
Sejak keduanya berada di pelaminan, El tak henti-hentinya memandangi wajah istrinya yang terlihat terus tersenyum memandangi ke sekeliling gedung yang sudah disulap dengan sedemikian rupa oleh pihak WO.
"Yang?"
"Hmmm!"
"Kamu udah kaya bidadari tahu nggak sih?"
"Apa sih abang!" balas Kinar dengan wajah tersipu, lalu sebelah tangannya mencubit pinggang El yang terbalut jas pengantin yang nampak begitu pas di tubuhnya.
Sedangkan El hanya terkekeh kecil, kembali memandangi wajah Kinar yang kini terlihat jauh berbeda dari hari biasanya.
"Aduh El istrinya lagi hamil, malah dibiarin berdiri terus, gimana sih kamu ini, setengah jam lagi tamu-tamu pada dateng lho El, kamu lupa pestanya cuma diadakan setengah hari, harus nya setengah jam ini kamu gunakan sebaik mungkin, istri kamu suruh duduk." cerocos Oma Sarah yang kini menghampiri keduanya, dan berakhir dengan memeluknya.
"Oma tuh seneng, seneng banget, akhirnya Pernikahan kalian diresmikan, selamat ya cucu-cucu oma, oma sayang kalian!" ujar oma Sarah, yang kini meneteskan air mata haru, masih dengan memeluk keduanya.
"Terimakasih Oma, terimakasih untuk semuanya," ujar Kinar yang kini membalas pelukan wanita tua yang begitu ia sayangi melebihi Oma kandungnya sendiri itu.
"Kinar nggak bisa berkata-kata untuk semua kebaikan Oma, dari awal kita bertemu, sampai saat ini." lanjut Kinar yang kini semakin menenggelamkan wajahnya dipelukan sang Oma.
*********
Di area yang sudah mendekati gedung tempat resepsi El dan Kinar, Bian dan Yoga tak berhenti-berhentinya menatap takjub pada beberapa janur kuning dengan model yang berbeda-beda, dan terlihat sangat keren di mata mereka, terlebih disamping janur tersebut tertempel kertas dengan tulisan.
The Wedding of
El_Syahki
and
Kinar
27 mei 2xxx
"Kapan coba Ga, nama gue ada disana!" menunjuk kearah kertas yang tertempel di janur kuning tersebut dengan sorot berharap.
Sementara Yoga yang memboncengnya hanya mencibir dengan gumaman kecil.
Terdengar Bian berdecak beberapa kali, karena sahabatnya itu tak merespon ucapannya sama sekali.
"Dari tadi lo kagak denger gue ngomong apa?"
"Yang mana?"
__ADS_1
"Anjirr, minta di ci pok keknya ni bocah!"
"Ck, na jis!"
"Wih, geng kepompong udah pada dateng duluan ternyata, gak nyangka calon ulet ternyata lebih gesit dari seekor lebah!" Bian yang duduk diboncengannya kini kembali berceloteh.
"Maksud lo siapa sih, kagak ngarti gue!" ujar Yoga setelah memarkirkan motornya ditempat khusus parkiran motor, membuka helm, lalu berkaca didepan spion, merapikan rambut yang terlihat acak-acakan dibagian poninya, karena terkena gesekan dari helm yang Dikenakannya barusan.
"Tuh!" Bian menunjuk seorang laki-laki seumuran dengannya yang tengah Mengobrol dengan ketiga sahabatnya.
"Si Ronald, maksudnya?"
"Ck! siapa lagi yang ada disana, lo pikir Makhluk tak kasat mata."
"Yang gue heranin kok dia mau dateng ya, keacara resepsinya si El, bukannya dia kagak suka banget ya sama si El,"
Bian pun hanya mengangkat bahu acuh, kemudian berjalan menuju meja tamu, lalu setelahnya ikut bergabung di jejeran kursi yang sudah terisi hampir separuh lebih oleh para tamu undangan.
"Eh Ga, ngomong-ngomong itu baju lo dapet darimana, jadi minjem punya tetangga lo?" tanya Bian, dengan mata memicing, yang kemudian mendapat toyoran halus dari Yoga.
"Enak aja, bukanlah!"
"Wagila, beli baju baru lo, pantesan cakep!"
"Anjirr masih muda lo udah belajar ngutang?"
"Kepepet bro!"
"Alesan lo!"
Tak jauh dari tempat mereka duduk, tiba-tiba gadis yang sering mereka sebut sebagai dewi ular, terlihat menggandeng seorang laki-laki tampan, dengan aura berwibawa.
