Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Ayah


__ADS_3

"Mau lanjut kemana lagi yang?" ujar El saat keduanya kini sedang berada diparkiran pasar malam.


"Pulang aja deh!"


"Siap tuan Putri!" balasnya, seraya mengenakan helmnya.


..... ....


"Itu siapa ya yang?" ujar El saat sebuah mobil berhenti di depan pintu gerbang rumahnya.


"Aku turun duluan aja ya El!"


"Yaudah iya sayang, tolong suruh mang Wawan bukain pintunya ya!"


"Iya."


"Kinar?" sebuah suara familiar yang memanggil namanya, sontak membuat Kinar menghentikan langkahnya.


"Kinar tunggu nak!"


Belum hilang rasa terkejutnya, ketika Surya mengetahui alamat rumahnya, ditambah dengan kalimat terakhir yang menyebutnya dengan sebutan nak, membuat tubuh Kinar membeku seketika.


"Kinar, sebentar nak, beri saya waktu untuk berbicara!"


ujarnya, melangkah cepat menghampiri Kinar yang masih terdiam di tempatnya.


"Maaf pak, ada urusan apa ya dengan istri saya?" ujar El setelah memarkirkan motornya.


"Nak El kan, putra sulungnya pak Ando, suami dari Kinar, perkenalkan saya Surya!" ucapnya, yang membuat El repleks menganggukkan kepalanya.


"Boleh saya minta waktunya sebentar, ada sesuatu hal yang harus saya jelaskan, mengenai masa lalu saya, ibunya dan juga Kinar." ujar Surya, sembari melirik Kinar yang masih diam di posisi semula.


El mengangguk mengerti, ini adalah permasalahan Kinar yang harus segera diselesaikan nya, El tahu saat ini Kinar belum siap menemui ayahnya, akan tetapi tidak mungkin jika Masalah tersebut di biarkan hingga berlarut-larut.


"Sayang, aku tinggal dulu ya!" bisik El.


"El?" Kinar menggeleng pelan, dengan mata yang sudah berkaca-kaca, sembari memegangi pergelangan tangan El.

__ADS_1


"Nggak apa-apa sayang!" El mengangguk kecil, seolah memberi isyarat bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Setelah kepergian El, Kinarpun berjalan pelan menuju teras, lalu menyuruh Surya untuk duduk di Kursi rotan yang berada diteras rumahnya itu.


Tidak lama bi Rumi datang dengan membawa sebuah nampan yang berisi 2 cangkir teh hangat diatasnya, atas perintah El.


"Diminum pak, non, tehnya!" ujar bi Rumi sembari mengangsurkan cangkir teh tersebut kehadapan nya masing-masing.


"Makasih bi!" ujar Kinar dengan suara lirih.


"Sama-sama non!" balasnya yang langsung bergegas pergi dari hadapan keduanya.


Hening......


"Jadi bapak mau bicara soal apa?" ujar Kinar memutuskan membuka suara terlebih dahulu, karena Surya hanya diam dengan raut wajah gelisah.


"Kinar?" Ujarnya, yang kemudian kembali terdiam, bingung harus memulai ucapannya dari mana.


"Ayah kesini mau minta maaf, dan membuat pengakuan tentang semua kesalahan ayah padamu dan juga ibu mu dimasa lalu."


"Maksud bapak?" tanya Kinar, berpura-pura tidak mengerti.


Surya pun beranjak lalu berjongkok dihadapan Kinar.


"Apa yang harus ayah lakukan nak, untuk menebus semua kesalahan ayah di masa lalu, adakah pintu maaf sedikit saja untuk ayahmu yang berdosa ini?" ujar Surya dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Maafkan ayah yang sudah tidak berlaku adil padamu dan juga ibumu, ayah benar-benar menyesal sekarang, hidup ayah tidak berarti apa-apa setelah jauh dari kalian." ujar Surya yang sudah mulai terisak.


Tubuh tegap serta berisi itu terlihat begitu rapuh dan menyedihkan.


Sedangkan Kinar, sejak tadi ia hanya memalingkan wajah menatap kosong kesembarang arah, sesuatu yang secara tiba-tiba datang mendadak seperti sekarang membuatnya bingung harus menanggapi nya dengan cara seperti apa.


