
"Dih bund lihat deh ayah penampilan nya udah kaya ABG aja ya, tapi ayah ganteng juga ya kalau begini!" ujar Satya saat melihat Ando baru saja turun dari tangga.
Sedangkan Nada, hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan putranya itu.
"Ayah ada reunian sama temen ngeband nya dulu, udah lama juga mereka nggak ketemu, kecuali om Ramon sama om Benny, mungkin mereka kangen ngumpul kaya dulu!" ucap Nada pada Satya.
"Wah, Satya boleh ikut nggak yah,?" ucapnya Antusias.
"Nggak usah, ini kan pertemuan orang tua, nanti kamu bosen lagi, terus ngerengek minta pulang." sambar Nada, yang sudah duduk terlebih dulu di meja makan.
"Nggak kok, nggak bakalan rewel janji deh yah!" Satya mengekor dibelakang Ando yang berjalan menuju meja makan.
"Boleh aja, kalau kamu mau, biar ayah ada temen ngobrol juga sih dijalan." sahut Ando, yang kini sudah duduk dan menikmati sarapan nya.
"Yee, thanks ayah, ayah emang yang terbaik!" ujar Satya dengan raut wajah ceria, sembari memeluk tubuh ayahnya.
"Udah sarapan dulu gih,"
"Siap bos!" Satya pun menarik kursi dan mulai memakan sarapannya dengan semangat.
"Cantika sama Satria mana?" tanya Ando.
"Cantika udah dijemput Oma kali yah, tadi pagi! kalau si Satria kaya ayah yang nggak tahu aja tuh anak kan kalau hari minggu nyamperin pacar-pacarnya."
"Tuh anak susah banget emang dibilangin, masih kecil kerjaannya pacaran mulu, nurun dari siapa sih!" sambar Nada yang baru saja kembali dari belakang membawa nampan yang berisi 3 gelas susu.
"Ayah duwlu gimhanah bun, bahnyak nggak pahcarnya?" ucap Satya dengan mulut penuh.
"Tanya aja sendiri sama ayah!"
"Gimana yah, banyak nggak?" lanjutnya, setelah menelan makanannya.
"Ck, ayah kan udah pernah bilang ayah itu nggak punya pacar, selain pacar halal, bunda kamu ini." melirik Nada sembari tersenyum manis.
"Lah terus Satria playboynya nurun dari siapa?" ucap Satya,
sedangkan Nada dan Ando menggidikan bahu bersamaan.
"Jangan-jangan si Satria ke tuker kali bun waktu dirumah sakit."
"Hushhh.. ngaco kamu ini, mana ada ketuker wajahnya persis kaya kamu, yang sama-sama mirip ayah!" ucap Nada sembari menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Hehe iya juga ya!" balasnya sembari menyengir kuda.
....
"Masih jauh yah?" tanya Satya setelah melakukan perjalanan selama 20 menit.
"Bentar lagi kok,"
"Nah itu dia mereka, yuk turun!" ujar Ando setelah memarkirkan mobilnya, didepan studio musik miliknya dulu.
"Wohooo... akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga!" ujar Danang, dan langsung merangkul bahunya antusias.
"Gila, parah! makin dewasa lo malah makin hot begini ya An, gantengan aslinya di banding yang di Foto?" ujar Pandu.
"Biasa aja ah!" balas Ando sembari terkekeh, dan mulai memeluk sahabatnya satu persatu.
"Agil, gimana gil, persalinan anak kedua lo lancar?" tanya Ando, karena bulan lalu ia sempat mendengar bahwa Marissa tengah hamil tua.
"Lancar An, lancar!"
"Lo gimana Pan, jadi nikahin anaknya pak camat itu?"
"Ck, susah banget minta restu orang tuanya, apa lagi lo tahu sendiri lah keadaan gue, yang berstatus duda anak satu, sedangkan si Nissa masih single, umurnya baru 28 tahun lagi, terpaut 10 tahun cuy sama gue!" balas Pandu, tak bersemangat.
