
"Baru pulang El?" ucap Ando, sembari melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukan pukul 15:00 sore.
Laki-laki yang berusia 38 tahunan itu sengaja menunggu putranya diteras rumah.
"Iya yah, tadi El habis ngajarin anak-anak baru di bengkel!"
balasnya, sembari menghampiri sang ayah, lalu mendudukan diri disampingnya.
Ando menoleh kearah El, ia yakin putranya tidak berbohong dengan ucapannya, karena dapat terlihat dengan jelas wajah lelah, serta sisa-sisa oli yang mengotori keseluruhan bajunya, pasalnya Ando tahu pasti, El tak pernah mengganti bajunya jika ikut memegang alat bengkel.
3 tahun yang lalu Ando meninggalkan seluruh usaha yang ia capai dari kecil, 3 bengkel hingga 3 Cafe, seluruhnya ia serahkan pada El, sedangkan kini ia lebih fokus untuk mengurus perusahaan besarnya yang sudah ia bangun 10 tahun yang lalu.
"Ayah mau bicara El, dan ini sangat serius."
"Tentang apa yah?"
Ando menghela nafas, lalu kembali menoleh kearah putranya. "Sebelumnya, ayah mau nanya dulu sama kamu El, kamu punya pacar?"
El menggerenyit namun akhirnya ia menggeleng, "Belum yah!"
Ando terkekeh, "Kamu itu persis seperti ayah dulu El, susah banget jatuh cinta, meski banyak sekali gadis yang berusaha menggoda, nyatanya ayah tidak tergoda sama sekali."
"Justru gadis yang pertama kali ayah temui lah yang berhasil membuat ayah, ingin memilikinya, dan dia Adalah bunda kamu."
"Ayah minta maaf sebelumnya El, tapi cepat atau lambat ayah harus segera menyampaikan hal ini padamu."
Ando menjeda ucapannya sebentar, lalu mengusap lembut pundak El, "Bunda dan Oma meminta kamu agar menikahi Kinar, cucu dari Almarhumah teman oma, kamu udah ketemu kan sama anaknya kemarin.?"
Hening...
Lama Ando memperhatikan wajah putranya, namun tidak ada reaksi apapun darinya, bahkan wajah tampannya itu terlihat tenang dan santai.
Tidak ada tanda-tanda akan menolak atau pun menyela ucapannya.
Tak ada jawaban, akhirnya Ando memutuskan untuk kembali Menyentuh pundak El, "Kamu baik-baik saja kan El?"
Sedangkan El masih terdiam, mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Kalau El menuruti kemauan bunda, apa bunda bakalan seneng yah, kalau itu bisa buat bunda, ayah maupun Oma seneng, El bakal lakuin, cuma El nggak bisa menjamin bisa memperlakukan istri El dengan baik." ucapnya kemudian.
Ando menatap tak percaya pada putra sulungnya itu, padahal ia sudah menyiapkan hati untuk segala kemungkinan-kemungkinan yang memenuhi pikirannya.
Namun ternyata dugaannya salah, bahkan untuk sekedar protes dan melawan pun El tidak melakukannya sama sekali.
Entah apa yang ada didalam pikiran putranya tersebut, Ando bertanya-tanya dalam hati.
"Jadi kamu setuju El, kamu yakin?" tanyanya sekali lagi untuk memastikan.
"Iya."
"Yaudah El kekamar dulu yah mau mandi."
Setelah mendapat anggukan dari sang ayah ia pun bergegas pergi kekamarnya.
__ADS_1
..
..
El memasuki kamarnya dengan tubuh lelah, menyambar handuk lalu bergegas ke kamar mandi, saat ini ia butuh sesuatu untuk mengembalikan energi serta menjernihkan pikiran runyamnya.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, kini El merebahkan tubuhnya diatas ranjang, menatap langit-langit kamar, dengan kepala yang berbantalkan kedua tangannya.
Ia memejamkan mata mengingat kembali keputusan yang sudah Ia katakan di depan sang ayah tadi, sebenarnya ia sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini.
Namun, mengingat senyum bahagia sang bunda tanpa berpikir panjang ia pun segera mengiyakannya.
Ia teringat ucapan sang bunda kala itu, bahwa ia tak menginginkan apapun, karena ia sudah memiliki semuanya, ia hanya menginginkan anak-anak nya bahagia dan patuh padanya.
