
"El menurut kamu pak Surya tahu alamat rumah ini dari siapa ya?" ujar Kinar pagi ini saat El hendak berangkat dan menaiki motor kesayangan nya.
"Kalau aku kasih tahu kamu bakalan marah?" tanya El, takut-takut.
"Nggak kok, aku nggak bakal marah, aku kan cuma bingung aja padahal kan belum banyak yang tahu soal alamat rumah ini."
El menghela nafasnya pelan, "Ayah yang ngasih tahu yang, kemarin pak Surya sempet minta ayah buat ketemu, dan bertanya banyak tentang kamu, mungkin entah saat sadar atau nggak, kamu bilang ayah kamu membuang kamu sejak kecil, dan dari situlah dia mulai memiliki keyakinan bahwa kamu adalah putri kandungnya."
"Aku juga awalnya nggak tahu, tapi ternyata semalem pas kamu udah tidur ayah nelpon aku dan ngasih tahu semuanya." lanjut El sembari memegangi sisi wajah Kinar.
"Jangan kemana-mana dan jangan sedih-sedih ya, aku janji pulang sekolah langsung pulang dan nemenin kamu." El pun mencium keningnya, dan bergegas untuk berangkat sekolah.
Setelah kepergian El yang hanya dalam hitungan detik, Tiba-tiba bi Rumi memberi tahunya bahwa didepan sedang ada tamu yang mencarinya.
Kinar pun kembali memutar langkahnya untuk menemui tamu yang dimaksud oleh bi Rumi tadi, dan ketika ia berada di ambang pintu Lagi-lagi tubuhnya kembali membeku.
Meski ia sedang berdiri diteras dengan posisi membelakanginya namun ia jelas sangat yakin bahwa tebakan nya tidak akan salah.
Namun hal yang menjadi perhatian utamanya saat ini adalah bukan laki-laki itu, bukan laki-laki yang sama yang semalam datang menemuinya, tetapi seorang ibu-ibu tua yang terlihat masih berpenampilan elegant sedang duduk manis di kursi rotannya.
Satu langkah dua langkah, Kinar mulai berjalan dengan sorot mata yang tak lepas memandang wanita tua itu, bertanya-tanya dalam hati tentang siapa dia.
Dan langkah-langkah selanjutnya tanpa ia sadari sudah membawanya kehadapan wanita tua tersebut.
"Kinar, akhirnya kamu keluar juga nak!" ujar Surya tiba-tiba, yang sontak membuat Kinar dan wanita tua itu saling berpandangan.
"Jadi namanya Kinar?" ucap wanita itu dengan suara lirih, dan senyum tipis penuh haru, di sertai mata yang mengembun dan mulai berkaca-kaca.
Ia memajukan satu langkah kakinya kedepan agar semakin dekat dengan Kinar, dan ia tak kuasa menahan haru dan juga perasaan bersalah dalam hatinya, tentang kesalahan suaminya Adiguna maupun Surya putranya di masa lalu.
"Benarkah kamu sudah sebesar ini nak!" tangan yang hampir keriput itu terangkat menyentuh pipi Kinar dengan gemetar.
Kinar yang melihatnya berurai air mata hanya bisa diam, membiarkan tangan wanita itu menyentuh sisi wajahnya.
"Ini nenek nak, nenek Anita, ibu dari ayah kamu!"
Deg!
Kinar bergeming, rasanya saat ini dunianya berputar seketika, antara harus senang atau sedih.
Yang jelas saat ini perasaan nya sangat tak menentu.
Mengapa semua orang mulai mencarinya, disaat ia sudah tak membutuhkan apa-apa.
__ADS_1
Mengapa semua orang justru menghilang disaat ia sedang membutuhkan kasih sayang, serta bantuan dari mereka, kini yang bisa ia ucapkan hanyalah 'terlambat sudah' batin Kinar.
"Maafkan Oma nak, maafkan kami semua, seharusnya dari awal hal ini tak akan terjadi jika Oma melawan keras semua keputusan kakekmu, Oma salah nak!" ucapnya yang kemudian bergegas memeluk tubuh Kinar dengan penuh kerinduan.
Sementara Kinar masih bergeming dengan posisi semula, karena Lagi-lagi ia dihadapkan dengan hal-hal yang mendadak dan membuatnya terbengong-bengong.
"Benarkah yang dikatakan ayahmu nak, bahwa kamu sudah menikah dan memiliki suami?" ucapnya, dan Lagi-lagi ia meneteskan air mata.
Akhirnya Kinar pun mulai menguasai diri dan bersikap seperti biasa.
"Silahkan duduk, saya mau ambil minum sebentar kedapur ya!" ujarnya dan melangkah dengan sedikit tergesa.
