
"Gimana ini Dok, kelahirannya nggak bisa di percepat gitu Dok,?" ujar El saat melihat raut wajah istrinya yang terus meringis setelah dua jam lamanya berbaring diruang observasi.
Dokter Tita mengulas senyum, "Sabar ya mas, baru bukaan 9, sebentar lagi."
"Doakan saja, semoga persalinan nya lancar, anak dan istri mas El selamat dua-duanya." lanjut Dokter Tita lembut, sembari menatap wajah berantakan El sehabis menangis.
El mengangguk kecil, kembali mendekati Kinar, menggenggam lembut kedua tangan istrinya, berharap bisa memberi kekuatan dan meredakan rasa sakit yang tengah dirasakan sang istri, walau sebenarnya tidak berpengaruh sama sekali.
"Maafin aku ya sayang, kuat ya demi anak kita." bisik El, yang diangguki Kinar dengan anggukan lemahnya.
Beberapa menit kemudian Dokter Tita kembali dengan ditemani 2 perawat disampingnya, meminta izin El untuk membawa Kinar keruang bersalin, karena sudah waktunya Kinar untuk melahirkan.
Diruang bersalin El tak sedikitpun melepaskan tangan Kinar dari genggamannya, bahkan laki-laki yang terkenal dingin itu tak berhenti-hentinya menangis, saat melihat rintihan sang istri yang tengah berusaha mengeluarkan buah hati mereka, hingga Dokter Tita merasa sedikit kebingungan.
********
Didepan ruangan bersalin, Nada tampak gelisah berjalan mondar-mandir, meski Ando sudah menenangkannya berulang kali.
Setelah mendapat telfon dari bi Rumi setengah jam yang lalu, keduanya langsung bergegas menuju rumah sakit, tak peduli dengan pekerjaan mereka yang menumpuk menantinya.
"Kok lama banget ya bang, si El juga nggak keluar-keluar!" ujar Nada gelisah, dengan mata yang terus menatap kearah pintu ruang bersalin yang tertutup rapat.
"Sabar dong sayang, kamu lupa kamu juga dulu lama lho," balas Ando menenangkan.
"Tapi, rasanya nggak tenang aja bang."
"Terus gimana kakek sama Neneknya Kinar, kasih tahu jangan?" lanjut Nada, dengan helaan nafas beratnya.
"Takutnya mereka lagi pada sibuk yang, kita kasih tahu setelah bayinya lahir aja ya!"
Didalam ruangan bersalin, El tampak memalingkan wajahnya ketika melihat raut wajah Kinar yang terlihat semakin pucat menahan rasa sakit, hingga membuat sebelah tangan El terkepal erat, rasanya ia ingin sekali menggantikan posisi sang istri, merasakan apa yang tengah dirasakannya saat ini.
"Tarik nafas, dorong.."
"Iya bagus, yang kuat ayo!" suara Dokter Tita mengintrupsi Kinar yang sedang mengejan.
"Mas El, ayo beri semangat untuk istrinya, mas!" Dokter Tita menoleh kearah El, yang berulang kali mengusap air matanya.
"Iya Dok!"
"Sayang, ayo sayang, kamu wanita hebat, wanita kuat," El semakin mengeratkan genggamannya, hingga intrupsi terakhir dari sang Dokter, membuat suara indah malaikat kecil menggema diruangan tersebut.
El mengusap wajah dengan kedua tangannya, setelah mengucapkan syukur pada yang maha kuasa, menge cup kening sang istri dengan perasaan bahagia yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Terimakasih sayang, istri hebatku!" ujar El seraya mengusap peluh yang memenuhi dahi istrinya.
Meski dengan wajah pucat dan lelah, Kinar tersenyum dengan binar yang memancarkan kebahagiaan, menyentuh lembut wajah El dengan sebelah tangannya, "Terima kasih sudah menemaniku berjuang!" ucapnya lirih.
Kemudian El melangkah mendekati salah satu perawat yang sedang memakaikan baju untuk bayi mungilnya.
"Maaf sus, anak saya laki-laki atau perempuan?" tanyanya, sembari mencobdongkan wajah agar bisa melihat bayinya.
__ADS_1
Sang suster menoleh, seraya tersenyum kearah El, "Anaknya ganteng banget mas, mirip banget sama si mas nya."
"Hah?" Tampak El mengerjapkan matanya beberapa kali, mencerna ucapan suster dihadapannya.
"B-bayi saya laki-laki sus!" ujarnya setelah terdiam beberapa saat.
**************
Usai mengadzani bayinya, El pun keluar dari ruangan bersalin, untuk mencari sedikit udara segar, setelah beberapa jam melewati ketegangan diruangan tersebut.
