
"Elo, ngapain lo disini?!" ujar Jihan ketus.
"Kamu nangis?" Kinar balik bertanya, sama sekali tak memperdulikan pertanyaan Jihan.
"Apa peduli lo!"
"Jihan, kita itu Saudara kalau kamu lupa?"
"Dan gue nggak sudi punya sodara kek lo, lo udah ngancurin hidup gue, gue benci sama elo!"
"Aku harus apa agar kamu mau berdamai sama aku Ji?"
"Serahin El ke gue,"
Kinar menggeleng, ''Maaf untuk yang satu ini aku nggak bisa Ji, aku nggak mungkin ngelepasin El gitu aja, aku dan El saling mencintai, dan kami saling membutuhkan satu sama lain, aku harap kamu ngerti Ji!"
"Pergi!" usir Jihan histeris.
"Pergi lo cewek kampung sialan!"
"Ji, kamu kayaknya sakit ya, aku pesenin Taxi, atau ojek ya, muka kamu udah pucet gitu Ji, khawatir kamu kenapa-napa."
"Pergi lo, dan nggak usah sok-sok an perhatian sama gue, gue nggak butuh belas kasihan dari lo, dasar cewek kampung!"
"Kamu boleh ngatain aku apa aja Ji terserah, tapi kamu pulang ya, apa aku perlu telponin kakek buat jemput kamu?"
"Gue nggak mau pulang, gue mau mati aja disini!" ujarnya, lalu mulai memanjat pagar jembatan tersebut.
"Ji, jangan Ji, aku mohon jangan!" Kinar berusaha memegang tangan Jihan sekuat tenaga.
Dari kejauhan, Satria pun mulai panik, lalu ikut menghampiri Kinar.
"Woii, lo cari mati ya, gue kasih tahu ni ya, kalau lo lompat dari jembatan ini kagak bakalan bikin lo mati tahu nggak, yang ada lo patah tulang doang, kalau lo mau, gue rekomendasiin tempat yang lebih tinggi, biar sekali lompat lo langsung mati!" ujar Satria, saat sudah sampai didekat Jihan, membuat gadis itu repleks menoleh kearahnya.
"Ngapa lo diem, mau tetep lompat disini apa mau ganti tempat?" lanjut Satria, sembari mengusap peluh yang bercucuran di dahinya.
"Ini siapanya lo sih kak, ngapain coba nolongin orang yang mau bunuh diri, biarin aja sih kalau dia mau mati sekarang, biar jasadnya dimakan buaya sekalian!" lanjut Satria kesal.
"Sat?" Kinar memperingatkan Satria melalui tatapannya.
"Ck, sodara lo emang?"
__ADS_1
Kinarpun mengangguk kecil.
"Kagak salah nih lo punya sodara macem dia, perbedaan nya jauh banget kak, lo itu semacem jelmaan bidadari, lah dia_"
"Lebih mirip mbak kunti sih menurut gue!''
" Sat?"
"Ck, gue itu kalau ngomong apa adanya kak, gue kagak suka bohong!"
"Ihs."
"Jadinya gimana nih bunuh dirinya, mau sekarang apa mau di tunda sampe besok, pegel nih gue nungguin elo dari tadi malah diem nyimak obrolan kita, kagak lompat-lompat, sebenarnya lo niat bunuh diri apa kagak sih!" lanjut Satria dengan santainya.
"Ji, ayo turun yuk kita pulang, kamu harus inget Ji, kamu itu punya nenek, kakek, mama kamu yang selalu sayang sama kamu."
"Gue nggak mau!''
"Jihan, apa sih yang buat kamu jadi kaya gini, kalau kamu punya masalah itu bisa diselesaikan secara baik-baik Ji, nggak perlu kaya gini, semua orang juga pasti pernah melewati masa-masa yang sulit, tapi mereka berusaha kuat dan bangkit lagi."
Jihan menjatuhkan diri kembali duduk, dengan wajah menunduk, meski Kinar tidak tahu betul dengan kehidupan Jihan, akan tetapi sangat terlihat sekali di mata Kinar bahwa gadis itu sedang mengalami masalah yang sangat berat.
"Kamu cerita sama aku Ji ada apa, untuk saat ini kamu lupakan dulu siapa aku, kamu anggap aja aku sahabat atau mama kamu."
"G-gue hamil!" ujar Jihan, pikirannya kini sudah Sangat kacau, bahkan ia tak peduli lagi dengan siapa saat ini dirinya berbicara.
