Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Sebuah Kalung


__ADS_3

"Mungkin beberapa minggu ini aku bakalan sibuk diluar sayang, maaf kalau waktu buat kamu cuma sedikit, aku harap kamu ngerti ya," ujar El yang kini tengah bersandar di kepala ranjang, sembari menggenggam tangan Kinar yang berada di sampingnya.


"Emang lagi ada acara apa?"


"Aku lagi bikin pabrik baru yang!"


"Pabrik?"


"Iya, aku pengen mandiri, apa lagi sekarang udah punya kamu, dan mungkin sebentar lagi akan ada buah hati kita disini!" ucap El, sembari menyentuh perut rata Kinar.


"kamu tahu sendiri kan sayang, semua perusahaan Cafe sama bengkel itu punya ayah, dan juga dibawah aku ada Satria dan Satya, yang mungkin suatu saat pasti bakalan nuntut haknya." lanjut El.


"Termasuk pabrik boneka itu?"


"Nggak, pabrik itu aku sendiri yang bangun, ya walaupun dari penghasilan Cafe juga sih," ujar El Sambil terkekeh.


"Uangnya dari gaji selama 2tahun kebelakang, mengelola semua perusahaan ayah, sebenernya Arsenio Cafe itu juga udah dipindah atas nama aku, tapi aku pikir nggak akan terasa perjuangan nya kalau bukan hasil sendiri, jadi aku putusin buat nggak nerima pemberian ayah yang satu itu."


"Ternyata kamu bisa berpikir dewasa sampai sana ya!" ujar Kinar yang kini tersenyum bangga, pada suami mudanya tersebut.


"Suaminya siapa dulu dong!" balas El dengan senyum menggoda.


"Inget ya, selama aku nggak ada dirumah, kamu nggak boleh keluar tanpa seizin aku," lanjut El tak ingin dibantah.


"Kalau aku bosen dirumah gimana?"


"Yaudah boleh main, tapi kerumah bunda doang ya!" ujar El seraya mengacak rambutnya gemas.


..................


Sudah seminggu ini El disibukkan dengan dengan berbagai tugas dan tanggung jawabnya untuk mengecek keadaan pabrik maupun Cafe dan bengkel, yang bahkan kini memiliki tugas baru untuk memantau para pekerja di pabrik barunya.


"Gimana Om, nggak ada masalah kan?" tanya El yang kini sedang berada di lokasi pembangunan pabrik barunya.


"Aman kok, semuanya aman!" balas Gerry seraya menepuk pundak anak sahabat kecilnya itu.


"El, kalau gue perhatiin lo itu benar-benar persis banget sama bokap lu, selain wajah lo bak pinang di belah dua, jiwa pengusaha nya juga emang sama-sama berkobar sejak muda, persis banget!"


"Masih gue inget dengan jelas, waktu bokap lo yang nyuruh gue megang proyek Cafe raksasanya Denada Cafe, berlanjut ke perusahaan bokap lo yang gede, dan sekarang nurun ke anaknya, tapi gue makasih banget lho, karena sampai sekarang masih selalu dipercaya, padahal usia gue udah lumayan tua begini!" ujar Gerry seraya terkekeh, menyugar rambutnya yang memperlihatkan beberapa helai rambut putih yang terselip diantara rambut hitamnya.


"Saya sama Ayah itu jelas beda banget om, kalau dulu ayah udah sukses di usia mudanya, yang bahkan udah berhasil mendirikan beberapa Cafe, bengkel, membantu banyak anak jalanan untuk mendapatkan pekerjaan, sedangkan saya belum bisa apa-apa om!"


"Jangan berkecil hati gitu dong, gue yakin suatu saat elo bakalan lebih sukses dari bokap lo, percaya sama gue!" Gerry menepuk pundaknya memberi semangat.


"Eh ngomong-ngomong bokap lo gimana kabarnya El, kangen juga gue sama dia, udah lama juga sih kagak ketemu."


"Baik kok Om, cuma ya gitu, ayah super sibuk banget sekarang!"


"Wagila si Ando emang bener-bener gila kerja, salut gue!"


.............

__ADS_1


"Yee..kak Kinar datang, Tika kangen banget deh sama kakak!" ujar Cantika yang kini tengah bergelayut manja di tangan kakak iparnya tersebut.


Sore Ini Kinar sengaja dijemput oleh supir mertuanya atas suruhan El, malam ini ia tidak bisa pulang, karena harus bertanggung jawab menemani salah satu pekerjanya yang mengalami cidera, karena kecelakaan kerja.


"Kak Kinar tinggal disini lagi aja ya, rumah sepi tahu nggak ada kak Kinar,"


"Bohong kak, jangan percaya sama tuh bocah, sepi dari mananya, orang tiap hari dia bikin rusuh mulu!" sambar Satya tanpa melihat kearahnya, kedua tangannya mencengkram erat benda pipih ditangannya, sedangkan matanya fokus pada layar benda tersebut.


"Ihs abang Satya nyebelin banget, siapa yang rusuh sih, abang aja kali!"


