Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Takut kehilangan


__ADS_3

"Jihan?" ujar Widia, saat melihat anak gadis satu-satunya itu baru saja pulang kerumahnya.


Jihan yang berjalan sedikit tergesa pun mendadak berhenti, dengan tubuh membeku, ia bergeming enggan menoleh kearah sang mama.


"I-itu ma, Ji-jihan_"


"Kamu mau ngomong apa sih nggak jelas banget!" Widia berjalan mendekat kearahnya.


"A-aku."


"Kamu kenapa sih Jihan, nggak biasanya lho kamu kaya gini, jujur sama mama apa yang terjadi?" ujar Widia gemas, sembari menarik bahu Jihan agar menghadap kearahnya.


"M-ma tolongin Jihan, Jihan takut!" Balas Jihan lalu berlutut dibawah kaki mamanya.


"Kamu ngomong apa sih Jih, kenapa? jangan bikin mama takut begini dong, yuk bangun kita ngobrol dikamar aja, biar kamu nya tenang ya!"


Jihan pun menurut, berjalan dengan langkah gontai, bergandengan tangan dengan mamanya.


"Ayo cerita sama mama, apa yang terjadi?" tanya Widia saat keduanya kini sedang duduk dipinggir ranjang di kamar Jihan.


"Tapi mama harus janji ke aku, kalau mama nggak bakalan cerita kesiapa-siapa ya ma!" ujar Jihan, dengan mata berair.


"Jihan?"


"Please mama, aku mohon!"


"Yaudah sayang mama janji, ayo cerita sama mama nak apa yang sebenarnya terjadi,?" ujar Widia sembari mengusap Lembut rambut putri kesayangan nya itu.


"J-jihan tadi nggak fokus nyetir ma, terus Jihan nggak sengaja nabrak orang!"


"Apa?!"


************************


Malam ini El memandangi wajah pucat Kinar yang kini berada di hadapannya, sudah tiga hari istrinya itu tak mau membuka matanya, sudah 3 hari juga El tak masuk sekolah, atau sekedar pulang kerumah untuk mengistirahatkan badannya.


Nada maupun Oma Sarah sudah berulang kali mengingatkannnya untuk tetap sekolah, dan juga beristirahat yang cukup, dan mereka berdua akan bergantian untuk menemani Kinar di Rumah sakit, namun El bersikukuh menolak permintaan keduanya.


Dengan alasan khawatir sewaktu-waktu istrinya siuman, dan ia tak menemukan El berada disamping nya.


"Bangun dong sayang, kamu tahu aku kangen banget sama kamu," ujar El, sembari menggenggam jemari Kinar dengan perasaan sedih.


Tiba-tiba ingatan El menerawang jauh mengingat saat pertama kali bertemu dengan gadis itu, ketika Oma Sarah mengenalkan nya dirumah kedua orang tuanya.


Saat itu Kinar terlihat sangat polos, dan selalu menundukkan wajah ketika bersitatap dengannya, dan di pertemuan pertamanya, El tak bisa pungkiri bahwa sosok menawan itu sudah membuat pikirannya terganggu.


Suatu hari baik Oma maupun kedua orang tuanya sepakat untuk menikahkan nya dengan gadis itu, dan dari waktu ke waktu setelah ia menjalani pernikahan nya dengan Kinar, El selalu berusaha untuk menepis perasaan asing yang selalu mengganggu pikirannya setiap hari, hingga ia tak bisa lagi untuk menahan perasaan nya.

__ADS_1


Dan disaat yang bersamaan El berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah melepaskan Kinar dalam hidupnya walau sedetikpun.


Lamunan El buyar seketika, saat merasakan jemari yang berada digenggamannya mulai bergerak pelan.


"S-sayang, sayang?!" El hendak beranjak dari duduknya, untuk memanggil Dokter, namun gerakan nya tertahan saat jemari itu menggenggam Lembut jemarinya, seiring dengan matanya yang terbuka.


"Sayang?" El tak bisa menyembunyikan perasaan bahagia nya saat bersitatap dengan mata indah yang sudah 3 hari ini ia rindukan, dan tanpa ia sadari air matanya menetes begitu saja.


"E-el?" Ucapnya, dengan suara lirih.


"Iya sayang, ini aku!" ujar El dengan suara bergetar, lalu ia kembali meraih tangan Kinar, kemudian ditempelkan nya dipipi kirinya, dan di ke cupnya berulang kali.


"Kamu mau apa sayang, haus, mau minum?"


