
Sepulang dari rumah makan yang di kelola bu Lastri tadi siang, hingga malam kini semakin larut, Surya tak mampu memejamkan matanya barang sedetikpun, karena kini hatinya sedang berkecamuk memikirkan kenyataan yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Safira, wanita yang dulu begitu ia cintai, ternyata kini hanya tinggal nama, tanpa sempat ia menemuinya lagi, bahkan tidak memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri, bersujud memohon ampun di kedua kakinya, atas kesalahan fatal yang ia lakukan di masa lalu.
Kini Surya hanya bisa menyesali semuanya, merutuki kebodohan yang ia perbuat di masa lalu, yang kini berakhir dengan membuatnya merasa sangat tak berarti.
Dan perkataan Kinar tentang ayahnya, membuat kepala Surya terasa berat dan berputar-putar, pasalnya ia masih mengingat dengan begitu jelas bahwa Kinar adalah putri dari rekan kerjanya yang bernama Ando.
Dan ia semakin merasakan lebih dari bo doh, saat dirinya juga tanpa sadar bertanya tentang siapa ayah dari gadis tersebut.
****************
"Bagaimana keadaannya pak, sehat?" ujar Ando menjabat tangan Surya.
Siang ini mereka sengaja bertemu di sebuah resto cepat saji yang terletak tidak jauh dari kantor Ando, karena pagi tadi Surya menghubunginya dan meminta waktunya untuk mengobrol sebentar siang ini.
"Seperti yang bapak lihat saya sangat sehat." balasnya.
"Jadi, hal penting apa yang membuat pak Surya ingin sekali bertemu dengan saya siang ini?" ujar Ando, berbicara pada intinya.
Surya berdehem pelan, dengan raut wajahnya yang kini telah berubah serius.
"Mohon maaf sebelumnya pak, apakah benar Kinar benar-benar putri kandung bapak?"
Deg!
"Kenapa bapak bertanya seperti itu?" Ando bertanya balik.
"Jujur saja pak, saat pertama kali saya bertemu dengannya saya merasakan perasaan lain, seperti ada sesuatu yang berhubungan di antara kami, dan kemarin saya sempat bertemu dengan dia, saya sempat bertanya dengan keberadaan ayahnya, dan saya yakin tanpa sadar dia mengatakan semua tentang ayahnya."
Lama Ando terdiam, kemudian ia mengangguk kecil, Ando merasa mungkin sudah saatnya Surya tahu tentang siapa Kinar yang sebenarnya.
"Kinar memang bukan putri kandung saya pak, tapi menantu saya."
Deg!
"M-menantu?"
"Betul pak, Kinar dan putra sulung saya El, sudah menikah 2 bulan yang lalu."
Deg!
"P-pak Ando serius?"
"Tentu saja pak, apakah pak Surya berpikir sesuatu tentang siapa Kinar?"
__ADS_1
Deg!
"S-saya, apa dugaan saya benar pak, bahwa Kinar putri kandung saya?"
Ando terdiam menatap Surya cukup lama, yang terlihat begitu gusar saat ini, "Soal itu hanya pak Surya yang bisa membuktikan, tapi yang saya tahu dari cerita Kinar, sejak ia kecil ia belum pernah sekalipun bertemu dengan Ayahnya."
Deg!
"Saya juga dengar, Kinar pernah beberapa kali datang menemui pak Adiguna Wijaya untuk meminta di pertemukan dengan bapak, sekaligus meminta tolong agar membantu pengobatan ibunya yang sedang di rawat, sewaktu ia masih hidup."
Deg!
"Tapi beberapa kali itu juga Kinar mendapatkan penolakan, dan selalu berujung terusir dari rumah itu, hingga suatu hari ibunya meninggal, karena terlambat ditangani."
Surya menggeleng, dengan kedua lutut yang melemas, tubuhnya bergetar hebat, dan hatinya bagai di tusuk ribuan belati tajam yang menghujamnya berulang kali.
Rasanya sangat menyakitkan, dan juga menyesakkan.
"Pak, pak Surya Baik-baik saja?" ucap Ando, saat Surya hanya diam dengan tatapan kosongnya.