"Sudah sudah, kalian ini bener-bener ya, bunda pusing tahu nggak sih dengernya, ayo Tika ajak kak Kinar istirahat!" ujar Nada yang baru saja datang dari arah dapur.


"Bun, Tika boleh nggak kalau malem ini bobo bareng kak Kinar, mumpung nggak ada bang El!" ujar Cantika yang kemudian terkekeh geli.


"Boleh aja, kalau Kak Kinarnya mau." balas Nada sambil tersenyum.


"Ayah kemana bun?" tanya Kinar, saat menyadari tidak ada Ando disana.


"Ayah lembur nak, mungkin pulangnya juga malem, tahu tuh dia makin tua bukannya banyakin istirahat, malah tambah sibuk, bingung bunda juga."


"Makan dulu yuk, bareng-bareng!" lanjut Nada sembari menggiring nya menuju meja makan.


"Satria Satya, ayo makan dulu!" panggilnya pada kedua putra kembarnya yang masih asik dengan ponselnya Masing-masing.


"Dalam waktu 2 menit belum juga ke meja makan, bunda sita handphone kalian, ancam Nada, sembari berkacak pinggang., yang repleks membuat keduanya melompat dari Sofa, berjalan dengan tergesa menuju meja makan.


" Takut ya kalau handphonenya mau di sita?" ujar Nada, sedangkan keduanya hanya menyengir kuda, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Nggak ayah, nggak Anak-anaknya, kalau udah main handphone pada anteng semua, heran!"


"Diem bocil!"


"Nggak usah ngancem-ngancem adek kalian," sindir Nada, yang Lagi-lagi membuat keduanya meringis.


.....


"Udah tidur ya?" ujar Nada dengan suara setengah berbisik, lalu menghampiri Kinar yang sedang duduk disisi ranjang dikamar Cantika.


"Udah bun baru aja!"


"Yaudah, kalau begitu ikut bunda sebentar yuk, ada yang musti bunda lihatin ke Kinar!"


"A-apa bun?"


"Rahasia!" balas Nada yang kemudian terkekeh pelan.


.


"Ini!" Nada menyerahkan sebuah kalung dengan bandul yang berbentuk hati, ketika keduanya sudah berada di dalam kamar Nada.


"I-ini apa bun?" tanya Kinar dengan tangan bergetar.

__ADS_1


"Ini titipan dari Oma Sarah, katanya sebelum meninggal bu Safira, almarhumah Kinar meminta supaya Oma ngasih langsung ini ke kamu nak, tapi Oma bilang, kalau Oma yang ngasih Oma nggak tega lihat wajah sedih Kinar, jadi Oma menitipkannya ke bunda."


"Terimakasih banyak bunda, kok ibu nggak pernah cerrita ya, padahal sebelumnya Kinar nggak pernah lihat ibu punya kalung seperti ini.''


" Mungkin di balik kalung itu ada sesuatu hal penting yang musti ibu jaga kerahasiaan nya nak."


Kinarpun mengagngguk mengerti.


"Bocah-bocah pada kemana bun kok sepi?" tanya El, saat menjemput Kinar minggu pagi ini.


"Hari ini Oma Sarah lagi panen ikan, jadi Adek-adek kamu udah pada kesana pagi-pagi tadi."


"Terus Kinar?"


"Tadi katanya lagi lihat-lihat novel dikamar kamu!''


" Yaudah El nemuin Kinar dulu ya bund!"


"Ck dasar, bilang aja kalau kangen, baru juga pisah semalam!" cibir Nada, yang membuat El tergelak.


El membuka pintu kamarnya dengan sangat pelan dan hati-hati, kemudian ia tersenyum lebar saat mendapati Kinar yang tengah memilih buku di dalam rak buku yang terletak di sudut kamarnya, dengan posisi tubuh yang membelakangi nya.


"Eh!" Kinar hampir terlonjak, saat merasakan sepasang tangan kokoh memeluk tubuhnya dari belakang.


"El?"


"Hmmm!" gumamnya, dengan wajah yang ia sembunyikan di ceruk lehernya, bisa Kinar rasakan hembusan nafas El yang terasa hangat menerpa kulitnya.


"El?"


"Biarin gini dulu, bentar lagi aja, kangen banget!" bisik El, yang membuat Kinar berdecak.


"Kangen apanya, baru aja semalem nggak ketemunya."


"Jangankan semalem, pisah sedetik aja rasanya berat banget sayang!"


"Gombal deh!" balas Kinar seraya mencubit punggung tangannya.


"Beneran sayang,"


Dalam satu tarikan El membalikan tubuh Kinar agar menghadapnya, yang kemudian berakhir diatas ranjang.


.


.


Hallo readers tercinta Suamiku Anak SMA s2🥰


Semoga selalu dalam keadaan sehat ya😘😘


Jangan lupa like, komen, dan vote nya ya, biar Authornya lebih semangat buat nulisnya, terimakasih ☺☺

__ADS_1


.


.


__ADS_2