
"Kalung dari siapa ini yang?" ujar El saat menyadari Kinar memakai kalung yang baru dilihatnya hari ini.
"Dari bunda, katanya titipan dari almarhumah ibu." balas Kinar sembari menyentuh ujung bandul kalungnya, dan membetulkan selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"Kayanya itu dalemnya foto deh yang!" ujar El ikut yang menyentuh bandul kalung tersebut.
"Masa sih?"
"Boleh aku lihat,?" tanya El meminta izin terlebih dahulu, yang kemudian diangguki oleh Kinar.
"Tuh kan bener ini tuh isinya foto," ujar El setelah berhasil membuka bandul kalung tersebut.
"Kamu kenal dia yang?" tanya El sembari mengangsurkan sebuah foto seorang laki-laki yang tengah menggendong anak perempuan kecil yang di perkirakan berusia 3 tahunan.
Kinar menggeleng, "Nggak!"
El berpikir sejenak, mengingat-ingat kembali, barangkali ia pernah bertemu dengan laki-laki itu, namun seberapa besar ia berusaha untuk mengingat, hasilnya nihil, karena ia memang benar-benar tak mengenalinya.
"Gini yang, Oma kan kenal banget, deket malah sama keluarga kamu, gimana kalau kita coba tanya sama Oma, siapa tahu dia kenal sama orang ini."
"Jadi?"
"Sekarang juga kita pergi kerumah Oma ya!"
"Yaudah!"
Keduanya pun bergegas mandi, lalu Bersiap-siap menuju rumah Oma nya.
"Den, kata ibu kalau udah selesai, suruh nyusul ibu kerumah Oma, buat makan bareng!" ujar bi Odah, yang kini berpapasan diujung anak tangga.
"Bunda udah berangkat?"
"Udah den, Kira-kira setengah jam an yang lalu kayaknya."
"Yaudah bi, makasih saya dan Kinar pergi dulu ya!"
"Iya den non, Hati-hati!"
"Siap bi."
...........
"Ck, dasar pengantin baru, datengnya pasti paling terakhir terus!" goda Oma sarah, begitu melihat El dan Kinar baru saja turun dari motornya.
"Gimana Nar, si El nggak kasar kan mainnya?" tanya Oma Sarah sembari terkekeh, yang seketika menciptakan rona merah diwajah Kinar.
"Ck Oma apaan sih ngomongnya, El sama Kinar kesini itu serius mau nanya sesuatu sama Oma!" ujar El, mengalihkan pembicaraan absurd sang Oma.
"Soal apa sih, Oma jadi penasaran."
"Soal kalung Kinar Oma!"
"Bunda mu udah ngasihin kalungnya nak?" tanya Oma Sarah pada Kinar.
"Udah Oma, Terima kasih banyak Oma!"
__ADS_1
"Sama-sama sayang, jadi apa yang mau Kinar tanyakan pada Oma?"
"Ini Oma, apa Oma kenal sama seseorang yang ada di foto ini?" menunjukkan foto yang berada di dalam bandul kalungnya kearah Oma Sarah.
Oma Sarah pun mulai memperhatikan foto tersebut dengan seksama, "Dia Hardi, suaminya Almarhumah Warti."
"M-maksud Oma, dia kakek Kinar Oma?" tanya Kinar dengan suara terbata.
"Iya, sebaiknya nggak usah terlalu di pikirkan nak, karena kakek kamu itu sikapnya tidak beda jauh dengan Ayahmu, yang sama-sama meninggalkan anak istrinya demi harta." balas Oma, yang terdengar sangat malas saat membahas tentang mereka.
"Jadi Kakek masih hidup Oma, tapi kenapa selama ini nenek sama ibu selalu bilang kalau kakek itu udah meninggal, bahkan untuk melihat fotonya pun baru kali ini." ujar Kinar yang tampak sangat kebingungan.
"Ya mungkin nenek dan ibumu tidak mau menambah kesan yang menyakitkan setelah apa yang kamu rasakan dari ayah kandungmu."
"Sudah sudah, sebaiknya kita makan dulu yuk, tuh bi Salma udah siapin semuanya." ujar Oma Sarah, sembari menyeret keduanya menuju meja makan.
"Sini kak, kak Kinar duduk disamping Tika ya!" dari kejauhan Kinar sudah berlari menghampiri Kinar dan menarik tangannya.
"Dih sekarang punya kakak baru, lupa deh sama abang?" ujar El yang berpura-pura memasang wajah kesal.
"Bosen ah, abis abang orangnya nggak asik, nyebelin kaya si abang kembar itu!" tunjuk Cantika pada kedua abangnya yang sibuk membakar ikan.
"Awas aja ya kalau nanti minta abang beliin boneka lagi!"
