Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Sebuah fakta


__ADS_3

"Jangan takut sayang, kamu nggak usah khawatir, mama janji rahasia ini cuma kita berdua yang tahu,"


"Beneran, mama janji nggak bakal kasih tahu ke kakek, nenek atau yang lainnya kan?"


"Janji sayang, mama janji, dan mama rasa kayanya kasus kamu nggak diperpanjang deh, lagian ini udah satu bulan lho, mama yakin orang yang kamu tabrak itu nggak kenapa-napa, kamu aman sayang!"


"Tapi Jihan nggak bisa tenang ma!"


"Sayang?"


"Jihan kenal sama orang yang udah Jihan tabrak ma!"


"Siapa?"


"Dia pacarnya El, cowok yang Jihan suka selama ini."


"Apa, jadi cowok yang namanya El itu udah punya pacar, terus selama ini anak mama patah hati dong, aduh kasihan, kenapa nggak sekalian ditabrak aja tuh anak sampai mati aja sih," sesalnya, yang seketika membuat Jihan melebarkan matanya.


"Siapa nama cewek yang udah merebut cowok idaman kamu itu?"


"Kinar!"


deg!


Diambang pintu, seseorang yang sejak tadi mendengarkan cerita keduanya mengepalkan tangannya kuat-kuat, lalu menyentak pintu dengan sangat kasar, membuat keduanya terlonjak kaget.


"Jadi kamu pelakunya, pantas saja kakek perhatikan akhir-akhir ini kamu banyak melamun, rupanya kamu sedang ketakutan hah?" Hardi menghampiri keduanya dengan amarah yang meluap-luap.


"K-kakek?"


"Kamu tahu, orang yang kamu tabrak itu sampai koma berhari-hari, dan kamu disini tak ada niatan sama sekali untuk menengok atau sekedar meminta maaf padanya, benar-benar iblis tak punya hati!"


"Cukup pa, papa nggak berhak mengatai anakku Jihan seperti itu, papa keterlaluan!" bentak Widia tak terima, sedangkan Jihan sudah Terisak-isak, dengan perasaan takut.


"Ini nih yang membuat anak kamu seperti ini, terlalu kamu manjakan, bahkan disaat dia melakukan kesalahan pun kamu malah membela dan ikut membenarkan kesalahan anak kamu itu, Benar-benar memalukan!"


"Papa?"


"Kamu tahu Jihan, kakek sangat mengenal gadis itu, dan bisa saja sekarang juga kakek menyeret kamu kehadapan dia, dan jangan lupakan tentang laki-laki yang kamu ceritakan tadi, jelas dia yang paling sangat murka terhadap kamu, karena dia yang paling frustasi dengan kejadian itu."


"Nggak kek, Jihan mohon jangan kek, jangan kasih tahu dia soal ini kek, Jihan nggak mau dipenjara kek!"

__ADS_1


"Tidak perlu menangis seperti itu, karena kakek tidak peduli sama sekali, kamu tahu selama ini sudah banyak kesalahan kamu diluaran yang sudah merugikan banyak orang dengan kelakuan kamu, jadi kakek rasa ini sudah saatnya kamu mempertanggung jawabkan kelakuan kamu."


"Nggak kek!"


"Papa apa-apaan sih, papa tega sama Jihan, ingat lho pa, Jihan itu cucu papa satu-satunya." Widia kembali berceloteh.


Hardi tersenyum sinis, "Siapa bilang Jihan cucu papa satu-satunya!"


Deg!


"M-maksud papa?"


"Benar, Jihan bukanlah cucu papa satu-satunya, karena papa memiliki cucu dari anak papa yang lain."


"M-maksud papa apa, papa mengkhianati mama, dan punya anak dari perempuan lain, begitu?"


"Kamu salah, justru dia anak dari istri papa yang pertama, jauh sebelum papa mengenal mama kamu!"


"Pa, bilang sama aku kalau papa cuma bercanda kan?"


"Nggak Wid papa serius, sudah waktunya kamu mengetahui soal ini, karena papa tidak bisa menyembunyikan hal ini lebih lama lagi."


"Pa?"


"Nggak pa, aku nggak mau, cucu papa cuma Jihan nggak ada yang lain!"