El berpikir, tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membuat nya senang, hingga kini ada satu kesempatan, ia pun harus menggunakannya sebaik mungkin.
..
..
Setelah diberi tahu Ando tentang El yang bersedia menikah, Nada pun segera menemui El dikamarnya.
Tok.. tok.. tok..
"El, bunda masuk ya!"
"Masuk aja bun, nggak di kunci." sahutnya dari dalam.
"El?" sapanya pelan.
Hening..
"Bunda Mau bilang apa?" tanya El, karena sejak tadi Nada hanya terdiam, dan sesekali menatap kearahnya.
"Kamu yakin El sama keputusan kamu, kalau kamu nggak mau, kamu berhak buat Nolak kok nak."
"Bunda seneng nggak, kalau El nikah?" menggengam lembut tangan sang bunda yang memberinya begitu banyak kekuatan.
"Tentu bunda akan merasa sangat senang sekali El, tapi bagai mana dengan kamu?"
"Aku mau kok bun, yang penting bunda seneng, tapi soal sikap El sama istri El nanti, El nggak tahu!"
"Gampang sayang, bunda yakin suatu saat kalian akan saling jatuh cinta satu sama lain, percaya deh sama bunda."
"Kaya ayah sama bunda maksudnya?"
"Kok tahu sih?" Nada mengulum senyum.
"Tahu lah, ayah kan sering cerita, tentang bunda yang begini, tentang ayah yang begitu."
"Bisa aja kamu ini."
"Bun."
__ADS_1
"Kenapa nak?"
"El boleh peluk nggak?"
"Ya boleh lah, sini bunda peluk sayang!" merentangkan kedua tangannya kearah El.
El mendekap tubuh Nada, yang seketika memberinya rasa hangat, serta kenyamanan yang tiada duanya.
"Anak bunda ternyata udah gede ya, dan bentar lagi jadi suami orang, ah rasanya bunda masih nggak nyangka El."
ucapnya sembari mengusap-usap punggung putranya.
"Tapi bunda seneng banget, kalau Kinar yang jadi istri kamu, karena bunda yakin kelak dia akan jadi istri yang baik buat kamu."
"Doa bunda akan selalu menyertaimu nak!" diciumnya kening putra sulungnya itu, hingga tanpa ia sadari setitik air mata telah jatuh mengenai pipinya.
"Bunda kok nangis?" tanyanya, sembari mengusap air mata sang bunda menggunakan jemari putihnya.
"Bunda menangis karena bahagia nak,"
Kemudian keduanya kembali berpelukan.
..
Ditempat lain, Oma Sarah melompat Girang, saat baru saja selesai menerima telpon dari Ando bahwa El sudah bersedia untuk menikahi Kinar.
"Aduh pa, mama tuh seneng banget, akhirnya El mau menikah dengan Kinar, kalau begini kan rasanya jadi lega ke mama nya."
"Yasudah, doakan pernikahan mereka lancar, tanpa suatu halangan apapun, ah cucu gantengnya papa, udah mau nikah aja." gumam papa Abidzar, dengan perasaan sedih bercampur bahagia.
"Yaudah pa, mama mau nemuin Kinar dulu." ucapnya dengan senyum yang menghiasi wajahnya, berjalan cepat menuju kamar Kinar.
"Nar?"
"Eh iya Oma, kenapa?" Kinar yang baru saja selesai mandi, terlonjak kaget kala melihat Oma Sarah memasuki kamarnya, beruntung tadi ia sudah memakai bajunya ketika berada di dalam kamar mandi.
"El sudah setuju, dan dia Mau menikah dengan mu."
Jderrr..
Tanpa sadar ia menjatuhkan sisir yang digenggamnya.
"Gimana, kamu mau kan nikah sama El?"
Kinar mengerjap, berusaha menyembunyikan kekagetannya.
"Diam, Oma anggap setuju ya,"
"Tap-tapi Oma."
"Oma mohon, Kinar mau ya, Oma mohon sekali." Oma Sarah memohon dengan sorot mengiba.
Kalau sudah begini, ia harus apa, untuk sekedar menolak pun rasanya ia tak mampu, selain hanya bisa pasrah mengiyakan permintaan wanita tua yang sedang menggenggam tangannya dihadapannya kini.
__ADS_1
...