Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Drama twins S


__ADS_3

Kinar mengerjapkan matanya pelan, saat merasakan tangan hangat mengusap lembut kepalanya.


"Mau kemana kok udah rapih?" ujar Kinar saat melihat suaminya pagi ini sudah mandi dan berganti pakaian.


"Kemarin aku udah ngomong belum sih, kalau hari ini aku mau nongkrong sama temen-temen," balas El dengan tangan yang kini beralih mengusap pipinya.


Kinar menggeleng, karena memang ia tak mengingat sama sekali jika El pernah mengatakannya.


"Yaudah kalau gitu aku bilang sekarang ya, aku pamit pergi dulu ya sayang?"


"Sampe malem nggak?"


"Euhmmz, mungkin sekitar jam 4 sorean."


"Yaudah, selamat bersenang-senang abang, tapi janji jangan genit lho ya, inget punya istri lagi hamil dirumah!" balas Kinar dengan bibir mengerucut.


"Iya iya sayang, kalau soal itu nggak perlu di ingetin."


"Yaudah Hati-hati."


"Jangan lupa makan, minum vitamin, susunya juga ya, biar dedenya sehat."


"Hmmmm."


Setelah memberikan pelukan hangat, serta kecupan singkat, El pun bergegas keluar dan melajukan motornya.


"Akhirnya dateng juga lo, gue pikir kagak bakalan dateng." Yoga beranjak meninju pelan bahu El.


"Iya El, biasanya kan lo sibuk terus, Boro-boro nongkrong kek gini, diajak mampir bentar pulang sekolah aja, jawaban lo pasti bengkel lah, Cafe lah, Ck bener-bener kagak ada waktu lo buat kita." timpal Bian dengan nada mencibir.


El menghela nafas, membuka pintu base camp yang masih tertutup, duduk di bangku kayu dengan punggung yang ia senderkan di dinding yang penuh coretan dengan cat yang sudah hampir mengelupas.


"Sorry bro, gue bukannya kagak mau kek dulu lagi, tapi sekarang gue udah punya kehidupan baru, tanggung jawab gue juga gede, gue harus mencukupi kebutuhan bini sama anak gue!" ujar El pada kedua sahabatnya yang kini ikut duduk dihadapannya.


"Wah gila, lo ngomongnya gaya banget sok-sok an pake ngomongin anak bini segala lagi sekarang."


"Ck, beneran berubah sih lo kalau kek gini." lanjut Bian menggeleng-gelengkan kepala.


"Gue serius!"


"Gue udah punya bini, bentar lagi udah punya anak!" sambung El, yang membuat kedua sahabatnya saling pandang, namun detik kemudian keduanya tergelak bersama.


"Ini kita lagi ngomongin apaan sih, kagak ngerti gue!" Bian mengacak poninya yang sedikit panjang.


"Iya gue juga kagak ngerti tu bocah ngomong apa, serius napa El?" timpal Yoga yang kini menatap El dengan kening berkerut.


"Gue udah married, paham lo berdua?!"


Yoga dan Bian kembali saling pandang, kemudian membelalakan matanya.


"Apaaa, lo seriusan El?" ucap keduanya bersamaan, membuat El menutupi kedua kupingnya seketika.


"Ck, perasaan gue udah pernah ngomong kan?"


"Kapan sih, iya gitu?" Bian bertanya pada Yoga yang duduk di sampingnya, sedangakan yang ditanya hanya menggeleng dengan raut wajah cengo.


"Jadi ini beneran?" ulang Yoga, penasaran.


"Menurut lo?"


"Jadi beneran?"


"Tunggu tunggu, jadi ini elo udah dari kapan married nya?"


"6 bulanan kalau nggak salah!" balas El santai.


"Terus sekarang bini lo bunting?"


"Hmmm."


Yoga mengusap wajahnya kasar, lalu beranjak dari duduknya, berjalan mondar-mandir sembari mengetuk-ngetuk dagunya seperti sedang berpikir keras.


