Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Galau bersama


__ADS_3

Setelah menyelesaikan urusannya, kakek Hardi pun pulang kerumahnya, dan bergegas memasuki ruang kerjanya, seperti biasa.


Berjalan pelan, lalu duduk diatas kursi kebesarannya, menengadahkan wajahnya menatap langit-langit ruangan itu, dengan pikiran yang berkecamuk.


"Kinar, nama yang cantik, secantik hati dan juga wajahnya!" gumamnya, dengan kedua mata terpejam.


"Apakah benar dia cucuku, apa yang harus aku lakukan sekarang, apa yang harus aku jelaskan pada Warti jika kami bertemu suatu hari nanti, aku sangat merindukannya, tapi aku juga takut melihat wajah terlukanya, mengapa baru dipertemukan sekarang, ya tuhan!" ucapnya pada diri sendiri.


........


Sudah seminggu ini kakek Hardi terus mengirimi Kinar beberapa pesan, untuk sekedar menanyakan kabar maupun kesibukan Kinar setiap harinya, dan juga hal-hal kecil lainnya yang dilakukan Kinar.


Sementara sepulang sekolah, kini El kembali disibukkan dengan pekerjaan nya.


"Sibuk mulu lo, tar sore cabut yuk bro," ujar Bang Rommy, putra pertama bang Gavin, anak dari ayah sahabatnya, yang kini menjabat sebagai manager di Cafe raksasa DenadaCafe.


"Kemana bang?" tanya El, dengan mata yang masih fokus pada beberapa lembar kertas ditangannya.


"Ke klub yuk sekali-kali, kalem, bukan buat Minum-minuman keras kok, cuma buat enjoy-enjoy aja, sekalian tuh temen lengket lo si Bian sama Si siapa sih yang satunya gue lupa!"


"Yoga bang!"


"Iya, gimana mau ya, suntuk banget gue sumpah! apalagi kemarin sore gue baru aja putus sama si Disa, apes banget emang nasib gue!" keluh Rommy tak bersemangat.


"Bukan apes, belum jodoh aja kali bang!"


"Ya pokoknya intinya gue lagi merana banget ini, siapa tahu kalau kesana, gue dapet ganti juga yang baru, asik kan?"


"Wah gila lo bang, sehari putus langsung nyari yang baru lagi aja, gampang banget lo moveon nya."


"Ck, hidup itu jangan dibuat ribet, masa iya gue harus terus mikirin cewek yang udah ninggalin gue, rugi bandar dong gue!"


"Iya, serah deh bang!"


. ..........


"Asikk, akhirnya keluar juga, setelah sekian lama ngumpet dari pertapaan." ujar Bian, saat sore ini sudah berkumpul bersama, setelah ditelpon El tadi siang, mengajaknya untuk berkumpul sore ini disebuah klub yang letaknya tidak jauh dari Denada Cafe.


"Wohooo, makin bohay aja ian body lo, boleh tuh!" ujar Rommy, saat memperhatikan tubuh Bian yang kini terlihat berisi dari sebelumnya.


"Montok ya bang, mau coba?" tantang Bian, sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Dih, Najis! amit-amit!" balas Rommy sembari mengusap-usap atas perutnya, yang sontak memancing gelak tawa dari Yoga dan juga El.


"Oh iya, lo bertiga udah ada rencana belom, mau kuliah dimana gitu?" tanya Rommy, sembari mulai menyesap minuman soda nya.

__ADS_1


"Kalau gue sih rencananya mau kuliah di tempat yang deket-deket aja, biar bisa bolak-balik, soalnya belum sanggup gue kalau pisah sama emak gue, kek gimana gitu!" sahut Yoga.


"Dih anak emak! kalau gue sih emang rencana kuliah yang deket juga, tapi bukan karena emak sih, tapi kangen kamar gue aja!" timpal Bian yang mendapat toyoran keras dari Yoga.


"Intinya sama aja kek gue, curut!"


"Kalau elo El?" lanjut Rommy.


"Mungkin kek mereka juga, karena dari awal gue emang nggak ada niat nyari yang jauh, selain gue bisa dekat keluarga terus, gue juga bisa sambil jalanin usaha gue tanpa harus bingung." balas El, yang terdengar sangat santai.


"Wihhh cakep, ok deh berarti fix ya, kita masih bisa terus ketemu tiap saat." ujar Rommy sumringah.


"Yoi bro!"


"Gimana ian lo jadi sama si Fely, cewek yang waktu itu lo pernah ajak jalan?" tanya Rommy, sembari mulai menyalakan benda kecil yang terselip di jarinya.


