Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Pil Kontrasepsi


__ADS_3

Usai makan malam dirumah orang tuanya, El pun berpamitan untuk segera pulang, meski Nada berharap mereka menginap di rumahnya.


Namun El bersikukuh untuk tetap pulang, dikarenakan besok pagi harus mengantar Kinar terlebih dulu ke Cafe cabang, tempat baru Kinar bekerja, yang jaraknya memang agak jauh dari yang sebelumnya.


"Dari tadi kok diem aja sih, kenapa hm?" tanyanya saat keduanya kini tengah berbaring hendak tidur.


"El, saya minta maaf."


El mengerutkan kening, "M-maaf untuk apa sih sayang?"


"Saya punya banyak salah sama kamu El!" Tiba-tiba nada suara Kinar terdengar lirih.


"Hei, siapa bilang, nggak ada!"


"El?"


"Apa sayang!"


"Kalau saya melakukan kesalahan, apa kamu mau memaafkan saya?"


"Ck, ngomong apa sih sayang, kamu ini aneh banget deh!"


"Jawab El,"


"Tergantung sih, apa dulu kesalahan nya."


Deg!


Kinarpun menegang, dengan wajah yang memerah, begitu pun dengan kedua lututnya yang terasa lemas.


"Bercanda sayang, kok mukanya tegang gitu sih?" ujar El yang kemudian terkekeh.


"Aku rasa nggak ada yang salah dalam diri kamu yang, nggak ada yang kurang juga, kecuali cinta kamu buat aku mungkin!" lanjut El tersenyum kecut.


"El?"


"Udah ya, sekarang istirahat, ini udah malem banget, kamu pasti cape sayang, apa mau dikerjain dulu, biar lebih cape?" lanjut El dengan senyum menggoda.


"El nggak lucu!" ketus Kinar, sedangkan El tergelak keras.


.........................


"Mau aku anter ke dalem?" tawarnya, saat pagi ini El mengantar Kinar ke BLC_Cafe.


"Nggak usah, saya bareng Mia aja nanti!"


"Beneran?"


"Iya."


"Yaudah Hati-hati, semangat ya kerjanya, sayang!"


"Iya, kamu juga Hati-hati dijalan, jangan ngebut-ngebut!"


"Siap bos!"

__ADS_1


Di hari pertama kerja ditempat baru ini, Kinar sengaja meminta El agar mengantarkan nya lebih pagi dari biasanya.


Setelah kepergian El, kinar memperhatikan sekelilingnya, rupanya ingatan nya tidak salah, bahwa tempat itu letaknya tidak jauh dari kontrakan bekas tinggalnya dulu bersama ibunya.


"Hai Kinar sayang!" teriak Mia yang baru saja memarkirkan motornya disamping Cafe.


"Hai juga Mia!" kemudian keduanya berpelukan.


"Aku nggak bisa bayangin deh Mi, kalau seandainya aku cuma dipindahin kesini sendiri tanpa kamu."


"Aku juga Nar, aku udah nyaman banget temenan sama kamu, ya walaupun kangen juga sih sama anak-anak curut disana." keluh Mia.


"Fahmi ya?" goda Kinar.


"Semuanya!"


"Yakin?"


"Ck, ini anak!"


Akhirnya keduanya pun tertawa bersama.


"Tapi disini enak lho Nar, kan kerjanya dibikin 2 shift, jadi jam 2 siang kita udah pulang lho!"


"Jam 2?"


"Iya, tapi khusus cewek doang sih, Shift nya nggak diganti, kalau yang kerjanya nyampe malem itu cowok semua, karena karyawan nya lebih banyak cowok-cowok sih katanya."


Kinarpun mengangguk mengerti, apa mungkin ini alasan El memindahkan nya kesini, karena disini pulangnya lebih awal, batin Kinar.


.............


"Dan untuk Kinar dan Mia, semoga kalian betah ya, kerja disini!" lanjut pak Brata selaku manager Cafe tersebut.


Setelah kepergian pak Brata, Kinar dan Mia pun mulai melakukan aktifitasnya, setelah mendapat arahan untuk bagiannya masing-masing.


................


"Maaf yang, telat ya!" ujar El yang menjemputnya siang ini.


"10 menit!"


"Iya maaf sayang, tadi kehabisan bensin, jadi musti dorong dulu nyampe Pom."


"Yaudah nggak apa-apa."


"Mau jalan dulu atau langsung pulang?" tanyanya, saat Kinar sudah duduk dibelakang nya.


"Pulang aja deh!"