"Terserah kamu mau beranggapan bagaimana, yang jelas besok papa akan bawa dia kesini!" lanjutnya, tak terbantahkan.


************************


Hardi benar-benar ingin membuktikan ucapannya untuk mengenalkan Kinar pada keluarganya, dan sore ini ia sudah berada dirumah El, untuk meminta izin membawa Kinar keluar.


"Kakek janji nak El, kakek akan menjaga Kinar dengan baik," ujar Hardi saat melihat raut wajah El yang terlihat gelisah ketika ia meminta izin untuk membawa Kinar.


"Saya mohon, hanya sebentar!"


El menghembuskan nafasnya, "Baiklah kek silahkan, tapi tolong antar Kinar sebelum magrib ya!'' pintanya dengan gaya bicara sesopan mungkin, karena ia sangat menghargai laki-laki tua dihadapannya, yang berstatus kakek dari istrinya tersebut.


"baiklah terima kasih sudah mengizinkan kakek ya!" balasnya, berbinar senang.


"Kinar cucu kakek, sebetulnya kakek tidak perlu meminta izin saya juga kalau kakek ingin menemuinya."

__ADS_1


"Tidak nak, walaupun Kinar cucu kakek, tapi setatus dia sekarang sudah bersuami, jadi walau bagaimana pun kakek harus tetap meminta izin padamu."


El pun mengangguk Seraya tersenyum, ia bersyukur ternyata kakek Hardi begitu menghargai statusnya sebagai seorang suami dari cucunya.


"Hati-hati, telpon aku kalau ada apa-apa ya!" El mengusap kepala istri kesayangan nya itu sebelum mobil yang Kinar tumpangi melesat pergi meninggalkan area rumahnya.


*****************


"Kamu gugup nak?" tanyanya, saat memperhatikan raut wajah Kinar yang terlihat memerah sejak tadi, bahkan kedua tangannya ia tautkan, dan sesekali meremas nya pelan.


"Eh, I-iya kek, sebenarnya kita mau kemana?"


"Kerumah kakek!"


"Hah, t-tapi kek?"


"Betul nak, kakek ingin mengenalkan kamu sama keluarga kakek."


"Tapi apa mereka mau menerima Kinar kek."


"Mungkin tidak nak, tapi apapun yang mereka ucapkan, kamu tidak perlu mendengar kan nya, kakek hanya ingin mereka tahu, bahwa kamu adalah cucu kakek!"


"Tidak usah takut, karena ada kakek disamping kamu!"


Kinar pun hanya menganggukkan kepala, dan tidak berniat menolak kembali permintaan kakeknya itu.


"Ayo masuk!" Hardi menggenggam tangan Kinar memasuki rumahnya yang sangat luas, dan mewah, sesaat setelah memberhentikan mobilnya, tepat di halaman rumahnya.


"Pa?" Widia, Jihan, dan juga Mira yang mengetahui kedatangan Hardi pun sontak berdiri dengan raut wajah tegang, karena mereka sudah diberi tahu Hardi bahwa sore ini ia benar-benar akan mengenalkan cucu yang ia maksud.


"kenalkan ini Kinar, cucu papa!"


Seketika Jihan pun melebarkan matanya, dengan perasaan yang sulit di artikan, ia berulang kali menepuk-nepuk wajahnya, untuk memastikan bahwa ia tidak bermimpi.


Begitupun dengan Kinar, tubuhnya mendadak kaku, dengan perasaan berkecamuk.


"Pa, mama nggak terima dia dirumah ini, asal papa tahu!" Mira memandang sinis kearah Kinar, sejak awal pernikahan nya dengan Hardi, Mira memang sudah diberi tahu bahwa Hardi memiliki seorang anak dan istri, tapi ia bersikukuh ingin tetap dinikahi nya.


"Aku juga kek, aku nggak terima perempuan sialan ini jadi cucu kakek,"


"Puas lo, karena udah merebut semua yang gue punya, cowok gue, kakek gue, terus apa lagi? dasar perempuan miskin, udik, nggak tahu diri!" Jihan mendorongnya kuat dan hendak melayangkan tamparan kearah pipi Kinar, namun tertahan karena Hardi terlebih dulu menahan tangan Jihan dan menyentak nya dengan kasar.

__ADS_1


.


.


__ADS_2