
"El, yaampun cucu ganteng Oma!" Oma Indri berteriak kegirangan, saat mengetahui cucunya yang datang.
"Gimana kabar kamu sehat nak, sombong ya sekarang, mentang-mentang udah gede!" lanjut Oma Indri,yang kini tengah memeluknya erat.
"Baik kok Oma, Oma sendiri gimana keadaannya, El denger bulan lalu Oma sempet di rawat kan?"
"Oma cuma kecapean aja kok, Eh itu kan_!" ujar Oma Indri ketika baru menyadari keberadaan Kinar dibelakang El.
"Oh iya Oma, Oma belum pernah ketemu kan sama Kinar!" potong El, sembari merangkul tubuh Kinar sehingga berhadapan langsung dengan sang Oma.
"Hallo sayang, ternyata bener kata Nada ya, Kinar ini lebih cantikan aslinya dari pada yang di foto," ujar Oma Indri seraya tersenyum hangat, membuat Kinar meringis, sekaligus tersipu.
"Ayo ayo, ikut Oma kedapur, kalian pasti belum pada makan kan?" Ujar Oma Indri, yang kini menarik kedua tangan cucu-cucunya agar mengikutinya ke arah dapur.
"Om nathan sama Opa kemana Oma?" tanya El, yang sudah duduk manis diatas meja makan, menunggu Kinar dan Oma Indri yang sedang memanaskan makanan.
"lagi belanja keripik kentang, biasalah kesukaan mereka!" balas Oma Indri, sembari meletakan semangkok sayur yang sudah dipanaskan.
"Satya sama Satria gimana kabarnya, Oma kangen banget lho sama si kembar, dia itu jarang banget mau ikut kesini," ujar Oma Indri yang terdengar sendu.
"Kabar mereka baik kok Oma, mereka itu lagi seneng-senengnya main, jadi susah kalau di ajak kumpul keluarga." sahut El, sembari mengunyah keripik kentang yang berada diatas meja.
"Ngemilnya nanti, makan dulu nih!" Kinar menahan tangan El yang hendak mengambil keripik, dan menggantikannya dengan sepiring nasi yang sudah lengkap dengan lauk pauknya.
"Iya sayang, makasih!"
"Ih kalian kok manis banget sih, Oma iri deh!" ujar Oma Indri dengan senyum di kulum.
"Kinar bisa masak nak?" tanya Oma, setelah ketiganya baru saja menyelesaikan acara makan sorenya.
"Bisa Oma, masakan nya beuh enak banget!" sahut El, seraya mengangkat kedua jempolnya.
"Wah, udah cantik, baik, pinter masak lagi, beruntung banget sih cucu Oma!"
"Kayanya El ini banyak berubah deh sekarang, tahu nggak nak, si El itu dulu paling cuek sama yang namanya perempuan, bahkan El itu nggak pernah yang namanya pacaran lho sebelumnya, dia itu kalah sama adenya si Satria, pokoknya El itu persis ayahnya banget, Ando!"
"Emang iya, Oma?"
"Ih beneran,"
"Tapi waktu itu El bilang punya pacar, Oma!" sahut Kinar, yang kini menoleh kearah El, yang sedang meringis.
"Eh ada tamu ternyata!" ucap seseorang yang baru saja masuk, memotong obrolan diantara mereka.
"Eh Opa!" El beranjak dari duduknya dan bergegas menghampiri laki-laki yang berstatus Opanya tersebut.
"El, yaampun lama nggak kesini kamu, duhh sekarang nginepnya bawa istri ya!" ucapnya seraya terkekeh.
"Hallo Opa!" ujar Kinar mengulurkan tangannya kearah sang Opa.
"Hallo cantik, Kinar kan namanya?"
__ADS_1
"Betul Opa!" balas Kinar setelah selesai menyalaminya.
"Wih pinter banget ya si El nyari istri, milihnya yang cakep!"
"Iya lah!" sahut El cepat, yang membuat Opa Rendra tergelak.
"Hei Om, gimana kabarnya?" El mengulurkan tangan menyalami Nathan yang baru saja menyembul dibelakang Opa Rendra, dan diikuti Oleh Kinar.
"Om Gilang apakabarnya Opa?"
"Baik kok, beberapa hari yang lalu dia baru aja nginep dari sini!"
"Udah lama banget kayaknya nggak ketemu sama dia!"
"Kapan-kapan deh, kalau dia kesini lagi Opa hubungin kamu biar bisa nginep bareng,"
"Ok siip!"
