Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Salah paham


__ADS_3

Setelah memilih beberapa model handphone untuk si kembar Satria dan Satya, yang pilihannya jatuh pada handphone keluaran terbaru, Nada dan Kinarpun memutuskan untuk mampir ke sebuah Cafe terdekat.


Namun saat hendak memasuki Cafe, langkah Kinar mendadak terhenti, saat melihat pemandangan yang menyesakan didepan matanya.


begitupun dengan Nada yang terbelalak tak percaya melihat putra sulungnya terlihat sedang berpelukan dengan gadis lain.


"El?"


"Kamu apa-apaan sih, tuh lihat Kinar jadi pergi kan?" ujar Nada, yang seketika membuat El kembali mendorong tubuh Jihan kebelakang, hingga ia memekik merasakan sakit dibagian tubuh belakang nya.


"B-bunda kok ada disini bun, ngapain?"


"Ya terserah bunda dong!"


"Buruan sana kejar tuh Kinar, kamu ini!" decak Nada, sembari melirik kearah Jihan dengan tatapan tak suka.


Sedangkan Bian dan Yoga, saling pandang, bingung harus berbuat apa.


"Sayang buka pintunya, kamu salah paham sayang!" ujar El, yang berhasil mengejar Kinar yang telah memasuki Taxi.


"Cepet jalan pak!" ujar Kinar pada sopir taxi tersebut.


"Tapi neng, itu pacarnya Ngetuk-ngetuk kaca terus, minta dibukain."


"Biarin aja pak!"


"Aduhh.. kayanya lagi marahan ya, jangan lama-lama neng kalau marahan nanti kangen lho!" goda sopir taxi tersebut sembari terkekeh pelan,namun Kinar hanya diam, dengan wajah tak bersahabat.


Sedangkan El hanya melongo kala melihat Taxi itu mulai bergerak.


"Ck, bakalan panjang nih urusannya!" gumam El, sembari mengacak rambutnya frustasi, lalu bergegas berlari menghampiri motornya.


"Ngambek kan dia!" sindir Nada, dengan kedua tangan yang di lipat di atas dada.


"Bunda sih, ngapain juga bawa Kinar kesini sih bun?"


"Lah kamu sendiri ngapain Berdua-duaan sama perempuan itu, pake acara peluk-pelukan segala lagi, kalau bunda jadi Kinar, nggak akan bunda kasih jatah selama sebulan!"


"El nggak berduaan bun, El juga nggak pelukan!" protes El, sedangkan kedua sahabatnya Yoga dan Bian, keduanya masih mencerna kata-kata Nada, tentang nggak dikasih jatah selama sebulan.


"Tadi buktinya apa, udah salah nggak mau ngaku lagi, Ck!"


"Bun El_"


"Udah udah, bunda mau pulang, sana susul Kinar, bujuk dia supaya mau maafin kamu." lanjut Nada yang langsung bergegas pergi, meninggalkan El yang hendak kembali melayangkan protes.


"Gue cabut bro!" ujar El lemas.


"Gue doain lo cepet baikan lagi deh sama si Kinar!" ujar Bian dengan raut wajah mengiba.


"Iya El, semoga nggak jadi berantem," timpal Yoga, yang kemudian diangguki oleh El.


"Thanks bro!"

__ADS_1


"Gara-gara lo sih, seneng banget sih lo nyari masalah, heran gue, kagak ada Kapok-kapoknya ya lo itu!" ujar Bian menatap nyalang pada Jihan, yang tidak merasa takut sama sekali.


"Dasar titisan dewi ular, bikin rusuh mulu sih hidup lo!" timpal Yoga yang juga sudah merasa kesal sejak tadi.


"Diem ya lo berdua, apa yang salah coba sama diri gue, gue itu lagi memperjuangkan cinta gue, sama cowok yang paling gue sayang, lo berdua atau siapapun nggak berhak ngatur-ngatur gue, ataupun larang gue, ngerti!" balas Jihan sarkas.


"Dasar emang, nggak tahu malu banget lo ya jadi perempuan!" sambung Bian emosi.


"Terserah lo berdua mau ngomong apa, gue nggak peduli!"


Bian pun mendorong punggung Yoga pelan, agar segera meninggalkan Jihan, percuma baginya berbicara dengan Jihan, yang sama sekali tak mau mencerna ucapannya.


******************


"Kinar udah sampe rumah bi?" tanya El, yang langsung bergegas memasuki rumahnya.


