
Di hari liburnya yang masih tersisa beberapa hari lagi, El ingin memanfaatkan nya dengan sangat baik, menemani Kinar kemanapun ia ingin pergi.
Seperti pagi ini Kinar memintanya agar menemani ia jalan-jalan, untuk mencari sesuatu yang ia inginkan.
"Tadi aku kasih tahu Bunda soal kehamilan kamu yang, dan dia seneng banget,"
"Kamu udah bilang ke Bunda?"
"Udah dong, ini kan kabar bahagia, jadi Bunda musti dikasih tahu, terus nanti sore Bunda sama Cantika mau nginep disini katanya."
"Serius?" tanyanya sumringah.
"Beneran yang!"
"Bukannya Cantika lagi nginep dirumah Oma?"
"Semalam pulang, nangis mulu katanya dijailin abang kembarnya, rese emang tu bocah dua!"
"Jangan ngomong gitu ihs, pamali kalau kata orang tua mah!"
"Maksudnya?"
"Katanya kalau istrinya lagi hamil suami juga harus jaga ucapan maupun tingkah lakunya."
"Gitu ya yang?!"
"Ck, banyakin belajar lagi gih!"
"Iya deh iya!"
Ditempat lain sepasang manusia yang masih berbaring diatas ranjang, salah satunya mulai mengerjapkan matanya pelan, saat merasakan hangatnya sinar mentari yang masuk melalui celah jendela kamar tersebut.
Andra terbangun dari tidurnya, sembari memegangi kepala nya yang masih berdenyut nyeri, lalu menoleh kearah samping, saat merasakan ada sesuatu yang sedikit janggal disekitarnya.
Dan matanya sontak terbelalak lebar, saat mendapati seorang gadis yang tidak mengenakan busana, kini sedang terlelap di sampingnya.
Andra mengusap wajahnya kasar, sembari mengingat-ingat apa yang sudah terjadi semalam, dan hatinya berteriak frustasi, ketika ia mulai mengingat sedikit demi sedikit apa yang dilakukan nya tadi malam bersama gadis yang kini masih betah dengan mimpinya itu.
Dan perasaan nya semakin tak karuan, ketika mendapati bercak merah di atas sprei miliknya.
Hingga suara dering telpon yang berasal dari atas nakas membuyarkan lamunannya seketika, kemudian tangannya terulur untuk mengambil benda pipihnya lalu segera menekan layar pintar tersebut.
"Ayah?"
"Baiklah Andra segera kesana!" ucapnya yang kemudian menutup sambungan telponnya, bergegas memasuki kamar mandi.
Sebelum keluar dari apartemennya Andra menuliskan sesuatu didalam secarik kertas yang kemudian ia letakan diatas nakas.
Saya keluar sebentar, tolong tunggu saya!
__ADS_1
Saya akan segera kembali.
************
"Ayah?!" Andra memeluk Surya dengan penuh kerinduan, pasca perceraian dengan ibunya, ia memang tak pernah lagi bertemu dengan Surya, Andra terlalu malu dengan sikap ibunya yang hobi berselingkuh itu.
"Ini tempat kerja baru Ayah?" tanyanya, sembari melihat ke sekeliling ruangan tersebut.
"Iya, lumayan lah, untuk biaya hidup Ayah di masa tua."
"Ayo sini duduk!" Surya merangkul putra angkatnya itu menuju sebuah sofa yang terletak di ujung ruangan itu.
"Gimana yah, Ayah udah ketemu sama putri kandung Ayah?" tanyanya, sembari memainkan ujung balpoint yang ia ambil dari atas meja.
"Udah Ndra, ayah udah ketemu sama dia, namanya Kinar!"
Deg!
"K-kinar yah?"
"Iya namanya Kinar, dia cantik sekali persis ibunya, ayah yakin kalau kamu bertemu dengannya pasti jatuh hati, tapi sayang dia sudah menikah."
Deg!
"S-siapa nama suaminya yah?"
Deg!
"Nggak salah lagi!" ujar Andra tanpa sadar.
"Maksudnya gimana Ndra?"
"M-maksudnya ayah benar, kita menjalin kerja sama dengan orang itu." lanjut Andra, sementara Surya hanya mengangguk-anggukan Kepala.
"Nanti kalau Kinar ada waktu akan ayah kenalkan padamu!"
