Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Bersaudara


__ADS_3

"Cukup Jihan, Kinar bisa saja menjebloskan kamu kedalam penjara, kalau kamu lupa?" ucap Hardi, yang seketika membuat Jihan menegang, sedangkan Widia yang kini sudah mengepalkan tangan ingin ikut menyerang Kinar pun terdiam seketika.


"Kakek sendiri yang akan membuat laporannya kalau perlu!"


"Mana bisa, kakek nggak punya bukti apa-apa!" Jihan menyeringai.


"Lalu ini apa?" Hardi mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, dan memutar suara hasil rekamannya kemarin.


"Kakek nggak bisa kaya gini sama aku kek, lagian aku nggak sengaja kek, aku nggak mau dipenjara, nggak mau pokoknya, mama nenek kenapa diem aja sih,?" Jihan mengguncang-guncang lengan nenek serta mamanya.


"Pa, Papa jangan kaya gini dong, papa kok tega banget sih sama Jihan," protes Widia.


"Semua keputusan nya ada ditangan Kinar," ujar Hardi sembari menoleh kearah Kinar, dan sontak semua mata tertuju kearah Kinar, dan memandangnya dengan tatapan garang.


"S-saya sudah memaafkan nya!" ucap Kinar dengan wajah menunduk.


"Nak, kamu dengan mudah memaafkan dia, setelah apa yang dia lakukan!" Hardi memandangnya tak percaya.


"Kinar tahu Jihan tidak sengaja kek, lagi pula keadaan saya sekarang sudah baik-baik saja, nggak perlu lagi ada yang di khawatir kan kek!"


"Tapi nak?"


"Sudah kek, tidak apa-apa!"


"Baiklah, kamu dengar itu Jihan, Kinar sama sekali tidak menuntut apa-apa dari kamu, sekarang cepat minta maaf sama Kinar!"


"Nggak mau, aku nggak sudi." balas Jihan sembari menatap benci kearah Kinar.


"Jihan..!" suara Hardi sudah naik satu oktaf, yang menandakan bahwa ia benar-benar sedang marah saat ini.


"Aku nggak mau!"


"Baiklah, biar kakek beri tahu El tentang hal ini."


"J-jangan kek, Jihan mohon!"


"Ok, Jihan akan minta maaf sekarang juga."


Ucapnya, sembari mendekat kearah Kinar, dengan sangat terpaksa.


"Gue minta maaf!" ucapnya singkat.


"I-iya!" balas Kinar canggung.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Hardi pun bergegas menarik tangan Kinar keluar, meninggalkan rumah mewah tersebut, dengan perasaan kesal.


"Kakek minta maaf!" ujar Hardi dengan raut wajah yang penuh penyesalan, saat keduanya kini berada di pondok sate, favorit Hardi.


"Maaf untuk apa kek?" tanya Kinar, sembari mulai mengunyah sate yang baru saja diantarkan pelayan, yang sudah dipesannya 15 menit yang lalu.


"Soal mereka, Mira, Widia, dan juga Jihan, dan kecelakaan yang disebabkan oleh Jihan itu."


"Oh soal mereka, kakek nggak usah khawatir Kinar nggak apa-apa kok, dan soal kecelakaan itu, Kinar juga udah lupain semuanya."


Hardi terdiam sesaat, sembari memperhatikan cara Kinar memakan satenya dengan lahap, namun baginya terlihat sangat manis.


Ia membayangkan bagaimana waktu Kinar kecil dulu, mungkin sangat menggemaskan sekali, batinnya.


"Kenapa kamu mudah sekali memaafkan mereka nak, seharusnya kamu marah, terlebih Jihan meninggalkan mu begitu saja saat itu."

__ADS_1


Kinar yang masih asik menikmati satenya pun mendongak menatap sang kakek, "Semuanya sudah berlalu kek, lagi pula saya dan Jihan kan saudara, jadi rasanya tidak mungkin kan, saya marah sama saudara saya sangat berlebihan, lagian saya rasa Jihan sangat menyesali perbuatannya."


"Kamu salah nak, kakek kenal betul bagaimana Jihan, dia tidak pernah sekalipun merasa menyesal dengan perbuatan nya."


"Umz mungkin karena sekarang dia masih remaja kek, dan pikirannya masih sangat labil, tapi Kinar yakin kok, bahwa suatu saat Jihan pasti berubah."


"Kakek berharap juga seperti itu nak!"


"Yasudah habiskan makanan nya, karena sebentar lagi sudah mau magrib, kita harus segera pulang sebelum benar-benar magrib, kalau lewat, khawatir suami kamu nggak ngijinin kakek lagi, untuk bawa kamu keluar!" ujar Hardi sembari terkekeh.


"Oh iya, apa kamu bahagia nak, menikah sama El?"


Cepat Kinar mengangguk, "Bahagia banget kek, meskipun kelihatan nya El masih sangat muda, tapi dia laki-laki yang sangat bertanggung jawab, lembut, dan penuh kasih sayang!"


"Benarkah?".


" Tentu saja!" balas Kinar tanpa ada lagi perasaan canggung.


