Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Rumah sakit


__ADS_3

"Hati-hati jalannya sayang, pelan-pelan!" teriak El saat melihat istrinya berjalan dengan sedikit tergesa menuju kampus.


Kinar membalikkan badan menatap suaminya, seraya meringis, ketika melihat tatapan tajam dari El.


"Iya bang!" balasnya lirih, kemudian melanjutkan langkahnya menuju Riska sahabatnya yang tengah duduk di ujung tangga halaman kampus.


Riska merupakan sahabat Kinar sewaktu sekolah dulu, namun keduanya kehilangan kontek, karena saat itu Riska sempat ikut ayahnya yang berada dibandung.


Dan gadis itu kini kembali tinggal di Jakarta bersama ibunya untuk melanjutkan studi yang sempat tertunda selama satu tahun, sama seperti Kinar.


"Hai Ris!"


"Hai bumil, suami kamu mana kok nggak bareng?" tanya Riska, saat melihat Kinar hanya berjalan sendirian.


"Lagi nyamperin temennya, tuh!" menunjuk kearah parkiran dimana ada 3 orang laki-laki yang terlihat tengah bercanda, dan satu diantaranya ia yakini adalah El suami Kinar.


"Gimana suami kamu masih marah soal kemarin, yang waktu si Frans megang tangan kamu?"


"Nggak, emang sih awalnya dia dingin banget, tapi sekarang udah nggak kok!"


"Syukurlah kalau gitu, aku takut kalian berantem aja gara-gara dia, terus apa rencana kamu sekarang, kamu tahu sendiri kan Nar dari dulu Frans itu nggak berhenti ngejar-ngejar kamu, bahkan sampai sekarang! padahal dia tahu sendiri kamu udah nikah dan mau Punya anak."


"Aku nggak tahu Ris,!" Kinar menjatuhkan tubuhnya disamping Riska, dan menghela nafas beratnya, memikirkan masalah yang satu itu membuatnya merasa pusing bukan main.


*******


"Hati-hati dirumah ya,!" ujar El mengantar Kinar kerumahnya, sedangkan El melajukan kembali mobilnya menuju bengkel.


Cittt...!!


El mengerem mobilnya secara mendadak, saat mobil milik seseorang tiba-tiba menghadang mobilnya di depan sana, ketika ia hendak berbelok menuju kearah bengkelnya.


"Gila, lo nyari mati?" sergah El saat mengetahui siapa Pemilik mobil yang menghadangnya itu.


Laki-laki yang tak lain adalah Frans itu tersenyum sinis, bersender disamping mobilnya dengan kedua tangan bersidakep.


"Gue berharap sih elo yang mati duluan, biar Kinar jadi milik gue!" balas Frans tersenyum licik.


"Elo_" tangan El Melayang di udara hendak memukul Frans, namun kata-kata Kinar yang selalu mengingatkan dirinya agar tidak selalu menggunakan kekerasan berseliweran dikepalanya, membuat ia menjatuhkan tangannya seketika.


"Kenapa, kagak jadi mukul gue, takut lecet lo!" seru Frans dengan nada penuh ejekan.


"Bang sad! mau lo apa sih, berhenti gangguin rumah tangga gue, bisa?"


Frans menegakkan tubuhnya, lalu melangkah menghampiri El yang jaraknya hanya 1 meter saja.

__ADS_1


"Elo jelas tahu persis apa yang gue mau El, dan satu hal yang perlu lo tahu gue nggak akan berhenti,"


"Elo benar-benar gila!" El menggeleng tak percaya, dengan laki-laki yang berstatus sahabatnya itu.


"Terserah, terserah lo mau ngatain gue kaya gimana, gue nggak peduli,"


"Frans lo sadar nggak sih kalau yang lo lakuin ini salah, Kinar udah married, dia udah jadi istri gue, milik gue Frans!" ujar El berusaha meredam emosinya, dan berbicara lebih lembut dari sebelumnya.


"Iya gue tahu, lo udah ngerebut Kinar dari gue, cinta pertama gue, belahan jiwa gue."


"Frans?"


"Pergi lo!"


El menyentak nafasnya kasar, membuka kembali pintu mobilnya, dan membantingnya dengan emosi yang meluap-luap, lalu meninggalkan Frans yang masih betah berdiri disamping mobilnya dengan tatapan lurus kedepan.


