Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Bertemu lagi


__ADS_3

"P-pak Surya?"


"Kebetulan sekali ya, kita ketemu disini!"


"I-iya pak, bapak mau makan juga?" tanya Kinar di sela kegugupan nya.


"Enggak dek, saya kesini mau ketemu bu Lastri."


"Eumz begitu."


"Iya, Kinar sudah makan?"


"Udah pak baru aja selesai."


"Ngomong-ngomong Kinar sama siapa disini?"


"Euhmz tadi sih sama El, tapi sekarang dia lagi kedepan, mau ngecek bangunan."


"Bangunan apa?"


"Katanya sih mau bikin pabrik gitu!" balas Kinar, sedangkan Surya ber Oh lirih, sembari mengangguk-angguk.


Dan detik kemudian Surya terdiam, sembari memperhatikan lekat wajah Kinar yang menurutnya terasa tidak asing dalam hidupnya.


Hingga kilasan matanya tak sengaja menangkap sebuah benda yang juga sama tak asingnya, menggantung di bawah leher Kinar.


"Maaf, maaf sekali sebelumnya, Kinar dapat dari mana kalung itu nak?" ujar Surya selanjutnya.


"Oh ini!" Kinar repleks menyentuh ujung liontin kalung tersebut.


"Ini satu-satunya peninggalan ibu saya pak!"


"M-memangnya, ibunya kemana?"


"Ibu saya sudah meninggal 2 bulan yang lalu." balas Kinar sendu.


"Boleh saya tahu nama ibu kamu?"


"Nama ibu saya, Safira Rahmawati!"


Deg!


"S-siapa, boleh di ulangi?" ucap Surya dengan suara bergetar.


"Safira Rahmawati pak, bapak kenal?" tanya Kinar, dengan ekpresi yang dibuat seperti sangat biasa-biasa saja.


"B-boleh saya lihat liontinnya sebentar?"


"Boleh!" Kinar pun melepaskan kalung tersebut lalu memberikannya pada Surya.


"Bapak pinjam sebentar ya!" ujarnya dengan tangan bergetar, sembari meraih kalung tersebut dengan sangat terburu-buru.


"Deg!"


Surya membelalakan matanya, dengan perasaan yang berkecamuk, bahkan jantungnya kini terasa seperti melompat dari tempatnya.


Menghela nafas beratnya, yang tiba-tiba begitu terasa sangat menyesakan, menggeleng lemah, bersamaan dengan air matanya yang keluar begitu saja.


"I-ini, Kinar tahu siapa yang berada di dalam foto ini?" tanya Surya dengan berurai air mata, sedangkan Kinar hanya menatapnya biasa saja, yang ada dalam pikirannya kini Ayahnya sudah mengingat kembali tentang masa lalunya.


Kinarpun mengangguk, "Kakek saya!"


Deg!

__ADS_1


"Lalu dimana ayah Kinar?"


"Saya tidak punya ayah!"


"M-maksud Kinar?"


"Ibu bilang, keluarga Ayah maupun ayah saya sendiri tidak mengharapkan kehadiran saya, jadi anggap saja saya tidak memiliki ayah!" balas Kinar santai, dengan senyum getirnya, entah mendapatkan kekuatan dari mana hingga ia dapat berkata seberani itu didepan ayahnya.


"Ki_"


Drrtt.. drrtt..


Suara getar yang berasal dari ponsel Kinar, sontak membuat ucapan Surya terpotong.


"Hallo!"


"Yaudah, aku aja yang kesana!" ucap Kinar, yang kembali menutup telponnya.


"Maaf ya pak, saya harus segera pergi, permisi!" ujar Kinar, mengambil kalungnya yang tergeletak diatas meja lalu bergegas pergi meninggalkan Surya, yang sedang dipenuhi perasaan resah.


........ .......


"Kok murung gitu sih yang mukanya, kenapa?" tanya El, yang melihat wajah Kinar tak seceria seperti saat terakhir ia meninggalkan nya.


Kinar bergeming, lalu berjalan terlebih dahulu.


"Hei sayang tunggu, kenapa sih?" El berusaha mengejarnya, dan meraih tangannya.


"Buka pintu mobilnya El!" ujar Kinar dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"I-iya sayang iya!" El pun bergegas membuka pintu mobil.


"Kenapa sayang?" ulang El saat keduanya kini sudah sama-sama berada di dalam mobil.


"Hmm, terus?"


"Dia kayanya mulai inget sama masa lalunya, dan mulai sadar tentang siapa aku."


"Bukannya harusnya kamu seneng sayang, karena dia udah tahu siapa kamu?" tanya El dengan perasaan sedikit bingung.


