Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Masa lalu


__ADS_3

Sore ini Surya menghabiskan waktunya untuk beristirahat, merebahkan tubuhnya diatas kasur, sembari menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang Melanglang buana, memikirkan nasib yang baginya teramat tragis.


Meremas rambutnya frustasi, saat mengingat kembali pertemuan terakhirnya dengan Safira, istri pertama yang ia nikahi karena cinta.


*********


#Flashback on..


"Saya akan melamar Safira, putri ibu!" ujar Surya mantap, saat ia mampir ke rumah Safira untuk yang pertama kalinya.


Dan perkataan spontan itu membuat bu Warti kaget bukan main, karena setahu dia Safira putrinya, tidak pernah berhubungan dengan laki-laki manapun.


"Saya akan berusaha membahagiakan putri ibu bagaimana pun caranya." lanjut Surya berusaha meyakinkan calon ibu mertuanya.


"Tapi nak, putri ibu ini baru berumur 18 tahun, ibu rasa ia belum cukup umur untuk menikah, dan berumah tangga, khawatir kalau dia tidak bisa melayani suami sepenuhnya, terlebih kami ini orang nggak punya nak, tidak ada yang dapat dilihat dari keluarga kami."


"Saya sangat mencintai Safira bu, tidak peduli apapun statusnya, bagi saya dengan Safira mau menikah dengan sayapun, saya akan merasa sangat bahagia."


"Tapi nak."


"Tolong restui kami bu, saya berjanji akan membahagiakan Safira semampu saya." mohon Surya, yang terlihat sangat meyakinkan, di mata bu Warti.


"Safira mau menikah dengan nak Surya?" tanya bu Warti pada putrinya, yang kemudian diangguki olehnya.


1 minggu setelahnya, pernikahan itu pun terjadi, tanpa banyak tamu yang datang ataupun ramai dengan sebuah pesta didalamnya.


Pernikahan itu diadakan secara diam-diam, tanpa banyak yang tahu, karena Adiguna tidak merestuinya, dan merasa malu memiliki menantu yang tidak jelas asal usulnya.


Adiguna semakin membenci Safira, saat satu tahun usia pernikahan nya tak kunjung memiliki anak, akhirnya ia pun mengancam Surya agar segera menceraikan Safira jika dalam waktu 3 bulan ini Safira tak bisa hamil juga.


Dan diwaktu yang bersamaan, ternyata Safira sudah mengandung, tanpa ia sadari, hingga suatu hari ia mengeluh mual, dan jatuh pingsan.


Setelah diperiksa Dokter dan dinyatakan hamil, Safira baik Surya begitu sangat bahagia, namun kebahagiaan nya tidak berlangsung lama saat Adiguna mengancam kembali, mengenai jenis kelamin anak yang akan di lahirkannya nanti.


"Ayah akan beri kamu dua pilihan, tinggalkan semua kemewahan ini, atau tinggalkan anak dan istrimu, lalu menikah dengan wanita pilihan Ayah." ujar Adiguna, saat Safira baru saja melahirkan seorang bayi perempuan.


Surya yang terbiasa hidup mewah dari kecil, tak sanggup jika harus hidup susah dan terlunta-lunta, akhirnya tanpa pikir panjang ia memilih meninggalkan istri dan juga anaknya, tepat saat bayinya berusia satu hari.


"Mas, kenapa harus begini, perempuan dan laki-laki itu sama aja, anak ini anugerah dari yang maha kuasa yang harus kita rawat dan kita jaga bersama, kamu tidak lihat dia mas, dia sangat cantik dan lucu!" ujar Safira dengan mata berlinang memandangi gadis kecil dalam pangkuannya.


"Tapi kamu tahu kan, ayahku ingin cucu laki-laki Fir."


"Mungkin suatu saat kita bisa memiliki anak lagi mas!"

__ADS_1


"Nggak, ayah nggak bisa menunggu selama itu."


"Tapi mas!"


"Cukup Fir, lebih baik kamu pergi dari sini, aku akan urus surat perceraian kita secepatnya."


"Mas, tolong jangan begini, kasihanilah aku dan bayi kita, aku tidak mungkin kembali kerumah ibu dan merepotkan nya." ujar Safira memohon, sembari memegangi kaki Surya.


"Percuma Fir, kamu cium kaki saya pun, saya nggak bisa mempertahankan kamu, karena tekad saya sudah bulat, soal kamu mau kemana, itu urusan kamu, bukan urusan saya!"


Akhirnya dengan sisa tenaga yang ia miliki, Safira pun keluar dari rumah mewah tersebut, dengan langkah lemah, berjalan dipinggir jalan, sesekali ia beristirahat untuk meredakan rasa lelah serta rasa sakitnya yang belum pulih sepenuhnya.


Ia kembali melanjutkan perjalanannya dengan langkah gontai dan tak tentu arah tujuan, hingga saat terakhir yang ia ingat, ia kembali duduk dan meletakkan bayinya disampingnya.


