Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Ikan mas bule


__ADS_3

"Kamu kenapa sih Jih, mama perhatiin kok Akhir-akhir ini kamu jarang keluar, wajah kamu juga pucet gitu, kamu sakit?!" ucap Widia, setelah memperhatikan tingkah putrinya yang semakin hari yang baginya semakin terlihat sangat aneh.


"Jihan cuma lagi males keluar aja ma, bawaannya ngantuk, pengennya tiduran terus." balas Jihan.


Sedangkan Widia hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan putri kesayangan nya itu.


"Kamu tuh jangan males-malesan gini dong sayang, kalau kakek kamu tahu, bisa-bisa dia beneran buktiin ucapannya, dan mama nggak sudi ya, kalau sampai harta warisan kakek kamu itu jatuh sama anak kampung itu."


"Maksud mama apa sih?!" Jihan berjalan gontai menghampiri mamanya, yang sedang berkacak pinggang diambang pintu kamarnya.


"Ck, kamu itu pura-pura lupa apa gimana sih,?"


"Jihan beneran nggak tahu ma."


"Waktu itu kakek pernah marah-marah sama mama karena kamu selalu pulang malem, keluyuran, mabuk-mabukan, dan kakek kamu bilang, kalau kamu masih begini terus, kakek nggak bakalan segan-segan coret nama kamu dari daftar warisnya Jih."


"Alaahh, nggak usah di percaya lah ma!" Jihan mengibaskan tangannya, sambil tertawa garing, "itu tuh cuma akal-akalannya kakek aja buat Nakut-nakutin aku."


"Kamu itu emang susah ya kalau dibilangin, kalau udah kejadian aja nanti kamu nyesel sendiri!" lanjut Widia, lalu keluar dari kamar anak gadisnya itu dengan perasaan kesal.


Setelah kepergian mamanya, Jihan pun menghela nafas, kemudian menutup pintu kamarnya, lalu berjalan menuju meja rias, menarik kursi dan mendudukan dirinya disana.


Jihan menatap wajahnya di pantulan cermin, wajah yang beberapa hari ini terlihat pucat dan kusam, namun ia sama sekali tak berniat untuk merawat atau sekedar membersihkan nya.


Jihan memijit dahinya yang berkedut nyeri, lalu tak sengaja ia menjatuhkan sebuah benda yang berada di meja rias.


"Andra Alvaro." gumamnya, setelah meraih benda tipis yang merupakan sebuah kartu nama seseorang.


Jihan tersentak, ingatannya kembali pada saat ia bertemu dengan seorang laki-laki didalam kamar Bar 2 bulan yang lalu dalam keadaan tanpa busana.


Saat dirinya bersikeras menolak tanggung jawab dari Andra, laki-laki itu pun bersikeras memberikan kartu namanya, dan berharap suatu saat Jihan akan mencarinya.


"2 bulan?" gumamnya lagi, gegas ia mengambil Kalender kecil yang berada diatas nakas, dan matanya membulat seketika, saat ia menyadari bahwa selama dua bulan ini ia belum kedatangan tamu bulanannya.


****************


"Susah bang, dari tadi kagak ada yang nyangkut, malah umpannya yang abis!" ujar Satria yang sudah menggerutu sejak tadi, sore ini El dan Kinar, serta si kembar sedang berkunjung ke rumah Oma sarah, tepatnya untuk melaksanakan keinginan calon bayi yang menginginkan ikan hasil pancingan sendiri di empang Oma nya.


Kehamilan Kinar yang pertama kalinya ini begitu disambut antusias oleh keluarga El, terutama Oma sarah, bahkan si kembar Satria dan Satya pun turut bahagia, menyambut keponakan pertamanya itu.


"Lo mending cuma abis umpannya, lah gue malah dapet sendal bekas Oma coba, tahu nih entar-entar dapet apa lagi." sahut Satya, yang tak kalah menggerutu.


"Lo berdua kagak ikhlas banget sih dari tadi ngomel mulu!" sergah El menoleh kearah keduanya, yang berada di sisi kanannya.

__ADS_1


"Ini tuh bukan soal ikhlas kagak ikhlasnya bang, tapi tangan gue udah kesemutan nih," sahut Satya.


