
"Dari mana aja sih Wid, anak kamu itu, kerjaannya keluyuran terus tiap hari, pulang selalu dalam keadaan mabuk, heran mau jadi apa sih dia itu!" ujar seorang laki-laki tua yang memasuki kepala 6 itu.
"Biarin aja sih pa, namanya juga anak muda, jangan heran dong!" bela Widia.
"Nah ini dia nih, kamu itu emang nggak becus jadi orang tua, selalu manjain dan belain anak kamu yang salah, kamu harusnya sadar dong, dia itu anak perempuan, seorang gadis, paham kamu?"
"Cukup pa, seharusnya papa yang sadar kenapa Jihan jadi seperti ini, ini semua salah papa, seandainya dulu papa tidak memaksa menjodohkan ku dengan Aldi, aku tidak akan pernah menikah dengan laki-laki laknat seperti dia."
"Dan Jihan tidak akan merasakan kehilangan seorang ayah, juga berbagi ayah dengan anak yang lain."
"Omong kosong! bukannya kamu sendiri dulu memang suka sama dia, dan sekarang kamu Berani-beraninya menyalahkan papa, setelah dia pergi meninggalkan kamu dan juga Jihan."
"Sudah, pokoknya papa tidak mau tahu, urus anak kamu menjadi lebih baik lagi, atau papa hapus dia dari daftar waris papa." jelasnya, lalu meninggalkan Widia, yang hendak kembali protes.
.......
Lalu laki-laki tua yang bernama Hardi itu bergegas memasuki ruangan kerjanya yang berada disamping kamarnya.
Mencari-cari sesuatu yang pernah disimpan nya rapat selama ini, dan setelah menemukan yang dicarinya, ia bergegas duduk disebuah kursi yang berhadapan dengan meja kerjanya.
Lama ia memandangi selembar foto yang berada di genggamannya, hingga tak terasa kaca mata yang ia gunakan semakin mengembun, akibat dari lelehan air hangat yang berasal dari kedua bola matanya.
.
#Flashback on..
.....
"Do'akan agar aku berhasil ya!" ujar Hardi, sembari menenteng sebuah tas besar yang berisi pakaian miliknya.
"Iya mas, Hati-hati ya!" balasnya yang kemudian memeluk suaminya erat, ada perasaan tak rela saat ia melepas kepergian suaminya kali ini, padahal ini bukan kali pertama suaminya merantau untuk bekerja.
__ADS_1
"Jangan sedih gitu dong, sabar ya, ini semua demi Safira putri kita, aku ingin suatu saat Safira memiliki gelar yang tinggi, dikenal banyak orang, karena kehebatannya, aku nggak mau putri kita susah seperti ayahnya, yang hanya jadi tukang buruh bangunan.''
Warti pun mengangguk, berusaha tersenyum dan memberikan semangat untuk suaminya.
Dan hari itu juga Hardi berangkat ke Surabaya, dengan kedua sahabatnya yang juga sama-sama kuli bangunan, menaiki bis umum seperti biasa.
3bulan lamanya Hardi bekerja disana, dengan penuh semangat, dan giat, melupakan rasa lelahnya, ketika mengingat putri mereka yang berumur hampir tiga tahun tersenyum riang saat menyambutnya pulang.
Sore hari saat ia hendak menyebrang untuk membeli gorengan yang berada di sebrang jalan, sebuah mobil dengan sedikit ugal-ugalan menghantam tubuhnya hingga terpental jauh, sedangkan mobil tersebut menabrak tiang listrik yang berada di pinggir jalan.
Beberapa pengendara sempat terhenti, mengerumuni Hardi, korban kecelakaan dengan keadaan yang terlihat mengenaskan, sedangkan beberapa dari mereka melihat keadaan penabrak yang ternyata seorang perempuan, yang juga terluka parah di bagian kepalanya.
Setelah keduanya dilarikan kerumah sakit, seseorang pun mencari sesuatu yang dapat menghubungi dari pihak keluarga kedua korban tersebut.