Dan saat ia kembali bangun, ia sudah berada di dalam rumah seseorang.


"Saya dimana?" ucapnya histeris, mencari-cari keberadaan bayinya.


"Mbaknya udah sadar?" ucap seseorang yang baru saja masuk dari arah luar.


"Saya dimana, dimana bayi saya?" tanyanya dengan suara bergetar.


"Sebentar, saya ambil dulu bayinya ya!" balasnya yang kemudian berjalan kearah kamar.


"Maaf ya mbak, bayinya saya kasih susu formula milik anak saya, soalnya kasihan dia kayanya kehausan karena dari kemarin mbaknya nggak sadar-sadar!" ucap wanita yang lebih tua darinya itu.


"Betul mbak, saya nemuin mbak dan anak mbak sedang dikerumuni orang-orang di gang menuju pasar becek, karena saya bingung harus bawa mbak kemana, jadinya mbak saya bawa kesini."


"T-terimakasih banyak mbak, maaf saya sudah merepotkan."


"Tidak merepotkan sama sekali, tapi kalau boleh tahu kenapa mbak dipinggir jalan begitu, Dokter yang memeriksa mbak bilang, tensi darah mbaknya rendah, karena baru saja melahirkan, ditambah tubuh mbak belum pulih dan stabil."


"S-saya!" Safira pun mulai terisak, dan menceritakan apa yang telah menimpa dirinya maupun putrinya.


Wanita yang bernama Rossida itu pun, tak kuasa menahan air mata, merasakan kesedihan yang menimpa perempuan muda di hadapan nya kini.


"Lalu dimana orang tua mbak?" Rossida kembali bertanya.


"Ibu saya masih ada, tapi rasanya saya belum siap untuk pulang kerumah, yang hanya akan menambah beban ibu saya, ibu saya bukanlah orang punya, untuk makan sehari-haripun sangat pas-pasan." balas Safira sendu.


"Ya sudah, kalau begitu, tinggalah disini, kebetulan kontrakan saya banyak yang kosong, dan setelah mbak pulih, mbak bisa bekerja di salah satu pabrik saya,"


Safira melebarkan matanya, mendengar tawaran dari Rossida.

__ADS_1


"Mbak serius, mbak nggak takut mau menolong orang asing yang baru saja mbak kenal?" tanyanya dengan raut wajah tak percaya.


"Saya percaya, mbak orang baik!"


Disanalah hidup baru Safira di mulai, siang hari ia bekerja di pabrik, sedangkan putrinya ia titipkan pada salah satu penghuni kontrakan Rossida yang memang tidak bekerja.


Dan setelah satu tahun tinggal disana, ia pun kembali menemui ibunya dan membawanya ke kontrakan, atas izin dari Rossida.


Bu Warti yang mengetahui anaknya dibuang begitu saja, sangat Murka, dan berharap yang kuasa memberikan keadilan atas apa yang menimpa putrinya.


#Flashbackof...


******************


Setelah membatalkan pertemuannya dengan Mia, Kinar pun memilih untuk mandi lalu mengenakan gaun tidur yang terlihat tipis dan pendek dari biasanya, bukan tanpa alasan, tetapi ia sengaja melakukannya, karena kesal terhadap El.


Ia keluar dari kamar mandi, berjalan santai melewati El yang sedang memainkan ponselnya diatas sofa.


"Sayang!" ujar El, sembari menatapnya penuh arti.


Kinar bergeming, duduk di kursi meja rias, lalu mulai memoles wajahnya, dengan make up sederhana miliknya, hal yang tak biasa ia lakukan sebelum nya.


"Sayang?"


Kinar beranjak, berjalan menuju tempat tidur, lalu merebahkan dirinya disana, mengabaikan panggilan-panggilan mesra dari El, dan memilih memejamkan matanya.


"Sayang!" El beringsut, mendekati Kinar.


"Nggak usah deket-deket, bisa!"


"Nggak bisa."balasnya seraya menggeleng lemah.


" Berani sentuh, hukuman nya aku tambah!" ujar Kinar, yang repleks membuat tangan El yang hendak menyentuh pahanya menggantung di udara.


"Iya!" balasnya dengan suara lirih, lalu memasuki kamar mandi.


Kinar melirik kearah pintu kamar mandi, yang tak kunjung terbuka, padahal jika sedang mandi pun El menghabiskan waktu, tidak pernah lebih dari 15 menit, tetapi sekarang El sudah berada disana hampir setengah jam, dan ia tak kunjung keluar.


Beberapa menit kemudian, El keluar dari kamar mandi dengan wajah kusut, serta berjalan gontai, lalu merebahkan dirinya diatas Sofa.


Membuat kinar menggerenyit, dan memandangnya bingung.


Ada rasa kasihan yang mengganjal dalam hatinya, ketika melihat suami mudanya tersebut mulai terlelap, tapi rasa kesalnya tadi sore membuat Kinar memilih tak peduli, sebelum El berjanji akan bersikap tegas pada fans beratnya tersebut.

__ADS_1


.


.


__ADS_2