"Elo apain si Kinar sih El, si Kinar kan pastinya yang jadi bini Elo, cewek yang sempet gue rebutin sama si Bian, kagak nyangka gue ternyata di belakang gue lo bisa juga jadi musang!"


"Kok musang sih Ga, buaya kali!" protes Bian.


"Ck gue kagak peduli sebutan nya apa, musang kek, buaya kek, yang jelas si El ini benar-benar_"


"Kalau lo berdua nuduh gue apa-apain Kinar lo berdua salah besar, gue tuh married sama Kinar karena gue di jodohin!" ujar El memotong ucapan Yoga.

__ADS_1


"Di jodohin,?"


"Hmmm."


"Lo percaya Ian?"


Bian menggeleng, "Kagak!"


"Gue juga nggak tuh!"


"Ck, serah sih kalau lo berdua kagak percaya, gue tuh ngomong kek gini cuma ke elo berdua, kalau lo berdua kagak percaya yaudah, kagak maksa gue!" ujar El menarik jaket jeans yang ia letakan di bangku kayu, dan menyampirkannya di bahunya.


"Eh lo mau kemana?" Bian menahan tangan El saat melihatnya hendak melangkah keluar.


"Cabut!"


"Elaahhh, jan ngambek dong, iya iya gue percaya kok," Bian mendorong pelan tubuh El agar kembali duduk ditempatnya tadi.


"Jadi bini lo sekarang buntingnya berapa bulan?"


"Kenapa emang."


"Ck, tinggal jawab doang sih apa susahnya, gue jamin kagak bakalan bocor ke siapapun, lo kagak percaya sama gue, sama si Yoga?"


"4bulan."


"Eh jadi bener, lo married bukan karena si Kinar tek dung duluan?"


"Ck!"


"Gue ngerti sekarang, kenapa tiap pagi lo keramas terus?" ujar Yoga menuding kearah rambut El, yang pagi ini memang terlihat masih sedikit basah, yang repleks membuat El menyentuh pelan kepalanya.


"Gimana El rasanya?"


"Rasa apaan, emang gue lagi bikin roti bakar, pake rasa!"


"Elahh, bocah pura-pura kagak ngerti lagi."


"Entar juga ngerasain, dan gue jamin bikin nagih."


"Gue juga jadi pengen nih ehem-eheman kek lo gitu!"


"Anjirrr, pala gue benjol, tanggung jawab lo!" Bian mengusap-usap kepalanya yang sedikit nyeri, akibat ulah


Yoga yang melempar kepalanya, menggunakan kunci motornya, dengan sedikit kencang.


"Jangan asal maen celup lo, halalin dulu baru lo bisa maen sepuasnya."


"Iya iya, bawel lo, kayak ema gue!"


**************


Di tempat lain..


"Sat, bunda lagi buru-buru nggak sempet kepasar, kamu tahu sendiri kan bibi lagi pulang kampung."


Hening..


"Satria.. denger nggak sih bunda lagi ngomong apa?" ujar Nada dengan suara meninggi, karena salah satu putra kembarnya itu tak kunjung menyahut, asik dengan benda pipih di tangannya, sementara tubuhnya ia rebahkan diatas sofa.


"Eh iya bund, kenapa?" Satria menarik headset yang sejak tadi menutupi kedua kupingnya, kemudian melompat kearah bundanya, sembari mengusap-usap kedua kupingnya yang terasa kebas, akibat suara musik yang berasal dari headsetnya begitu kencang.


"Bunda lagi buru-buru, tolong beliin cumi sama mujair ya," ucapnya seraya memberikan 2lembar uang ke tangan Satria, kemudian bergegas pergi menaiki mobil bersama Ando yang sudah lebih dulu memasuki mobil.


"Sat anterin gue yok!" ujarnya, saat melihat Satya baru saja menuruni tangga, dengan membawa satu cup ice cream ditangannya.


"Males ah!"


"Ini bunda yang nyuruh."


"Suruh ngapain emang?"


"Eh," Satria berpikir keras sembari menggaruk kepalanya.


