Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Keinginan El


__ADS_3

"El bisa nggak sih, saya sama Mia, tetap kerja di ArsenioCafe, saya sama Mia udah betah disana El!" ujar Kinar yang terus merengek pagi ini.


"Terserah, pilihannya ada ditangan kamu, pindah atau berhenti kerja, lagian kalau diem dirumah apa salahnya sih yang, tugas kamu cukup nyambut sama ngelayanin aku doang lho yang!"


"Ck, aku bosen kalau cuma diem dirumah El, lagian meskipun aku kerja, aku tetep kan jalanin kewajiban aku selama ini."


"Iya, aku tahu, tapi aku nggak mau kamu kecapean, lagian kan kata bunda, perempuan yang sering kecapean itu, bisa berpengaruh juga sama kehamilan, kamu tahu kan yang, aku pengen banget seorang anak dari kamu!" ujar El, yang seketika membuat tubuh Kinar menegang.


"E-el kamu kan masih sekolah, kenapa harus bahas anak terus sih, harusnya kamu fokus aja sama sekolah kamu!"


"Kenapa, emangnya ada yang salah, aku janji yang, aku akan tetep lanjutin sekolah seperti biasa, dan aku janji akan dapetin nilai terbaik,"


"Tapi El?"


"Please sayang!" El pun berjongkok didepan Kinar yang Kini tengah duduk disisi ranjangnya, dengan posisi kedua kakinya yang menggantung.


"Cepet hadir dong nak!" ucap El sembari mengusap lembut perut rata Kinar, Sedangkan Kinar melengos, menatap kearah lain.


"I love you sayang!" El tersenyum menatap Kinar Lembut.


"Kok nggak dijawab sih, belum cinta ya?" lanjutnya sambil terkekeh.


"S-saya_"


"Nggak apa-apa sayang, Pelan-pelan aja, aku yakin kok suatu saat kamu bakal balas perasaan aku." ujar El, mencium keningnya lembut.


"Oh iya, entar malem disuruh kerumah sama bunda, katanya mau ada acara makan malem sama om Gavin, inget kan yang kemarin kita kesana, waktu nganterin kue."


"Iya saya inget!"


"Yaudah kalau gitu kita kesananya sekarang aja, kan sekalian bantuin bunda nyiapin masakannya."


"Ok!"


................


"Pada kemana nih, sepi banget Sat?" ujar Ando yang baru saja tiba dirumah orang tuanya.


"Tahu pada kemana, pulang-pulang sepi gini, boro-boro bunda sama ayah, si bibi sama supir aja pada nggak ada!"


Sahut Satria dengan raut wajah yang terlihat bosan.


"Lah, elo emangnya kemana aja, kok bisa kagak tahu seisi rumah pada pergi.?"


"Biasa!"


"Makanya, jangan kelayapan pagi-pagi," ujar El dan bergegas kembali keluar.


"Mang, mamang tahu nggak ayah sama bunda kemana?" tanya El, pada mang Arman tukang kebun yang sedang menggunting tanaman milik Nada.


"Kalau bapak sama den Satya tadi pagi-pagi pergi, nggak tahu tapi mau kemananya."


"Kalau ibu sama bi Odah kepasar den!"


"Udah lama perginya?"


"Belum sih, baru sekitar 30 menitan lah!"

__ADS_1


"Ok mang, makasih!" ucapnya lalu kembali masuk kedalam rumah.


"Ayah sama Satya pergi katanya Sat, pagi-pagi tadi, kalau bunda lagi kepasar sama bi Odah."


"Terus Cantika kemana?" timpal Kinar.


"Biasa, paling kerumah Oma." balas El sembari merangkul bahu Kinar yang sedang duduk di sofa, di samping Satria.


"Kemana aja lo bang, mentang-mentang udah punya rumah, kagak pernah lagi maen kesini?"


"Lo nggak tahu sih, gue sibuk banget akhir-akhir ini, entar siang aja gue musti kerumah sakit."


"Hah, siapa yang sakit?" ujar Satria dan Kinar bersamaan.


"Karyawan!"


"Kok nggak bilang dari tadi sih El, tahu gitu kan aku kesininya sendiri aja, emang mau jam berapa sih berangkat nya?"


"Tenang aja yang, masih lama kok, mungkin sekitar jam 2 an lah."


"Mau ikut?" tawarnya.