Glek!
Andra menelan salivanya susah payah, ayahnya tidak tahu, bahwa gadis yang di maksudnya adalah seseorang yang sudah membuat dirinya uring-uringan akhir-akhir ini, yang membuat ia jatuh cinta sekaligus patah hati disaat yang bersamaan.
"Kamu tidak ada keinginan untuk mencari calon pendamping Ndra, menikah misalkan, ayah rasa usia kamu sudah cukup untuk menikah, terlebih kamu sudah sangat mapan sekarang."
Deg!
Ucapan Surya tiba-tiba mengingatkan dirinya tentang kejadian tadi malam, haruskah ia menikah secepat ini, batinnya.
"Nanti akan Andra pikirkan yah!"
Setelah berpamitan dengan sang Ayah, Andra pun bergegas kembali ke Apartmen nya, hari ini pikirannya tengah kacau, dan ia sama sekali tak berminat untuk datang kekantor.
__ADS_1
Saat membuka pintu kamarnya, nampak Jihan masih di posisi yang sama, gadis itu belum juga bangun dari tidurnya, membuat Andra sedikit bernafas lega.
Dan sekarang ia sedang memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah ini, ia tak berniat lari dari gadis itu, sebagai laki-laki yang sudah dewasa Andra tak ingin menjadi seorang pengecut, ia akan mempertanggung jawabkan perbuatan bejadnya pada gadis itu.
Andra menjambak rambutnya frustasi, ia merutuki dirinya yang telah mendatangi tempat laknat tersebut.
Seharusnya ia tidak kesana malam itu, dan seharusnya ia tidak meminum minuman haram yang kini membuatnya berakhir dengan menodai seorang gadis yang sama sekali tak ia kenal itu.
"Argghh... brengsek!" Andra berteriak mengumpati dirinya sendiri, hingga tanpa sadar telah membangunkan seseorang yang masih berada diatas kasurnya.
"Aaaaa..!" Jihan berteriak saat menyadari ia sedang bersama seorang laki-laki asing dikamar yang sama, dan ia lebih histeris saat mendapati dirinya dalam keadaan polos, tanpa sehelai benangpun.
"Siapa lo, apa yang lo lakuin sama gue, dasar cowok brengsek!" Jihan memegang erat selimut yang menutupi tubuhnya hingga batas dada, kemudian melemparkan apapun yang berada di dekatnya, kearah Andra dengan membabi buta.
Sementara itu Andra hanya diam mematung di tempatnya, membiarkan Jihan melakukan apapun hingga dirinya puas dan akan berhenti dengan sendirinya.
Dan benar saja, setelah merasa lelah, Jihan Pun berhenti dengan sendirinya, berganti menunduk sambil menangis.
"Gue hancur, gue udah hancur Sekarang, hidup gue udah nggak ada artinya lagi!" ucapnya sambil terisak-isak.
Andra pun memberanikan diri untuk mendekati Jihan, "Saya minta maaf, ini semua diluar kendali saya, izinkan saya memepertanggung jawabkan semuanya." ucap Andra yang sontak membuat Jihan mendongak menatapnya.
"Maksud lo bertanggung jawab yang seperti apa?"
"Saya akan menikahi kamu."
Deg!
"Gue nggak mau nikah muda, gue masih sekolah, dan gue juga nggak kenal siapa lo!" balas Jihan garang.
"Saya akan kasih kamu waktu untuk mengenal saya lebih jauh, dan setelah itu saya akan segera menikahi kamu."
"Gue nggak mau nikah sama lo, gue cuma mau nikah sama cowok yang gue cinta!"
Andra menghela nafas berat, "Kamu pikir dengan keadaan kamu yang sekarang, laki-laki itu mau menikahi kamu?"
"Cukup tutup mulut, dan jauhi gue, dia nggak akan tahu apa yang terjadi."
"Tidak bisa, seumur hidup saya pasti akan sangat merasa bersalah, karena telah meninggalkan tanggung jawab saya, tolonglah mengerti!"
"Gue nggak hamil, dan gue nggak butuh tanggung jawab lo!"
"Tidak untuk sekarang, lalu bagaimana kedepannya, kamu harus tahu semalam kita sama sekali tak menggunakan pengaman!"
Deg..
.
.
__ADS_1