Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Kejujuran Jihan


__ADS_3

"Ihs, katanya mau dengerin aku cerita El?" Kinar menepuk dada telan jang El yang masih menyisakan keringat, akibat dari kegiatan panasnya barusan.


"Iya iya, yaudah aku dengerin, sampai mana tadi ceritanya?"


"Jihan hamil El."


"Hmmm."


"Ihs serius, tuh kan malah merem lagi," Kinar berdecak kesal.


"Iya iya terus kenapa, apa urusannya sama kamu sih yang?" El mengubah posisinya, menarik kepala sang istri agar menyender di dadanya.


"Kamu tahu kan kalau Jihan itu belum nikah?"


"Iya juga sih, terus dia hamil sama siapa?"


"Kak Andra!"


"Andra?"


"Iya, kamu inget kan kak Andra."


"Ck, cowok yang naksir kamu itu?"


"Eumz dia kakak tiri aku El."


"Aku tadi udah ngomong sama dia, supaya mau tanggung jawab sama Jihan!" lanjut Kinar.


"Terus, dia mau?"


"Mau sih katanya!"


"Yaudah sih, kamu cukup sampe disini aja ya yang, jangan lagi ikut terlibat dalam masalah mereka!"


Cup..


"Iya abang sayang." ujar Kinar setelah me ngecup pipinya sekilas.


***********


"Ma, mama sayang kan sama Jihan?" ujar Jihan yang kini tengah merebahkan kepalanya diatas pangkuan sang mama.


"Kamu ini ngomong apa sih Jih, ya jelas dong mama sayang, kalau nggak, nggak mungkin dong mama selalu manjain kamu." balas Widia, sembari mengusap lembut rambut anak gadis kesayangannya itu.


"Kalau Jihan melakukan kesalahan fatal, apa mama masih mau maafin Jihan ma?"


"Cerita sama mama, ada masalah apa?"


Widia yang merasa ada sesuatu yang tidak beres sejak tadi dengan putrinya pun langsung bertanya.


Jihan beranjak, kemudian duduk berhadapan dengan sang mama, "Maafin Jihan ma, karena Jihan udah kecewain mama." ujar Jihan dengan wajah menunduk.


"Lihat mama Jih, kenapa?" ujar Widia sembari mengangkat dagu Jihan agar balas menatapnya.


"J-jihan_" Jihan menggigit bibirnya dengan tubuh yang mulai gemetar.


"Jihan, kenapa?" Widia mengguncang pelan tubuh Jihan dengan tidak sabaran.


"J-jihan hamil ma!" seketika tubuh Jihan merosot bersimpuh di kaki mamanya.


Deg!

__ADS_1


"Maafin Jihan ma!" lanjutnya, yang kemudian menangis sembari memegangi kedua kaki mamanya.


"Kamu bilang apa, ulangi sekali lagi, mama mau dengar!" Widia menarik paksa tubuh Jihan agar berdiri.


"Maafin Jihan ma!" ujar Jihan disela isak tangisnya.


"Bukan, bukan ini yang ingin mama dengar Jih, kamu tahu selama ini mama nggak pernah larang apapun yang kamu lakukan, tapi tidak untuk mengotori diri kamu Jih, mama nggak bisa Terima ini, kamu itu masih sekolah Jihan!" kemarahan Widia begitu memuncak saat ini.


Braakkkkk...


Tiba-tiba suara pintu yang di banting keras hingga terbuka lebar membuat keduanya sontak menoleh kearah suara.


"P-papa?" ujar Widia dengan suara terbata, sedangkan Jihan sudah menundukkan wajah karena ketakutan.


"Apa-apaan ini, apa tadi kamu bilang, kamu hamil Jihan?" Hardi menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Puas kamu sekarang Wid, puas dengan hasil didikan kamu ini, puas karena kalian berdua udah buat papa malu hah?"


"Ada apa sih ini ribut-ribut, ini lagi kenapa sih pa, kayaknya nggak ada Bosen-bosennya deh marahin anak cucu, mama nggak suka ya kalau papa kaya gini terus?" sambar Mira yang baru saja datang, karena mendengar keributan di kamar putrinya itu.


"Diam kamu, kalian bertiga memang sama saja!" Hardi pun berlalu pergi meninggalkan ketiganya.