"Lalu bagaimana perasaanmu setelah tahu bahwa Jihan sangat menyukai suamimu?"


Kinar meneguk air minum miliknya, kemudian menggeser piringnya yang telah kosong.


"Sebenarnya Kinar udah lama mengetahui soal ini kek, tapi mau bagaimana, Kinar dan El sudah menikah, dan Kinar minta maaf, untuk yang satu ini Kinar nggak bisa berbagi!" ucapnya seraya menundukkan wajahnya.


"Kakek sangat mengerti nak, dan kakek selalu berharap hubungan kalian berlanjut hingga menua, cobalah untuk saling mempertahankan apapun yang terjadi!"


"Baik kek!"


***************


Sore ini Hardi benar-benar mengantar Kinar tepat waktu, untuk memenuhi janjinya pada El, laki-laki muda yang berstatus sebagai cucu menantunya itu.


"Kakek pamit ya?" ujar Hardi, setelah mengantarkan Kinar hingga ke teras rumahnya.


"Kapan-kapan ya nak, kakek mau menyelesaikan sesuatu dulu dengan mereka!" jawabnya.


Kinar yang mengerti dengan urusan yang dimaksud sang kakek pun akhirnya menganggukan kepala.


"Yaudah, kakek hati-hati, terimakasih untuk hari ini kek!"


"Iya nak!"


"Udah pulang?" tanya El yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Udah!" balasnya mengambil alih anduk dari tangan El kemudian berlalu memasuki kamar mandi.


10 menit kemudian, Kinar keluar dari kamar mandi, lalu bergegas menghampiri El yang sedang sibuk memainkan game di ponselnya.


"Lagi ngapain sih?" tanya Kinar, sembari menempelkan kepalanya di pundak El.


"Iseng-iseng aja!" balas El, meletakan ponselnya diatas nakas lalu menoleh kearah Kinar.


"Kemana aja tadi?"


"Kerumah kakek," balasnya lesu.


"Kok kaya yang nggak Seneng gitu, kenapa hm?" ucap El sembari menyelipkan anak rambut yang menjuntai tak beraturan disisi wajahnya.


"El?"

__ADS_1


"Apa sayang."


"Aku udah tahu siapa yang nabrak aku!"


"Kamu serius?" El menatapnya penasaran.


"S-siapa, bilang sama aku sekarang?" ucapnya dengan nada serius dan penuh penekanan, bahkan rahangnya terlihat mengeras.


"El?" diraihnya tangan El kemudian di kec upnya berulang kali, membuat sang pemiliknya mengerjap gugup.


"S-sayang?" ucapnya dengan suara tercekat.


Kinar menuntun tangan El, untuk kemudian ia tempelkan disebelah pipinya. "Kamu sayang kan sama aku El?"


El menelan ludah, bingung dengan pertanyaan Kinar yang baginya memang tak biasa, "I-iya!"


"Kamu mau janji satu hal sama aku?"


"J-janji apa yang?"


"Janji kalau kamu nggak akan marah, kalau aku kasih tahu siapa yang udah nabrak aku waktu itu."


"Tapi yang?"


"Yaudah aku nggak mau cerita." Kinar hendak turun dari atas ranjang, namun tertahan, karena El menarik kembali tangannya, yang kemudian ia genggam.


"Yaudah aku janji sayang, aku nggak akan marah." ucapnya yang terdengar pasrah.


"Beneran?"


"Iya sayang, yaudah sekarang bilang sama aku siapa orangnya?"


"Umz, D-dia, J-jihan!"


"Apa?!" Ucap El dengan nada tinggi, Kinar pun sampai menutup kedua telinganya saking kagetnya.


"Brengsek, beraninya!" kedua tangan El sudah mengepal kuat, bahkan buku-buku tangannya terlihat memutih, menandakan bahwa ia benar-benar sangat marah saat ini.


"El, kamu janji kan nggak akan marah," tangan mungilnya terulur membuka kepalan tangan El dengan penuh kelembutan.


"Kamu harus tahu El, aku dan Jihan itu ternyata bersaudara, dia adik sepupu aku El."


Deg!


"Dan aku baru tahu tadi sore, waktu kakek Hardi ngenalin aku sama mereka."


"Tapi yang?"


"Aku mohon El, bisa kan lakuin ini buat aku, kamu sayang kan sama aku?" ucapnya, dengan mata yang mulai berkaca-kaca, dan menunjukkan sorot sebuah permohonan, membuat El memilih diam, dan mengikuti keinginan istrinya.


"Aku akan lakuin apapun yang membuat kamu senang sayang, meskipun aku nggak rela."


"Terimakasih sayang!" ucapnya lalu menubruk dada El memeluknya erat.


"Barusan bilang apa?"


"Yang mana, lupa?" balasnya, seraya mendongak menatap wajah tampan suaminya, dengan senyum dikulum.


"Ck, gemesin banget sih!" detik kemudian ia menempelkan bibirnya ke bibir istrinya, menekan nya dengan dalam, sedikit kasar, dan menuntut, hingga keduanya terlena, dan berakhir dengan kembali menyatukan diri.

__ADS_1


.


.


__ADS_2