Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Surya Aditama part 2


__ADS_3

"Aww..!" Kinar meringis, saat merasakan area intinya yang terasa ngilu dan perih.


Malam ini El benar-benar menepati ucapannya pada Kinar, yang akan membuatnya tidak bisa berjalan pagi ini.


"Nggak kuat berdiri?" tanya El sembari terkekeh.


"Menurut kamu?" balas Kinar dengan bibir mengerucut.


"Yaudah aku gendong aja ya!" ujar El yang langsung mengangkat tubuh Kinar, dan menggendongnya kearah depan dimana mobilnya terparkir.


"Si non nya kenapa den?" tanya mang wawan security Oma Indri, saat melihat El keluar menggendong istrinya.


"Masih ngantuk katanya mang," balas El terkekeh pelan.


"Oh begitu den, saya kira lagi sakit!"


"Yaudah mang saya pamit ya, titip salam buat Oma."


"Baik den siap, Hati-hati ya dijalan!"


"Iya mang makasih!" balasnya, lalu mendudukan Kinar didalam mobil.


Sedangkan mang Wawan hanya Menggeleng-gelengkan kepala seraya tersenyum geli, "Anak jaman sekarang, seneng nya main gendong-gendongan mulu!" gumamnya.


El berangkat jam 3 subuh agar ia tidak terlambat masuk sekolah, dan mengenai Oma nya ia sudah berpamitan sejak sore bahwa ia akan berangkat pagi, dan tidak mau membangunkan nya.


"Malu tahu,!" ujar Kinar, saat El mulai melajukan mobilnya.


"Malu kenapa sih?"


"Barusan!"


"Sama mang Wawan?"


"Menurut kamu sama siapa lagi!"


"Udah nggak apa-apa,"


............


"Jangan kemana-mana, nanti biar aku suruh bi Rumi yang nganterin sarapannya kesini ya!" ujar El yang kini tengah berangkat sekolah, setelah sampai dirumahnya beberapa menit yang lalu.


Kinar mengangguk pelan,


"Pulang sekolah mau kemana?"


"Kenapa emang yang?"


"Nggak apa-apa."


"Aku nggak kemana-mana kok, aku usahain pulang sekolah lngsung pulang," Jawab El sembari mencium keningnya.


"Berangkat dulu ya!" lanjutnya, yang kemudian meninggalkan Kinar untuk beristirahat didalam kamarnya.


...............


"El?" Jihan bergelayut manja memegangi tangan El, yang baru saja turun dari motornya.


"Ngapain sih lo, nggak ada kerjaan banget!" ujar El, dengan wajah datarnya.


Sedangkan kedua sahabat nya yang berjalan dibelakang El terkekeh geli melihat sikap dinginnya itu.


"Kenapa sih El lo itu kasar banget sama gue, bisa nggak sih sekali aja lo nggak kasar kek gini ke gue,"


"Lo mau tahu kenapa?" tanya El, sembari mencondongkan wajahnya kearah Jihan.


"K-kenapa?"


"Ya intinya, karena emang gue nggak suka sama elo!" balas El menepis tangannya dengan kasar, sembari melangkah cepat meninggal kan Jihan yang mengepalkan kedua tangannya menahan emosi.


"Gue tahu El, lo kaya gini karena cewek Kampung itu kan, apa lebihnya dia sih, dibanding gue yang punya segala-galanya." teriak Jihan, yang membuat langkah El terhenti seketika, dan berbalik menghampiri Jihan dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Asal lo tahu, cewek yang lo bilang kampungan itu, adalah cewek yang paling spesial dalam hidup gue, dan apa lo bilang tadi, lo lebih dari segala-galanya?" El tersenyum mengejek.


"Gimana bisa ada orang sepercaya diri model lo kek gini, memiliki Segala-galanya di bagian mananya yang lo maksud hah,? bahkan hati aja lo nggak punya!" lanjut El, dan bergegas melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.


"Kalau lo masih berharap sama si El, gue saranin sih udah, nyerah aja deh, percaya sama gue, karena sampai kapanpun tuh bocah kagak bakalan jatuh cinta sama elo!" ujar Bian, saat melewatinya.


"Gue setuju sama apa yang dibilang si kamvret ini, udah deh berhenti aja berharap sama si El percuma, dia kagak bakalan tertarik sama nenek sihir model lo!" timpal Yoga yang kini merangkul pundak Bian, dengan nada mencibir.


"Pergi lo berdua, sialan!" bentak Jihan dengan emosi yang Meluap-luap.

