
"Maaf non ada tamu didepan." ujar bi Rumi yang kini menghampiri Kinar.
"Siapa bi?" tanya Kinar, yang sedang membawa segelas susu dari arah dapur.
"Itu non adeknya si aden yang kembar itu."
"Satria sama Satya bi?"
"Aduhh bibi nggak tahu non, nggak nanya siapa namanya, soalnya datengnya sendiri."
"Oh yaudah bi saya samperin dulu!" balas Kinar, lalu meletakkan segelas susunya diatas meja sofa.
"Iya non, silahkan."
Kinarpun berjalan menuju pintu utama, lalu membuka pintunya secara perlahan.
"Eh Satria,?" ucapnya, saat mendapati salah satu adik kembarnya itu sedang duduk diatas motornya dengan kedua kaki yang menggantung.
"Hai kak, gue kesini disuruh minta uang sama bang El, katanya kak Kinar lagi ngidam Mochi, kebetulan temen gue jualan,"
Kinar menghela nafas, Lagi-lagi El menggunakan namanya, untuk memenuhi keinginan-keinginan nya yang semakin aneh setiap hari.
"Bentar kakak ambilin dulu uangnya, kamu turun dulu gih Sat, nyari minum dulu sana kedalem, kebetulan stok minuman di kulkas banyak tuh!"
"Aseekk, dengan senang hati kak!" balasnya yang kemudian ngeloyor masuk kedalam rumah, sementara Kinar berjalan menuju kamarnya.
"Udah ngambil minumnya?!" tanya Kinar saat melihat adik iparnya itu sudah kembali duduk diatas motornya.
Satria menyengir kuda, seraya mengelus perutnya, "Udah abis 3 kaleng kak, thanks ya!" ucapnya, yang diangguki oleh Kinar.
"Yaudah nih uangnya, kamu kalau mau sekalian beli aja ya, beliin Cantika sekalian, dia kan suka yang manis-manis." ujar Kinar seraya memberikan 2 lembar uang kehadapan Satria.
"Kagak doyan dia kak, doyannya dodol Garut doang."
"Masa sih?"
"Serius dah!"
"Yaudah gue cabut dulu ya,!" lanjut Satria, sembari memasukan uang pemberian Kinar kedalam saku kemejanya.
"Eh tunggu tunggu, kamu nggak sekolah emang, baru jam 10 pagi lho ini." Kinar memperlihatkan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Libur kak!"
"Ah serius kamu?"
"Beneran, gurunya lagi rapat!"
"Berarti kamu banyak waktu dong ya."
"Euhmz iya sih!"
"Berarti kalau kakak ikut boleh ya?"
"I-ikut gimana maksudnya?"
__ADS_1
"Nebeng di motor kamu, maksud kakak beli mochi nya barengan gitu."
"Eh kagak usah kak, lo dirumah aja, kan elo lagi bunting!" menunjuk perut Kinar menggunakan dagunya.
"Lah apa hubungannya Sat?"
"Ya ada lah, kalau bang El tahu lo naik motor abis gue!"
"Nggak bakalan Sat, kan bang El nggak tahu, boleh ya! nggak mau nurutin ibu hamil nanti anaknya ngences lho, kamu mau tanggung jawab?"
"Ya nggak sih tapi kan_"
"Udah ih debat sama kamu mah lama, yuk berangkat!" tanpa menunggu persetujuan dari Satria Kinar pun segera naik keatas motornya, membuat Satria mengacak rambutnya frustasi.
"Kalau bang El ngambek gue kagak Ikut-ikutan lho ya kak, lo yang maksa bukan gue!"
"Iya tenang aja, ayo buruan jalan!"
"Eh tunggu-tunggu!"
Kinar memutar bola mata, "Apa lagi sih?"
"Pegangan kak, kalau jatoh gimana?"
"Iya sat iya, kamu udah persis abang kamu aja tahu nggak?"
"Kenapa emang, cakep ya!"
"Ck bukan, tapi bawel!" ucap Kinar kesal, sedangkan Satria terkekeh sendiri.
"Oh ya kak, ngomong-ngomong lo pantes deh jadi pacar gue, masih imut soalnya, mau nggak jadi pacar gue?"
"Iya iya, canda kak!" balasnya, sambil tergelak.
