Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Bi Rumi


__ADS_3

Sore ini El benar-benar menyuruh supir ayahnya untuk menjemput Kinar saat pulang dari Cafe, ia tidak mau kejadian kemarin terulang lagi, terlebih saat mendengar laki-laki asing yang bahkan tidak pernah ditemuinya mengantarkan istrinya pulang.


Untuk itu ia berinisiatif meminta izin ayahnya meminjam supir pribadinya.


..................


Sepulang dari Cafe, Kinar tak sengaja melihat bi Rumi ART baru dirumahnya, yang sedang membersihkan meja sofa, ia pun memutuskan untuk menghampirinya dan mengobrol sebentar, mengingat selama 4 hari ini ia belum begitu akrab dengannya.


"Bi?" sapanya lembut.


"Eh iya non, si non nya udah pulang, ada yang bisa bibi bantu?" balasnya sopan.


"Bibi jangan formal-formal gitu, panggil aja saya Kinar bi!"


"Sini bi duduk!" lanjut Kinar menepuk sofa di sebelahnya.


"Tapi non?"


"Ih sini bi duduk, nggak usah sungkan, saya itu pengen ngobrol sama bibi, bosan bi sendirian terus!"


"Eh, b-baik non," dengan gerakan pelan bi Rumi pun mulai mendekat, lalu duduk disebelahnya.


"Bibi asli orang mana?"


"Bandung, bibi mah non!"


"Oh sama ya, ibu saya juga dari Bandung."


"Eh meni kebetulan pisan ya, sekarang ibu non nya dimana?"


"Udah meninggal bi, satu bulan yang lalu."


"Maaf non bibi nggak bermaksud_"


"Udah bi nggak Apa-apa." Kinar mengusap punggung tangan bi Rumi seolah menenangkan bahwa ia baik-baik saja.


"Bibi punya anak?"


"Punya non 2, yang satu udah kerja, kalau yang satunya kayanya seumuran si Aden, Sama-sama masih SMA kelas XII."


"Begitu ya bi, kalau suami bibi?"


"Suami saya kerja jadi tukang kebun juragan Parta, tetangga saya non!"


"Kalau suami bibi mau, ajak aja kesini bi, tugasnya cuma jaga didepan kok bi, kebetulan saya dan El belum memiliki security, karena El memang nggak sempet nyari juga."


"Oh, A-ada lowongan non?"


Kinar mengangguk sebagai jawaban.


"Yasudah bibi akan segera hubungi suami bibi nanti, biar besok langsung kesini."


"Iya bi, lebih cepat lebih baik."


"Ngomong-ngomong sebelum bibi kesini bibi pernah kerja dimana aja?"


"Terakhir kemarin sih, dirumah tuan Surya, tapi bibi cuma bertahan 3 bulan aja non."


"S-surya Aditama bukan bi?"


"Iya non,"


"Anaknya Andra dan bayu?"


"Eh kok si non nya tahu?"


"Rekan kerjanya ayah mertua bi, bibi kenapa keluar dari sana, maaf ya bi kalau pertanyaan saya bikin bibi nggak nyaman."


"Iya non santai aja atuh sama bibi mah, gimana ya bibi tuh nggak enak aja non dengernya mereka itu tiap malem berantem terus."


"B-berantem gimana bi?"


"Menurut cerita yang bibi dengar sih, non Vita anaknya yang paling kecil itu bukan anaknya tuan Surya non, jadi nyonya Wulan itu punya simpanan." bisik bi Rumi.

__ADS_1


"M-masa sih bi?"


"Iya non,"


"Dan saya dengar, tuan Surya dan nyonya Wulan itu menikah karena bisnis kedua orang tuanya, jadi diantara mereka itu tidak saling mencintai."


"Yasudah non maaf bibi tinggal dulu ya, bibi lupa lagi manasin sayur dibelakang."


"Iya bi nggak apa-apa, terimakasih banyak lho bi, udah mau nemenin saya ngobrol."


"Ih si non meni bilang Terimakasih segala atuh, yaudah bibi kebelakang ya non!"


"Iya bi, silahkan!"


Setelah kepergian bi Rumi, Kinar pun bergegas memasuki kamarnya, membaringkan tubuh lelahnya diatas kasur, Namun, saat ia hendak memejamkan matanya tiba-tiba ucapan bi Rumi tadi terngiang-ngiang memenuhi isi kepalanya.


Ia memikirkan tentang perasaan ayahnya saat ini, bahagiakah ia atau justru sebaliknya.


....


"Huuhhf!" El menghela nafas lega, saat melihat hasil pekerjaannya, dan selesai di waktu yang tepat.


"Sal, gimana keadaan si Dito, udah baikan?" ujar El sembari melepas sarung tangannya yang dipenuhi oli.


"Belum, gue denger sih tuh bocah musti dirawat beberapa hari lagi,"


"Sakit apa sih dia sebenernya?" timpal Alvin.


"Kata emaknya sih typus, terus dehidrasi juga." balas Salman, sembari merebut air mineral dari tangan Hilman.


"Anjirr minum gue!" protes Hilman.


"Pelit lo!" mengembalikan botol air mineral yang tersisa setengah.


"Terus si Akbar gimana?" lanjut El, melirik kearah Salman.


"Ibunya baru boleh pulang minggu besok bos, jadi kemungkinan besok belum bisa masuk kerja."