__ADS_1


"Hiyyy, atuttt! kabur Ga!" ledek Bian, yang langsung menarik tangan Yoga, dan berlari kecil menuju kelasnya, sambil tergelak.


"Lihat aja El, gue pasti bisa dapetin elo, gimanapun caranya!'' Gumam Jihan dengan suara lirih, dengan kedua tangan yang terkepal sempurna.


"El, kapan-kapan ke base camp yok, bt gue kagak punya kegiatan apa-apa dirumah!" ujar Bian, yang kini Tengah duduk diatas meja El.


"Iya El, mumpung gue juga lagi kosong nih, nongkrong yuk!" timpal Yoga antusias.


"Gimana kalau lo berdua sore ini dateng kerumah gue, tapi bukan dirumah yang biasa lo berdua datengin lho ya!" sahut El, sembari memasukan bukunya kedalam tas ranselnya.


"Lah terus yang mana lagi, emang lo punya berapa rumah sih?" Seru Bian.


"Ck, emang sejak kapan dulu gue punya rumah, punya orang tua gue kali!"


"Iya sama aja kan?"


"Jelas beda lah!"


"Ck, serah lo deh, tapi seriusan dimana alamat rumah lo yang sekarang?"


"Tar gue sherlock!"


"Ok deh, gue tunggu!''


" Hmmmm!"


.............


Saat perjalanan pulang, El tak sengaja melihat toko boneka yang menjual berbagai macam boneka yang imut serta lucu-lucu, tanpa berpikir panjang iapun segera memarkirkan motornya, dan berjalan ketoko boneka tersebut, dan tanpa sadar ia terus tersenyum, ketika membayangkan wajah bahagia san istri.


Dan saat melewati segerombol gadis-gadis seusianya yang juga tengah membeli boneka, samar-samar ia mendengar banyak pujian tentang dirinya yang terlihat begitu tampan di mata mereka.


"Ganteng banget sih, mau dong di ajakin kenalan!"


"Kalau gantengnya model begini sih, di jadiin yang ke 100 pun ade rela bang!"


"Meleleh hati gue!"


Dan masih banyak lagi ucapan dari segerombol gadis tersebut yang tak mau El dengar, terlebih saat El mulai melajukan kembali motornya, setelah membeli apa yang dia inginkan, mereka terdengar berteriak histeris.


Namun, alih-alih senang, El justru malah merasa tidak nyaman, mungkin jika istrinya yang berkata demikian, ia akan merasa sangat beruntung dan menjadi orang yang paling bahagia.


.........


"Apa tuh!" ujar Kinar dengan leher bergerak ke kanan dn kekiri, penasaran dengan sesuatu yang El sembunyikan di belakang tubuhnya.


"Tebak, apa coba?"


"Boneka ya?"


"Ehmm kok tahu sih?" tanyanya pura-pura berdecak kesal.


"Orang kelihatan gitu kok!"


Ia pun kemudian tergelak, lalu memberikan boneka melody besar tersebut pada istri tercintanya.


"Makasih!" ujar Kinar dengan raut wajah ceria.


"Sama-sama sayang, tapi aku juga mau dong dikasih hadiah."


"Hadiah apa?"


"Ini!" menyentuh bibir Kinar menggunakan ibu jarinya.


"tapi pengennya sayang yang ngelakuin!" lanjut El dengan gaya manja yang dibuat-buat.


"T-tapi Aku nggak bisa El." balas Kinar dengan nada suara yang terdengar gugup, bahkan kini wajahnya sudah berubah merona.


"Kok malah senyum-senyum?" tanya Kinar semakin salah tingkah di buatnya.


"Aku seneng deh, jangan di ganti lagi ya, tetap Aku-kamu." ujar El sembari mulai menyatukan bibirnya dengan dalam dan penuh cinta.


.


Aku ingin terbang tinggi


Seperti elang


Melewati siang-malam


Menembus awan

__ADS_1


Ini tanganku untuk kau genggam


Ini tubuhku untuk kau peluk


Ini bibirku untuk kau cium


Tapi tak bisa kau miliki aku


Dewa19-elang..


..............


Di dalam ruang tamu itu terdengar begitu gaduh, oleh suara El, yang diikuti Satria, Satya, Bian dan juga Yoga, yang tengah menikmati acara santainya sore ini.


Niat awal El dan kedua temannya memang hanya untuk nongkrong dan mengobrol saja, namun kedatangan si kembar mengubah niat awal mereka, dan ini bukan kali pertama mereka seperti ini, tetapi setiap saat jika bertemu, karena Satria dan Satya sudah sangat akrab dengan kedua sahabat El, mengingat mereka sering bertemu, saat bertamu kerumah kedua orang tuanya sebelum nya.


