
Setelah mengajaknya makan di salah satu warung Gado-gado di pinggir jalan, sore ini El mengajak Kinar untuk melihat-lihat peternakan sapi dan juga peternakan kambing milik ayahnya.
"Aduh si aden dateng meni nggak Bilang-bilang atuh den, tahu gitu kan tempatnya mamang bersihin dulu." ujar mang Tono merasa tidak enak, mang Tono merupakan seseorang yang di percaya Ando untuk memegang peternakan nya.
"Nggak apa-apa mang, namanya peternakan pasti kotor kan, lagian istri saya orangnya nggak jijik an kok."
"I-istri, si Aden udah nikah?" mang Tono melirik kearah Kinar, lalu kembali menatap El penuh tanya.
"Iya mang kenalin, namanya Kinar."
"Kinar, mang!" ujar Kinar sembari mengulurkan tangannya.
"Eh, sebentar non, maaf saya cuci tangan dulu ya!"
"Enggak usah mang,!" cegah Kinar, meraih tangan mang Tono kemudian di salaminya.
"S-saya Tono non." balas mang Tono canggung.
Setelah berkenalan, dan mengobrol sebentar, El dan Kinar pun berpamitan pada mang Tono, untuk melihat-lihat sapi milik ayahnya.
"Lucu ya El, sapinya Gemuk-gemuk, jadi pengen bawa satu kerumah gitu!" ujar Kinar sembari mengelus-ngelus kepala sapi yang berbulu coklat tersebut.
"Ada-ada aja sih kamu itu sayang, bawa sapi kerumah mau di taro dimana coba?"
"Iya sih!" balasnya disertai kekehan kecil.
"Aku nggak nyangka deh kalau Ayah itu punya banyak sekali perusahaan El." ujar Kinar, yang kini sedang duduk di atas kursi pelastik, sambil menikmati segelas es tebu, dari seorang pedagang, yang biasa mangkal di depan gang sebelum memasuki area peternakan.
"Kamu mau denger sedikit cerita tentang ayah?"
"Cerita apa?"
"Tentang masa kecil Ayah." Kinarpun mengangguk, dengan mata berbinar.
"Tapi ceritanya di Villa aja ya, kita pulang dulu, udah mau gelap nih!" El pun membayar es tebu milik keduanya, lalu bergegas pulang menuju Villa.
Sampai di Villa, El mandi terlebih dulu, sedangkan Kinar mencari bahan makanan untuk di masak, yang disediakan bi Arum satu hari sebelum kedatangan Mereka disana.
"Eumz enak kayaknya nih!" ucap El yang sudah berganti pakaian dengan piyama nya.
"Kamu makan aja duluan ya, aku mau mandi dulu!" ujar Kinar, sembari melepaskan Apron yang melekat ditubuhnya.
__ADS_1
"Yang, mandinya entar aja, temenin dulu ya!" pintanya, menarik tangan Kinar, hingga terduduk diatas kursi disamping meja makan, Kinar pun menurut, dan segera mengambilkan nasi serta lauk pauk untuk El dan juga untuk dirinya.
Keduanya pun menikmati makanan nya dengan lahap, tanpa banyak berbicara.
"Aku aja yang cuci, kamu mandi gih!" El mengambil alih piring kotor yang berada ditangan Kinar, kemudian membawanya kearah Kitcen sink, lalu mencucinya.
******
"Kamu hutang cerita lho sama aku El?" ujar Kinar, sembari memainkan kancing piyama El, sedangkan El sibuk membalas beberapa pesan chat dari karyawannya.
Merasa terus di abaikan, Kinar pun Beringsut menge cup lehernya Lembut, membuat El seketika menghentikan aktifitas nya.
"S-sayang kamu_?"
"Aku kenapa.?" balas Kinar, dengan wajah tanpa dosa.
"Kamu udah pinter godain suami ya, sekarang?" matanya mengerling nakal.
"Abisnya kamu ngeselin, aku kan pengen denger cerita tentang ayah." ucapnya memberengut.
"Yaudah sini!" El menarik tubuh Kinar, lalu ia senderkan di dadanya.
