
Setelah menuntaskan sesuatu dalam dirinya yang menggebu, dengan semangat tinggi El pun bergegas untuk bekerja.
Sedangkan Kinar saat ini sedang menggerutu pelan, merasa kesal dengan suami mudanya tersebut, karena selalu saja meminta haknya yang tak mengenal waktu.
***********
Di tempat lain 2 orang dengan generasi yang sama disebuah rumah mewah, tampak sedang ribut saling menyalahkan diri karena memiliki pendapat yang berbeda.
"Seharusnya aku yang memeluk dia, bukan orang lain!" ujar Anita dengan suara terisak-isak.
"Lalu kamu mau apa sekarang?" tanya Adiguna, dengan tatapan datarnya.
"Aku mau Kinar menyayangi ku seperti dia menyayangi wanita yang kita lihat kemarin."
Adiguna pun terdiam dengan wajah menunduk, karena kini hatinya tengah bercabang, dan berkecamuk, disisi lain ia belum bisa menerima bahwa cucu kandungnya memang seorang perempuan, namun di sisi lain ia pun mulai ada keinginan agar lebih dekat dengannya.
.....
"Non, di depan ada banyak kiriman barang, gimana mau di masukan sekarang, apa non mau lihat dulu barangnya?" ujar bi Rumi yang kini menghampiri Kinar yang baru saja selesai makan siang.
"Barang, barang apa bi maksudnya?" ujar Kinar dengan kening berkerut.
"Itu lho non di depan, pokoknya banyak banget!" lanjut bi Rumi.
Dengan dipenuhi rasa penasaran nya Kinar pun gegas berjalan kearah luar dengan sedikit tergesa, dan ia tercengang kala mendapati puluhan paperbag yang menumpuk diteras rumahnya.
"M-mang ini siapa yang kirim?" ujar Kinar, bertanya pada mang Wawan, yang kini tengah merapihkan tumpukan paperbag tersebut.
"Aduh mamang nggak tahu non, tapi yang ngirim barang ini bilang, semuanya punya non Kinar,"
"Yah mamang, kenapa tadi nggak bilang ke saya pas mereka dateng."
"Maaf atuh non, tadi mamang udah kekamar nya non Kinar dan ngetuk pintu beberapa kali tapi nggak ada jawaban, mamang pikir non Kinar sama den El nya lagi tidur, jadinya mamang ngebiarin mereka nurunin barangnya." ucap mang Wawan, yang seketika membuat wajah Kinar terasa memanas, karena ia yakin saat itu ia dan El sedang melakukan olah raga siangnya tadi.
"El berarti tahu dong mang?" lanjut Kinar berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Tahu sih, tapi si Adennya tadi Buru-buru jadi langsung pergi!"
"Yaudah deh mang, tolong bantu masukin dulu ya barang-barangnya."
"Siap non, laksanakan!"
__ADS_1
Kinar pun membuka salah satu isi paperbag nya yang ternyata berisi pakaian, kemudian ia kembali membuka paperbag selanjutnya, yang isinya membuat ia tercengang, karena isi dari paperbag tersebut adalah satu set perhiasan yang Kinar yakini jumlah uang dari perhiasan itu tidak sedikit.
"Non handphonenya bunyi terus dari tadi!" ujar bi Rumi yang kini sedang berjalan menghampiri nya dengan sedikit tergopoh.
"Siapa bi?"
"Nggak tahu non, nggak ada namanya." balas bi Rumi, sembari mengangsurkan ponselnya kearah Kinar.
"Makasih ya bi,!" ujarnya.
"sama-sama non!" balasnya, lalu kembali ke dalam rumah.
Tidak lama dering di ponselnya berhenti, lalu 2 detik kemudian sebuah pesan chat masuk.
Kakek Hardi : (bisa ketemu sore ini nak, kakek tunggu di Cafe Rainbow)
Kinar pun mulai berjalan mondar-mandir sebelum membalas pesan tersebut, karena ia takut El tidak mengizinkan nya untuk keluar rumah sore ini.
Akhirnya ia pun mencoba menghubungi El, berharap ia mengizinkan nya.
"Hallo?" ujarnya saat telponnya kini telah tersambung.
"Kenapa yang?"
"Yakin mau ketemu kakek Hardi?"
