
Usai melakukan kegiatan panas yang kedua kalinya, El pun mengajak Kinar untuk segera mandi dan mengenakan pakaian yang rapi setelahnya.
"Sebenarnya kita mau kemana sih El?" keluh Kinar setelah melewati jalan berbelok dan sedikit berlubang.
El menoleh kearah Kinar yang terlihat bosan, "Bentar lagi ya sayang!" ucapnya seraya mengusap kepala Kinar dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk memegang kemudi.
Beberapa menit kemudian, El pun menghentikan mobilnya, tepat didepan sebuah bangunan yang lumayan besar dan luas, dan Kinar yakini itu adalah sebuah pabrik.
"Nah udah sampe nih!" El keluar dari mobilnya, berlari kecil mengelilingi mobil tersebut, lalu membukakan pintu untuk Kinar.
"Ini tempat apa?" ujar Kinar, menghentikan langkah El yang hendak memasuki bangunan tersebut.
El tersenyum, seraya merapikan anak rambut Kinar yang menjuntai di sisi wajahnya. "Ini pabrik boneka sayang!"
"Punya siapa?"
El kembali tersenyum lembut, "Punya kita!" balasnya singkat, lalu menarik tangan Kinar agar mengikutinya.
Kinar sempat melirik nama Pabrik tersebut, dan ia hampir menyemburkan tawanya, saat membaca sebuah tulisan besar di papan besar yang tertera disana, PT. Cinta Karena Cinta.
"El?"
"Apa lagi sayang?" El kembali berbalik, menunggu ucapan istrinya selanjutnya.
"Serius ini pabrik kamu?" tanyanya, yang masih di penuhi rasa penasaran yang menggunung.
"Iya sayang, ayo masuk, aku mau lihat keadaan pabrik ini, soalnya udah beberapa bulan, nggak sempet nengokin."
El memasuki pabrik tersebut, tampak beberapa pegawai menyambutnya dengan antusias, menyapa, juga tersenyum ramah kearahnya, sedangkan El hanya mengangguk kecil sebagai balasan.
"Awww!" El terpekik pelan kala tangannya dicubit seseorang, yang tak lain adalah Kinar, istrinya.
"Kenapa?" tanyanya dengan raut wajah bingung.
"Bisa nggak sih, kalau ada orang yang ngajak senyum tuh balas senyum, apa lagi kan mereka udah berumur, dasar muka datar." protes Kinar, dengan suara sedikit berbisik, membuat El meringis, sekaligus terkekeh.
"Siap bos!"
...
"Waduuuh, siapa nih yang dateng." ujar seseorang yang usianya diperkirakan 30 tahunan, berjalan menghampirinya.
"Eh bang, sehat?" El mengulurkan tangannya.
"Sehat El sehat, lo kemana aja sih kagak pernah mampir kemari,?"
"Sorry bang, sibuk dikit!"
"Beuuh si bos muda, udah mulai sibuk aja nih,"
"Biasalah bang, ngajarin anak-anak baru."
__ADS_1
"Iya, iya percaya gue!" menepuk pelan bahu El.
"Eh, ngomong-ngomong itu siapa?" menunjuk kearah Kinar menggunakan dagunya.
"Oh iya, kenalin nih bang, cewek gue, Kinar namanya!" menarik tangan Kinar agar berdiri disebelah nya.
"Yang, kenalin ini bang Anton, orang yang aku percaya buat ngelola pabrik ini."
"K-kinar!" ujar Kinar mengulurkan tangannya gugup.
"Anton!" balasnya seraya tersenyum.
"Gila! kagak habis pikir gue, lama ngilang, tahu-tahu pas dateng udah bawa gandengan aja lo, keren-keren, salut gue sumpah!" ujar Anton berdecak kagum.
"Ngomong-ngomong nemu dimana ni, bisa banget lo El dapet berlian kek gini!"
"Ada deh!" jawab El, seraya tersenyum tipis.
"Tahu nggak neng, sebelumnya cowok lo ini kagak pernah yang namanya pacaran, apa lagi sampe bawa-bawa cewek ke tempat kerja, kek sekarang ini, dan gue yakin nih, elo cewek pertama yang jadi pacarnya." ujar Anton, yang membuat wajah Kinar mendadak panas.
...........
Setelah berbasa-basi dengan Anton, El pun mengikutinya menuju ruangannya, untuk melihat pengeluaran dan pemasukan pabrik beberapa bulan kebelakang.