"U, u_ apa ya tadi."


"Ubi?" tebak Satya.


"Eh iya itu, satu nya apa ya, jambu air kali ya!"

__ADS_1


"Lah, mana gue tahu, tapi kalau beli ubi sih biasanya bisa jadi juga kalau sama jambu air, soalnya gue sering lihat di tukang rujak!"


"Yaudah buruan yok anterin gue, biasanya kan lo yang paling tahu urusan kek begituan."


"Enak aja, lo pikir gue kang sayur."


"Kali aja."


"Kagak jadi deh, gue makan ice cream," ujar Satya seraya meletakkan asal ice creamnya.


Keduanya pun bergegas menuju pasar yang memang selalu buka di hari minggu, dan tentunya sangat dekat dengan rumahnya.


"Dimana sih tempatnya, gue kan kagak pernah kepasar?" ujar Satria yang sudah terlebih dulu turun dari motor.


"Makanya Sekali-kali ikut bi Sari."


"Elo emang tahu tempatnya?"


"Tahu lah!"


Keduanya pun berjalan beriringan menuju salah satu tukang buah yang paling komplit dipasar itu.


"Bu ada ubi?" ujar Satya.


"Ada dek mau berapa kg? aduuh cakep bener, mukanya sama lagi, anaknya siapa sih?" ujar sang penjual wanita paruh baya dengan nada suara yang terdengar sangat gemas.


Satya menyenggol pinggang Satria, "Berapa kg?" bisiknya.


"Kagak tahu, bunda ngasih duitnya segini." mengangsurkan 2 lembar uang yang diberikan bundanya tadi.


"200 ribu,?"


"Iya kali, sekalian sama jambu airnya."


Tak ingin memperlambat waktu, Satya segera mengambil 2 keresek memasukan sendiri ubi beserta jambu air hingga keresek tersebut terisi penuh.


"Segini bu,"


"Bentar ya cakep, ibu timbang dulu!" ujarnya yang kemudian, mengambil lalu menimbang ubinya.


Setelah mengucapkan terimakasih pada si penjual, keduanya pun bergegas pulang.


"Kira-kira bunda mau bikin apaan ya Sat, beli ubi sama jambu air segini banyak?" ujar Satria, saat keduanya berada di dapur untuk meletakkan ubi beserta jambu air tersebut.


"Mana gue tahu!" balas Satya seraya menggidikan bahu acuh, berjalan kearah kulkas, mengambil satu cup ice cream yang baru, lalu memakannya diatas meja makan.


***********


"Pesenan bunda ada?" ujar Nada, ketika sore ini sampai dirumah.


"Ada bun, di taro di dapur." balas Satria dan Satya bersamaan, karena keduanya kini tengah menonton TV di ruangan yang sama.


"Ganti dong acaranya, nonton bola Sat?" ujar Ando yang baru saja duduk diatas sofa disamping keduanya, hingga suara menggelegar dari arah dapur membuat ketiganya saling berpandangan.


"Satriaaaaa.. kesiniii!"


Repleks Satria pun melompat dari atas sofa, berlari menuju kearah dapur dengan sedikit panik.


"Kenapa bun?"


"Apa yang kamu beli?"


"I-itu bun!" menunjuk 2 baskom yang berisi masing-masing ubi dan jambu air.


"Sini kamu."


"Eh, aduduuduh ampun bun!" Satria meringis, saat Nada menjewer kupingnya dengan gemas.


"Makanya punya kuping tuh jangan cuma buat pajangan doang!"


"Apanya yang salah sih bun?" ucapnya seraya mengusap-usap kupingnya yang terasa panas.


"Ada apaan sih?" ujar Ando yang baru saja datang bersama Satya.


"Itu tuh anak kamu, masa di suruh beli cumi sama mujair, malah beli ubi sama jambu air!" balas Nada seraya berdecak kesal, membuat Satria menunduk takut, sedangkan Satya ngeloyor pergi secara diam-diam.


.


.

__ADS_1


__ADS_2