"Kenapa sih Wid, ada apa lagi, kenapa papa kamu marah-marah kaya gitu, ini juga Jihan kenapa nangis sayang, hm?"


"Jihan hamil ma, makanya papa marah!" sahut Widia lemas.


"Apa, kok bisa, siapa yang menghamili kamu nak bilang sama nenek,?" Mira memeluk cucu kesayangannya dengan penuh kelembutan.


"D-dia,_"


"Mama nggak mau tahu Jih, besok laki-laki itu harus datang untuk membahas pernikahan kalian." ujar Widia dan bergegas meninggalkan Jihan yang masih menangis sesenggukan di pelukan sang nenek.


"Iya sayang, sudah nggak Apa-apa, mama mu marah karena dia masih syok nak!" ujar Mira menenangkan.


**********


Bermain dirumah kedua orang tuanya setiap sore kini sudah menjadi rutinitas El, ia tidak akan berhenti merengek pada Kinar jika sekali saja tidak mau menemaninya, seorang El yang terlihat jutek dan cuek di mata kebanyakan orang justru kini sangat jauh berbeda ketika sedang bersama istrinya.


"Aku mau keruang TV ya, mau nonton sekaligus ngobrol sama bunda, sama Cantika juga!" ujar Kinar saat keduanya kini sedang berada di ruang tamu, dimana ada Sikembar Satria dan juga Satya.


"Yaudah!" balasnya yang kemudian merebahkan kepalanya disenderan sofa.


Satria asik sendiri dengan gitarnya, bernyanyi sesuka hati, dengan kepercayaan yang tinggi, meski suaranya sedikit fals.


You raise me up, so I can stand on mountains


You raise me up, to walk on stormy seas


I am strong, when I am on your shoulders


You raise me up to more than I can be.


You raise me up_josh groban.


Sedangkan Satya, begitu fokus menatap layar pintar yang berada digenggamannya, dan sesekali bibirnya Bergerak-gerak seperti sedang membaca.


"Bang, bantuin dong bang, nomor 9 menurun, hewan darat dengan kekuatan larinya yang sangat cepat, 7 huruf?"


"Apaan tuh?" balas El malas.


"Ck ditanya malah baik nanya, tts bang elah!"

__ADS_1


"Cheetah."


"Bang_"


"Apa lagi sih?" El mendengus kesal, pasalnya kepala nya sedikit pusing, begitupun dengan perutnya yang terasa di aduk-aduk.


"Elahhh, kek lagi PMS aja sih lo!" celetuk Satya, sembari mengangsurkan botol air mineral yang isinya masih tersisa setengah.


"Minum dulu bang biar fokus!"


"Tumben lo perhatian sama gue, gue yakin ada maunya kan lo?" ujar El sembari meraih botol minum pemberian Satya.


"Ck, suudzon mulu lo bang, dasar kakak durhaka!"


"Mana ada kakak durhaka, yang ada elo tuh adek durhaka."


"Udah jadi adek baek-baek gini masih dibilang durhaka, kagak bersyukur banget lo bang."


"Yaudah kalau elo emang baek, beliin gue sate yang di gang depan gih."


"Gue?"


"Iyalah siapa lagi."


"Ok, mana duitnya?" Satya menadahkan tangan kearah El.


"Nih, beliin semua ya!" El memberikan satu lembar uang berwarna merah.


"Siip!"


"Tumben tuh anak kagak banyak drama dulu!" gumam El setelah Satya hilang dari pandangannya.


Drrtt.. drttt..


"Handphone lo tuh sat!"


Satria melirik sekilas nama yang tertera di layar ponselnya, kemudian berdecak tak suka.


"Kenapa nggak lo angkat?"


"Kagak penting bang!"


"Cewek?"


"Hmmm."


"Tumben, jadi beneran lo udah insyaf, biasanya langsung nyosor."


"Iya, gue udah kagak minat jadi buaya lagi." balasnya, Seraya menghela nafas, kemudian melemparkan punggungnya ke sandaran sofa.


"Terus sekarang udah jadi kadal gitu?" lanjut El.


"Iya, tapi buntutnya tetep buaya." sambar Satya, dari belakang.


"Lho, kok lo balik lagi Sat, pesenan gue gimana!?" tanya El pada Satya.


"Ini baru mau berangkat!" jawabnya, membuat El melongo seketika.


.


.

__ADS_1


__ADS_2