"El, yaampun El, gimana? gimana Kinar sama bayinya, tadi bunda denger ada suara tangis bayi, cucu bunda udah lahir?" tanya Nada membrondong El dengan pertanyaannya.
"Udah bun!" terlihat Nada menghela nafas lega, dan tanpa berkata apa-apa lagi, meninggalkan putranya begitu saja, lalu menarik tangan Ando memasuki ruang dimana Kinar berada.
"Kinar sayang, bagaimana keadaan mu nak?" Nada menghampiri Kinar yang baru saja selesai memberi ASI untuk bayinya, memeluk menantu kesayangan nya itu dengan penuh kasih sayang.
"Baik ma, Kinar ngerasa lega banget sekarang."
"Iya sayang, selamat ya udah jadi ibu."
"Iya bun, terima kasih."
"Yaampun, cucu Oma, cowok ya! kelihatan ganteng banget, uhh sayang." Nada mengambil bayi itu dari pangkuan Kinar,
lalu menciumnya lembut.
"Ah nggak nyangka, sekarang udah jadi Opa," Ando merebut bayi mungil itu dari tangan istrinya, tanpa merasa takut atau pun kaku.
"Kemarin bang El udah siapin namanya yah, katanya kalau anaknya cowok dia yang kasih nama."
"Hmm begitu, siapa katanya namanya?"
"Galaksi Melvin Arsenio yah."
"Wah namanya keren dek, ayah kamu pinter juga nyari nama." ujar Ando mengajak bayi itu untuk berbicara seolah ia sudah mengerti dengan ucapannya.
"Panggilannya Gala berarti ya?" timpal Nada, yang kemudian diangguki oleh Kinar.
"Hallo baby gala."
Bersamaan dengan pintu yang terbuka, menampilkan sosok Oma Sarah dengan raut wajah yang terlihat khawatir, lalu melangkah lebar mendekati Kinar.
"Sayang, yaampun cucu Oma, selamat sudah menjadi ibu nak!" Oma sarah memeluknya sambil menangis.
"Iya Oma, terimakasih!"
"Semoga cepet pulih ya." mengusap lembut puncak kepala Kinar, lalu menoleh kearah Ando yang masih menggendong bayi.
"Sini, gantian Oma mau gendong."
**********
__ADS_1
"Abang mau kemana,?" teriak Cantika, saat melihat kedua sang abang tengah menaiki motor gedenya dengan sedikit terburu-buru.
"Mau lihat dede bayi dong!" balas keduanya.
"Ih, Tika mau ikut abang."
"Jangan dek, anak kecil di larang masuk rumah sakit katanya."
"Kata siapa, mana ada begitu?" ujar Cantika dengan bibir mengerucut.
"Lah barusan sih, kata abang."
"Abang pelit, Tika juga kan mau lihat."
"Lagian masa mau kerumah sakit pakai kostum begituan, abang kira mau keacara karnaval apa?" protes Cantika, saat menyadari sang abang menggunakan kostum yang menurutnya sangat aneh.
"Nanti sore juga dedenya dibawa pulang, udah masuk gih sama bi Sari." ujar Satria, memutar gas meninggal kan halaman rumahnya menuju rumah sakit.
Sementara Cantika terus menggerutu, memasuki rumah dengan menghentak-hentakan kakinya.
*******
"Kalau mau megang anak gue, cuci tangan dulu!" sergah El ketika melihat kedua sang adik kembarnya hendak menoel pipi sang bayi.
"Anjirrr, iya!"
"Lho.. lho.. itu ngapain coba, pake baju gituan sih?!" Sambar Nada, yang baru saja kembali dari kantin.
"Tahu tuh anak bunda, kelakuan nya makin aneh aja, heran juga sama pihak rumah sakit, makhluk begituan dilolosin masuk!" sahut El, sembari menggendong sang bayi dari dalam box.
Nada menggeleng-gelengkan kepala menatap keduanya, "Ini maksudnya biar apa sih pake beginian,?" Nada memukul bo kong keduanya yang terlihat gendut, karena memakai kostum teletubbies.
"K-kan mau nengokin bayi bun." sahut Satya, sedikit menunduk menatap ujung kakinya yang tertutup kain berbulu halus itu.
"Sejak kapan orang kalau nengokin bayi pake kostum mirip badut begini,?" Nada sedikit meninggikan suaranya karena kesal.
"Kan biasanya Anak-anak suka sama kostum begini bun." timpal Satria.
"Ck, baby Gala ini kan masih bayi, mana ngerti begituan."
Nada menggeram kesal, sembari memijat dahinya yang terasa berdenyut, memikirkan tingkah kedua anak kembarnya.
.
.
Galaksi Melvin Arsenio
.
__ADS_1
.