
Pagi ini terasa sangat berbeda bagi El, Kinar sudah tidak ada disisinya saat ia bangun, bahkan pagi ini ia tak membangunkan nya, dan setelah ia selesai mandi pun tidak ada seragamnya yang biasa Kinar letakan diatas kasurnya.
Isi tasnya, masih dengan Buku-buku yang sama seperti yang ia siapkan kemarin, Kinar benar-benar tidak mengurus keperluan nya sama sekali pagi ini.
Sesaat El terdiam dengan raut yang berubah sendu, Ah begini rasanya di cuekin istri, terasa kosong dan hampa batinnya.
"Kinar kemana bi?" tanya El saat hendak memakan sarapannya yang juga tidak lagi Kinar yang menyiapkan, melainkan oleh bi Rumi.
"Non Kinar ada kok den dibelakang, lagi mau nanem pohon Naga sama mang Wawan katanya."
El pun hanya ber Oh lirih sebagai jawaban.
Bi Rumi pun sempat memperhatikan penampilan El pagi ini, yang terlihat berbeda dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
Rambutnya jambul, acak-acakan khas seperti orang yang baru bangun tidur, 2 kancing seragam teratasnya terbuka, dasinya ia sampirkan di bahu, sedangkan kaos kakinya terlihat tinggi sebelah, begitupun dengan tas sekolahnya yang hanya tertutup separo.
Bi Rumi hanya menggeleng-gelengkan kepala, melihat penampilan majikan mudanya itu.
............
Setelah mengenakan sepatunya, El pun bergegas menghampiri Kinar untuk berpamitan seperti biasa.
"Sayang, aku pamit!" ucapnya sembari mengulurkan tangan kanannya, yang beberapa saat hanya menggantung di Udara, sebelum kemudian, Kinar menerima uluran tangan El dan menciumnya.
"Masih marah?" tanyanya dengan suara lirih.
Kinar menatapnya dalam diam, dan ia hampir menyemburkan tawanya saat melihat penampilan El pagi ini, yang bagi Kinar terlihat sangat lusuh, layaknya seorang anak yang tidak terurus oleh ibunya.
"Tunggu disini sebentar!" ucapnya, dan bergegas memasuki rumah, sedangkan El masih berdiri di tempat yang sama memandangi punggung istrinya, hingga menghilang dibalik pintu.
Tak lama Kinar pun kembali, dengan membawa sisir serta pomade milik El ditangannya.
"Duduk!" titahnya, dengan nada yang terdengar sangat jutek.
El pun menurut, duduk diatas teras di samping rumahnya.
Kinar pun mulai membuka tutup pomade, mengambilnya sedikit, lalu mulai menggosokkan nya di atas rambut El, dan menyisirnya pelan.
Lalu beralih mengancingkan 2 kancing baju teratasnya yang terbuka, dan memasangkan dasinya dengan benar, kemudian membetulkan kaos kakinya yang tinggi sebelah, dan terakhir menutup sleting tasnya yang terbuka.
Tak sedetikpun perlakuan Kinar yang ia lewatkan, kemudian El tersenyum tipis saat merasa diperhatikan kembali oleh istri tercintanya.
"Makasih sayang!" Masih dengan senyum diwajahnya, El kemudian menggenggam, dan mencium tangan Kinar lembut, namun Kinar lebih memilih cuek, dan memalingkan wajah.
"Berangkat ya!"
"Hmmm!"
...............
"Gimana bro, udah baikan sama Kinar?" tanya Bian, yang pagi ini sengaja menunggunya dideket gerbang sekolah.
"Boro-boro masih ngambek!" balas El lesu, sembari memperbaiki tasnya yang merosot.
"Gue kasih ide, gimana kalau lo beliin dia sesuatu, kalung, gelang, misalkan!" usul Yoga.
"Kinar bukan tipe cewek yang luluh sama begituan."
"Iya juga sih, kelihatan!" Bian membenarkan.
"Tuh tuh, si titisan dewi ularnya udah stay disono noh!" Yoga menepuk bahu El.
__ADS_1
"Sikat El!" timpal Bian gemas.
Ketiganya pun berjalan beriringan menuju kelasnya.
"El?" Jihan kembali bergelayut memegangi tangan El, sedangkan El dalam satu kali sentakan berhasil mencengkram tangan Jihan dengan keras.
"Lo denger ya, cewek aneh! gue udah peringatin lo berkali-kali, gue nggak suka sama elo!" teriak El lantang, bahkan beberapa murid yang sedang berlalu lalang disekitarnya pun tampak saling berbisik-bisik, memembicarakan gadis terpopuler di sekolah, di tolak mentah-mentah oleh si tampan El.
"Tapi gue sayang sama elo El."
"Tapi gue nggak!"
"Apa sih yang cewek kampung itu kasih, Sampe-sampe lo nggak bisa buka hati buat gue, dia nyerahin tubuhnya buat elo iya, kalau lo mau gue juga bisa El!"
"Berhenti ngatain cewek gue, cih! dasar cewek murahan!" El berdecih, lalu mendorong tubuh Jihan hingga jatuh terduduk.
"Elo jahat banget El!" ujar Jihan yang mulai menitikan air matanya.
"Elo yang udah maksa gue kek gini!" balas El yang kemudian memasuki kelasnya, dengan diikuti Bian dan Yoga yang tersenyum puas dibelakangnya.
..............
"Den, non Kinar bilang, dia mau kerumah bu Nada, ke acara ulang tahunnya den kembar!" ujar bi Rumi, saat bertemu dengannya diteras rumah.
El menepuk jidatnya, sama sekali tidak mengingat, bahwa hari ini merupakan hari ulang tahun adik kembarnya.
