
"Maaf dek maaf!" laki-laki paruh baya itu membantunya untuk kembali berdiri.
"Kita pernah ketemu sebelumnya kayanya ya?" ujar laki-laki tersebut, setelah memperhatikan Kinar dengan lekat.
"Eh eum_"
"Putrinya pak Ando, benar kan kamu Kinar putrinya pak Ando?" lanjutnya, yakin.
Kinar terdiam, dengan nafas tercekat, sama sekali tidak menyangka bahwa laki-laki yang berada dihadapanya kini dapat mengenalinya, padahal penampilannya waktu itu sangat berbeda jauh dengan penampilan nya saat ini.
"B-bapak mengenali saya?" Tanyanya dengan suara lirih.
"Baru juga ketemu 3 minggu yang lalu, masa saya lupa," balasnya Seraya terkekeh pelan.
"Sa_"
"Udah selesai sayang?" potong Nada yang sejak tadi memperhatikan wajah bingung Kinar saat laki-laki asing itu mengajaknya berbicara.
"Eh bunda, B-belum bun."
"Maaf, bapak siapa ya, bapak kenal dengan putri saya?" tanya Nada, dengan suara yang dibuat senetral mungkin.
"Oh jadi Kinar putri ibu, berarti ibu ini istrinya pak Ando ya?" ujar laki-laki yang bernama Surya itu.
"Betul pak, bapak kenal dengan suami saya?"
"Tentu saja, beliau adalah rekan bisnis saya di perusahaan."
"Oh begitu, dengan Bapak siapa ya namanya?"
"Perkenalkan saya Surya Aditama!"
Deg!
"Saya Nada pak!" balas Nada lirih, lalu melirik kearah Kinar yang terlihat gusar.
"Wah, kebetulan sekali ya kita bertemu disini, kapan-kapan kita buat acara makan malam bersama lagi ya!" ujar Surya Antusias.
"Boleh aja!"
"Kalau gitu saya permisi duluan ya Bu, Kinar!"
"Baik pak, silahkan!"
"Kinar nggak apa-apa kan sayang?" tanya Nada, setelah Surya hilang dari pandangannya.
"Nggak apa-apa kok bun!"
"Jadi gimana, bajunya udah nemuin yang cocok belum?"
"B-belum bun, apa sebaiknya kita cari di pasar aja, disini terlalu mahal bun, sayang uangnya."
"Ck kamu ini, apa gunanya punya suami sih nak, dengerin bunda, tabungan El itu banyak lho, jadi nggak usah takut uangnya habis, lagian bunda yakin kok, kalau uangnya habis pun, si El bakalan lebih giat lagi bekerja, iya nggak sih?"
"Tapi bun!"
"Udah jangan di pikirin, jangan merasa nggak enak ya sama bunda, nih kartu ATM nya El ada di bunda, katanya kamu nggak mau terus, jadi dia nitipin ke bunda kemarin sore."
Akhirnya Kinar pun hanya bisa pasrah, dan menerima apapun yang diberikan Nada padanya.
Setelah puas berbelanja, keduanya pun beralih ke sebuah restaurant, untuk mengisi perutnya yang mulai Keroncongan.
"Di habisin Makanannya, biar badannya gemukan dikit, biasanya cowok itu suka banget sama cewek yang bodinya berisi gitu, lebih empuk katanya!" ujar Nada yang kemudian tergelak sendiri.
__ADS_1
"Ih bunda, pengalaman ya, pasti ayah yang bilang kan?" tuduh Kinar dengan senyum menggoda.
"Euhmz.. iya sih!" lanjut Nada menunduk malu.
"Bunda sama ayah dulu ketemu dimana bun?" tanya Kinar penasaran.
"Duh, kalau bunda cerita yang sebenarnya, kayaknya Kinar nggak bakal percaya deh!"
"Bunda sama ayah ketemu di hotel ya, terus salah paham, dan terpaksa nikah?"
"Lho kok tahu?" ucap Nada dengan mata terbelalak.
"Pernah diceritain Oma Sarah, waktu itu!"
"Yah ketahuan deh." Nada terkekeh geli.
Selesai makan, keduanya pun memutuskan untuk pulang, karena hari sudah mulai memasuki waktu sore.
Begitu pun dengan El, hari ini ia sengaja tidak pergi kemanapun, karena ingin menghabiskan waktunya untuk bersantai dengan Kinar.
"Bunda makasih banyak buat hari ini ya, Kinar seneng banget!" ujar Kinar lalu memeluk bundanya.
"Sama-sama sayang, kapan-kapan kita jalan lagi ya."
"Iya bun, bunda nggak mampir dulu?" tanya Kinar, saat hendak membuka pintu mobil.