"Elahhh lo ribet banget deh Sat, tinggal di buang tuh semutnya, gampang kan, gue aja yang ketawonan biasa aja tuh!" timpal Satria.


"Ngomong paan sih lho, gak ngerti gue!" Satya terlihat sangat frustasi, sedangkan Satria hanya menggidikan bahu acuh.


"Emang harus banget ya bang, ikan mas nya yang warna bule ada totol-totolnya, coba deh lo tanya kak Kinar, kagak bisa nawar gitu bang, diganti ikan mas yang warna item aja." lanjut Satya.


"Ck, mana bisa ditawar, lo pikir ini lagi transaksi jual beli apa?!" Kembali Satria menyahut.


"Ya kali aja bisa nawar gitu."


"Lo nawarin ikan mas warna item juga percuma," balas El.


"Maksudnya gimana bang?!" Satya yang sudah kembali fokus menatap pancingannya pun menoleh kearah kakaknya itu.


"Ck, apa yang mau lo kasih coba, lo aja dari tadi cuma dapet sendal bekas!" ucap El yang memandangnya kesal, sedangkan Satya hanya menyengir kuda.


Setelah 3jam lamanya, akhirnya ikan yang diharapkan pun nyangkut di pancingan Satria, membuat El berbinar senang.


"Gue heran deh bang, kok elo yang seneng sih dapet tuh ikan, bukannya yang pengen kak Kinar ya, jangan bilang ini cuma akal-akalan lo lagi, terus ujung-ujungnya lo juga yang makan, ngaku lo bang?" Satria menatapnya dengan tatapan menuduh.


"Suudzon mulu sih hidup lo,"


El pun mengangguk, seraya berjalan menuju dapur Omanya.


"Kok lama sih El, pada betah ya diem di empang?" ujar Oma yang kebetulan sedang berada didapur.


"Ck, bukan betah Oma, tapi nggak dapet-dapet, nih berjam-jam cuma dapet satu doang!" El menunjukkan ember yang berisi satu ikan mas berwarna bule totol-totol di dalamnya.


"Ah kalian payah, kalau opa yang mancing udah dapet banyak pasti."


"Ya salahnya Opa nggak ada dirumah."


"Namanya juga sibuk El, terus itu ikannya mau di masak dulu disini apa nggak?"


"Tar aja dirumah deh!"


"Yaudah entar Oma suruh bi Salma yang bersihin ya!"


"Ok, oh iya Oma punya makanan nggak, laper nih."


"Tuh di kulkas banyak,"

__ADS_1


El menganggukkan kepala, seraya berjalan kearah kulkas. "El ambil semua boleh nggak?"


Oma menggelengkan kepala, kemudian tersenyum.


"Boleh!"


"Bininya yang bunting, lakinya yang doyan makan." ucap Satya, sembari mencomot snack dari tangan El.


"Ck, lo kalau mau tinggal bilang, apa susahnya si!" El memberikan satu kantong cemilan pada Satya, membuat Satya tersenyum lebar.


"Lah gue yang dapet ikannya kagak di kasih juga nih!" sambar Satria yang baru saja datang, dibelakang nya.


"Ini bukan cemilan lo, ini cemilan khusus yang berwujud manusia," sahut Satya.


"Anjirr, lo pikir gue s*tan?"


"Lebih tepatnya sih temennya."


"Sekate-kate banget lo ngomong, gue sumpel juga lo pake sem pak bekas!"


"Ck, ini nih yang bikin gue bahagia pisah rumah sama lo berdua!" Ujar El yang terlihat menghela nafasnya.


"Maksudnya apaan nih bang?" Satya menatap nya bingung.


"Karena ada lo berdua itu berasa bukan dirumah tahu nggak, tapi berasa di hutan!"


"Tahu tuh si Satria, biang rusuh emang dia!"


"Anjirr si kamvret nyalahin gue." Satria tak terima.


"Emang iya,"


"Lo aja kali!"


"Lo!"


"Lo."


"Lo."


"Lo."


El memijat dahinya, lalu bergegas meninggalkan keduanya, yang masih berdebat.

__ADS_1


__ADS_2