Dari tas Hardi ia tak menemukan apapun, kecuali sejumlah uang dari gaji yang ia kumpukan selama 3 bulan hasil kerjanya, sedangkan di dalam tas perempuan yang menabraknya tertera nomor telpon rumah serta alamat lengkap rumahnya.
Hardi mengalami koma selama satu minggu, sedangkan Mira gadis yang menabraknya sudah hampir sembuh, karena ternyata luka di kepalanya tidak separah yang dibayangkan.
Terutama saat ia di beri tahu bahwa kedua kaki Hardi lumpuh, serta mengalami Amnesia akibat terkena benturan yang teramat keras dibagian kepalanya.
Bosan karena harus bolak-balik rumah sakit, akhirnya Rama memutuskan untuk membawa Hardi pulang, dan merawat nya dirumah.
Seiring berjalannya waktu, kesehatan Hardipun mulai membaik, kedua kakinya sudah mulai bisa di gerakan, dan semakin hari Mira yang turut merawatnya, semakin tak bisa menyembunyikan perasaan nya untuk Hardi.
"Pa, Mira suka sama kak Revan!" ucap Mira malam itu, ketika keduanya tengah menonton acara lawak disebuah channel TV ternama.
"Kamu bicara apa sih?"
"Mira serius pa, please nikahin Mira sama kak Revan ya pa."
ujarnya sembari memegangi tangan ayahnya.
__ADS_1
"Mira, pikirkan dulu baik-baik keinginan kamu itu, kita tidak tahu asal usul Revan sebelumnya, kamu tahu kan dia itu sedang amnesia sayang, namanya sendiri aja dia nggak inget, bagaimana kalau dia sudah memiliki anak dan istri disana."
"Nggak masalah pa, pokoknya Mira mau nikah sama kak Revan titik, kalau papa nggak mau izinin Mira pergi dari rumah!" ancamnya, yang seketika membuat Rama mengiyakan permintaannya, mengingat bagaimana sikap putrinya yang selalu nekat jika ia tidak mengabulkan keinginannya.
Terlebih ia merasa kasihan pada Mira, karena dia selalu merasa kesepian, saat dirinya tengah bertugas keluar kota, karena ibunya sudah meninggal 3 tahun yang lalu.
Dan saat itu Hardi tak bisa menolak, mengingat keluarga tersebut sudah banyak membantunya selama ini, dan setelah sembuh total ia pun mengiyakan permintaan Rama, untuk menikahi putrinya.
Namun, tiga hari sebelum melangsungkan pernikahannya dengan Mira, Rama meminta tolong agar Hardi mengecek para pekerja yang bertugas di proyek pembangunan perusahaan barunya, untuk Hardi dan Mira kelak, sedangkan Rama ia ada urusan mendadak keluar kota.
Meski sudah ada penanggung jawab selaku mandor, namun Rama ingin Hardi lebih banyak mengetahui dan belajar tentang hal-hal kecil, mengenai sebuah pembangunan.
Saat Hardi sedang berkeliling, melihat-lihat bangunan yang sudah berdiri 50% itu, Tiba-tiba sebuah batu bata dari ketinggian 3 lantai jatuh tepat mengenai kepalanya.
Seluruh pekerja bangunan pun mendadak kaku menyaksikan calon menantu sang pemilik bangunan yang kini bersimbah darah.
Hardi kembali di larikan ke sebuah Rumah sakit terdekat, sedangkan Mira yang mendapat kabar bahwa calon suaminya kecelakaan pun berulang kali jatuh pingsan.
Begitupun dengan Rama, yang langsung pulang saat mendapatkan kabar bahwa calon menantunya mengalami kecelakaan.
"Saya ingat semuanya!" ujar Hardi lirih, saat ia baru saja siuman, setelah beberapa jam tak sadarkan diri.
"Mira, pak Rama, saya minta maaf, saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini, karena saya sudah memiliki anak dan istri dirumah!"
Deg!
Seketika Mira beranjak, melangkah mundur menjauhi ranjang pasien Hardi.
"Nggak, aku nggak mau pernikahan kita batal kak, nggak mau!" teriak Mira histeris.
.
__ADS_1
.