************


Dibalkon kamarnya, Kinar mengelus-elus perut buncitnya yang terasa sakit sejak pagi tadi, di usia kandungannya yang menginjak 9 bulan ini ia memang lebih suka berada didalam rumah, kecuali jika sedang kuliah.


Kinar memijat pinggangnya sendiri yang kini semakin terasa pegal dan panas, namun ia tetap terlihat santai, sama sekali tak terlihat panik, meski rasa sakit itu semakin bertambah.


Ia sudah banyak bertanya mengenai tanda-tanda kelahiran sebelumnya pada Nada, dan Ia merasa kali ini sedang mengalami kontraksi palsu, seperti yang diceritakan oleh beberapa orang yang sudah berpengalaman.


Karena menurut Hari perkiraan lahirnya, bayi yang Ia kandung akan lahir 3 minggu lagi, dan tentunya itu adalah batas waktu yang lama bagi Kinar.


Tidak lama bi Rumi datang memasuki kamarnya dengan raut wajah yang terlihat sangat panik, bersamaan dengan El yang juga baru saja tiba dari Cafe, langsung berteriak histeris saat melihat ada cairan serta beberapa bercak darah mengalir di kaki sang istri.


"Sayang, kenapa, ada apa ini, apa yang terjadi?" ujar El dengan tangan bergetar, menggenggam tangan istrinya.


"Aduh den, ini non Kinar sepertinya sudah waktunya melahirkan." ujar bi Rumi.


"Masa sih bi, HPL nya masih Lama lho bi!"


"Kan nggak nentu den, ayo den buruan kita bawa kerumah sakit, kasihan non Kinarnya."


"Sekarang bi?"


"Aduh iya atuh den, kapan lagi?" ucap bi Rumi terlihat frustasi.


"Tas perlengkapannya bang." Kinar yang sedang meringis pun menunjuk tas pakaian bayi yang telah ia siapkan beberapa hari yang lalu di atas lemarinya.


"Ihs abang, bukan yang itu, itu bedcover." ujar Kinar lirih, karena menahan sakit.


"Eh!"

__ADS_1


"Yang satunya."


Dengan sigap El pun meraih tas tersebut, dan membawa nya kedalam mobil, lalu kembali kekamarnya untuk menggendong tubuh Kinar.


"Den tadi tasnya di taro dimana?" tanya bi Rumi saat menyadari tas yang dibawa El tadi tidak ada didalam mobil yang kini ditumpanginya.


"Ada bi, dibelakang!" balas El yang mulai memasang seatbelt di tubuhnya.


"Bibi udah cari, tapi nggak ada den!"


"Ah masa sih bi, jangan bercanda dong, saya lagi panik ini,"


"Beneran den!"


El pun keluar lalu mencari-cari tas yang Ia lemparkan tadi, lalu menggaruk kepalanya, saat tidak menemukan benda itu disana.


"Tadi tasnya gue taro di mobil deh, masa sih hilang!" gumam El, lalu membuka pintu mobil sang ayah yang berada disebelah motornya, yang dibawa Satria beberapa hari yang lalu.


"Anjirr, kok bisa sampai sini sih, masa iya lo bisa jalan sendiri." El mengomeli tas yang ditemukan didalam mobil ayahnya lalu membawanya kedalam mobil miliknya.


"Ada den?"


"Ada bi," balasnya, lalu segera melajukan mobilnya saat menyadari istrinya semakin meringis kesakitan.


Sesampainya didepan rumah sakit, El pun segera meminta bantuan beberapa petugas medis untuk membantu istrinya.


"Sabar ya sayang, kuat ya!" hanya kata-kata sederhana itu yang mampu El ucapkan saat ini.


.


.


Hallo readers tercinta, apa kabarnya?☺


Semoga selalu dalam keadaan sehat ya, 😘


Terimakasih untuk kalian semua, readers tercinta yang sudah mengikuti cerita ini dari awal sampai part ini, walau akhir-akhir ini Author nya semakin malas update πŸ˜πŸ˜€


Mungkin beberapa part lagi cerita ini akan End ya,😊


Tapi dibulan februari nanti, entah awal pertengahan atau akhir bulan, Author akan melanjutkan ke season 3, tapi kali ini menceritakan si Kembar Satria dan Satya.


Love love pokoknya buat readers tercinta πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


.

__ADS_1


.


__ADS_2