"Gantian coba gue yang nyanyi bang!" ujar Satya, yang kini mengambil alih gitarnya dari tangan El.


jreng... jreng..


Mohon tinggal sejenak


Lupakanlah waktu


Temani air mataku


Teteskan lara


Merajut asa, menjalin mimpi


Endapkan sepi-sepi


Dewa19-cinta kan membawamu kembali.


"Anjir, stop.. stop!" teriak Satria saat Satya mulai menyanyikan lagu favorite nya tersebut.


"Anjir, suara lo beneran kek radio rusak deh, dan gue jamin kalau lo terusin nyanyinya, gue yakin tokek sama cicak aja langsung sekarat dengernya!" ujar Satria menggeleng-gelengkan kepala.


"Sembarangan lo, bilang aja ngiri sama suara emas gue!" sahut Satya kesal, sembari melemparkan gitarnya kearah Satria, yang ditangkapnya dengan gelagapan, karena Satya melemparkan nya secara tiba-tiba.


"Ck lo berdua, emang kagak ada akur-akurnya ya dari dulu, mesti di ekspor nih salah satunya!" timpal Yoga asal.


"Enak aja, lo pikir kita ini barang apa bang, maen ekspor-ekspor aja!" Satria tak Terima.


"Abisnya lo berdua berisik, pusing gue!"


"Keknya suara bokap lo emang cuma nurun sama si El doang nggak sih?" timpal Bian, yang sudah beberapa kali mendengar Ando menyanyi sembari bermain gitar, sewaktu mereka sering menginap dirumahnya dulu.


"Bukan cuma suaranya, wajahnya juga paling plek tuh sama Ayah!" sahut Satria.


"Tahu tuh abang serakah banget ngabisin semua milik ayah!" sambung Satya, sembari mengerucut kan bibirnya.


"Anjir, lo berdua pikir ini kemauan gue sendiri!" El melemparkan keripik kentang ditangannya kearah adiknya itu.


Dan beberapa menit kemudian keempatnya berakhir di kolam renang, untuk balapan menyelam.


..........


Ditempat lain disebuah ruangan yang sepi, seorang laki-laki yang umurnya genap 40 tahun 2 hari yang lalu itu, terlihat murung, duduk disebuah kursi putar, dengan wajah mendongak, menatap langit-langit ruangan tersebut dengan perasaan berkecamuk.


Hampir 20 tahun ia menikah dengan istrinya, tak pernah sedikitpun ia merasakan kebahagiaan dan kenyamanan dalam hidup berumah tangganya, terlebih setelah ia mengetahui kenyataan, bahwa selama ini istrinya telah menjalin hubungan dengan laki-laki lain di belakang nya.


Bahkan dengan terang-terangan istrinya itu mengatakan, bahwa putri bungsu mereka yang diberi nama Vita itu bukanlah darah dagingnya, melainkan anak dari kekasih gelapnya itu.


Jelas, tanpa bukti hasil test DNA pun Surya tahu bahwa Vita bukanlah putri kandungnya, karena Yuniar hanya mengizinkan Surya menyentuhnya hanya satu tahun pertama pernikahan nya.


Sakit, itulah yang dirasakan Surya beberapa tahun belakangan ini, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, terutama saat mengingat perbuatan nya di masa lalu, yang dengan teganya, mengusir sang istri yang baru saja melahirkan putri mereka, sewaktu berusia satu hari, dengan alasan, kakek dari anaknya tersebut, tidak mau memiliki cucu perempuan.


Dan memilih menikah lagi dengan seorang janda beranak satu dari keluarga terpandang, anak dari salah satu kolega ayahnya yang sangat kaya raya.


Surya kini merutuki kebodohan nya di masa lalu, yang telah membiarkan istri beserta anak yang dicintainya pergi, hanya karena harta, yang bahkan sampai kini tidak memberinya sebuah kebahagiaan yang pasti.


Mungkin jika dulu dirinya lebih memilih istri beserta anaknya, hidupnya tak akan seburuk seperti sekarang ini batinnya.


Selama beberapa tahun ini Surya sudah berusaha mencari keberadaan sang mantan istri beserta putrinya, namun nihil, ia sama sekali belum menemukan tanda-tanda keberadaan mereka.


Dan harapannya saat ini adalah segera di pertemukan dengan putrinya, yang bahkan seumur hidupnya belum sempat ia sentuh.


Ia berjanji dalam hati, akan meninggalkan semua nya, dan memilih tinggal bersama putrinya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2