
Satu minggu pun telah berlalu, dan Kini El menepati janjinya untuk membawa Kinar berlibur ke sebuah Villa milik Ando yang terletak didaerah Bogor, sebenarnya El bisa saja membawa Kinar berlibur ketempat yang lebih jauh, karena ia memiliki cukup banyak waktu libur setelah ulangan disekolah nya minggu kemarin.
Namun Kinar tak ingin pergi kemanapun, kecuali tempat pertama yang sudah El rekomendasikan untuknya, yaitu berlibur ke Villa ayah mertuanya yang terletak didaerah Bogor.
Pagi-pagi sekali sekitar pukul 3 subuh, mereka berdua berangkat dengan mengendarai mobil, untuk menghindari kemacetan.
Sepanjang perjalanan, keduanya bersenandung mengikuti sebuah lagu yang berasal dari audio mobilnya, Kinar pun sesekali tertawa, disaat El mulai melontarkan sebuah gombalan-gombalan yang terdengar sangat Absurd baginya.
"Wah Villa nya bagus banget!" ujar Kinar dengan mata berbinar, saat keduanya kini sudah berada tepat didepan Villa tersebut.
"Tapi didalemnya bersih?" tanya Kinar, menoleh sesaat kearah El yang sedang sibuk membuka sepatunya.
"Kamu tenang aja sayang, Villa nya bersih kok, karena tiap hari Villa ini ada yang bersihin, bi Arum namanya, tapi mungkin selama beberapa hari kita disini dia nggak akan datang."
"Kenapa?"
"Sengaja, biar kita bisa Berduaan!" balasnya seraya mengerling genit.
"Mau kemana?" tanyanya, ketika melihat El hendak membuka pintu sebuah ruangan yang terletak disebelah pojok kiri.
"Mandi, mau ikut?"
"Ck, nggak! yaudah mandi gih sana." Kinar pun berbalik, pandangannya menyapu keseluruh ruangan
tersebut, yang tampak rapih, beberapa foto yang Kinar kenali tampak menggantung kokoh disana, diantaranya ada foto Ando, Nada El dan juga ketiga adiknya, Satria Satya dan juga Cantika.
"Aku disuruh mampir sebentar sama bunda yang, kerumah salah satu temen Ayah yang ada disini, ikut ya?" tawarnya.
"Boleh, tapi aku mau mandi dulu!"
"Yaudah aku tunggu."
Setelah memastikan penampilannya rapih, gegas Kinar pun menghampiri El yang sedang bermain game dengan kaki bersila diatas sofa.
"Ayok!" Kinar mengecup pipi El lembut, dan menariknya untuk berdiri.
"Udah pinter nyenengin hati suami ya sekarang?" ujarnya seraya mengulum senyum.
"Harus dong!" balasnya tersenyum manis, membuat El gemas, dan berakhir menggigit ujung hidungnya.
"Yaudah yuk berangkat, sebelum aku nyerang kamu lagi!" El melengos, sambil terkekeh geli.
***********
Kinar dan El pun sampai didepan rumah seseorang, yang perjalanannya hanya menempuh 10 menit dari Villa ayahnya itu.
Setelah mengucap salam dan mengetuk pintunya beberapa kali, akhirnya sang pemilik rumah pun keluar.
"El?" ucap seseorang gadis yang baru saja membuka pintu rumahnya sumringah, namun detik kemudian senyumnya luntur saat menyadari bahwa El datang tidak sendiri.
"Om Rasyid nya ada?" tanya El datar.
"Oh eh, ada kok! bentar ya aku panggilin dulu." gadis itu pun bergegas masuk dengan perasaan kikuk.
__ADS_1
Tidak lama seseorang laki-laki yang umurnya sedikit lebih tua dari Ando datang menghampiri nya.
"Wah El, ternyata bener yang di bilang si Vanya, kamu yang dateng?"
"Eh iya Om, Om apa kabarnya?" El meraih dan mencium punggung tangannya yang diikuti oleh Kinar.
"Siape nih, cakep bener?" matanya mengerling menunjuk Kinar.
"Istri saya Om!"
Plakk..
Rasyid memukul pundaknya pelan.
"Serius napa,?"
"Beneran Om, udah mau jalan 4 bulan ini!"
"Anjirr, kok si Ando kagak ada ngomong apa-apa ke gue, musti di gebukin tuh bocah!"
"Belum ada resepsi Om, nanti juga di undang, saya kan masih sekolah Om."