"Nggak deh, saya mau bantuin bunda aja!"


"Yaudah, ini kayanya bunda masih lama deh, mending kamu istirahat aja gih keatas, nanti kalau bunda pulang aku bangunin!"


"Yaudah, saya keatas ya!"


"Iya."


Setelah Kinar keatas, El pun menoleh kearah Satria yang sudah tertidur dengan mulut yang setengah terbuka.


"Udang nya, disimpan di Freezer dulu bi!"


Samar-samar dari arah dapur terdengar suara sang bunda yang sedang bicara dengan seseorang, ia pun mematikan TV yang sebenarnya tidak ia tonton, menyeret kakinya berjalan menuju dapur.


"Udah pulang bun?" El memeluk Nada dengan tingkah manja.


"Udah punya istri juga, masih aja meluk-meluk bunda!" ujar Nada yang justru kini balas memeluk putra sulungnya itu.


"Apa bedanya emang punya istri apa belum, El kan masih anak bunda juga!"


"Iya iya, terus Kinarnya kemana, nggak ikut, atau emang kamu yang nggak ngajakin!" ucap Nada dengan tatapan menuduh.


"Bunda suudzon mulu sama anak, ada kok Kinar lagi dikamar, El pikir bunda masih lama, jadi El suruh aja Kinar buat istirahat dulu."


"Yaudah, nggak usah dibangunin, kasian biar istirahat,"


"Tapi Kinar bilang mau bantuin bunda masak."


"Iya gampang, kan masaknya juga baru ashar nanti, ini baru aja jam 10 El."


"Yaudah deh, El juga mau istirahat bentaran, soalnya tar sore musti kerumah sakit dulu."


"Siapa yang sakit?" Nada yang sedang memasukan sayuran kedalam kulkas pun, repleks menoleh kearah putranya, yang kini tengah duduk di samping bak kitchen sink.


"Si Dito sama ibunya si Akbar!"

__ADS_1


"Yang kerja di bengkel bukan sih?"


"Iya, yaampun sakit apa sih El, udah lama sakitnya, kok kamu baru nengokin?" cerocos Nada.


"Udah beberapa hari sih!"


"Lah kamu gimana sih, sakit udah beberapa hari baru mau nengokin sekarang?"


"Kemarin-kemarin sibuk banget bun, kalau malem El juga udah cape banget."


"Cape ngapain?"


"Ck, bunda!"


"Iya bunda ngerti kok, kerjaan kamu sekarang udah double, selain di bengkel dan Cafe, ada tambahan sama dirumah juga!" ujar Nada sambil menahan tawa.


"Ihs bunda."


"Bunda harap kamu dan Kinar, nggak nunda punya momongan ya El, bunda yakin kamu dan Kinar udah sanggup kok,"


"Soal sekolah kamu, ayah juga dulu sama, lagian Kinar hamil pun nggak ada masalah El, kalian kan udah halal."


"Iya bun, El udah ngomong kok sama Kinar kemarin."


"Terus apa katanya?"


El pun terdiam, dengan raut wajah yang berubah sendu, kemudian menghela nafasnya berat.


"Kayanya Kinar belum bisa nerima El dihatinya bun, atau sebenarnya dia emang nggak mau hidup sama El, karena El sering perhatiin dia sering nangis kalau lagi sendiri."


"El?"


"El kurang baik ya bund, kurang ganteng, apa kurang gimana?"


Nada menelan ludahnya susah payah, merasa ikut bersedih, karena baru kali ini ia melihat putranya terlihat sedih dan tidak percaya diri.


Ia pun segera menutup pintu kulkas, dan menghampiri putranya.


"Kamu sayang sama istrimu El?"


"Lebih dari itu bun."


"Kamu pernah nggak tanya sama Kinar tentang perasaan dia ke kamu?"


"Pernah bun"


"Apa jawabannya?"


"Nggak pernah jawab bun, dia selalu mengalihkannya, dengan obrolan lain."


"El, dengar bunda nak, Kinar itu punya masalah yang pahit di masa lalunya, bisa jadi ia masih takut untuk memulai."


"Jadi bunda harap, kamu bisa lebih bersabar ya!"


El pun menganggukan kepala, tanda mengerti..


Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada seseorang yang menguping obrolannya, dengan kedua bola mata yang berair.

__ADS_1


.


.


__ADS_2