
"Sat, yakin kalau sampe saat ini lo belom berniat punya pacar, kagak ada gitu cewek yang lo suka di sekolah, temen sekelas atau adik kelas misalkan?" ucap Satria yang kini sedang tiduran berbantalkan lengannya, bersebelahan dengan Satya diatas kasur di salah satu kamar dirumah Omanya.
"Cewek yang gue suka ada, tapi gue emang belom niat pacaran aja sih!" balas Satya santai, karena bagi Satya memiliki pacar itu akan sangat membuat hidupnya ribet, karena harus mendapatkan tuntutan ini itu dari pacarnya, harus menerima aturan ini itu, dan ia tidak suka.
"Kenapa lo nanya kek gitu,?" lanjut Satya.
"Pengen tahu aja sih, lo tahu nggak sih sekarang gue lagi suka sama cewek!"
"Ck, itu sih kagak aneh lagi!" ketus Satya.
"Lo kagak mau kepo gitu Sat, sama cewek yang gue suka sekarang, ini tuh beda!"
"Ck, udah nggak aneh kali, karena setiap lo ketemu sama cewek baru, lo juga selalu bilang kek gitu, terus apanya yang musti gue kepoin coba?"
"Anjirr ini tuh beda, beda banget pokoknya, ceweknya cakep banget dah, manis, dewasa, duhh gue jadi ngebayangin rasanya jadi pacar dia, bahagia banget hidup gue!" ucap Satria sembari menatap langit-langit kamar dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya.
"Dewasa, maksud lo?" Satya merubah posisinya menjadi duduk berselonjor.
"Kan, kepo juga lo akhirnya!"
"Ck, mau cerita apa kagak,?"
"Iya iya, kagak sabaran banget lo, jadi cewek ini tuh udah kelas XII cuy, tapi bukan satu sekolah sama bang El,"
"Lah terus dari mana lo bisa kenal dia?"
"Sebelum libur kemarin tuh gue kagak sengaja, nyipratin seragamnya,"
"Kok bisa?"
"Waktu itu gue lagi mau kerumah si Iqbal bareng si Galih, dia itu kek lagi nunggu angkutan umum gitu, terus didepannya ada genangan air, dan gue terlambat menghindar, jadinya ya gitu deh!"
"Terus reaksi dia gimana?"
"Ya marah lah, terus dia Maki-makiin gue, bilang gue bocah tengil lah, bocah brandal lah, tapi entah kenapa, dia marah-marah kek gitu malah bikin gue seneng tahu nggak?"
"Gila lo!" Satya menoyor kepala saudaranya itu.
"Ck lo bener Sat, gue gila karena dia, anjirr baru pertama ketemu aja gue udah jatuh hati nih!" Satria memegangi d*da nya sambil senyum-senyum sendiri.
"Ck!" Lagi-lagi Satya hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah saudara kembarnya tersebut.
"Lo kagak usah ngetawain gue, suatu saat lo juga pasti ngalamin, dan gue sumpahin lo lebih bucin dari gue!"
__ADS_1
*******
"Sayang kamu kenapa,?" El yang sedang memangku satu piring mangga muda yang kini tersisa setengah pun langsung melompat kearah Kinar.
Kinar tak menjawab, ia hanya memandangi El dengan suara yang terisak-isak, bahkan matanya kini terlihat sangat merah, karena sudah terlalu lama menangis didalam kamar mandi.
"Sayang kenapa, jangan bikin aku takut kek gini dong sayang, ada apa, bilang sama aku?" ucapnya, yang kini menggenggam kedua tangan Kinar lembut.
Kinar bergeming, namun detik kemudian ia membenamkan wajahnya di dada El, dengan kedua tangan yang melingkar di pinggangnya.
Sementara itu, El semakin bingung dan khawatir dengan istrinya, yang tiba-tiba menangis seperti sekarang.
"Yang?"
"Aku punya kejutan buat kamu El."
"Apa itu sayang?"
"Ini!" Kinar membuka lebar-lebar telapak tangannya yang sejak tadi terkepal.