"A-aku ada dimana?" ucapnya dengan suara lemahnya, setelah menoleh ke kanan dan kekiri dengan gerakan pelan.


"Kamu lagi di Rumah sakit sayang." balas El, dengan air mata yang mengalir semakin deras membasahi kedua pipinya.


"Rumah sakit, memangnya aku kenapa?"


"Kamu kecelakaan 3 hari yang lalu."


"3 hari?" balasnya dengan kernyitan di dahinya.


El pun mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Kok nangis sih, cengeng banget!" ujar Kinar, tangannya terulur untuk menghapus air mata El, yang wajahnya memang sangat dekat dengannya.


"Suami aku ganteng banget sih kalau lagi nangis kaya gini! " tangan nya kembali terulur membelai wajah El, yang sontak membuat El menghentikan isakannya seketika.


"Ck, udah bisa gombal ya sekarang,?" Lagi-lagi El mengecupi jemarinya berulang kali.


"Kan kamu yang ngajarin."


"Gemesin banget si, minta di sun kayaknya ini mah." ujar El mengedipkan sebelah mata.


"Aku belum sembuh lho El, kalau kamu mau tahu!" balas Kinar dengan Bibir mengerucut.


"Iya iya tahu kok, cepet sembuh ya sayang, bentar ya aku panggilin dulu Dokter kesini!" lanjut El yang langsung bergegas keluar dari ruangan tersebut, dan tidak lama El kembali bersama Dokter yang akan memeriksa Kinar.


.......


"Aku mau pulang El,?" rengek Kinar, saat baru saja El sampai dirumah sakit setelah sepulang sekolah siang ini.


Setelah dipindahkan dari ruang ICU ke ruang rawat inap 2 hari yang lalu, kini kondisi Kinar semakin membaik, dan hasil CT-scan menyatakan bahwa tidak ada cidera berat yang bersarang didalam tubuhnya.


Namun, selama 2 hari ini Kinar tidak melihat satupun keluarga El yang datang menjenguknya, membuat Kinar kini dipenuhi dengan perasaan cemas.

__ADS_1


"Iya sayang, besok ya!" balas El lembut.


"Kenapa nggak sekarang aja sih, aku bosen tahu nggak!" ucap Kinar dengan bibir mengerucut.


"Dokter nya baru ngizinin kamu pulang besok, nggak apa-apa kan sayang?"


"Tapi kan aku udah sehat El." protes Kinar.


"Please sayang, nurut ya!" El mengusap pipi istrinya dengan penuh kelembutan, membuat Kinar akhirnya luluh dan mau menuruti apa kata El.


"Makan dulu ya aku suapin,?"


"Nggak mau."


"Sayang, please!"


"Tapi janji besok pulang."


"Iya sayang."


***********


Hari ini tepatnya jam 8 malam, El benar-benar menepati janjinya, untuk membawa Kinar keluar dari Rumah sakit tempatnya dirawat, atas izin Dokter yang menanganinya.


Didalam mobil menuju perjalanan kerumahnya, Kinar hanya diam memikirkan tentang keluarga El yang tidak pernah terlihat datang menjenguknya, ia ingin bertanya, namun enggan, saat melirik raut wajah El yang terlihat sangat serius mengemudikan mobil.


El menghentikan mobil di halaman rumahnya, tanpa adanya mang wawan, yang biasa menyambutnya, sembari membukakan pintu gerbang rumahnya.


Kinar ingin bertanya, namun Lagi-lagi enggan, saat El mulai menggandeng tangannya menuju pintu utama rumahnya.


"Kok gelap, bi Rumi kemana?" tanya Kinar dengan raut wajah yang terlihat sangat kebingungan, saat El membuka pintu rumahnya, yang begitu gelap, tanpa ada sedikit pun penerangan.


"Surprise!"


Teriak dari beberapa orang dari dalam rumahnya, bersamaan dengan seluruh lampu yang menyala.


...


Hallo apa kabarnya readers tercinta ๐Ÿฅฐ


Semoga selalu dalam keadaan sehat ya๐Ÿ˜Š


Mohon maaf beberapa hari ini Author tidak sempat Up, dikarenakan anak balita Author sedang sakit, dan tidak mau lepas๐Ÿ˜”


Bagi yang masih setia menunggu kelanjutan cerita dari SAS season 2 ini, Author ucapkan terimakasih banyak ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Peluk jauh untuk kalian readers tercinta ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ

__ADS_1


.


.


__ADS_2