"Nggak mau mampir dulu, kemana gitu?"


"Nggak El."


"Yaudah, kita langsung pulang aja ya!"

__ADS_1


...........


Sesampainya di rumah Kinarpun bergegas menuju kamarnya, menyambar handuk lalu memasuki kamar mandi, sedangkan El mengambil gitar yang berada diatas lemari.


Pluk...


Bersamaan dengan gitar yang diambilnya, sebuah benda jatuh mengenai lantai.


"Apaan sih ini?" gumam El, sembari meraih benda tersebut, lalu membaliknya, El memperhatikan selembar pil tersebut, ia tahu betul, bahwa itu merupakan pil kontrasepsi, yang kini sudah kosong separuh nya, El yakini itu adalah milik istrinya, dan seketika El meremas pil tersebut dengan rahang mengeras.


Beberapa menit kemudian, Kinar keluar dari kamar mandi, hanya menggunakan handuk yang menutupi dada hingga setengah pahanya.


Kilasan matanya tidak sengaja menangkap bayangan El yang sedang berada dibalkon depan kamarnya, lalu ia pun bergegas mengenakan pakaiannya, lalu menghampiri El, yang masih berdiri disana.


"El?" ucap Kinar dengan suara lirih, saat merasa ada yang berbeda dalam diri El saat ini, El meletakkan kedua tangannya yang terkepal di atas pagar stainles balkonnya, sedangkan tatapannya lurus kedepan, begitupun dengan rahangnya yang terlihat mengeras.


El menoleh dengan tatapan nyalang, sorot matanya menunjukkan bahwa saat ini amarah nya begitu tinggi, bahkan Kinar pun tanpa sadar mundur satu langkah kebelakang.


Ia sungguh ketakutan saat ini, karena selama bersama El, ia tak pernah melihat tatapan El semengerikan itu sebelumnya.


El berjalan mendekati Kinar, menarik tengkuknya kemudian memberikan ciuman yang teramat kasar, dan tak berperasaan.


"El, lepasin!" Kinar berusaha membrontak dengan mendorong tubuh El, namun tenaganya kalah kuat olehnya, akhirnya Kinar pun hanya bisa pasrah, dengan air mata berlinang.


"Ini apa?" tanya El, memperlihatkan pil yang ditemuinya tadi, setelah puas menciuminya.


Kinar membelalakan matanya, dengan nafas tercekat.


"Jawab!" bentak El dengan emosi yang meluap-luap, yang seketika membuat Kinar memejamkan matanya karena kaget, sekaligus takut.


"Ini adalah bukti, kalau kamu tidak menghargai aku sebagai suami Nar, kenapa harus begini, kenapa nggak jujur aja sama aku, kalau memang kamu belum siap, kenapa harus sembunyi-sembunyi Nar," ucap El dengan mata berkaca-kaca.


"Apa salahku Nar, bilang sekarang!" Lagi-lagi suara El terdengar semakin meninggi.


"El, S-saya_" Kinar berusaha meraih tangan El, yang kemudian di tepisnya dengan kasar.


"Brengsek!" umpat El sembari menonjok kaca rias di samping Kinar, sehingga mengakibatkan tangannya terluka, dan meneteskan darah segar.


"El, tangan kamu!" Kinar berteriak histeris, saat melihat tetesan darahnya mengenai lantai.


"Luka ini nggak seberapa, di bandingkan luka disini Nar!" El menunjuk dadanya, lalu bergegas pergi.


"El tunggu, mau kemana, luka kamu harus di obatin El!" teriak Kinar sembari mengejar langkahnya.


"Lepas!" bentaknya, saat Kinar berhasil menangkap pergelangan tangannya.


"El, saya mohon obati dulu tangannya El!" Kinar memohon sambil menangis.


"Mau ya!" Kinar merangkul pinggang El, dan mendudukannya diatas sofa, lalu bergegas mencari kotak P3K.


"Tahan ya, ini pasti perih," ujar Kinar sembari mulai mengelap darah El menggunakan kapas yang telah di teteskan air alkohol diatasnya.


Selama membersihkan luka ditangan El, Kinar tak berhenti menangis, dengan suara yang terisak-isak, begitu juga dengan El yang tak berhenti memandangi wajah menawan yang begitu dicintainya itu, ingin sekali rasanya dia memeluk istrinya itu, namun egonya saat ini begitu tinggi, mengingat kesalahan Kinar, yang menurutnya sangat keterlaluan.


.

__ADS_1


.


__ADS_2