Keduanya pun terlibat obrolan panjang, diatas meja, sedangkan Kinar diantar Oma Indri menuju kamar tamu, begitu juga dengan Nathan yang sudah kembali kekamarnya hendak mandi, karena hari mulai sangat sore.
"Ini kamar Kinar sama El, gimana nyaman nggak, kalau yang ini kurang nyaman, boleh Lihat-lihat ke kamar lainnya ya!"
"Eh jangan Oma, nggak usah ini udah lebih dari nyaman kok!" ujar Kinar tersenyum manis.
"Yasudah kalau begitu, disana ada baju ganti kalau Kinar nggak bawa, baru semua kok, sengaja Oma beliin untuk ganti, sewaktu Kinar dan El kesini!" ujar Oma Indri sembari membuka lemari dan menunjukkannya pada Kinar.
"Yaampun Oma repot-repot, makasih banyak!"
"Oh iya, ini ada sesuatu buat hadiah pernikahan kalian!" Oma menyerah kan kotak hitam segi empat.
"Apa ini Oma!"
"Bukanya nanti kalau udah sampai Jakarta ya!"
"Terimakasih banyak Oma!"
"Iya sayang, oh iya Oma punya gaun spesial buat pengantin baru." lanjut Oma, sembari mengambilnya dari dalam lemari.
"Nah ini dia!"
Seketika Kinar pun membelalakan matanya tanpa berkedip, memandangi gaun yang menurutnya kurang bahan itu.
"O-oma!"
"Malam ini dipake ya, Oma yakin El pasti akan sangat senang sekali melihat Kinar memakai gaun ini."
"Tapi Oma!"
"Jangan menolak, sekali-kali gantian istri yang menggoda suami!" ucap Oma tersenyum geli, sedangkan Kinar tersipu dengan wajah merona, menahan malu.
"Yasudah sana gih mandi, Oma mau kebelakang dulu, jangan lupa dipakai ya sayang!" bisiknya sebelum menutup pintu kamar Kinar.
__ADS_1
Setelah kepergian Oma Indri, Kinar kembali memandangi baju transparan tersebut, sambil sesekali berpikir.
Ia tiba-tiba teringat dengan kemarahan El kemarin.
Apa aku pake aja ya, batin Kinar sembari menggigit Bibir bawahnya, ragu.
"Dingin ya, kok udah selimutan, tanya El?" yang baru kembali setelah isya, bahkan bajunya pun sudah diganti dengan baju yang lebih santai dari sebelumnya.
"I-iya disini dingin, kok kamu udah ganti baju, emangnya udah mandi?"
"Udah dong, dikamar sebelah, kebetulan ada baju aku juga sih yang ditinggal, dan aku pake sewaktu kesini."
"Ehmm, itu kok perbannya udah dibuka?" Ujar Kinar saat melihat tangan El, yang lukanya hanya tertutup plester.
"Kan tadi aku udah bilang, kalau lukanya udah sembuh, jadi aku buka aja lah ribet!"
El pun, menaiki kasur, merangkak mendekati istrinya.
"Anak oma ada 3?" tanya Kinar, saat El sudah berada di sampingnya, memainkan dan menciumi ujung rambutnya.
"Iya sayang, tapi Om Gilang rumahnya jauh, dia tinggal di surabaya,"
"Jauh banget!"
"Iya, istrinya kan orang sana."
"Kok nggak tinggal disini aja!"
"Soalnya, istri om Gilang itu anak satu-satunya, katanya nggak mau jauh dari kedua orang tuanya, terlebih Om Gilang juga lebih nyaman tinggal disana."
"Ehmm."
"Ngomong-ngomong, kenapa sih yang, dari tadi megangin selimut terus?" ujar El, saat melihat Kinar memegangi selimut yang menutupi ujung kaki hingga dadanya.
"Euhmz_"
Dalam satu tarikan El berhasil membuat selimut itu terlepas dari tubuh Kinar hingga teronggok dilantai, dan seketika ia membelakan matanya tanpa berkedip, melihat pemandangan yang begitu indah di depannya.
"S-sayang k-kamu?" ucapanya dengan suara tercekat, tanpa mengalihkan pandangan nya, dari baju yang digunakan Kinar, yang memperlihatkan dengan jelas baju bagian dalamnya.
"Kamu mau menggoda aku?" tanya El dengan tatapan ingin.
"Emangnya kenapa?" tantang Kinar, yang membuat perasaan El semakin bergejolak tak karuan.
"Udah berani ya sekarang!" El dengan sigap merengkuh tubuhnya posesif.
"Aku pastiin besok pagi kamu nggak bisa jalan sayang!" bisiknya, yang kemudian menyerang Kinar tanpa ampun.
.
.
__ADS_1