
"Gimana perasaan kamu Ji?" Kinar membuka suara terlebih dulu, sesaat setelah tercipta keheningan yang begitu lama.
"G-gue!" Tiba-tiba Jihan menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya, namun detik kemudian isak tangis pun terdengar jelas di Indra pendengaran Kinar.
Jihan menangis..
"Apa yang harus gue lakuin Nar,?" Jihan menatapnya dengan raut wajah tak berdaya.
"Ji, semua orang punya pilihan untuk hidupnya, dan aku yakin kamu juga pasti akan mendapatkan pilihan yang terbaik, ikuti kata hati kamu Ji."
Jihan mengusap air matanya yang terus menetes, lalu tangannya turun untuk mengusap perutnya yang masih terlihat rata.
"Setelah gue lihat janin gue dilayar USG tadi, gue jadi nggak tega buat bunuh dia Nar, gue pengen dia bertahan disini, sampe dia lahir, dan tumbuh sehat, tapi gue takut g-ue_"
"Ji, aku sangat mendukung keputusan kamu yang satu ini, dan aku yakin kamu pasti bisa melewati masalah ini!"
"Tapi gue bingung Nar, gue malu ketemu ayah bayi ini, masalahnya gue udah nolak tanggung jawab dia berkali-kali, karena gue pikir waktu itu gue nggak bakalan hamil karena cuma sekali ngelakuinnya."
"Mau aku temenin, ketemu dia?"
"Lo yakin?"
"Iya, kenapa nggak.?"
"Lo nggak benci sama gue.?"
Kinar tersenyum manis, "Kenapa harus benci Ji, nggak ada alasan aku buat benci kamu, apalagi kenyataan membuktikan kalau kita itu bersaudara kan, yaudah yuk berangkat sekarang aja!"
**************
Kinar terdiam, menatap kagum pada gedung pencakar langit yang kini berada dihadapannya.
"Kamu yakin ini kantor cowok itu Ji?"
"Menurut nama perusahaan di kartu namanya emang bener ini." memperlihatkan kartu nama tersebut kearah Kinar.
"Oh iya bener sih, eh ini kan ada nomor telponnya Ji, kenapa nggak kamu coba telpon langsung aja!"
"Yaudah gue coba!" Jihan pun melangkah kan kakinya, mencari tempat yang sedikit teduh, karena siang itu matahari begitu terik.
Sedangkan Kinar masih menunggu di tempat semula, sambil sesekali mengintip kegiatan apa saja yang dilakukan didalam gedung tinggi itu, meskipun sebenarnya memang tak terlihat.
Dan ia masih terus memikirkan nama seseorang yang berada di kartu tadi, mungkinkah! batinnya.
"Gimana Ji, bisa?" tanya Kinar, saat Jihan kembali menghampirinya.
"Itu telpon kantor ternyata, dan sekertaris nya bilang, Andra lagi meeting!"
"Yaudah nggak apa-apa kita tunggu aja ya, lagian kayanya bentar lagi jam istirahat kan?" Kinar melirik jam di pergelangan tangannya.
__ADS_1
Kedua wanita yang tengah hamil muda itu masih setia berdiri di tempat semula, untuk menunggu seseorang yang sebenarnya akan keluar atau tidak.
Namun setelah seluruh karyawan hampir keluar, sosok yang Jihan kenal hanya sekali itu, keluar bersama seseorang yang kini tengah mengajaknya mengobrol.
"Kak Andra?" ujar Kinar dengan suara lirih, namun samar-samar Jihan pun masih bisa mendengarnya.
"Lo kenal sama dia?" tanya Jihan.
"I-iya, dia_"
"Kinar, dan..kamu?" Andra menatap keduanya heran.
"Eh euhmmz bisa kita bicara kak?" ujar Kinar, saat Jihan hanya diam, sembari meremas jari jemarinya.
"Yaudah ayo ikut saya!" balas Andra kemudian, meski ia sedang kebingungan dengan Kinar dan perempuan yang pernah ditidurinya itu, datang secara bersamaan.
Andra membawa keduanya ke sebuah Cafe yang agak jauh dari perusahaan nya, karena merasa ada sesuatu hal penting yang akan disampaikan oleh kedua wanita yang kini berada dihadapannya.