"Besok lagi ya sayang, sore ini bunda harus siap-siap mau ke kondangan, nikahan anak temennya ayah."
"Oh gitu ya bun, yaudah nggak apa-apa, Hati-hati di jalan ya bun!"
"Iya sayang."
Setelah mobil yang ditumpangi Nada kembali melaju, kinarpun bergegas masuk, menggeser gerbang rumahnya yang sedikit terbuka, dan ia menggerenyitkan dahi saat melihat motor El terparkir cantik dihalaman rumahnya.
"Mang, El udah lama Pulangnya?" tanya Kinar pada mang Hendar suami bi Rumi yang baru 3 hari ini bekerja sebagai penjaga dirumahnya.
"Gitu ya, yaudah saya masuk dulu ya mang!"
"Iya, silahkan non silahkan!"
Kinar berlari kecil memasuki rumah, dan menaiki satu persatu anak tangga.
"El thumben dhirum hah?" ujar Kinar dengan nafas tersengal, setelah baru saja berlari kecil dari halaman rumah hingga menuju kamarnya.
"Kenapa sih kok Ngos-ngosan gitu sayang?" ujar El beranjak dari atas kasur.
"Kaget aja, kamu kok tumben sih ada dirumah?"
"Emang nggak boleh?"
"Bukannya nggak boleh, tapi tumben aja!"
"Kerja mulu, sayang yang dirumah dianggurin!" ujar El, yang kemudian memeluk tubuh Kinar erat.
"Gimana, udah ada Tanda-tanda belum?" tanya El sembari mengelus perut rata Kinar.
"Maaf El, kemarin aku udah coba test tapi hasilnya negatif." balas Kinar sendu.
"Nggak apa-apa, mungkin belum, dan ngingetin kita supaya lebih giat lagi, iya nggak yang?" ujar El sembari mengedipkan sebelah matanya.
"El?"
"Apa sayang!"
__ADS_1
"Tunggu bentar!" ucapnya, dan bergegas membuka lemari pakaian nya.
"Waktu ke bandung Oma Indri ngasih ini!" mengangsurkan sebuah kotak berwarna hitam ketangan El.
"Apa ini sayang?"
"Nggak tahu, aku belum sempet buka."
"Yaudah, kita buka bareng-bareng ya!"
"Kalung." ujar El sembari menggenggamnya menggunakan tangan kanannya.
"E & K." gumam El, memperhatikan tulisan yang berada dibandul kalung tersebut.
"Aku ngerti nih yang, Oma sosweet juga ya ternyata!" El terkekeh pelan.
"Maksudnya?" tanya Kinar bingung.
"Lihat deh inisialnya, E&K, El dan Kinar kan?"
"I-ya mungkin!"
"Mau aku pakein?"
"Bisa emang?"
"Apa sih yang nggak bisa buat kamu." ucap El yang kemudian berjalan kebelakang Kinar, lalu memasangkan kalungnya dileher Kinar.
"Cantik, cantik banget!" ujar El setelah memasangkan kalung tersebut dileher putih istrinya, sedangkan Kinar ia menggigit bibir bawahnya dengan wajah tersipu.
"El, kamu bohong ya?" ucap Kinar ketika ia merebahkan tubuhnya diatas kasur, El yang tengah mengganti kaosnya pun sontak menoleh kearah Kinar.
"Bohong apanya?" tanya El sembari melangkah mendekat kearahnya.
"Katanya pernah pacaran, tapi kok Oma bilang nggak pernah!"
El terkekeh geli, kemudian mencium pipi Kinar sekilas, "Emangnya kalau aku pacaran, musti ngasih tahu mereka, nggak juga kan?"
"Tapi_"
"Tapi apa sih yang, perasaan waktu itu aku udah pernah bilang deh, kalau aku emang nggak pernah pacaran sama siapapun."
"Ck, lupaan banget sih sayangku ini!" ucap El dengan tangan yang membelai rambutnya lembut.
"Tapi pernah suka sama cewek?"
"Pernah lah, kan aku juga cowok normal!"
"Terus?"
"Terus apanya?"
"Kamu nggak bilang langsung ke orang nya gitu?"
"Udah, sering malah!"
Deg!
Ada rasa tak rela dalam hati Kinar, saat suaminya mengaku pernah menyukai wanita lain selain dirinya.
"Aku udah sering bilang, sayang dan cinta, tapi sampai sekarang belum dapet balasan!"
"Kamu orang nya sayang, Satu-satunya cewek yang aku suka sekaligus yang bikin aku tergila-gila!" ujar El yang kemudian tersenyum geli, melihat raut wajah istrinya yang berubah tegang.
__ADS_1
.
.