
"Aku udah bilang ke bu Sandra, supaya kamu nggak ngelayanin dibagian depan!" ujar El, saat menurunkan Kinar dari motornya, di tempat biasa, ketika mengantarnya bekerja pagi ini.
"Kok gitu sih?" protes Kinar.
"Kamu nggak mau?"
"Nggak!"
"Yang, please!" ucapnya dengan nada memohon.
"Emang kenapa sih kalau saya di depan, perasaan selama 4 bulan saya bertugas dibagian depan, nggak ada masalah kok!"
"Ck, bukan kamu yang bermasalah, tapi aku!"
Kinar berdecak, "Apanya yang salah sih?"
"Yang!" El meraih tangan Kinar dan menggengganya lembut.
"Please sayang."
"Hmmm!"
...
Sesampainya di Cafe, tampak bu Sandra sudah berada disana, membuat Kinar menggerenyit bingung, pasalnya bu Sandra biasanya selalu datang lebih akhir dari karyawan.
"Pagi bu?" sapa Kinar ramah.
"Ibu tumben udah datang ke Cafe jam segini?"
"Kamu juga kenapa udah datang sepagi ini? bu Sandra bertanya balik.
" S-saya_"
"Karena El, berangkat pagi kan?" potongnya seraya tersenyum lembut.
"Nggak usah pasang wajah kaget gitu!" lanjut bu Sandra sembari terkekeh melihat raut wajah Kinar yang kini berubah menegang, dan memucat.
"Saya memang sengaja datang lebih pagi, karena ada yang harus saya bicarain ke kamu, dan ini penting!"
"El bilang, kalian sudah menikah ya, tapi memang di rahasiakan, karena El masih berstatus sebagai pelajar kan?"
lanjut bu Sandra kembali tersenyum, sedangkan Kinar hanya mematung dengan nafas tercekat.
"Kinar, El minta saya agar memindahkan kamu kebagian belakang, nggak apa-apa kan, soal hubungan kalian, El meminta tetap merahasiakan nya kok, hanya saya yang dikasih tahu sama dia!"
"B-baik bu, terimakasih."
Bersamaan dengan para karyawan lain yang mulai berdatangan, akhirnya bu Sandra pun menyudahi ucapannya.
"Wah si ibu tumben banget udah dateng jam segini, ada angin apa gerangan yang membuat ibu bisa datang sepagi ini?" sambar Fahmi yang baru saja datang.
"Terserah saya dong, emang nggak boleh kalau saya datang pagi-pagi."
"Ya boleh aja sih, cuma kan aneh aja gitu!" balas Fahmi sembari menyengir kuda.
"Tadi saya ada keperluan sebentar, jadi ya sekalian aja berangkat pagi dari pada telat!"
Fahmi pun ber Oh tanda mengerti.
"Yasudah Ayo, kita Bersih-bersih dulu sebelumnya, soalnya siang ini Bos muda mau dateng." ujar bu Sandra.
"Lah, tumben banget si bos sering banget kesini ya?" Fahmi terlihat berpikir, membuat Kinar menunduk gugup, sedangkan bu Sandra senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Emang apa salahnya sih Fah, ini Cafe kan punya dia juga."
"Iya sih!"
"Yaudahlah ayo kita mulai Bersih-bersih!"
"Siap, laksanakan!"
"Ck kamu ini." bu Sandra terkekeh geli.
.............
Benar saja, siang ini El benar-benar datang, ia berjalan santai melewati beberapa karyawanya yang tersenyum sekaligus menyapa, dan mereka melongo tak percaya bahwa seorang El-Syahki yang biasanya berwajah datar, justru kali ini tersenyum, sekaligus membalas sapaan dari mereka.
"Gue butuh oksigen, sumpah demi apa ya, si bos balas sapaan gue, senyum pula aaaa...!" Merry berteriak histeris, sembari menepuk-nepuk pundak Vika sahabatnya.
"Seriusan, kok gue nggak tahu sih?"
"Lo sih diem dipojokan mulu, jadi kagak lihat pemandangan indah ciptaan Tuhan yang baru aja lewat, payah lo!"
"Yah, mau dong gue juga di senyumin sama si bos ganteng!" keluh Vika, dengan wajah sedih yang dibuat-buat.
"Lo berdua malah enak-enakan ngerumpi disini ternyata, lihat noh kedepan, pelanggan udah pada ngantri tahu!" tegur Arkan.
"Iya iya bawel, sirik aja lo!"
"Ini bukan masalah sirik atau nggaknya, tapi profesional cuy!"
"Iya bawel, udah udah sana lo." Merry mendorong tubuh Arkan agar menjauh.
"Ck dasar lampir, dikasih tahu malah kek gitu!" gerutu Arkan sambil berjalan meninggalkan keduanya.
...........
"Kamu berhutang cerita lho El, sama saya!" bu Sandra memimpin langkahnya menuju ruangannya.