"S-saya, Terima kasih untuk informasinya pak, kalau begitu saya permisi,!" ujar Surya yang langsung bergegas pergi dengan langkah yang sedikit terhuyung-huyung, sedangkan Ando hanya menatapnya bingung.
Surya mengemudikan mobilnya menuju sebuah pemakaman besar yang terletak di pinggir kota, tidak peduli seberapa lama ia harus mencari, dan mengelilingi makam tersebut, hingga menemukan sebuah Nisan yang bertuliskan mantan istrinya.
Hampir satu jam ia berkeliling mencari, akhirnya ia menemukan makam baru dengan papan Nisan yang bertuliskan Safira Rahmawati binti Hardiantara.
Masih merasa belum mempercayai kenyataan yang kini terpampang didepan mata.
"S-safira, kenapa jadi begini, kenapa kamu pergi secepat ini, disaat aku sama sekali belum meminta maaf dan menebus semua kesalahan ku secara langsung padamu, Fir!" ucap Surya dengan suara terisak-isak memeluk Nisan Safira.
"Maafkan aku sudah membuat seumur hidupmu menderita karena aku, terimakasih sudah menjaga dan mendidik putri kita hingga sebesar sekarang!"
"Aku berjanji akan berusaha memberinya sisa cinta yang aku punya untuk dia, aku akan berusaha mengambil hatinya Fir!"
Entah sudah berapa lama waktu yang ia habiskan disana, hingga kini waktu beranjak semakin sore, dan ia pun memutuskan untuk pulang, dan berjanji akan mengunjunginya sesering mungkin.
........... ..........
"Ngelamun mulu sih sayang, kenapa hm?" El merangkul bahunya dari samping.
"Gimana kalau kita jalan-jalan malem, mau?" tawar El, untuk menghibur Kinar dari kesedihannya.
"Boleh emang?" tanyanya sumringah.
"Boleh dong, naik motor ya, biar bisa dipelukin kamu!" lanjut El sembari mencolek ujung hidungnya.
__ADS_1
"Ihs maunya kamu itu mah."
"Nggak apa-apa dong dipeluk istri sendiri, dari pada di peluk cewek lain emangnya kamu rela?" tanyanya sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Awas aja, kalau sampai kaya gitu!" ujar Kinar ketus.
"Nggak akan, ngapain sih meluk yang lain, kalau yang dirumah selalu bikin nyaman dan ketagihan."
"Ketagihan apa tuh maksudnya?" Kinar mencubit keras tangan El hingga membuat ia meringis sekaligus tergelak.
"Nyebelin banget sih!"
"Tapi sayang kan?"
"Nggak, kata siapa?" ucap Kinar dengan bibir mengerucut.
"Beneran nih, yakin nggak sayang, rela gitu kalau aku di ambil orang?" goda El, yang seketika membuat Kinar memelototinya tajam.
"Yaudah sana pergi, cari yang lebih cantik dan lebih sexy dari aku!" Kinar mendorong tubuh El agar menjauh darinya.
"Tuhkan ngambek, aku cuma bercanda yang, elah!"
"Cowok itu emang sama aja kan, nggak cukup cuma satu cewek, iya kan, ngaku?"
"Eh sayang, kata siapa, aku nggak gitu kok, cuma kamu cewek Satu-satunya yang aku mau, nggak ada yang lain sayang, sumpah!" El mengangkat 2 jari tangannya tinggi-tinggi.
"Bohong!"
El pun mengacak rambutnya frustasi, niat ingin bercanda, malah membuat istrinya berakhir dengan ngambek lagi padanya.
"Beneran sayang?"
"Cantik-cantik ngambekan banget sih, minta di cium keknya ini, apa mau di tindihin sekalian?" ucapnya yang kemudian membuat Kinar tersenyum gemas.
"Nyebelin!"
"Mana mungkin sih aku tergoda sama wanita lain yang, kalau dirumah udah punya bidadari secantik kamu, yang selalu bikin aku pengen nambah terus!"
"El....!" Kinar sudah mengambil bantal hendak melemparkan kearahnya.
"Iya iya nggak!"
Ucap El menyengir kuda sembari berlari memasuki kamar mandi.
.
__ADS_1
.