"Ck, udah tahu masih sekolah, lah malah married?"
"Namanya juga cinta Om, musti di perjuangin sejak awal, kalau dibiarin tanpa ikatan, yang ada nanti keduluan orang, patah hati dong saya nanti!" balasnya, yang kemudian terkekeh geli.
"Bisa aja lu bocah, tapi ada bagusnya sih, dari pada Pacar-pacaran kagak jelas kan ya, mending kan di halalin, mau ngapain juga kagak dosa."
"Iya Om!"
"Kinar Om!" sahut Kinar pelan.
"Asli cakep bener, lo emang pinter nyari demenan ya, persis bokap lo dulu, mana sama-sama kawin muda lagi!" yang lagi-lagi menepuk pelan pundak El.
"Nikah Om!" sela El.
"Eh iya, nikah dulu baru kawin ya!" lanjutnya, yang kemudian tergelak sendiri.
"Yaudah Om saya sama Kinar nggak bisa lama nih, ini ada sedikit titipan dari bunda, katanya kesukaan tante Farah!" menyerahkan 2 buah paper bag yang berisi kue dari tangan Kinar.
"Yaampun pake acara repot-repot ngasih bingkisan segala, bilangin makasih banyak gitu ye,"
"Iya Om, yaudah saya pamit ya!" El meraih tangan Rasyid untuk menciumnya, yang kembali diikuti oleh Kinar.
"Eh mampir dulu, sorry gue sampe lupa kagak nawarin duduk, kagak nawarin minum, saking asyiknya ngobrol!"
"Nggak apa-apa Om, kita emang niatnya nggak lama sih, soalnya mau ngajak Kinar jalan-jalan sekitar sini!"
"Yaudah, tapi kapan-kapan musti bener-bener mampir ya!"
"Iya Om!"
"Cewek yang tadi siapa?" tanya Kinar, saat keduanya kini sudah berada didalam mobil menuju tempat yang dimaksud El selanjutnya.
__ADS_1
"Yang mana?"
"Ihs pura-pura lupa deh, yang tadi dirumah Om siapa namanya?"
"Om Rasyid."
"Iya, anaknya bukan sih?"
"Vanya."
"Kamu deket ya sama dia, terus kayaknya dia suka deh sama kamu El?"
El menghela nafas, kemudian menepikan mobilnya.
"Dulu pernah satu kelas waktu SMP, sebelum Om Rasyid pindah ke Bogor, tapi dari dulu aku juga nggak begitu deket sama dia, kamu tahu sendiri kan sayang, dari awal aku itu tipe cowok yang paling males deket sama cewek, dan soal dia suka sama aku, mana aku peduli!"
"Dia cantik lho El,?"
Ck!
El tersenyum, seraya mengusap bibir mungil Kinar yang sedikit mengerucut itu dengan jemarinya, "Sayang dengerin aku, aku udah pernah bilang belum sih, kalau kamu itu cewek yang paling cantik di mata aku, selain Oma dan Bunda."
Kinar menggeleng.
"Masa sih?" El memainkan lidah di bibirnya sendiri, membuat bibirnya basah, dan terlihat lebih ****, sembari menatap Kinar lekat.
"Kapan kamu bilang begitu?" ujar Kinar, memalingkan wajah, yang sudah merona.
"Yaudah aku bilangin nih!" El meraih kedua tangan Kinar kemudian digenggamnya.
"Kamu tahu sayang, aku nggak peduli ada ribuan wanita cantik di sekitar aku, karena bagi aku kamulah satu-satunya wanita yang terlihat cantik di mataku." ucapnya dengan penuh ketulusan.
"Gombal!"
"Serius lho ini tuh yang!"
"Iya iya percaya."
"Sun dulu kalau gitu?"
"Apaan sih El, ini dipinggir jalan lho, kalau kamu lupa?"
"Yang bilang ini dikamar siapa sih yang."
"It_ hmmp!"
Ucapannya terhenti, karena El sudah terlebih dulu menciumnya.
Ditempat lain seorang gadis menghancurkan seisi kamarnya, sembari mengumpat beberapa kali, tak Terima dengan kenyataan bahwa dirinya bukanlah cucu satu-satunya dari cucu seorang Hardiantara, terlebih saat mengetahui bahwa laki-laki yang begitu Dicintainya, ternyata kekasih dari saudara yang baru saja ia ketahui minggu lalu.
.
.
__ADS_1