"Itu si dewi ular dateng sama cowok, yang di bilang si April beneran kali ya, kalau minggu depan dia mau married,"
"Udah ah, ini kita mau kondangan apa ghibahin orang sih, mending nyamperin si El yok," Bian menarik tangan Yoga untuk sekedar berfoto dan memberikan selamat untuk sang mempelai.
"Selamat bro, sumpah kagak nyangka banget kalau lo bakalan merried duluan diantara kita bertiga, doain gue deh biar cepet nyusul ya!" ujar Yoga, memeluk El sembari menepuk-nepuk punggungnya pelan.
"Ok siap!"
"Lo beneran cakep hari ini El, udah kaya pangeran di negri dongeng tahu nggak sih,?"
El terkekeh, "Bisa aja lo!"
__ADS_1
"Wihhh, beneran El gue juga kagak nyangka lo bakalan merried diusia elo yang ke 18 ini Ck, nasib lo sama gue ngapa bedanya kek langit dan bumi ya, jangankan merried, cewek aja kagak punya gue," Bian gantian memeluknya, pura-pura terisak dipelukan El, membuat Yoga mendesis, dan menoyor pelan kepalanya.
"Ck, malu-maluin banget sih lo, entar dikiranya lo nangis karena dateng ditamu undangan mantan lo lagi." bisik Yoga.
"Ck, kagak ngarti banget orang lagi terharu apa?" Bian mendengus menarik tubuhnya dari pelukan El, sedangkan Kinar yang sejak tadi memperhatikan ketiganya hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Hai cantik, sumpah kamu cantik banget Nar?" Bian mengulurkan tangannya untuk memberi selamat kepada Kinar, seperti yang dilakukannya pada El tadi.
"Ehmmm, kagak usah Lama-lama salamannya." seru El dengan raut wajah tak suka.
"Elaahhh, pegang bentaran doang pelit banget!'' balas Yoga yang kemudian mengambil ponsel dari saku kemejanya, membuka aplikasi kamera dan mengajak sang mempelai untuk berfoto bersama.
Setelah Yoga dan Bian turun dari pelaminan, kini beberapa orang yang sejak tadi sudah mengantre untuk memberi selamat serta berfoto dengan sang mempelai pun satu-persatu mulai mendekati keduanya, kebanyakan dari mereka adalah teman-teman sekelas dari El, sedangkan teman seangkatan Kinar hanya beberapa saja yang datang, terlebih Karena Kinar tidak mengundang keseluruhannnya.
"Yaampun Nar, kamu cantik banget Nar, aku jadi ngiri tahu nggak sih, selamat ya buat kalian berdua, langgeng sampai kakek-nenek!" ujar Mia.
"Aamiin, makasih ya Mi,!" Kinar memeluk sahabatnya erat.
Kemudian dilanjutkan berfoto bersama seluruh karyawan El yang bekerja di Cafe dan bengkelnya, karena khusus hari ini hingga 2 hari kedepan, El sengaja memberikan libur panjang untuk mereka.
***
Kini seluruh kursi pun sudah terisi penuh oleh para tamu undangan, tepuk tangan serta suara teriakan terdengar riuh di dalam gedung tersebut, tidak sabar menantikan tampilnya band legend yang sangat terkenal pada masanya itu.
The Arcturusband, sebuah nama band yang dibuat Ando beserta sahabatnya, 20 tahun yang lalu.
"Sat, lo yakin nanti mau ikut nyumbang lagu,?" tanya Satria tak yakin, pasalnya ia tahu persis suara saudara kembarnya ketika bernyanyi itu seperti apa.
"Yakinlah, kenapa emang, lo khawatir kalau suara gue kagak enak di denger."
Satria menggaruk kepalanya, kemudian kembali merapikannya, khawatir jika rambut yang sudah ditata sedemikian rupa itu terlihat berantakan.
"Masalahnya suara lo kan_"
"Fals!" potong Satya, dengan mata memicing.
"Ck itu lho tahu.''
"Gue jamin kali ini nggak!" Satya beranjak dari duduknya, setelah menepuk sekilas bahunya.
"Emang bisa suaranya tiba-tiba berubah bagus," gumam Satria, yang kemudian melangkah lebar menyusul saudaranya yang kini tengah meminta fotografer untuk mengambil gambar dirinya dan juga kedua kakak nya.
.
__ADS_1
.