"Ck, cerita jangan?" balas Bian lesu.


"Cerita lah, ayo gue mau denger!" ujar Rommy tak sabaran.


"Yakin lo mau denger? janji dulu, kalau lo kagak bakalan ngetawain gue?"


"Dih apaan, mau cerita pake acara bikin janji segala coba!''


" Serah, berarti gue kagak jadi cerita."


"Jadi waktu itu gue sama si Fely, udah deket, deket banget malah, terus beberapa hari kemudian gue sama dia jadian, dia bilang dia sayang, dia cinta sama gue, hingga suatu hari gue ajak dia mampir ke Cafe."


Bian memperhatikan raut wajah kedua sahabatnya, yang begitu serius mendengar kan ceritanya, kecuali El yang tengah senyum-senyum sendiri memandangi layar benda pipih ditangannya.


"Lanjutin jangan?"


"Anjirr, lanjutin lah nanggung amat lo cerita." Rommy mendesis kesal.


"Jadi, gue tuh mampir ke Cafenya si El, dan ketemu lah sama bocah disana, gue ajakin ngobrol bareng, dan lo tahu setelah pulang dari sana cewek gue bilang apa?"


"Apaan?" keduanya semakin mendekatkan wajahnya penasaran.


"Dia bilang, maaf ya Ian, ternyata setelah aku pikir-pikir, aku tuh nggak sayang sama kamu, karena di hati aku udah ada yang lain."


Seketika keduannya menyerburkan tawanya, sembari memukul-mukul meja.


"Any ing, bener kan lo malah ngetawain gue!" Bian mendengus kesal, sedangkan keduanya belum juga berhenti tertawa.


"Anjirr, perut gue sampe keram begini tahu nggak!" Rommy meringis memegangi atas perutnya.

__ADS_1


"Ck, emang seriusan sih, kalau gue bawa cewek, atau lagi deketin cewek, disana ada si El, auto nimbrung ke si El semua." timpal Yoga sendu.


"Mungkin itu nasib lo berdua aja yang punya muka pas-pasan, tapi jangan berkecil hati lah, entar juga ada kok cewek yang bisa nerima lo apa adanya," ujar Rommy menghibur keduanya.


"Iya, tapi sampai kapan coba, Bt nggak sih ngejomblo terus?"


"Eh asal lo tahu Ian, ada kok satu perempuan yang selalu nganggap lo spesial sampe sekarang?" lanjut Rommy tersenyum simpul.


"S-siapa?"


"Emak lo!"


Sontak ketiganyapun kembali tertawa, melupakan semua kesedihan, maupun kegalauan yang sedang di alaminya masing-masing.


"Udah lama banget nggak sih, kita kagak ngumpul bareng kek gini, ketawa lepas, galau bareng, curhat bareng," ujar Rommy yang kini menyenderkan kepalanya disenderan kursi.


Tidak terasa bahkan kini keempatnya sudah menghabiskan waktu selama dua jam lebih berada disana.


"Kalau urusan ngerokok, kayaknya dari dulu elo yang paling payah deh El!" ujar Rommy, yang melihat El hanya menghabiskan 2 batang rokok saja.


Sedangkan Rommy, Bian dan juga Yoga, hampir menghabiskan satu bungkus rokoknya.


"Payah emang tuh bocah!" timpal Yoga, sembari memejamkan matanya, dengan posisi duduk, dengan kepala menyender di senderan kursi.


"Jaga kesehatan dia!" lanjut Bian mencibir, sedangkan El lebih memilih tak menanggapinya, karena sejak tadi fokusnya hanya pada isi pesan chat dari Kinar, bahwa tamu bulanannya sudah pergi.


......


Sepulang dari klub, El pun bergegas memasuki kamar, mencari keberadaan istrinya, yang kini tengah duduk didepan meja rias, menyisir rambutnya yang sedikit basah karena habis keramas.


"Sayang!" ucapnya, dan langsung memeluk tubuhnya penuh kerinduan.


Kinar terdiam sejenak, lalu mengendus-endus aroma asing dari tubuh El.


"Kamu ngerokok?" tanyanya dengan tatapan menuduh.


"Eh,"


"Kamu ngerokok?" ulangnya.


"I-iya yang!" jawabnya polos, sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Berarti, kamu nggak boleh deket-deket aku sebelum bau rokoknya bener-bener hilang!" ujar Kinar dan bergegas keluar kamar, membuat El melongo, namun detik kemudian mengacak rambutnya frustasi.


.

__ADS_1


.


__ADS_2