Selama ini ia memang sangat menginginkan untuk bertemu dengan sosok ayah, sosok yang sering disebut pahlawan oleh kebanyakan anak-anak.


Tapi bagaimana dengan ayahnya, apakah sebutan pahlawan cocok untuk disematkan dalam diri ayahnya, yang bahkan dari kecil tak pernah menyentuhnya untuk sekedar menggendong dan menimangnya, atau bahkan memberinya sesuap nasi, layaknya seorang ayah pada umumnya.


Sehina itukah dirinya di mata ayah, batin Kinar disela isak tangisnya yang tertahan.

__ADS_1


"Kinar dengar ayah nak!" lanjut Surya, saat menyadari dibalik diamnya Kinar ternyata sudah ada isakan-isakan kecil yang terdengar lirih dikedua kupingnya.


"Mungkin Kita bisa ketemu di lain kali pak, karena saya butuh waktu untuk mencerna baik-baik tentang semua ini, permisi!" ucap Kinar, dan berlalu pergi, meninggalkan Surya yang masih menangis ditempatnya.


"Sayang?" El yang sedang gelisah menunggunya dikamar sejak tadi pun bergegas untuk bertanya langsung pada sang istri.


"Gimana, ayah udah jelasin?" ujar El.


"Semakin dia menjelaskan, dan meminta maaf, semakin besar juga rasa sakit yang aku rasakan untuknya, ini semua terlalu berat El, aku belum bisa!" balasnya dengan air mata berlinang membasahi kedua pipinya.


"Shhtt, aku tahu ini semua nggak mudah sayang, tapi aku yakin kok kamu bisa melewati masa-masa sulit ini, aku tahu istriku gadis yang kuat dan juga pemaaf!" ujar El sembari menarik Kinar kedalam pelukannya, yang seketika memberikan rasa nyaman untuk Kinar, melupakan sesaat kesedihan yang kini tengah melandanya.


Dalam hati, Kinar sangat bersyukur karena memiliki El, suami yang terkadang selalu berpikiran dewasa dan selalu ada disaat ia butuh, dan yang paling utama adalah karena El selalu memberikan kenyamanan tersendiri untuknya.


Memberinya kekuatan, dalam menghadapi masalah rumitnya saat ini.


"Minum dulu ya, biar tenang sayang!" tawarnya, sembari mengangsurkan segelas air putih yang juga sudah sengaja ia siapkan, untuk berjaga-jaga sewaktu Kinar menangis, dan ternyata benar, Kini Kinar kembali dalam keadaan sedang menangis.


"Makasih,!" balasnya, dan gegas meminum airnya hingga tandas.


"Ini yang abis nangis, haus banget keknya, nangis terus bikin cape ya yang?" Ujar El dengan nada menggoda, yang sontak membuat Kinar tersenyum malu.


Lalu tatapan Kinar kini beralih pada El yang juga tengah menatapnya dengan tatapan penuh cinta.


Ia terkesima dengan paras tampan rupawan, yang kini berstatus sebagai suaminya itu, laki-laki muda yang selalu merengek manja disaat menginginkan sesuatu yang ada dalam dirinya.


Juga laki-laki yang Akhir-akhir ini membuatnya tak bisa berhenti untuk terus tersenyum, dan merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Ia pun kembali berpikir, dan menarik kembali ucapannya, yang telah berburuk sangka pada yang maha Kuasa, yang merasa bahwa hidup ini terlalu kejam padanya.


Sejak kecil memang ia sudah terbiasa dengan kehidupan yang begitu kejam dan keras, dan harus banyak memaklumi dan menerima nasibnya yang hanya memiliki seorang ibu.


Tanpa ayah, tanpa sang pahlawan yang selalu ia dambakan setiap harinya.


Ia tak memiliki ayah yang mencintainya sejak kecil, dan disaat ia mulai dewasa orang-orang yang disayanginya pun satu persatu pergi meninggalkan nya.


Namun ternyata tanpa ia duga, dibalik semua itu sang Maha Kuasa sudah menyiapkan seseorang yang sangat spesial untuk menemani hidupnya, dan membantunya menghapus luka yang begitu menyesakan di dalam dada.

__ADS_1


__ADS_2