Lalu 7 menit kemudian ia kembali dengan membawa nampan yang berisi 2 gelas teh hangat diatasnya.
"Silahkan bu pak, di minum tehnya?" ujar Kinar yang kemudian diangguki keduanya.
"Kinar tidak kuliah nak?" lanjut Anita, ia ingin lebih dekat dengan Kinar dan satu ide yang saat ini muncul adalah cara agar Kinar lebih banyak membalas pertanyaan nya dan semakin sering ia mengobrol, maka kesempatan dekat dengan Kinarpun akan semakin besar, pikirnya.
Dan ia yakin seiring berjalan nya waktu Kinar akan merasa nyaman saat berdekatan dengannya.
"Kinar berhenti dulu selama satu tahun, dan rencananya tahun depan akan kuliah bareng sama El, suami saya." balasnya.
"Oma jadi penasaran deh kaya gimana sih suaminya, pasti ganteng ya, dan Oma yakin sangat serasi kan sama Kinar?" lanjutnya santai. Sedangkan Surya sedari tadi hanya diam dan sesekali memperhatikan Kinar yang wajahnya memiliki 70% kemiripan dengan Safira mantan istrinya yang telah tiada.
"El."
"Oh iya El!" balasnya seraya terkekeh.
Setelah lama mengobrol, Anita dan Surya pun berpamitan, dan berjanji akan lebih sering untuk mengunjungi Kinar disini.
Sedangkan Surya sejak pertama melihat obrolannya dengan Anita yang mulai terlihat santai, ia justru memilih diam, membiarkan Kinar memiliki rasa nyaman terlebih dahulu, karena ia yakin memaafkan dirinya adalah hal yang paling berat bagi Kinar, mengingat begitu besar kesalahan nya dimasa lalunya, pada Kinar.
Setelah kepergian keduannya, Kinar pun memasuki rumah lalu melemparkan tubuhnya keatas sofa, perasaan nya begitu tak karuan, dan saat ini ia sangat membutuhkan El untuk berada di sampingnya, menghiburnya, lalu membuatnya tersenyum seperti biasa.
Ah membayangkan wajah tampannya saja membuat perasaan Kinar sedikit lega dan merasa tenang.
************
"Hei sayang?" ucap El ketika sore yang hampir gelap ini baru sampai dirumahnya.
Sedangakan Kinar menanggapinya dengan bibir mengerucut.
Cup..
__ADS_1
El mencium bibirnya sekilas, hingga meninggalkan rasa hangat yang Menjalar di seluruh tubuhnya.
"El?" protes Kinar.
"Kenapa, mau lagi?" tanyanya, sembari mencondongkan kembali wajahnya kehadapan Kinar.
"Bukan itu, kamu nyebelin tahu nggak!"
"Oh kirain minta cium!" balasnya santai.
"Udah nyebelin, tukang bohong lagi!" lanjut Kinar ketus.
"Aduhh kenapa lagi sih ini hm?" El mendudukkan diri disamping Kinar, mengangkat dagunya agar menatap kearahnya.
"Bohong kenapa aku yang?"
"Ck, masa lupa sama janji sendiri, siapa coba tadi pagi yang bilang gini, Jangan kemana-mana dan jangan sedih-sedih ya, aku janji pulang sekolah langsung pulang dan nemenin kamu!" ujar Kinar menirukan gaya bicaranya El, yang seketika membuat El tergelak keras.
"Aduhh jadi karena itu sayangku ngambek gini, yaudah aku minta maaf ya sayang, aku akuin, aku salah, dan tadi juga emang aku nggak sempat hubungin kamu, mendadak ditelpon Om Gerry tadi, jadi aku Buru-buru meluncur kesana maaf ya sayang."
"Yaudah nggak Apa-apa, tapi sekarang mandi dulu gih, bau tahu, abis mandi langsung makan."
"Iya sayang!"
Setelah El memasuki kamar mandi, Kinarpun mulai menyiapkan baju ganti untuknya, yang ia letakan diatas kasur, dan beberapa menit kemudian El keluar hanya menggunakan handuk yang melilit dipinggang nya, dengan panjang sebatas lututnya.
"Ayok!" ucapnya sembari menggandeng tangan Kinar.
"Ayok kemana?"
"Tadi katanya abis mandi disuruh makan."
"Iya, tapi emang nggak pake baju dulu, kamu ini."
"Ck, nggak usahlah, nanti juga di buka lagi ini."
"Lah ngapain di buka lagi?" tanya Kinar bingung.
"Kan mau olahraga malam sayang!" balasnya seraya mengedipkan sebelah matanya.
"El..?"
.
__ADS_1
.