
"SAH... "
Satu kata penuh makna itu terucap dari beberapa saksi yang menghadiri akad nikah Jihan dan Andra, tidak banyak orang yang hadir memang, hanya ada beberapa orang dari keluarga inti saja, yang ikut serta disana.
"Ikut saya!" Laki-laki yang sering di sapa Hendra itu menarik paksa tangan Widia, agar mengikutinya.
"Lepas, lepasin!" Widia berusaha memberontak, dengan perasaan kesal, menarik kedua tangannya, kemudian melipatnya didepan dada.
Hendra menoleh ke kiri dan ke kanan, untuk memastikan bahwa tidak ada satu orangpun yang akan mendengar pembicaraan penting keduanya.
"Dengar saya Widia, jelaskan bagaimana caranya kamu mendidik anak saya hingga dia harus menikah disaat masih sekolah seperti ini?" ujar Hendra dengan rahang mengeras.
Widia tak merasakan takut sedikitpun, ia balas menatap Hendra dengan tatapan sinis.
"Lucu sekali Anda tuan Mahendra, dengan seenak jidat menyalahkan saya atas apa yang terjadi dengan Jihan, cih!" Widia berdecih kesal.
"Jangan kurang ajar kamu Widia."
"Kamu yang harusnya mendengarkan saya tuan Mahendra, kemana kamu selama ini, kamu itu tidak lebih dari seorang pe ngecut yang meninggalkan anak istrinya demi kebahagiaan kamu sendiri!" Widia berteriak didepan wajah Hendra.
"Cukup Wid, ternyata dari dulu kamu memang belum berubah ya, dan satu hal yang perlu kamu ingat, siapa dulu yang memaksa dengan berbagai macam ancaman agar mau menikahi kamu, sedangkan kamu tahu betul saat itu saya sudah memiliki istri dan anak."
Deg!
Perkataan Hendra adalah sebuah pukulan telak bagi Widia, membuat ia diam dengan mulut terkunci, bahkan tanpa ia sadari Hendra sudah berlalu dari hadapannya.
*****
"Saya mohon izin untuk membawa Jihan tinggal bersama saya kek nek, ma?" ujar Andra yang kini sedang menyalami ketiganya satu persatu, sedangkan Jihan sudah berdiri dibelakang mereka dengan tangan yang memegangi dua koper besar yang berisi pakaiannya.
"Pastikan anak saya tidak kekurangan satu apapun nak Andra, karena Jihan tidak pernah merasakan hidup kekurangan sebelumnya." ujar Widia.
Andra mengangguk, "Baik ma, saya akan berusaha semampu saya agar semua kebutuhan Jihan selalu terpenuhi." balas Andra yang membuat Widia tersenyum lega.
"Tolong jaga cucu kakek ya, kakek tahu nak Andra ini adalah sosok laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, tolong bimbing Jihan agar menjadi perempuan yang lebih baik, karena kakek sudah gagal mendidiknya." ujar Hardi sendu.
"Baik kek, saya akan berusaha!"
"Mama pasti bakalan kangen sama kamu Ji." ujar Widia yang tak berhenti memeluk putrinya itu sambil menangis.
"Jihan masih bisa sering main ma!" balas Jihan yang juga saat ini tengah menangis.
"Jaga cucu mama Baik-baik ya nak!" menyentuh perut rata Jihan.
"Nenek juga pasti bakalan kangen sama cucu nenek!" ujar Mira, ikut memeluknya.
**********
Setelah 30 menit menempuh perjalanan akhirnya Kini keduanya sampai dirumah Andra.
"Ayo masuk!" ajak Andra, saat Jihan hanya diam dengan raut wajah bingung.
"Iya k-kak."
"Mulai sekarang panggil saya mas."
"Eh i-iya!" balas Jihan yang kemudian mengikuti langkahnya.
"Ini kamar saya, yang akan menjadi kamar kita berdua, dan di sebelah sana lemarinya sudah saya kosongkan sebelumnya
dan sekarang kamu boleh mengisinya, saya mau istirahat di ruang TV, kalau kamu butuh apa-apa panggil saja bi Ijah ya!" ucapnya yang langsung bergegas menuju ruang TV.
Andra melemparkan tubuhnya keatas sofa, menghela nafas kasar, lalu memijat dahinya yang terasa berdenyut.
__ADS_1
Rasanya baru saja kemarin ia mendatangi rumah keluarga Jihan, untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, tidak ada yang menghakiminya memang, namun hidup Andra terasa berubah dalam sekejap, dan kini statusnya pun telah berubah menjadi seorang suami.
Dan satu hal yang harus benar-benar ia lupakan, yaitu keinginan memiliki Kinar, gadis cantik yang sudah memenuhi isi hatinya.
Dan saat ini Andra hanya bisa pasrah untuk nasibnya kedepan, ia berharap hubungannya dengan Jihan akan lebih baik, karena Andra tak mau jika kehidupan anaknya sama seperti dirinya, tidak memiliki status ayah yang jelas begitupun dengan ibunya yang tak pernah memiliki waktu untuknya.
**********
"Yang, nanti sore cek kandungnya di temenin bunda, nggak apa-apa?" ujar El ketika pagi ini sedang menikmati sarapannya.
"Semalem kan udah bilang."
"Iya gitu?"
"Ck, tapi aku pergi sendiri juga nggak apa-apa sih!"