"Nggak El, justru perasaan aku sakit banget, apa lagi saat dia nanyain keberadaan ayahku." balas Kinar dengan kedua pipinya yang kini sudah dibanjiri oleh air mata.


"Sayang?" El pun menarik tubuh Kinar kedalam pelukannya.


"Aku nggak sanggup ketemu dia lagi El,"


"Shhttt!" El mengusap rambut Kinar hingga punggungnya, membiarkan Kinar meluapkan kesedihan nya didalam pelukannya.


"Kenapa kakek sama ayah tega ninggalin aku, ibu, dan juga nenek, terus kenapa ayah harus muncul di depan aku, setelah aku udah nggak berharap lagi sama dia."


"Udah ya sayang, jangan nangis terus dong, ada aku yang akan selalu ada di samping kamu, meluk kamu seperti sekarang, aku janji nggak akan pernah ninggalin kamu sendirian, percaya sama aku."


Sedangkan di warung makan tadi, Surya nampak seperti seseorang yang mendadak tersengat listrik, terlihat sangat kaku dan menyedihkan.


"Pak, pak Surya kenapa?" tanya bu Lastri sembari menyentuh bahunya pelan.


"Pak?" ulangnya, saat Surya masih dengan posisi semula, dengan tatapan yang lurus kedepan."


"Bapak baik-baik aja?" lanjutnya dengan perasaan cemas.


"Eh, maaf Bu maaf!" ujarnya seraya mengusap kasar wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"Saya permisi bu!"

__ADS_1


"Bapak nggak makan dulu atau minum apa gitu pak!"


"Nggak bu, saya lagi Buru-buru, saya mau mengambil mobil saya yang berada diwarung Harun!" balasnya sembari berlari kecil melewati beberapa gang sempit menuju warung makan yang di kelola Harun.


Sementara Kinar yang sudah mulai berhenti menangis pun menyuruh El agar segera melajukan mobilnya untuk pulang menuju rumahnya.


"El?" Kinar menyentuh tangan El yang sedang fokus mengendalikan kemudi.


"Kenapa yang?" jawabnya, seraya menoleh kearah Kinar.


"Boleh mampir ke makam ibu sebentar?"


"Boleh kok sayang boleh!" balas El sambil tersenyum, dan mengusap Lembut rambutnya.


Di samping makam yang tertimbun tanah yang masih terlihat merah itu, Kinar terduduk lemas sembari memegangi papan nisan yang bertuliskan nama sang ibu.


"Ibu, Kinar harus apa," batinnya.


"Yang, kok nangis mulu sih, aku nggak mau dikenalin sama ibu?" ujar El seraya tersenyum geli, membuat Kinar sontak ikut tersenyum.


"Apa aku sendiri aja yang memperkenalkan diri?"


"Tuhkan diem lagi!" cerocos El saat Kinar hanya memandangi wajahnya dalam diam.


"udah selesai kok, pulang yuk!"


"Eh tunggu bentar dong yang, aku kan belum ngenalin diri aku!"


"Gimana coba ngenalin nya,?" balas Kinar dengan senyum dikulum.


"Lihatin nih!" ucap El yang kemudian bergegas untuk berjongkok disamping makam ibu mertuanya.


"Euhmmz, ibu apa kabar, perkenalkan saya El bu, suami dari Kinar anak ibu, saya berjanji sama ibu bahwa saya akan membahagiakan Kinar semampu yang saya bisa, Terima kasih karena ibu sudah melahirkan gadis cerdas dan cantik seperti Kinar, semoga ibu juga selalu bahagia ya disana." ujar El yang kemudian kembali berdiri menghampiri Kinar.


"Kok senyum-senyum?" tanyanya heran.


"Abis kamu lucu."


"Masa sih, iya gitu?"


"Iya."


"Gitu dong senyum, kan cantik!" goda El, yang membuat Kinar mencubit pelan tangannya dengan sedikit tersipu.


Lalu keduanya pun bergegas untuk melanjutkan perjalanan nya untuk pulang ke rumahnya.


"Ada yang nelponin mulu tuh!" ucap Kinar, saat El baru saja keluar dari kamar mandi.


"Siapa yang?"


"Aku lihat sih namanya Bian."


"Temen aku yang!"


"Yakin, nggak bohong kan,?"


"Masa sih aku bohong."


"Ya siapa tahu kan, namanya Bianca di tulisnya Bian!" balas Kinar sedikit ketus, membuat El mengulum senyum bahagia.


.


.

__ADS_1


__ADS_2