"Udah den, tapi non Kinarnya pulang-pulang nangis!"


Deg!


El yang sudah berjalan beberapa langkah seketika menoleh kearah bi Rumi, dan menghampirinya secepat kilat.


"N-nangis bi?"


"Iya den nangis."


"Bibi serius?"


"Aduh masa iya sih den bibi bohong, ah aden mah."


Tok.. tok.. tok


El mengetuk pintunya berulang kali dengan tidak sabaran, saat ini pikiran nya sedang kacau, antara takut dan khawatir terhadap istrinya.


"Sayang, buka dong pintunya yang, aku bakalan jelasin semuanya,"


"Apa yang kamu lihat tadi itu salah paham sayang!"


"Aku hitung sampe tiga ya, kalau kamu masih nggak mau keluar pintunya aku dobrak!"


"Satu, du_"


Dalam hitungan kedua pintu pun terbuka menampilkan sosok Kinar, yang kembali berbalik berjalan menuju tempat tidur.


"Sayang?"


Kinar bergeming, sembari mengambil satu buah buku novel, yang sudah separuhnya ia baca.


"Yang, tadi itu_"


Kinar beranjak mengambil headset dari dalam laci, kemudian memasangkan di kedua telinganya, menyalakan musik dari ponselnya dengan suara yang hampir full, lalu melanjutkan membacanya.


Namun El tak menyerah sampai disana, ia terus berusaha memanggil-manggil Kinar dengan sebutan sayang, tak perduli ia mendengar nya atau tidak.

__ADS_1


Hingga suara ponselnya berdering, menandakan ada sebuah telpon masuk.


Kinar melepaskan headset di kedua telinganya, lalu beranjak dari duduknya.


"Hallo,"


"Ok, aku kesana sekarang ya!"


Kemudian telpon pun terputus.


"Siapa yang telpon sayang?"


Kinar tak menjawab ucapan El, ia membuka lemari baju, lalu mengambil salah satu jaket, dan mengenakannya, menyambar tas kecil yang tadi di pakenya lalu bergegas keluar dari kamarnya.


"Sayang tunggu, mau kemana, kamu mau ketemu siapa sih?" ujar El menuruni anak tangga terlebih dulu, lalu menghadang langkah Kinar.


"Sayang, please!"


"Mau ketemu Mia, bentaran doang kok!" balas Kinar dengan penuh penekanan, sebuah ucapan telak bagi El, ucapan yang sama persis seperti tadi sore saat ia hendak keluar.


"Minggir, aku mau lewat El!" Kinar menepis tangan El yang memegangi bahunya.


"Dengerin dulu penjelasan aku sayang, kamu itu salah paham soal tadi!"


"Kalau aku nggak mau denger gimana?" ucap Kinar dengan raut wajah tak bersahabat.


"Sayang, dengerin dulu!"


"Apa, mau ngomong apa, ngomong sekarang!" bentak Kinar dengan mata yang mulai Berkaca-kaca.


"Kita ngomong dikamar aja ya, nggak enak sama bi Rumi, apa lagi posisi kita lagi ditangga begini, mau ya!" ujar El yang kemudian merangkul bahunya, lalu membawanya kedalam kamarnya.


Kinar mendudukkan dirinya dengan malas dipinggiran ranjang, lalu melipat kedua tangannya diatas dada.


"Tadi itu aku lagi nongkrong sama Bian, dan si Yoga, aku nggak tahu ditengah obrolan kita, tiba-tiba tuh cewek dateng, terus maen peluk-peluk aku, aku udah coba dorong dia yang, tapi dia balik meluk aku lagi, pas kamu sama bunda dateng."


"Terus?"


"Ya terus kamunya salah paham!"


"Tapi kamu Seneng kan di peluk-peluk dia, iya kan?" ucap Kinar dengan tatapan menuduh.


"Mana ada kek gitu, nggak lah amit-amit, mendingan dipelukin si Yoga dari pada tuh cewek!"


"Bohong!'


"Aku nggak bohong sayang, Yoga sama Bian saksinya, kalau perlu besok mereka aku bawa kesini!"


"Bisa aja kan kamu sama mereka sekongkol, kalian kan sahabatan."


"Tapi kan_"


"Nggak ada Tapi-tapi, pokoknya kamu nggak aku kasih jatah selama sebulan!" ujar Kinar, yang sontak membuat tubuh El melemas seketika.

__ADS_1


.


.


__ADS_2