"Jadi gimana, kok bisa kamu menikah sama Kinar, apa lagi di usia kamu yang masih muda, eh ralat, sangat muda tepatnya, apa lagi kamu itu masih berstatus pelajar lho El?" ujar bu Sandra, ia belum merasa puas dengan jawaban El saat ditelpon kemarin.
El menarik kursi yang berada dihadapan bu Sandra, lalu mendudukan dirinya disana.
"Bukannya saya udah jelasin ya kemarin!"
"Ck, itu bukan alasan El!"
"Emang itu kenyataannya kok, saya awalnya emang dijodohin, tap_"
"Tapi sekarang udah jatuh cinta, gitu?" potong bu Sandra, dengan senyum di kulum.
"Kok ibu tahu?"
"Duhhh, ibu juga punya 2 anak remaja cowok kali El, tahu lah ciri-ciri remaja yang lagi kasmaran itu kaya gimana."
"Masa sih?" tanyanya dengan sedikit tergelak.
"Nggak percaya kamu?"
"Iya deh iya!"
"Tapi ibu seneng lho El, kalau kamu menikah dengan Kinar, selain anaknya ramah, dia juga rajin, dan sangat cantik tentunya, dan saya yakin, kamu nyuruh Kinar dibagian belakang, karena takut kan istri kamu banyak yang godain?"
"Eh, Buk_"
"Udah, ngaku aja, iya kan?"
__ADS_1
El pun menyugar rambutnya kebelakang, "Iya sih!" jawabnya lirih.
"Yaudah kalau gitu saya pinjem Kinar dulu ya!"
"Masih siang lho El ini?" goda bu Sandra seraya terkekeh.
"Ck, apaan sih bu, saya cuma mau minta bantuan dia!" menunjuk beberapa lembar kertas ditangannya.
"Alesan aja kamu, bilang aja mau deket-deket Kinar!"
"Seriusan lho ini."
"Yaudah sana, dasar pengantin baru, pengennya nempel terusss!" sindir bu Sandra, sedangkan El, hanya membalas dengan senyuman tipis.
Setelah El berjalan keruangannya yang terletak di lantai atas, bu Sandra pun bergegas menghampiri Kinar dibelakang.
"Nar, dipanggil suami tuh!" bisik bu Sandra, yang seketika membuat wajah Kinar merona karena malu.
"A-apa bu?"
"Dipanggil si El tuh diatas."
"Tapi bu_"
"Udah nggak Apa-apa." Ucap bu Sandra seolah mengerti dengan kegundahan yang dirasakan Kinar.
"Y-yaudah kalau begitu saya permisi ya bu?" ujar Kinar dan berjalan gontai menuju lantai atas.
Kinar langsung menerobos masuk menuju ruangan El, tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, El yang sedang duduk diatas sofa pun seketika beranjak dan menghampiri istri kesayangan nya tersebut.
"El, kamu apa-apaan sih, nyuruh aku kesini terus, apa lagi bu Sandra udah tahu status kita, nanti di kiranya aku nggak profesional kerja, dan seenaknya meninggalkan pekerjaan, mentang-mentang istri pemilik Cafe, kamu mikir kesitu nggak sih El?" cerocos Kinar dengan mata berkaca-kaca.
"Hei sayang," El meraih tangan Kinar namun segera ditepisnya.
"Kamu marah?" lanjutnya.
"Menurut kamu?"
El memegang kedua bahu Kinar, dan menatapnya dalam. "Sayang dengerin aku, kan aku juga nggak minta kamu buat diem disini, aku nyuruh kamu ngecek semua data dari Cafe yang lain."
"Ck!"
"Yaudah aku janji ini yang terakhir deh!"
"Beneran?" tanyanya antusias.
"Iya, kamu seneng?"
Kinarpun mengangguk seraya tersenyum, sedangkan El berdecak dalam hati, bisa-bisanya istrinya itu tidak senang berdekatan dengannya.
Selama 30 menit, Kinar tampak serius memeriksa beberapa lembaran kertas ditangannya, sedangkan El hanya melihatnya dari jarak yang agak jauh darinya, atas permintaan Kinar sendiri yang tidak mau diganggu.
Namun, melihat istrinya yang berulang kali menggerenyit, sembari menggigit bibir bawahnya, membuat El tidak tahan, dan bergegas menghampirinya.
Dan tanpa peringatan apapun, ia segera menarik tengkuk Kinar, kemudian mempertemukan bibirnya dengan bibir Kinar, mel umatnya rakus, dengan perasaan menggebu-gebu.
"El?" Kinar mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga.
"Kamu kan janji nggak bakalan ganggu!" bentak Kinar, membuat El meringis, sekaligus tergelak.
"Sorry yang, hilaf!" balasnya, sembari mengusap bibir bawahnya.
.
__ADS_1
.