
"Abang bawa temen kesini kok nggak bilang-bilang, aku kan sama bi Rumi belum masak apa-apa,?" ujar Kinar dengan suara setengah berbisik, ketika sore ini El membawa Bian dan Yoga kerumahnya.
"Kagak usah Repot-repot Nar, cukup kasih kita minum aja nggak apa-apa kok, tapi kalau ada sih ditambah cemilan nya ya!" ujar Bian seraya menyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Ck itu sih maunya dia Nar, udah kagak usah di dengerin!" timpal Yoga, yang langsung ngeloyor menuju ruang tamu, duduk diatas sofa, tanpa menunggu pemilik rumah mempersilahkan nya.
"Dih, ngomong aja kaya yang iya, dia sendiri malah maen duduk aja, dasar!" gerutu Bian yang kini bergegas menghampirinya, melemparkan punggungnya diatas sofa disamping Yoga.
Sedangkan Kinar ia benar-benar mengambilkan minum serta cemilan yang di minta Bian tadi, bahkan lebih banyak dari yang mereka kira.
"Jadi beneran, lo berdua udah married, udah mau punya anak juga?" Bian menatap wajah Kinar dan El yang duduk di sofa di hadapannya secara bergantian.
Kinar menoleh kearah El, seolah bertanya dengan isyarat mata.
"Mereka udah aku kasih tahu yang!" bisik El.
"Kagak usah bisik-bisik woy, kuping gue masih normal, ck ngomong langsung aja napa sih, lo berdua kagak usah khawatir rahasia lo berdua aman di tangan gue!" ujar Bian dengan wajah yang ia condongkan kedepan.
"Eh ngomong-ngomong lo jadi kuliah di Jogja?" lanjut Bian, membuat El sontak menoleh kearah Kinar yang sedang menatapnya dengan tatapan bertanya.
"G-gue_"
"Abang mau kuliah di Jogja, kok nggak ada bilang ke aku sih sebelumnya?" potong Kinar dengan kedua mata yang sudah berembun.
"Sayang, nanti aku jelasin ya!" ucap El lirih.
"Euhmz gue cabut dulu ya El, gue baru inget keknya tadi gue di suruh beli mecin sama emak gue deh!" ujar Yoga tiba-tiba, dan hendak beranjak dari duduknya.
"Iya El gue juga lupa keknya tadi gue di suruh beli terigu sama emak gue!" timpal Bian yang ikut beranjak mengikuti langkah Yoga, yang sudah ngeloyor keluar terlebih dulu.
"Emang seriusan lo di suruh beliin mecin sama nyokap lo?" ujar Bian, saat keduanya kini berjalan beriringan menuju motornya yang berada dihalaman rumah El.
__ADS_1
"Lo sendiri emang beneran disuruh beli terigu sama emak Elo,?" Yoga bertanya balik.
"G-gue_"
"Gue tahu lo cuman alesan kan, terus Ikut-ikutan bilang mau beli terigu segala ke si El." ujar Yoga menuding dahi Bian dengan telunjuk nya.
"Iya iya, gue akuin itu alesan gue doang, abis gue kan kagak enak kalau bertamu sendirian dirumah si El, yang ada entar gue malah jadi obat nyamuk buat mereka."
"Lah lo sendiri kenapa, maen Buru-buru pulang aja, kebelet pipis lo, dirumah si El kan bisa!" lanjut Bian, dengan raut wajah polosnya.
Sedangkan Yoga ia mengusap wajah, lalu mengelus jenggotnya yang sebenarnya belum tumbuh, beralih menatap sahabatnya gemas.
"Pas gue lagi ngomong sama si El tadi lo ada nggak sih?"
"Maksud lo apaan? lo kagak lihat dari tadi gue duduk di samping elo!"
"Ck, terus kenapa elo musti nanya alesan gue kenapa pengen Buru-buru cabut dari rumah si El."
"Anjirr, bener-bener lo ya, lo inget kagak pas tadi gue nanyain si El jadi kuliah di Jogja apa kagak, keknya si Kinar belum tahu deh soal ini, buktinya tadi dia kek kaget, terus mau nangis gitu, nggak sih?"