"Nggak kok, boneka Tika udah banyak wlee!" Cantika pun segera menarik tangan Kinar untuk melihat hasil bakaran ikan oleh kedua Abang kembarnya.
"Ihs, ini apaan sih bang kok ikannya item semua begini?" protes Cantika, saat melihat beberapa ikan mas diatas piring yang lebih pantas di sebut ikan arang.
"Shhhhtt.. jangan bilang-bilang bunda, abang mau ngambil lagi yang baru, janji deh nggak bakalan gosong lagi!" bisik Satria sembari menempelkan telunjuknya dibibir Cantika.
"Kenapa sayang?" tanya Nada bingung, pasalnya disana ada Kinar yang juga tengah menemaninya.
"Lihat deh bun!" menunjuk piring yang berada dibelakang Satria.
"Kenapa sayang, abang nakal?" tanyanya.
"Bukan bun, tapi ikan yang ada dibelakang abang!"
"Kenapa ikannya?"
"Coba deh bunda lihat!"
Nada pun menoleh kearah Satria yang tersenyum kaku.
"Yaampun, Satria! kebiasaan deh ikannya dibikin begini, mana bisa di makan?" jerit Nada yang sontak membuatnya meringis sembari menutupi kedua telinganya.
............
. ..
Setelah mengetahui Kinar tak lagi bekerja, sekarang Nada lebih sering mengajak nya keluar, agar Kinar tidak merasa jenuh dan bosan, awalnya El tidak setuju kekasih nya itu keluyuran diluaran, namun saat mengingat ia pergi dengan bundanya, akhirnya dengan berat hati El pun mengizinkan nya.
Seperti pagi ini, Nada sudah menunggunya didepan rumah, untuk kembali mengajaknya berkeliling mall, sekaligus untuk membelikan nya pakaian baru serta tas dan juga kebutuhan Kinar yang lainnya.
"Ke toko kue dulu ya pak!" ujar Nada, pada mang Arif sopir pribadinya.
__ADS_1
"Baik bu!"
"Nggak apa-apa kan sayang, bunda ajak Kinar mampir ke toko bunda dulu sebentar?"
"Nggak apa-apa bun, justru Kinar malah seneng kok, bisa tahu toko kue bunda dimana, kalau bunda sempet, Kinar juga mau dong bun belajar bikin kue." balasnya, yang membuat Nada tersenyum.
"Boleh, kapanpun Kinar mau bunda ajarin, Kinar tenang aja, waktu bunda banyak kok!"
"Beneran bun?" ucapnya antusias.
"Beneran dong!"
"Makasih banyak bunda." tanpa rasa canggung Kinar pun langsung memeluk ibu mertuanya tersebut.
"Sama-sama sayang!" ucap Nada yang kemudian balas memeluknya.
...........
Mang Arif menghentikan Mobilnya, di tempat parkir yang memang lumayan luas disamping toko kue Nada.
Saat mereka masuk beberapa pelayan tampak menunduk hormat, sekaligus menyapa Nada sambil tersenyum ramah.
Kebanyakan dari mereka seorang perempuan yang terlihat masih muda-muda, dan cantik-cantik.
Setelah mengecek, dan mengobrol sebentar dengan salah satu karyawan terpercayanya, Nada pun kembali membawa Kinar untuk melanjutkan perjalanan nya ke tujuan utamanya, yaitu pergi ke sebuah mall.
"Tokonya lumayan gede banget ya bun?" Ujar Kinar yang kini sudah kembali menaiki mobil bersama Nada disamping nya.
"kalau yang ini termasuk kecil nak, ada yang lebih gede lagi, tapi jaraknya dari sini lumayan jauh, ya mungkin sekitar 1 jam an lah!"
"Jauh juga ya bun.?"
"Justru itu, makanya bunda males banget kesana."
"Kira-kira bunda kalau kesana berapa minggu sekali?"
"Nggak ada kata mingguan, tapi bulanan nak, kadang 3blan sekali, ya kadang 4 bulan sekali sih!" balas Nada terkekeh geli.
"Yaampun bunda."
...........
"Kinar pilih apapun yang Kinar suka ya! bunda mau lihat-lihat dasi buat ayah sebentar!" ujar Nada saat keduanya kini berada di salah satu mall terbesar di Jakarta.
"Tapi disini harganya mahal-mahal bun?"
"Udah nggak apa-apa, nggak tiap hari ini kan, yaudah bunda tinggal bentar ya!" lanjut Nada yang kemudian melangkah menuju tempat bermacam-macam dasi.
"Iya bun."
Brukkk.
Saat Kinar hendak mulai melihat-lihat model baju yang berjejer membalut maneken, Tiba-tiba seseorang tak sengaja menabraknya hingga terjatuh.
.
__ADS_1
.