Sedangkan Kinar ia memilih berkeliling untuk melihat para pekerja yang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
"Itu cewek yang dibawa bos El, cantik banget ya, cocok nggak sih?"
"Ck, cantikan gue kemana-mana kali!"
Samar-samar Kinar mendengar percakapan dari karyawan muda yang berada di bagian QC sedang membicarakan nya.
Namun ia memilih tak peduli, dan melanjutkan berkeliling, hingga El datang menghampirinya.
"Yang, pulang yuk!"
"Eh."
"Emang udah selesai?"
"Udah, yuk!" El menautkan jemarinya dengan jemari milik Kinar, dan berjalan santai menuju dimana mobilnya terparkir.
El kembali membukakan pintu mobil untuk Kinar, dan mempersilahkan istrinya untuk masuk, lalu menunduk menarik sesuatu yang berada dibelakang Kinar.
"E-el m-mau ngapain?" ucapnya gugup, membuat El mendongak dan menatapnya dengan jarak yang hanya beberapa centi saja.
"Menurut kamu mau ngapain?" ucapnya tersenyum jahil.
"El?"
"Selesai!" ucapnya, setelah selesai memasangkan seatbelt untuk Kinar, lalu ia pun masuk kedalam mobil.
__ADS_1
"Mau langsung pulang, atau mampir ke tempat lain dulu,?" ujar El ketika mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan area pabrik.
"Pulang aja deh!"
"Cie minta cepet-cepet pulang, mau ngelanjutin yang tadi ya, yang?" goda El sembari mengulum senyum.
"A-apaan sih nyebelin banget!" balasnya gugup, lalu memalingkan wajah menatap kearah kaca mobil.
"Yang?"
Kinar bergeming dengan posisi semula, enggan menyahut ataupun menoleh kearahnya.
"Hei, sayang!" El berusaha meraih tangan Kinar, namun segera ditepisnya.
El menghela nafas, lalu menepikan mobilnya kepinggir jalan, beringsut mendekati istrinya itu.
"Jangan ngambek dong sayang, aku minta maaf ya!" Ucapnya, sedangkan Kinar semakin memalingkan wajahnya kearah samping.
"Aku baru tahu ternyata kalau kamu marah, malah kelihatan tambah gemesin tahu nggak sih?" Bisiknya, sembari meraih tangan Kinar dan menciuminya.
"Nggak lucu!"
"Lah, emang nggak lucu, siapa juga yang lagi ngelawak, kamu ini yang, ada-ada aja sih!" El kembali mencengkram kemudi, dan mulai melanjutkan kembali perjalanan nya yang sempat tertunda.
Sedangkan Kinar, ia sudah kembali ke posisi semula, duduk dalam diam, dengan mata yang lurus kedepan.
"El?"
"Iya!"
"Kenapa bikin pabriknya nggak di tempat rame?" ucap Kinar, saat tiba-tiba mengingat betapa jauhnya lokasi pabrik tersebut menuju tempat keramaian.
"Justru itu sayang, karena disana kaya pedesaan gitu, otomatis kan banyak yang butuh kerjaan pastinya, apalagi ibu-ibu kebanyakan pada butuh uang sampingan, dengan aku bangun pabrik disana, seenggaknya bisa membantu menciptakan lapangan kerja buat mereka."
"Aku banyak belajar dari ayah, kamu tahu nggak sih yang, sewaktu ayah muda, bahkan seluruh karyawan Cafe maupun bengkel, dia itu mungutin anak remaja jalanan, kaya pengamen gitu, ayah bilang seenggaknya kehidupan mereka, makannya, tempat tidurnya, sedikit terjamin, dan nggak perlu lagi tidur dipinggir jalan, atau di emperan."
"Selain membantu mereka untuk membuat hidupnya lebih baik, ayah juga ingin mereka merasakan kehidupan normal seperti remaja biasanya,"
Kinar terdiam, dengan nafas tercekat, mendengar cerita El yang terdengar begitu dalam dan serius, sama sekali tidak menyangka bahwa seorang El yang selama satu bulan ia kenal, memiliki pemikiran yang begitu dewasa.
"Hayo, diem-diem ngelihatin aku terus, baru sadar ya, kalau aku ganteng?" ucapnya dengan kepercayaan diri tingkat tinggi.
"PD banget!"
"Eh, salah ya?" ucapnya lesu.
"Salah!" sahut Kinar dengan senyum di kulum.
.
.
__ADS_1