"Gue kagak ngerti sumpah, yang jadi masalahnya dimana?" Bian menggeleng, seraya menggaruk kepalanya, saat melihat tatapan dari Yoga, yang seperti ingin menelannya hidup-hidup.
*************
"Sayang tunggu dong yang," El mengejar langkah Kinar yang hendak ke kamarnya, dengan sedikit tergesa.
"Aku bisa jelasin sayang!" El berusaha meraih tangan Kinar, yang sudah menepis nya berulang kali.
"Abang anggep aku apa sih selama ini, masa hal sepenting ini abang nggak pernah cerita, abang mau kuliah di Jogja, ninggalin aku sama bayi kita!" ujar Kinar dengan air mata yang sudah menganak sungai.
El menghela nafas, kali ini ia harus lebih bersabar berbicara dengan istrinya itu, karena sedikit banyak nya kini El sudah mengetahui bahwa ibu hamil itu sangatlah sensitif.
__ADS_1
"Kita bicarain ini baik-baik ya," El merangkul Kinar, dan membimbing perempuan hamil yang berstatus istrinya itu untuk duduk ditepi ranjang.
"Yang di bilang Yoga itu dulu sayang, waktu aku belum punya kamu dan juga calon bayi kita, kamu tahu sayang, semenjak kehadiran kamu di sisi aku, aku udah lupa dengan semua awal tujuan hidup mau pun cita-citaku sebelumnya, yang aku tahu pasti sekarang adalah, tujuan serta masa depanku adalah kalian, kamu dan anak-anak kita yang."
Kinar memandangi netra biru milik suaminya itu dengan tatapan meneliti, ia mencoba untuk mencari kebohongan dalam diri suaminya, namun ia tak menemukan nya, dan yang ia lihat hanyalah sebuah ketulusan besar darinya.
"Beneran,?"
"Iya sayang, dan aku mutusin buat kuliah di Universitas yang deket aja, biar aku masih bisa handle semuanya, pekerjaan aku, kamu, dan juga anak kita,"
"Abang yakin nggak mau kuliah di Jogja aja?" tanya Kinar setelah menghapus sisa-sisa air matanya.
"Ngapain, kamu jangan sampai berpikir itu adalah keinginan terbesar aku yang, sumpah aku dulu bilang gitu cuma iseng-iseng aja sebenarnya, nggak ada niatan sungguhan sayang!"
"Tapi_"
"Udah ya sayang, kamu itu nggak boleh banyak pikiran, nggak kasihan ni sama si dede!" ucapnya seraya menyentuh perut Kinar.
***********
"Makan! jangan cuma dilihatin doang!" ujar Nada menatap garang dengan kedua tangan bersidakep kearah kedua putra kembarnya yang sejak tadi hanya diam, menatap malas kearah makanan yang tersaji di meja makan pagi ini.
"Gara-gara elo nih Sat, gue jadi kebawa-bawa!" Ujar Satya menggerutu lirih sembari mulai memakan ubi rebus yang dikunyahnya dengan kasar.
"Lah kemarin kan yang ngomong Ubi elo bukan gue!" protes Satria tak terima.
"Gue kan cuma bantu jawab, salah sendiri jadi orang pikun banget, udah kaya kakek-kakek aja lo."
"Jangan ngobrol, cepetan ubinya di habisin! kalau nggak, hari ini kalian nggak dapet uang saku sama sekali!" bentak Nada, yang sontak membuat keduanya berlomba-lomba untuk menghabiskan masing-masing sepiring ubinya.
"Gimana enak kan ubinya,?" ujar Nada menatap Satria dan Satya, dengan senyum penuh arti, yang dibalas dengan anggukan kaku oleh keduanya.
__ADS_1
"Lain kali kalau bunda ngomong dengerin baik-baik ya, jangan cuma iya-iya doang!" lanjut Nada sembari memberikan masing-masing satu lembar uang untuk kedua anaknya itu.