"Yaudah gini aja, besok bengkel nya tutup setengah hari, kita tengokin si Dito, sama ibunya si Akbar, gimana?"


"Iya gue juga!" timpal Salman dan Hilman bersamaan.


"Ok deal ya, berarti besok kita kesana,"


"Siap bos!"


Pukul 17:13 El baru sampai dirumahnya, dengan wajah kusut dan lelah, hampir 2 hari ini ia memperbaiki mobil pick up milik pak Imam, yang mengalami kecelakaan dan mengakibatkan kerusakan yang lumayan parah, sedangkan 2 karyawan seniornya tidak masuk kerja selama beberapa hari ini,


Ketiga anak buahnya yang lain, belum mahir mengerjakan yang separah itu, sehingga mau tidak mau akhirnya El yang mengerjakan nya sendiri.


"Yang, kok bengong sih?" ujar El yang sudah berada di samping istrinya yang duduk termenung di atas kursi plastik, dengan pandangan mengarah keluar jendela.


"Eh, udah pulang?" tanyanya, seraya memaksakan senyumnya.


"Kok mukanya sedih gitu, kenapa hm?" ucapnya, sambil mengusap rambutnya lembut, dan tanpa El duga, Kinar memeluk tubuhnya erat.


"Kenapa sih yang?" lanjut El, karena Kinar hanya diam dengan tubuh bergetar seperti sedang menangis, dan akhirnya El pun membiarkan Kinar menangis dalam pelukannya sampai ia benar-benar merasa lega.


"Kenapa?" tanya El lembut, saat Kinar sudah melepaskan pelukannya.


"Saya kangen ibu El." ucapnya dengan air mata yang kembali mengalir dari kedua pipi cantiknya.


"Yaudah, minggu besok, kita berkunjung ke makam ibu kamu ya!"


"Boleh?"


"Boleh sayang, kenapa nggak?"


"Makasih El," ucapnya, dan kembali memeluk tubuhnya erat.


"Mandi gih bau!"


"Dih, tadi aja di peluk-peluk," goda El seraya tersenyum geli.

__ADS_1


"Buruan, katanya mau kerumah om Gavin, nggak jadi emang?"


"Udah bisa bawel ya sekarang?" ucap El Sambil terkekeh.


"Ihs buruan!"


"Siap bos!"


Cup..


El mencuri satu ciuman di pipi Kinar, yang membuat sang pemiliknya melotot kearahnya, sedangkan El melompat menuju kamar mandi sambil tergelak.


...


"El, kirain nggak jadi dianterin hari ini, bunda mu bilang, katanya kamu lagi sibuk." ucap Om Gavin, sembari menerima kue yang di angsurkan El padanya, ketika Kini El baru sampai dirumahnya.


"Kebetulan tadi sore udah selesai, jadi saya bisa kesini tepat waktu om!"


"Iya iya, ngomong-ngomong ini siapa?" tanya om Gavin dengan suara yang setengah berbisik.


"Oh iya kenalin om, ini Kinar istri saya!"


"Hah?" om Gavin membelalakan matanya, dengan mulut menganga tak percaya.


"Seriusan, kapan nikahnya, wah kagak lucu ni anak bercandanya."


"Seriuslah om, masa bohongan!"


"Pokoknya besok, gue kudu main nemuin si Ando, enak aja tuh bocah punya mantu kagak ngabar-ngabarin gue!"


"Masih di rahasiain Om, nanti kalau saya udah lulus, ada resepsi nya kok!"


"Ah pokoknya gue belum percaya kalau belum ketemu sama si Ando langsung!"


"Terserah om aja deh, yaudah kita pamit ya om, titip salam buat tante Raya."


"Lah mau kemana, Buru-buru amat?"


"Kan om bilang besok mau main kerumah ayah, jadi sekalian aja ngobrol nya juga besok!" balas El sambil terkekeh.


"Bisa banget lu bocah, eh ngomong-ngomong pinter juga lo ya nyari cewek, cakep, bening, udah persis kek bapak elu dulu inimah."


"Bisa aja si om,"


...


Sepulang dari rumah om Gavin, El pun segera menyeret Kinar kedalam kamar, dan dengan satu gerakan ia berhasil mengunci pintu kamarnya.


"E-el mau ngapain?" tanya Kinar, yang melihat El mulai membuka kancing bajunya satu persatu.


"Menurut kamu?" balas El dengan senyum menggoda.


"I-ini masih sore El!" ujar Kinar, yang sontak membuat El segera melirik kearah jam di dinding.


"Jam 8 malem sayang," ucapnya seraya menghampiri Kinar, yang sudah berdebar sekaligus bergetar.


El duduk disamping Kinar yang sedang menunduk, kemudian dalam satu tarikan, Kinar pun sudah duduk dipangkuan El.


"E-el lepasin." Kinar berusaha untuk membrontak agar terlepas dari pangkuannya, namun tangan El menahannya kuat.


"Diem yang!"


"Yang, aku ingin ada sesuatu yang tumbuh disini!" ucapnya, sembari menyentuh perut Kinar dengan tangan kanannya.


"M-maksud kamu?"


"Aku ingin seorang bayi!" balas El sungguh-sungguh.


"B-bayi?"


"Iya sayang, kamu udah siap kan jadi ibu dari anak-anaku?"


Kinar terdiam, dengan nafas tercekat, ada sesuatu yang saat ini ia takutkan jika El mengetahui kebenarannya, entah ia akan marah, atau bahkan akan sangat membencinya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2