"Ihs iya lah serius, masa aku bohong sih!"
"Yaudah tapi jangan lama-lama ya, berangkatnya dianterin mang Wawan, inget jangan pake baju pendek dan Ngetat-ngetat."
"Iya, makasih ya!"
"Eh nggak geratis lho!"
"Maksudnya?"
"Sun dulu, baru boleh!"
"Apaan sih El."
"Mau nggak?"
__ADS_1
"Iya iya, muachhh!"
"Muach .. muach .. muach, I love you sayang!"
"Ihs dasar!" Kinar menggurutu pelan, yang disambut gelak tawa oleh El dari sebrang sana.
Setelah sambungan telponnya terputus, Kinar pun segera membalas pesan dari Hardi, lalu bergegas untuk bersiap-siap.
25 menit kemudian, mobil yang ditumpangi Kinar pun sampai di Cafe Rainbow, lalu Kinar bergegas turun untuk menemui kakek Hardi, namun saat ia hendak melangkah memasuki Cafe tersebut, kilasan matanya tak sengaja menangkap seorang kakek-kakek yang hendak menyebrang, yang ia yakini menuju mobilnya yang berada di sebuah tempat pencucian mobil di sebrang sana."
Dari kejauhan ia melihat mobil melaju kencang, namun sedikit ugal-ugalan.
"Awasss pakkkk!" Kinar berteriak histeris sambil melompat.
Brukkk.....
Tubuh Kinar terpental, mengenai kepala mobil tersebut, sedangkan seorang kakek tersebut di dorong nya mengenai bahu jalan.
Semua orang yang berada di Cafe pun berteriak histeris, terutama para pengunjung wanita dan anak-anak remaja, mereka semua berhamburan untuk melihat keadaan Kinar yang kini tergeletak bersimbah Darah.
Begitupun dengan para pengendara lain yang sedang melewati jalan tersebut berhenti dan berkerumun, untuk melihat keadaan korban.
Sedangkan mobil yang menabraknya tadi, pergi meninggalkan lokasi begitu saja, disaat semua orang belum menyadari untuk menghentikan nya.
"K-kinar!" Adiguna melotot tak percaya, menyaksikan cucu kandung Satu-satunya itu tergeletak tak berdaya, dengan keadaan bersimbah darah, yang keluar dari kepala dan juga hidungnya.
Adiguna menggeleng pelan, dengan kedua kakinya yang mendadak lemas dan sulit di gerakan, dan tanpa sadar kedua sudut matanya mengeluarkan air bening.
"Kinarrr, yaampun nak.. T-tolong, tolong bantu saya angkat dia, i-ini cucu saya pak tolong!" ujar Hardi dengan suara bergetar, yang baru saja datang menembus diantara kerumunan orang banyak.
Dan beberapa dari mereka pun bergegas membantu Hardi untuk mengangkat tubuh Kinar menuju mobilnya yang terparkir didepan Cafe, sedangkan mang Wawan segera menghubungi El dengan tubuh gemetar karena ketakutan.
Di tempat lain disebuah bengkel milik ayahnya, tubuh El membeku, dan tanpa sadar El menjatuhkan ponselnya, saat mendengar kabar dari mang Wawan bahwa Kinar mengalami kecelakaan, karena telah menyelamatkan seseorang, yang kini dibawa menuju sebuah Rumah sakit terdekat, hingga Alvin menyadarkan keterkejutan El dan mengambilkan kembali ponselnya ketangan El.
Lalu secepat kilat ia menyambar kunci, lalu melajukan motornya diatas Rata-rata, menuju sebuah Rumah sakit tempat Kinar akan dirawat.
"Dimana Kinar mang, bagaimana keadaannya, luka Kinar nggak parah kan mang?" Ujar El memberondong mang Wawan dengan berbagai pertanyaan, dengan perasaan tak karuan, saat kini ia sudah berada didepan sebuah Rumah sakit.
"Maaf den, non Kinar sedang didalam ruang IGD, maafkan mamang den, karena nggak bisa menjaga non Kinar dengan baik." ujar mang Wawan dengan raut wajah penuh penyesalan.
"A-apa mang, tolong antarkan saya ke sana mang!" ujar El, dengan tubuh yang terasa lemas, dan sulit untuk sekedar melangkah.
__ADS_1
.
.