"Ok bi, makasih ya!"
Gegas El pun menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya, dan saat ia memasuki kamar satu buah kemeja berwarna maroon, serta celana jeans hitam tergeletak diatas kasur.
El menyentuh kemeja tersebut, kemudian tersenyum senang, karena ia yakin, istrinya yang menyiapkannya.
Ia berdecak dengan perasaan sedikit kesal, karena bundanya tidak mengingatkan nya bahwa hari ini si kembar Satria dan Satya sedang berulang tahun, ia sama sekali belum menyiapkan Kado untuk kedua adiknya tersebut.
"El dateng juga kamu, gimana sekolahnya lancar?" tanya Opa Abidzar yang kini tengah menghampirinya.
"Lancar kok Opa, Opa apa kabarnya?" tanya El sembari menyalaminya.
"Baik Opa baik, nih buktinya sehat bugar begini!" ucapnya yang kemudian tergelak.
"Oma nggak ikut Opa?"
"Ikutlah, masa iya nggak ikut, Oma lagi dibelakang bantuin motongin kue, bareng istrimu."
"Kinar?"
"Iya lah, Ck memangnya istrimu ada berapa?"
Ah, berbicara soal istrinya membuat El, kangen bukan main.
Bersamaan dengan Kinar, yang datang membawa sebuah nampan yang berisi dengan beberapa macam minuman ditangannya.
El terpana dengan mata tak berkedip, melihat penampilan istrinya sore ini yang begitu terlihat sangat cantik, dan tanpa sadar, sebuah kata Cantik pun lolos dari bibirnya.
Sore ini Kinar mengenakan gaun berwarna maroon, tanpa lengan, dengan panjang dibawah lutut, warna yang senada dengan kemeja yang sedang ia kenakan.
El terus memperhatikan setiap Gerak-gerik Kinar, seakan sayang untuk dilewatkan.
"Ck, kaya yang baru pertama kali lihat aja sih bang!" goda Satria dan Satya sembari merangkul pundaknya.
"Eh bocah!" El pun balas merangkul keduanya, "Selamat ulang tahun ya, baik-baik lo berdua, panjang umur, nurut apa kata orang tua!"
__ADS_1
"Thanks bang!" balas keduanya sumringah.
Tiga bersaudara itu, terlihat sangat akrab dan saling menyayangi.
Tidak terasa waktu pun berjalan cepat, dan acara pun sudah di mulai, karena kini sudah menunjukan pukul 19:00 malam.
Beberapa tamu undangan yang kebanyakan adalah teman Satria dan Satya pun, mulai berdatangan, membawa hadiah serta mengucapkan selamat untuknya.
"Selamat ulang tahun anak kembarnya bunda, semoga panjang umur sehat selalu, dan menjadi anak yang berbakti ya nak!" ujar Nada memeluk penuh kasih kedua putranya tersebut.
"Selamat ulang tahun jagoan ayah!" ujar Ando yang ikut memeluk kedua putranya.
"Ini hadiah dari ayah sama bunda!"
"Makasih ayah, bunda!" ucap keduanya.
"Sama-sama nak!"
"Dari Tika juga bang!" timpal Cantika sembari menyerahkan 2 kotak kecil kearah kedua abangnya.
"Makasih dek!"
"Nih!" Kinar menyerahkan sebuah paperbag kearah El.
"Hadiah buat Sikembar!" bisik Kinar, saat melihat El hanya diam dengan raut wajah yang terlihat kebingungan.
El pun mengangguk mengerti, lalu mengambil alih paperbag tersebut dari tangan Kinar.
"Ini dari abang sama kak Kinar!" ujar El, sembari menyerahkan paperbag tersebut.
"Thanks ya bang, kak!" balas keduanya bersamaan.
"Selamat ulang tahun cucu-cucu gantengnya Oma, ini hadiah dari Oma sama Opa, jangan sampai nggak di pake lo ya!" sambung Oma Sarah sembari memeluk keduanya.
Setelah acara tiup lilin selesai, semuanya berpencar menikmati hidangan nya masing-masing. Sedangkan El sibuk mencari-cari keberadaan Kinar.
"Sayang!" ujar El lirih saat mendapati Kinar sedang duduk sendiri diatas kursi ditaman belakang, dengan wajah mendongak, menatap gemerlapnya bintang, El pun mendekat, lalu ikut duduk di sampingnya.
"Menurut kamu mana bintang yang paling terang malam ini?" tanya El, dengan wajah yang ikut mendongak menatap bintang dilangit.
Kinar menoleh sekilas kearahnya, lalu kembali menatap langit.
"Mungkin yang itu!" tunjuknya.
"Yang mana?" tanyanya lembut, mengikuti arah telunjuk Kinar.
"Yang itu!"
"Masa sih?" lanjut El, sembari mendekatkan wajahnya kearah Kinar, yang tanpa Kinar sadari.
"Iya!"
El menuntun lembut tangan Kinar, lalu menggenggam keduanya, mata Indahnya tak berhenti untuk memandangi wajah menawan istrinya, wajah yang selalu ia rindukan setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik.
"Kamu tahu sayang, menurut aku ada bintang yang lebih bersinar dibanding ribuan bintang yang diatas sana."
Kinar terdiam, dengan nafas tercekat, saat menyadari wajahnya dengan wajah El yang hanya berjarak beberapa centi saja, bahkan ia bisa merasakan hembusan nafas El yang terasa hangat menerpa wajahnya.
Tangan El terangkat, menyentuh pipinya dengan penuh kehati-hatian.
"Kamu sayang, bagi aku kamu adalah satu-satunya bintang yang paling bersinar diantara mereka." bisik El dengan suara bergetar.
__ADS_1