
Setelah dirawat selama 2 hari, Hardi pun berpamitan, pulang ke Jakarta, untuk menemui anak istrinya, yang sudah ia tinggalkan selama 16 bulan ini.
ia yakin, selama ini anak istrinya sangat menanti kepulangan nya.
Namun saat sampai di alamat tujuan, kontrakan yang ditempati istrinya selama ini, sudah berganti penghuni, Hardi bertanya kepada pemilik kontrakan, namun ia bilang, ia telah mengusir Warti istrinya satu tahun yang lalu, karena sudah lama menunggak.
Setelah Berhari-hari tak berhasil menemukan istrinya, Hardi pun kembali ke Surabaya, menemui Mira, dan disaat yang bersamaan Mira tengah melakukan hal nekat, ia hendak bunuh diri dari atap rumahnya yang berlantai dua.
"Tolong saya Hardi, tolong menikahlah dengan Mira, hanya kamu yang bisa menghentikan nya, tolong saya, apapun yang kamu minta akan saya berikan semuanya, tapi tolong hentikan Mira, hentikan dia!" ujar Rama yang kini berjongkok memegangi kepalanya frustasi.
Tanpa menjawab ucapan dari Rama, Hardi pun bergegas menaiki atap rumahnya.
"Mira, jangan berbuat nekat, ayo turun, kasihan papa kamu Mir!"
"Kak Re_ Hardi," pekiknya, karena merasa kaget melihat Hardi tiba-tiba berada dihadapannya.
"Ayo turun Mir!" Hardi mengulurkan tangannya.
"Nggak mau!"
"Mir,"
"Aku mau turun, kalau kak Hardi janji mau nikahin aku!"
"Ok, kita bakalan nikah hari ini juga!" ucap Hardi setelah lama terdiam.
"B-beneran?" tanya Mira dengan mata terbelalak.
"Iya!"
Mira pun berjalan mendekati Hardi dan memeluknya erat, dan hari ini juga akhirnya Hardi menepati janjinya menikahi Mira, meski dalam hati ia merasakan rasa bersalah yang teramat besar, bahkan disaat ia melakukan malam pertama dengan Mira pun, yang dipikirkannya hanyalah Warti dan juga Safira putrinya.
Sudah bertahun-tahun lamanya Hardi dan Mira pindah ke Jakarta, namun selama itu pula ia belum juga menemukan Warti maupun putrinya.
Tidak ada yang bisa ia hubungi, karena Warti memang hidup sebatang kara dan tidak memiliki keluarga, orang tuanya sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan, begitupun dengan dirinya yang berasal dari sebuah panti asuhan.
.... ..... ....
Warti yang saat itu menantikan suaminya yang tak kunjung pulang pun hanya bisa menangis setiap hari, hingga ia terusir dari kontrakannya, karena sudah 4 bulan menunggak.
Saat di tengah perjalanan yang sedikit sepi, ia tak sengaja melihat seorang wanita yang tengah dihadang seorang pereman yang sedang membawa senjata tajam, wanita itu merintih ketakutan, saat si preman tersebut menempelkan senjata tajam di lehernya.
Merasa tak tega sekaligus kesal melihat perempuan tersebut di perlakukan kejam, Warti pun menyuruh Safira bersembunyi dibawah pohon, sedangkan ia mengambil sebatang kayu yang lumayan keras, lalu berjalan pelan dibelakang pereman tersebut.
__ADS_1
Buuuukkkk!
Sekuat tenaga ia memukul tengkuk preman tersebut hingga tergeletak pingsan.
Sedangkan wanita yang ditolongnya, melongo tak percaya, namun detik kemudian ia berteriak sembari memeluknya.
"Terima kasih banyak, saya nggak tahu kalau nggak ada mbak, nasib saya akan seperti apa!" ujarnya sambil menangis, dan tak Henti-hentinya memegangi tangan Warti.
"Sama-sama mbak, itu cuma kebetulan aja saya lewat sini!"
"Ibu!" seorang anak kecil berlari menghampirinya.
"Eh Safira sayang!" Warti memeluknya, serta mengusap kepalanya.
"Anak mbak?" tanyanya.
"Betul mbak, anak saya!"
"Cantik ya, kayanya seusia sama anak saya, umurnya berapa tahun sayang?" tanyanya, sembari menjawil dagu manisnya.
"3 tahun lebih tante."