"Bunting ternyata, lah tinggal bilang ke lakinya gampang kan, atau lo kagak tahu lagi siapa bapaknya tuh cebong." sahut Satria, yang langsung mendapatkan tatapan garang dari Kinar.
"Kamu tahu kan Ji ayah dari anak kamu?"
Jihan mengangguk, dengan wajah yang masih menunduk.
"Kenapa kamu nggak minta pertanggungjawaban aja sama dia, terus kalian nikah secepatnya."
"Gue nggak cinta sama dia, dan gue nggak mau nikah sama dia, pokoknya gue mau anak ini mati aja, gue nggak mau nanggung malu sendirian."
"Yaampun Jihan, anak kamu ini nggak berdosa Apa-apa Ji, jangan kaya gini, ini udah bukan waktunya kamu terus egois, dan mengejar dunia kamu sendiri, aku yakin suatu saat jika kalian terus bersama, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya Ji percaya sama aku."
"Elo ngomong kaya gini, karena lo nggak pernah ngalamin apa yang gue alamin sekarang kan?"
Kinar tersenyum, "Mungkin aku nggak mengalami kehidupan yang kamu alami Ji, tapi aku udah pernah mengalami hidup lebih sulit dari yang kamu kira, kamu tahu Ji, sejak aku bayi aku nggak pernah diharapkan oleh keluarga ayahku, dan aku hanya hidup berdua dengan ibu, untuk biaya sekolah pun aku harus banting tulang bekerja membantu ibu."
__ADS_1
Jihan terdiam, namun detik kemudian ia menatap Kinar dengan tatapan mengejek.
"Jadi julukan yang gue kasih sebagai cewek kampung cocok kan buat elo?"
Kinar kembali tersenyum, sama sekali tak merasa terluka oleh ucapan saudara nya itu, Kinar yakin bahwa sebenarnya Jihan adalah gadis yang baik. batinnya.
"Sat, kamu pulang sendiri aja ya, kakak mau bawa Jihan ke suatu tempat."
"Waduh jangan gini dong kak, bisa berabe gue, elo kan kagak boleh kemana-mana sama bang El, terus tadi lo kan berangkat juga bareng gue, kalau lo kenapa-napa bisa-bisa entar gue yang jadi tersangka nya!"
"Udah kamu tenang aja ya!"
"Tapi kak_"
"Udah nggak apa-apa!"
"Ayo Ji, ikut aku!" Kinar pun mulai memapah tubuh Jihan, meski awalnya gadis itu terus menolak, namun dalam keadaan tubuhnya yang sudah lemah, Jihan pun hanya menurut.
Kinar terus melangkah menuju jalan utama, bersama Jihan yang berada disampingnya, lalu kemudian menghentikan sebuah Taxi.
"Klinik?" tanya Jihan dengan kening berkerut, saat Kinar menghentikan Taxinya disana.
"Iya, kita periksa kandungan kamu ya Ji."
"Gue nggak mau!" bentak Jihan.
"Gini Ji, kamu coba lihat dulu perkembangan janin didalam perut kamu, abis itu terserah kamu maunya gimana!" ujar Kinar, dalam hati ia berharap setelah ini Jihan mau mempertahankan kandungannya.
"Kamu tunggu bentar disini ya!" Kinar menyuruh Jihan duduk di kursi antrian pasien, sedangkan ia mulai melakukan pendaftaran.
Kinar tersenyum senang, saat resepsionis itu mengatakan, bahwa Ultrasonografi (USG) di klinik ini tersedia.
Setelah 15 menit menunggu giliran, akhirnya nama Jihan pun terpanggil.
"Di apain?" ujar Jihan, menoleh kearah Kinar, saat salah satu perawat mulai mengoleskan gel diatas perutnya.
"USG Ji, lihat perkembangan janin kamu, nggak apa-apa kok nggak sakit sama sekali." Balas Kinar untuk menenangkan kecemasan Jihan.
"Nah itu dia janinnya, udah kelihatan kan, usianya baru 8 minggu dan mungkin besarnya baru sebesar kacang tanah ya, dan janinnya sangat sehat!" ujar Dokter menjelaskan, saat Jihan hanya diam dengan mata yang tak berhenti berkedip menatap layar yang menampilkan mahluk kecil yang sedang tumbuh di perutnya itu.
.
__ADS_1
.