"Maksudnya?" Kinar mendongak menatap wajah tampan suaminya itu.
"Dulu waktu ayah masih kecil, ayah itu udah ditinggalin sama Oma, dan selama beberapa tahun berjalan, ayah benci banget sama Oma, karena dia pikir Oma nggak sayang sama dia, dan semuanya terbongkar saat ayah udah nikah sama bunda,"
"Dan yang ayah tahu itu, kalau Oma pergi karena Opa nggak mampu memenuhi kebutuhan rumah, dan dari situ ayah mutusin buat bikin usaha dengan modal mengumpulkan uang jajan yang dikasih Oma sama Opa, karena dia nggak mau jika suatu hari dia dewasa dan punya keluarga kekurangan uang, dan berakhir seperti Oma dan Opa."
El menghela nafas panjang sebelum kembali menceritakan kisah pahit yang dialami sang ayah, sesungguhnya ia tak ingin membahas tentang kehidupan masa lalu ayahnya yang membuat dirinya ikut merasakan rasa sakitnya, namun ia terlanjur berucap pada Kinar, bahwa ia akan menceritakan semuanya.
"Waktu itu bunda nggak sengaja nemuin sesuatu didalam gudang, yang membuat bunda penasaran, dan pada akhirnya mencari tahu sampe tuntas, dan ternyata usaha bunda membuahkan hasil, sesuatu yang disembunyikan Opa bertahun-tahun dari ayah akhirnya kebongkar, kalau ternyata diam-diam Opa menikahi mantan pacarnya yang hamil oleh orang lain."
"M-masa sih El Opa Rendra begitu?" Kinar menatap El tak percaya.
"Bukan Opa Rendra sayang, ini almarhum Opa Jordy,"
"A-almarhum?"
"Iya, Opa udah nggak ada!"
"D-dari kapan?"
__ADS_1
"Ditahun pertama pernikahan ayah sama bunda."
Kinar pun terdiam, ia tak lagi bertanya, mendengar cerita dari El saja hatinya ikut berkedut nyeri, tak bisa membayangkan rasanya jadi Ando, ayah mertuanya.
"Kok diem?" ucapnya, sembari menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kinar, menghirup aroma Kinar yang sudah menjadi candu baginya, dan tanpa sadar ia menggigit nya pelan.
***************
"Ck, nggak bisa lain kali, lo tahu kan gue lagi di Bogor?"
"Ok ok!" El mengusap wajahnya gusar, sembari melempar ponselnya keatas nakas.
"Kenapa,?" ucap Kinar, sembari menaikan selimut untuk menutupi tubuh polosnya sisa dari kegiatan panasnya dengan El beberapa menit yang lalu.
El mengacak rambutnya frustasi, menatap penuh sesal terhadap Kinar, seharusnya ia bisa menikmati liburannya di Bogor selama satu minggu penuh, akan tetapi baru saja Bian menghubunginya memberi tahu agar ia harus datang besok sore ke ArsenioCafe.
"Yang aku minta maaf sayang, maaf banget!" El menggenggam tangannya lembut.
"Kamu kenapa sih?" tanyanya bingung.
"B-besok, besok kita terpaksa pulang sayang, soalnya Frans mau ketemu sama aku, karena lusa dia harus balik ke London sama keluarganya."
"Frans siapa?"
"Temen aku waktu SMP, tapi dia menetap di London, karena ayahnya emang asli orang sana."
"Yaudah nggak apa-apa kok, lain kali kan kita bisa kesini lagi, tapi kalau temen kamu belum tentu kan, dia bakalan sering datang ke Indonesia." balas Kinar tersenyum manis.
"Kamu nggak marah?" tanya El tak percaya.
"Kenapa harus marah?"
"Ya karena gara-gara aku liburan kita jadi gagal."
"Udah nggak apa-apa, takut banget sih kayanya kalau aku marah."
"Jelaslah aku takut, kamu tahu yang kalau kamu udah marah itu nyeremin, diem terus, bikin aku jadi serba salah dan bingung, jadi aku tuh mendingan di marahin terus, seenggaknya kamu masih mau ngomong sama aku dari pada diem,"
.
.
__ADS_1