
"Ah gue tahu, lo bawa Kinar cuma buat bikin si Jihan nyerah doang kan, terus berhenti ngejar-ngejar elo!" ujar Bian.
El menoleh kearah Kinar yang terdiam, dengan tatapan tak terbaca.
"Berisik banget sih lo berdua, gue malem ini bawa dia, karena emang dia pacar gue." ucap El sembari merangkul bahu Kinar.
"Gila, bohong lo, kagak percaya gue!" Bian menggelengkan kepala.
"Serah!" El menggidikan bahunya acuh.
"Jadi beneran?"
"Benerlah."
"Gila lo tega banget nikung gue dari belakang, padahal kan kemarin gue udah cerita ke elo, kalau Kinar itu, udah jadi gebetan kita berdua, gue sama si Bian." timpal Yoga tak terima.
"Dan nyatanya, gue sama Kinar, udah pacaran 2 minggu yang lalu."
"Anjirrr ian, kagak jadi lagi gue punya pacar!" seru Yoga memeluk tubuh Bian, dengan suara tangis yang terdengar sangat menggelikan.
"Geli gue dengernya, Ayo masuk sekarang aja, kasian cewek gue kedinginan!" ujar El, sembari menggenggam tangan Kinar, yang membuat kedua sahabatnya, memalingkan wajah nya secara bersamaan.
Saat memasuki rumah mewah di bagian lantai satu, yang sudah di penuhi anak-anak muda laki-laki dan perempuan, perasaan Kinar sudah mulai tidak menentu.
Kinar merasa tidak percaya diri, pasalnya dilihat dari gaya pakaian yang mereka kenakan Kinar yakini mereka semua adalah anak-anak golongan orang berada, sedangkan dirinya hanyalah gadis yang sangat biasa.
Hingga suara El yang masuk ketelinganya, membuyarkan Kinar dari lamunannya.
"Lo gugup?" bisik El.
"Saya nggak nyaman disini El."
"Sabar ya, bentar doang, abis itu kita pulang!"
Tak bisa berbuat apa-apa, akhirnya Kinarpun hanya pasrah, mengangguk, dan menunggu, hingga El membawanya kembali pulang.
Sedangkan di tengah-tengah ramainya pesta, seorang gadis yang memakai gaun putih ala princes, dengan sebuah mahkota peri dikepalanya, yang ia yakini adalah sang pemilik pesta, kini sedang menatap sinis kearah nya, dan membuat Kinar kini mengerjap gugup.
Kebanyakan perempuan yang berada disana melempar tatapan kagum pada sosok El, yang malam ini memang terlihat jauh lebih cool di banding biasanya saat disekolah, namun tak sedikit dari mereka menatap sinis kearah Kinar, yang kini tangannya tengah digenggam mesra oleh El.
"Sorry sorry," tiba-tiba ada seseorang yang datang entah dari arah mana, menumpahkan minumnya kearah sneakers putih yang sedang dikenakan El, membuat sneakers putih itu berubah warna menjadi putih kemerahan.
"Yaudah nggak apa-apa!" balas El dengan perasaan kesal.
Setelah perempuan yang menumpahkan minuman tadi pergi, kini
Pandangan El menyapu tiap sudut rumah itu, untuk mencari keberadaan Yoga dan Bian, namun ternyata mereka tidak ada, apa mungkin mereka marah padanya pikir El.
"Lengket banget Nar, lo tunggu bentar ya, jangan kemana-mana, gue ketoilet dulu." ujar El sembari menarik Kinar, agar menunggu di tempat yang tidak terlalu ramai saja.
__ADS_1
Namun, baru saja beberapa detik El pergi dari hadapannya, tiba-tiba 2 orang perempuan datang menghampirinya, dengan tangan bersidakep, dan menatap jijik kearahnya.
Kinar yang sama sekali tidak mengerti apa-apa hanya bisa memandang bingung pada keduanya.
"Ayo Jih, kasih pelajaran aja nih si cewek kampung, bisa-bisanya malam ini dia jalan sama pangeran pujaan elo! " ucap dari salah satunya.
"Bener Jih, lo harus bertindak, jangan lo biarin si cewek kampung ini ngerasa menang!" ucap yang satunya lagi.
Byuurrr..
Jihan kemudian mengguyur kepala Kinar menggunakan segelas minuman yang berada ditangannya.
"Lo siapa hah? beraninya lo datang ke pesta gue, dan pake acara gandeng tangan cowok gue segala, cewek kurang ajar, gue nggak rela pangeran gue deket sama cewek kampung kaya elo!"ucapnya dengan emosi yang meluap-luap.
Lalu perempuan yang bernama Jihan itu hendak menampar pipi Kinar, namun tangannya tergantung diudara saat tangan seseorang menahan tangannya kuat-kuat dari belakang.
Ia berbalik dan terkejut, saat mendapati sosok pujaan hatinya sedang menatap nyalang kearahnya, begitupun dengan rahang laki-laki itu yang terlihat mengeras dengan gigi bergemelatuk.
