembarnya malam ini yang memasuki rumah dengan menegendap-ngendap layaknya seorang pencuri.
"Eh, ayah euhm_itu!"
"Duduk!" titahnya, membuat Satria repleks duduk dengan wajah tertunduk.
"Kamu tahu kesalahan kamu apa?" tanya Ando dengan nada suara yang terdengar sangat marah.
"Iya yah!"
"Apa?"
"Satria pulang terlambat!"
"Kamu ada menghubungi bunda kamu hari ini?"
Satria pun menggeleng.
"Jadi apa gunanya kamu punya ini hah?" Ando menarik paksa benda pipih dari tangan kanannya, yang repleks membuat Satria semakin menundukkan wajahnya takut.
"Satria minta maaf yah."
__ADS_1
"Apa alasan kamu pulang terlambat?" lanjut Ando, dengan nada suara yang sudah kembali seperti biasa.
"S-satria, main kerumah temen yah!"
"Yakin cuma karena itu?"
"I-iya!"
"Kamu tahu kan Sat, ayah paling nggak suka sama anak yang suka ngebantah, dan kamu juga tahu dari mulai abang kamu pun ayah tidak suka kalian keluyuran diluar, apalagi sampai telat pulang seperti sekarang."
"I-iya yah!"
"Dan ayah minta mulai hari ini kamu stop pacar-pacaran, inget ya sat, ayah sama bunda bukan baru cuma sekali dua kali lho ngomong soal ini ke kamu, berhenti pacar-pacaran dan fokus belajar, mau jadi apa sih kamu ini Sat,?"
"Tap_"
"Kamu contoh dari ayah, dari abang kamu, dari kembaran kamu, ada nggak di antara kami yang berpacaran saat seumuran kamu yang hanya seumur jagung itu hah?"
"Tap_"
"Sekali lagi ayah dengar, atau ayah menyaksikan sendiri kamu masih pacar-pacaran, ayah tarik semua fasilitas kamu, mengerti?"
"Tap_"
"Satria!" bentaknya, saat lagi-lagi Satria ingin melayangkan protes terhadapnya.
"Memangnya kamu sudah siap menikah di usia kamu yang baru 15 tahun ini, kamu bisa menafkahi istri kamu,?"
Satria pun akhirnya memilih diam, dan berjanji pada dirinya sendiri untuk meninggalkan semua pacar-pacarnya, terlebih kini gadis yang ia sayangi sudah pergi jauh dari sisinya.
"Yaudah sana temuin bunda kamu, dari tadi dia khawatir nungguin kamu."
.............
"Bun?"
"Kamu baru pulang nak, kemana aja sih tadi, kenapa nggak hubungi bunda kalau kamu mau pulang terlambat, kamu tahu bunda sangat khawatir sama kamu Sat, apa lagi waktu bunda lihat di berita banyak sekali anak-anak sekolah yang lagi pada tawuran." cerocos Nada, saat melihat putranya berdiri diambang pintu kamarnya.
"Maaf bun!" ucap Satria sembari memeluk bundanya.
"Lain kali jangan di ulangi lagi ya!"
"Iya bun."
"Barusan abis di marahin Ayah ya?"
Satria kembali menunduk, lalu mengangguk kecil.
"Semoga jadi bahan pelajaran buat kamu ya nak, ayah seperti itu bukan karena dia membencimu, justru karena ayah sangat menyayangi kamu, dan semua anak-anaknya,"
"Dan soal pacaran, itu juga ada waktunya sayang, mungkin kalau kamu sudah cukup umur bunda sama ayah juga nggak akan larang, bahkan jika kamu mau menikah sekalipun bunda pasti akan izinkan, tapi satu hal yang harus kamu tahu, seorang laki-laki yang sudah pantas menikah itu, dia yang sudah berpikiran dewasa, dan memiliki pekerjaan tentunya."
"Kamu mengerti?"
"Bukannya ayah juga dulu nikah muda, bang El juga?"
Nada kembali tersenyum, seraya mengusap lembut kepalanya.
"Ayah dulu berumur 19 tahun, bang El 18 tahun, dan mereka sama-sama sudah bekerja, dan juga karena keadaan yang memaksa mereka harus menikah di usia muda."
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Satria, yang baru berumur 15 tahun, suruh belajar mulai usaha nggak mau, seragam aja bunda yang siapin, bahkan makan pun masih sering bunda suapin, terus mau jadi suami model gimana dong?" lanjut Nada terkekeh geli.
"Yaudah gih mandi, makan, terus istirahat ya!"
"B-baik bun!" Satria pun berbalik menuju kamarnya.
Ditempat lain El yang sudah merebahkan tubuhnya beberapa jam lalu, sampai kini tak mampu memejamkan matanya, terlebih saat Kinar tak mau berbicara dengannya, hal yang semakin membuatnya gelisah.
"Yang!"
Hening...
"Sayang?"
"Apa sih?" Kinar membalikan badannya menghadap El, dengan raut wajah kesal.
"Ampun sayang, udah dong marahnya, aku janji mulai sekarang nggak bakal ngerokok lagi kok, tadi tuh cuma iseng, kebawa sama si trio kunyuk."
"Ck, dari kapan sih kamu mulai suka ngerokok, perasaan aku lihat ayah juga nggak pernah ngerokok deh!"
"D-dari kelas X, tapi jarang kok yang, sumpah!" balasnya seraya mengangkat 2 jarinya keatas.
"Jarang ya,?"
"Iya yang!"
"Tapi tetep suka ngerokok kan?"
El mengangguk, "Iya yang." dan detik kemudian ia membelakan matanya.
"Eh, maksud aku_"
"Ngeselin banget sih!"
"Iya iya, aku janji mulai sekarang nggak bakalan lagi yang!"
"Kalau ngelanggar?"
"Kamu boleh hukum aku."
"Yakin?"
"I-iya, sayang!"
"Jadi gimana, aku udah di maafin kan,?"
"Gimana ya!" Kinar mengetuk-ngetuk dagunya seperti sedang menimbang-nimbang ucapannya.
"Yang!"
"Yaudah aku maafin, tapi awas ya kalau diulang lagi." ancamnya.
"Jadi, udah boleh dong kalau sekarang aku_"
El menjeda ucapannya, sembari menatap Kinar, yang juga sedang menatapnya dengan kening berkerut.
"Yang?" El kembali bersuara takut-takut.
Tanpa ia duga Kinar beringsut mendekatinya, menarik tengkuknya, lalu menge cup bibirnya sekilas, "Boleh kok!" ucapnya kemudian, yang membuat El mendadak seperti tersengat listrik, saking kagetnya.
__ADS_1
.