"Masih jauh tempatnya." ujar Kinar, saat merasa sudah melewati perjalanan selama 20 menitan.
"Kagak, udah deket kok, nah itu dia disamping tukang buah!" balas Satria, yang langsung menghentikan mobilnya disamping tukang buah.
"Eh elu sat?" ujar Kong Na'im yang merupakan engkong Iqbal sahabat Satria disekolahnya.
"Iya Kong, mochi nya ada kan,?"
"Masih, eh ngomong-ngomong ntu cewek elu sat, bening amat, bisa banget lu nyarinya."
"Cakep ya Kong, tapi bukan cewek gue sih, itu ceweknya bang El, bininya!"
"Ah seriusan lu, bukannya abang lu masih sekolah ya?"
"Gimana ngejelasin nya ya ribet Kong, tar aja ya ceritanya, sekarang gue lagi buru-buru, mana nih mochi nya?"
"Nih, semuanya 95.000."
"Ok deh ini uangnya, makasih kong!"
"Tunggu bentar ni kembaliannya."
__ADS_1
"Kagak usah deh kong!" Satria pun bergegas menghampiri Kinar yang sejak tadi hanya berdiri disamping motornya.
"Nih kak, pegang!" mengulurkan 1 plastik yang berisi dua kotak mochi ketangan Kinar.
"Langsung pulang aja ya kak, deg-degan gue, takut ketahuan abang, bisa-bisa gue dibikin rica-rica entar!"
"Yaudah, tapi anterin dulu ke jembatan yang arah ke sekolah kamu ya?"
"Hah, mau ngapain kak, lo kagak ada niatan nyebur disana kan?"
"Aduh Sat kamu tuh ya, kakak kesana mau beli buah yang disamping jembatan itu!''
"Lah ini kan tukang buah ada disini, ngapain musti jauh-jauh kesana coba?"
"Ck, orang kakak maunya yang disana."
"Lo lagi ngidam kak?" tanyanya, dengan ekpresi yang sulit di tebak.
Kinar hanya mengangguk sebagai jawaban, terlihat Satria menghela nafas kasar, namun kemudian ia tersenyum tulus.
"Yaudah deh demi ponakan gue, panas ataupun jauh gue jabanin." Ucap Satria yang kemudian mulai menyalakan kembali motornya.
"Tukang buahnya tutup kak, gimana dong, apa mau ditungguin aja nyampe besok?" ucap Satria dengan santainya, saat keduanya kini sudah berada di tempat yang dimaksud Kinar tadi.
"Enggak usah deh nggak Apa-apa, lagian yang bener aja kamu, masa ditunggin sampe besok!"
"Ya kali aja kak Kinar mau,"
"Eh eh, lihat deh kak, itu cewek mau ngapain coba,?" Satria mengarahkan telunjuknya pada seseorang gadis yang terlihat sedang menangis dipinggir jembatan, area itu memang tidak terlalu ramai jika libur sekolah, selain bukan jalan utama, area tersebut memang penduduknya tidak seramai seperti didekat sekolah Satria.
"Tunggu bentar deh Sat, kok aku kaya yang kenal ya sama cewek itu."
"Siapa kak temen lo?"
"Yaudah buat mastiin aku samperin dulu deh kesana,"
"Eh jangan kak!" Satria menahan tangan Kinar yang hendak menghampiri seseorang tersebut.
"Kenapa?"
"Kok gue jadi mikir kalau dia bukan manusia deh kak!" ujar Satria polos, sedangkan Kinar terlihat menghela nafas, lalu memandang adiknya dengan gemas.
"Kamu itu kalau bercanda emang suka nggak setengah-setengah ya Sat, mana ada coba hantu keliaran siang bolong begini."
"Eh iya juga sih, eh tapi kan bisa aja kalau hantunya emang kesiangan kak?" balas Satria yang kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ihs Satria, udah ah pokoknya tunggu disini bentar!"
"Yaudah hati-hati lo kak, inget kalau sampe lo terluka, nasib gue bakalan jadi apa ditangan abang."
"Iya Sat iya!"
Kinarpun gegas menghampiri gadis itu, dan berdiri di sampingnya.
"Aku pikir tadi tuh salah lihat, eh ternyata itu bener kamu ya, apa kabar Jihan, kamu ngapain disini?"
__ADS_1
.
.