"Gue harap ini peringatan yang pertama dan terakhir, sekali lagi gue lihat elo nyentuh cewek gue, gue nggak akan segan-segan buat patahin tangan elo!" ujar El Sarkas, lalu menarik Kinar dan membawanya keluar.
..
"Lo nggak apa-apa?" ujar El, ketika melihat Kinar hanya menunduk dengan wajah memucat.
"Gue minta maaf Nar, gue udah 2 Kali lalai jagain elo!" sambung El, lalu menarik gadis itu kedalam pelukannya.
Setelah Kinar merasa tenang, El pun segera membawanya untuk pulang.
...
"Lho kok udah pulang,?" ujar Nada ketika berpapasan dengan keduanya yang hendak menaiki tangga.
"Euhmz i-itu_"
"Kinar ngantuk bun," potong Kinar cepat.
"Masa sih?" Nada pun melirik jam dinding yang baru saja menunjukan pukul 20:27 malam.
"Tapi kok muka kamu pucat gitu sih sayang, si El nggak bikin masalah kan sama kamu,?" tanyanya dengan tatapan menyelidik kearah putranya.
"Nggak kok bun, nggak!"
"Awas aja kamu El, kalau sampai bikin masalah sama Kinar, bunda cincang entar, di bikin rica-rica sekalian." ucap Nada, yang membuat El membelalakan matanya.
"Eh bunda jangan gitu dong!"
"Makanya, dengerin apa kata bunda, jangan iya-iya doang!"
"Iya bunda sayang!" El memperlihatkan senyum terbaiknya.
__ADS_1
"Jangan senyum, jelek!"
"Dih, salah mulu."
"Udah sana, kalian berdua istirahat, bunda juga mau istirahat!" lanjut Nada, yang diangguki oleh keduanya.
...
Setelah mengganti gaunnya menggunakan baju tidur, Kinarpun duduk di meja rias untuk menghapus sisa make up tipisnya, lalu Menyiapkan seragam kerjanya, untuk besok pagi.
Namun, saat ia hendak menutup pintu lemari, sepasang tangan kekar memeluk tubuhnya dari belakang, yang membuat tubuh Kinar membeku seketika.
"Lo ngerasa nggak sih, kalau malam ini dingin banget!" bisik El, yang semakin mengeratkan pelukannya.
Meski dengan perasaan yang tak karuan, Kinar mengangguk mengiyakan, karena saat ia tiba dirumah tadi, tiba-tiba turun hujan yang lumayan besar, sehingga mengakibatkan cuaca malam ini terasa begitu dingin.
"E-el b-bisa lepas nggak?" ujar Kinar, sembari menyentuh punggung tangan El yang berada diatas perutnya.
"Bentar lagi ya, gue masih pengen begini!" balasnya, membuat tubuh Kinar semakin meremang, terlebih hembusan nafas El yang terasa hangat menerpa lehernya.
Setelah beberapa saat keduanya di posisi yang sama, El pun melepaskan kedua tangannya, lalu membalikan tubuh Kinar, hingga posisinya menjadi saling berhadapan.
El mengangkat dagu Kinar agar menatap matanya, kemudian Ibu jarinya bergerak mengelus dan menelusuri bibir Kinar yang berwarna merah alami itu.
"Nar?" ucapnya dengan suara serak.
"Hmm!" balas Kinar, dengan mata yang mengerjap-ngerjap lucu.
"Elo udah pernah ciuman sebelumnya?"
Kinar menggeleng, "B-belum." jawabnya polos, membuat El tersenyum tipis.
"Jadi kemarin itu yang pertama?" lanjutnya, yang kembali diangguki oleh Kinar.
"Jadi boleh dong, kalau sekarang kita coba lagi?"
Tanpa menunggu jawaban darinya, El segera menarik tangan Kinar dan mendudukannya dipinggir kasur.
Menarik tengkuknya, kemudian memiringkan wajah, memberikan ciuman dalam di bibir gadis yang berstatus istrinya itu.
Sedangkan Kinar hanya diam, menerima serangan dari El, tidak tahu harus melakukan apa, karena ini merupakan pengalaman pertamanya.
El, melepaskan sejenak pagutannya, namun detik kemudian ia melanjutkan kembali, kali ini El mel umat dalam bibir Kinar dengan lembut dan menuntut, membuat Kinar mengerang pelan, dan tanpa sadar meremas kerah kemeja milik El.
Kinar mendongak menatap wajah El, ketika El telah melepaskan ciumannya, darahnya berdesir hebat, dengan detak jantung yang tak beraturan.
Sedangkan El, ia kembali mengusap lembut bibir Kinar, menggunakan ibu jarinya, yang setengah bengkak akibat ulahnya.
"Gue bakal ngelakuin yang lebih, kalau elo udah siap!" ujar El, lalu naik keatas kasur, dan merebahkan dirinya disana.
__ADS_1