"Wah bener ternyata, seumuran sama anak tante, kapan-kapan main ya kerumah tante, main sama anak tante."
"Perempuan sayang, namanya Nada."
"Nama panjangnya apa tante?"
"Denada Sena Gantari sayang." balas Sarah Sambi terkekeh.
"Namanya bagus ya tante!" balasnya polos, yang sontak membuat Sarah tergelak.
"Lucu banget sih kamu!" ucapnya yang kembali menjawil dagu lancipnya.
"Eh ngomong-ngomong Fira mau kemana kok bawa tas besar gitu?" tanyanya, saat melihat Safira menarik tas yang tadi dititipkan ibunya saat ia hendak memukul preman tadi.
"Kami baru saja di usir dari kontrakan!" balas Warti, seraya memaksakan senyum, karena tidak mau terlihat lemah dihadapannya.
"Yaampun, kok bisa?"
"Maklum lah mbak, kelamaan nunggak!"
"Yasudah, lebih baik kalian ikut saya!" Sarah hendak membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
Sedangkan Warti bergeming dengan wajah bingung.
"Anggap aja sebagai ucapan terimakasih saya, karena sudah menolong saya tadi." lanjutnya, yang melihat Warti hanya diam ditempatnya.
"Oh iya perkenalkan saya Sarah!"
"Saya Warti mbak!" balasnya, kemudian keduanya pun berjabat tangan, lalu setelahnya Sarah mengajak Warti untuk segera memasuki mobilnya.
"Ini tempat tinggal untuk mbak sama anaknya, Mudah-mudahan nyaman, dan betah ya tinggal disini!"
"Emang kelihatan mirip toko sih rumahnya, karena tadinya memang mau dibikin toko, tapi nggak jadi, karena jarak dari rumah saya kesini lumayan jauh, kalau soal perabotan didalamnya lumayan kumplit kok!" ujar Sarah ketika sampai di depan sebuah bangunan baru yang tidak terlalu besar, ataupun tidak terlalu kecil.
"T-tapi_"
"Tenang aja, tempat ini nggak saya sewakan kok, mbak sama Safira boleh tinggal disini sampai kapanpun mbak mau,"
"Yaampun mbak, terimakasih banyak, saya nggak tahu harus membalas nya dengan cara apa,?" ujar Warti yang kemudian menangis haru.
"Justru saya yang harusnya berterima kasih, karena mbak sudah menyelamatkan nyawa saya, dan ini ada sedikit uang buat modal buka usaha!" ujar Sarah menyerahkan uang dengan jumlah yang lumayan banyak.
"Mbak_"
"Saya permisi dulu, mau jemput anak saya disekolah!" ujarnya, dan bergegas pergi.
Namun, 15 menit kemudian, Sarah kembali dengan menenteng 2 keresek besar yang berisi makanan berat, dan juga cemilan kering lainnya.
"Buat ngemil, kalau malem disini cuacanya lumayan dingin katanya, lumayan lah buat teman ngopi!" ujar Sarah yang kemudian menyerahkan dua keresek besar tersebut ketangan Warti.
"Mbak!"
"Jangan protes, saya harus cepat-cepat pulang!" ucapnya yang kemudian pergi secepat kilat.
Sejak saat itulah, Sarah dan Warti menjadi sangat dekat, dan bersahabat.
Sesekali, Sarah berkunjung ke warung makan Warti, begitupun Warti yang terkadang berkunjung ke toko kue Sarah.
Hingga suatu hari, Warti memutuskan untuk pindah, mencari kontrakan yang dekat dengan kontrakan sebelumnya, berharap Hardi akan kembali untuk mencarinya.
Selama 2 tahun Sarah maupun Warti tidak lagi bertemu, karena Kini tempat tinggal mereka sangat berjauhan, dan di tahun ke tiga rumah makan baru mereka mengalami kebakaran, sehingga mengakibatkan seluruhnya hancur tak tersisa.
Sejak saat itu, Warti mulai bekerja sebagai buruh cuci atau bersih-bersih dirumah tetangga nya, untuk membiayai hidup serta sekolah Safira.
Dan tahun demi tahun pun berlalu, Safira tumbuh menjadi sosok remaja yang cantik dan ramah, setelah lulus SMA Safira bekerja di salah satu Cafe di dekat perkantoran, dimana sebuah awal pertemuannya dengan Surya Aditama, pewaris tunggal dari keluarga Adiguna.
__ADS_1
#Flashback Of..