"Jangan, aku nggak mau kamu dan bayi kita kenapa-napa sayang, sebenernya aku pengen banget nganterin kamu, tapi gimana sama anak-anak ya, mereka masih belum bisa maksimal ngerjain kerusakan parah begitu."
"Apa aku minta batalin aja ya!"
"Jangan, kepuasan pelanggan itu nomor satu, kamu nggak boleh kecewain mereka El."
"Yaudah deh!" balasnya lesu.
"Aku berangkat sayang!" ujar El yang kemudian beranjak dari kursinya.
"Masih mual nggak?" Kinar menyentuh dahi El.
"Nanyanya salah!"
"Maksudnya, salah gimana?"
"Ya salah, harusnya tuh nanyanya gini, sayang mau di sun nggak?" ucap El seraya mengu lum senyum.
"Pengen banget sih di panggil sayang."
"Ihs udah berangkat gih!" Kinar mendorong pelan tubuh suaminya.
"Sun dulu." ucapnya manja.
"Dasar!"
Cup..
"Hati-hati dijalan, belajar yang rajin abang, ayahnya dede." ujar Kinar, yang sontak membuat El kembali memeluk tubuhnya.
************
"Sat, bunda boleh minta tolong?" ujar Nada sore ini yang terlihat sedikit panik.
Satria yang sedang rebahan diatas sofa pun sontak berdiri dan menghampirinya, sembari mengusap-usap rambutnya yang sudah sedikit gondrong.
"Minta tolong apa bun?"
"Tolong anterin kak Kinar cek kandungan, tapi pake mobil ya, jangan pake motor, terus bawanya pelan-pelan aja, jangan ngebut-ngebut."
"Ngerti Sat?" lanjut Nada, saat putranya itu hanya melongo menatapnya dengan raut bingung.
"Nggak sih sebenernya," jawabnya polos, membuat sang bunda geleng-geleng kepala.
"Masa gitu aja nggak ngerti sih Sat."
"Ck, perasaan tadi Bunda bilangnya boleh minta tolong nggak, eh Satria belum jawab iya, bunda langsung nyerocos aja,"
__ADS_1
"Ck, yaudah bisa kan?"
"Nggak bisa."
"Satria!"
"Iya iya, jam berapa?"
"Sekarang!"
"Lah Satria kan belum siap-siap bun?"
"Udah gitu aja, kamu udah ganteng kok!" ujar Nada, yang langsung mengangsurkan kunci ketangan Satria.
"Inget, jangan ngebut-ngebut!"
''Iya iya!" dengan langkah yang sedikit gontai, Satria pun bergegas menuju garasi, lalu mulai melajukan salah satu mobil milik ayahnya.
Sesampainya dirumah kakaknya, Kinar nampak sudah rapi dan menunggu diteras rumah.
"Ayo kak!" ujar Satria, yang Kini sedang berjalan menghampirinya.
"Satria!"
"Iya, gue disuruh bunda nganterin elo cek kandungan, bunda lagi kedatangan tamu di toko kuenya, kagak apa-apa kan kalau gue yang nganter?"
"Yaudah nggak apa-apa!" balasnya, yang kemudian memasuki mobil dan duduk disamping Satria.
"Kamu baru bangun tidur ya, Sat?" ujar Kinar, saat menyadari penampilan Satria yang menurutnya sedikit aneh, untuk jenis orang normal yang hendak bepergian.
Rambutnya Acak-acakan, dengan atasan kaos singlet, sementara untuk bawahannya ia hanya mengenakan celana boxer hitam diatas lutut.
"Kenapa emang kak, se ksi ya?" balasnya seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Ck, se ksi dari mananya."
"Ihs, sekali-kali iya in napa sih kak, biar guenya seneng!"
"Iya deh iya, kamu ganteng, se ksi."
"Nah gitu dong, anjirr, gue seneng banget sumpah!" tanpa sadar ia memeluk setir yang berada dihadapannya.
"Udah ih bercandanya, nanti keburu kesorean!"
"Siap bos!"
"Kamu tunggu aja disini ya, kakak cuma sebentar kok!" ujar Kinar, sembari menyuruh Satria untuk duduk di kursi tunggu, ketika keduanya kini sudah berada di rumah sakit.
"Ok, santai aja!"
Satria pun mulai menyalakan ponselnya, melakukan hal apa saja dengan benda tersebut, untuk mengurangi rasa bosannya, selama menunggu Kinar.
Hingga suara-suara samar yang berasal dari samping, tertangkap oleh indra pendengaran nya.
"Heran ya sama anak jaman sekarang, masih bau kencur udah pada pinter bikin anak!" ujar seorang ibu hamil yang berada di sampingnya.
"Iya bener bu, lihat aja tuh penampilannya aja masih kaya bocah, sok-sok an pengen punya anak lagi!" balas yang satunya.
"Emang gitu bu, kebanyakan anak jaman sekarang, mikirnya pas lagi enak doang, tahu deh kedepannya, kalau yang udah-udah sih bininya ditinggalin, orang anak segitu mah masih seneng-senengnya maen." timpal ibu-ibu yang lainnya.
Sedangkan Satria yang merasa yakin bahwa ucapan mereka tertuju untuknya, hanya bisa mengelus dada dengan sedikit mengumpat, dan bergumam sendiri.
"Anjirr, gue di gosipin emak-emak bunting!"
__ADS_1
.
.