El pun memperhatikan dengan seksama 3 benda strip yang berbentuk sama persis, dengan dua garis merah yang juga sama persis.
Deg!
Ia tak pernah membayangkan sebelum nya bahwa memiliki seorang anak akan membuatnya sebahagia ini, terlebih ia akan memiliki seorang anak dari gadis yang ia cintai melebihi mencintai dirinya sendiri.
"Makasih sayang, I love you, I love you, jaga anak kita baik-baik ya!" ucapnya, tanpa melepaskan pelukannya dari Kinar.
"Kamu seneng?" tanya Kinar.
El semakin menyembunyikan wajahnya di bahu Kinar, "Seneng, seneng banget sayang, makasih!"
Kinar berusaha mengurai pelukannya meski merasa bahwa El enggan untuk melepasnya.
"Jadi mulai sekarang, Ayah harus lebih rajin bekerja ya ayah, buat aku!" ucap Kinar dengan gaya bicara khas anak kecil, sembari meletakkan tangan El diatas perut ratanya, membuat El terkekeh geli.
"Aku nggak bisa ngomong apa-apa sayang, saking bahagianya!" ucapnya yang kembali mendekap Kinar kedalam pelukannya.
"Kita cek ke Dokter ya, mau?"
Kinar melepaskan pelukannya, lalu berjalan kearah sisi ranjang, dan mendudukkan dirinya disana.
"Nanti aja ya, nunggu dedenya gedean dikit!"
__ADS_1
"Tapi yang_"
"El aku mohon," ucap Kinar merajuk, yang membuat El tak mampu untuk tidak mengikuti keinginannya.
"Makasih suamiku." Kinar mencium bibir El.
"Sayang?" El mengerang frustasi
"Jangan coba-coba mancing aku sayang, atau_"
"Atau apa, kamu harus tahu ya El, kehamilan di trimester pertama itu nggak boleh berhubungan dulu."
"Hah, kamu tahu dari mana sayang?"
"Ada deh!"
"Ck masa iya?"
"Ihs dibilangin nggak percaya,"
****************
"Lagi!" pintanya, entah untuk yang ke berapa kali, gadis itu meminta pada bartender, untuk mengisi gelasnya yang selalu kosong dalam satu kali tegukan.
Usai bertemu dengan El dan juga Kinar tadi sore membuat perasaan Jihan semakin tak menentu, hingga membuat langkahnya sampai disini, yaitu disebuah Bar yang sering ia datangi.
"Ji, udah Ji lo udah mabuk tahu nggak, tolong berhenti gue khawatir lo kenapa-napa." ujar Bartender tersebut, yang sudah sangat mengenal Jihan, karena gadis itu merupakan salah satu gadis yang selalu berlangganan disana.
"Diem sia lan, gue butuh ketenangan, biarin gue begini jangan ganggu gue Arghhh!" Jihan mulai memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri, lalu dengan langkah terhuyung-huyung ia mulai berjalan kearah toilet.
"Siapa lo!" pekiknya, saat menyadari didalam toilet tersebut ada orang lain, selain dirinya.
"Kamu disini sayang?" ucap seseorang tersebut, yang juga kesadaran nya semakin berkurang, merangkul bahunya dan bergegas keluar, susah payah laki-laki itu memasukan kunci mobilnya yang tak kunjung pas, dengan tangan kiri yang berusaha memegang bahu Jihan, agar tidak jatuh.
Sementara itu, Jihan meracau tak jelas dengan kedua mata yang sesekali terpejam.
Disisa kesadaran nya, Laki-laki itu berhasil sampai di apartemen nya meski beberapa kali hampir menabrak pengendara lain.
"Ayo sayang, malam ini kita akan Bersenang-senang tanpa gangguan dari siapapun!" ujar laki-laki tersebut, lalu membawa Jihan kedalam kamarnya.
Di tempat lain, Widia mondar-mandir menunggu putrinya yang tak kunjung pulang, terlebih saat melihat jam di dinding kini sudah menunjukkan pukul 23:33.
.
__ADS_1
.