"Jadi apa yang membuat kalian berdua datang siang-siang begini ke kantor saya?" Andra membuka suara terlebih dahulu, saat keduanya hanya diam dan saling pandang.
"Euhmz!" rasanya lidah Kinar terasa kelu untuk berbicara, seharusnya memang Jihan lah yang menjelaskan tentang keadaan nya sekarang, bukan dirinya.
Ia tak mau di cap sebagai seseorang yang telah ikut campur dalam urusan rumit orang lain, namun saat melihat keadaan Jihan dan juga reaksinya, ia tak mungkin hanya diam saja.
"K-kak, Jihan hamil!" ucapan sepontan itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
Andra menggerenyit, ''maksud kamu?"
Deg!
Bagai disambar petir disiang bolong, syok, bingung, takut, itulah yang dirasakan Andra saat ini, terlebih gadis yang begitu dicintainya sepenuh hati itu adalah orang pertama yang mengetahui hasil dari perbuatan bejatnya.
"Kinar yakin, kak Andra adalah laki-laki yang bertanggung jawab, tolong nikahi Jihan secepatnya ya kak!" lanjut Kinar, yang membuat Andra kembali menatapnya.
"Setelah kejadian itu saya sudah menawarkan tanggung jawab sama dia, tapi dia menolak Nar!"
"Jihan bersedia kok nikah sama kakak, dia juga sangat menyayangi bayinya, dan sebelum kesini Jihan udah periksa kandungannya, dan janinnya sehat!"
"Ok!" hanya satu kata itu yang terakhir Andra ucapkan.
**************
"Kamu kemana aja sih yang, aku sampai kebingungan tahu nggak, biasa in dong kalau kemana-mana itu handphone nya dibawa, lagian siapa yang izinin kamu keluar coba, inget dong sayang kamu itu lagi hamil!"
"Kamu jangan cape-cape, aku khawatir sayang!"
Rentetan kalimat yang El ucapkan, membuat kepalanya sedikit berputar-putar, tanpa menjawab pertanyaan nya, Kinar pun bergegas masuk dan mengambil segelas air putih, lalu meneguk nya dengan cepat.
"Kalau suami ngomong itu di dengerin napa?" Merasa gemas, El pun menarik tubuh Kinar kedalam pelukannya.
__ADS_1
Kinar melepas pelukan El lalu menarik tangannya menuju sofa, ''Tadi tuh aku abis ketemu Jihan!"
"Ck ngapain sih ketemu dia?"
"Dia itu lagi punya masalah berat El,"
"Emang penting buat kamu?" ucap El ketus.
"Suami aku sensitif banget sih kalau bahas Jihan," Kinar memberi satu kecu pan hangat di bibir suaminya.
"Lagi?" ucapnya manja.
"Ihs malu nanti ada bibi!"
"Yaudah lanjut di kamar yuk!"
"El ihs, dengerin cerita aku dulu."
"Males ah, kalau yang dibahas dia lagi." El hendak beranjak, namun tangan Kinar menahannya.
"Dengerin dulu."
"Ck!"
"Jihan hamil!"
El memicingkan mata, sedangkan Kinar memperhatikan reaksi suaminya, yang terlihat sama sekali tak peduli.
"El?"
"Kamu nggak kaget, atau kasihan gitu?"
Terlihat El menghela nafas, lalu kembali mendudukkan diri di samping istrinya.
"Ngapain kaget, orang yang hamil bukan istri aku, terus ngapain juga aku musti kasihan, itu kan hasil perbuatan nya sendiri!"
"Ihs responnya gitu banget sih, ternyata yang dibilang Oma itu 100% bener ya!"
"Apa, Oma bilang apa?" El menjawil gemas dagu istrinya.
"Kalau kamu itu cucu Oma yang paling jutek." jawab Kinar ketus.
"Masa sih?!" El terkekeh-kekeh sembari menggesek-gesekan hidung di leher istrinya, membuat Kinar mendesis, sekaligus tak bisa menolak.
"El?" Kinar mendorong pelan tubuh El, namun dengan sigap laki-laki itu menangkap kedua pergelangan tangannya, kemudian El mencondongkan wajahnya, dan membisikkan sesuatu.
"Lanjutin dikamar yuk!"
.
__ADS_1
.