Satya terbengong, saat melihat interaksi ayah dan teman-temannya, begitu santai, tanpa adanya bahasa Formal, dan sangat begitu berbeda, dibandingkan saat keseharian nya dirumah, dan tentu saja menjadi hal baru yang ia ketahui didalam kepribadian sang ayah.
"Eh itu anak lo An?" ujar Danang saat menyadari ada seorang anak remaja yang yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Eh iya," Ando menarik tangan Satya dan membawanya kedepan sahabat-sahabatnya."
"Kenalin ini Satya anak gue, sebenernya sih kembar, tapi yang satunya nggak ikut."
"Salim sama mereka gih!" ucapnya pada Satya, Satya pun menurut, dan mulai menyalami mereka satu persatu.
"Ganteng banget anak lo An, gue tuh kaya terkenang lagi ke masa lalu, persis lo banget nggak sih?" Ujar Agil, yang kini tengah mengusap lembut kepala Satya.
"Ada yang lebih plek ketiplek, si El-Syahki tahu kan, anak pertamanya?" timpal Ramon, yang memang sudah bertemu El beberapa kali, karena Ramon dan Benny kini bekerja diperusahaan milik Ando.
"Eh tunggu tunggu, lo punya anak berapa sih emangnya?" ujar Danang, karena ia yang paling tidak tahu tentang kehidupan sahabat-sahabatnya kini, karena semenjak ia sarjana, ia pun memutuskan untuk menikah dan menetap di Yogyakarta, dan menggantikan kakeknya meneruskan perusahaan nya.
"Anak gue udah empat, yang pertama, cowok, kedua kembar cowok, nah yang ketiga baru cewek, jadi totalnya ya empat!" balas Ando, sembari terkekeh.
__ADS_1
"Gila, rekor banget nggak sih, muka keren begini anaknya udah empat, tapi Seneng banget sumpah gue dengernya, elo tuh kek yang gampang gitu ya, punya anak, nah kemarin gue udah 7 tahun married, baru dikasih kepercayaan, dan sampe sekarang gue masih berusaha, buat dapetin anak kedua!"
Jelas Danang.
"Gue do'ain semoga lo segera dikasih kepercayaan lagi!" ujar Ando menepuk bahunya.
"Aamiin bro, Aamiin!"
"Kagak ada niatan nambah An, entar kalah rekor lo sama gue, tahu sendiri kan gue juga udah punya 3 buntut." ujar Benny seraya menahan tawa.
"Kagak, sekarang gue lagi menanti cucu aja!" yang sontak membuat semuanya saling pandang, dengan dahi menggerenyit bingung.
"Biasa aja dong mukanya!" ujar Ando sambil tergelak, kemudian Ando menghela nafasnya.
"Sorry gue belum sempet cerita, anak pertama gue si El udah married."
"Hah?"
Ramon yang sedang duduk diatas motornya pun hampir terjungkal, jika Benny tidak menahannya.
"Seriusan nih bocah, bercanda lo ya?" ujar Benny yang juga tidak mengetahui apapun, meski setiap hari mereka bertemu di perusahaan.
"Serius gue!"
"Kok bisa, kecelakaan apa gimana?" timpal Pandu tak percaya.
"Nggak nggak, sama sekali bukan karena itu, El sengaja dinikahin sama cucu dari sahabat mertua gue!"
"Wah gila, bentar lagi jadi opa nih!? " cibir Pandu.
"Kasian banget tuh bocah, masih sekolah kan?" Giliran Danang yang menyahut.
"Masih lah, baru kelas XII."
"Eh kok, ceritanya jadi sama kek lo dulu nggak sih, nikah pas masih sekolah, emang bener kata pepatah ya, kalau buah jatuh itu nggak jauh dari pohonnya." Danang tersenyum geli.
"Jangan lupa, kalau ada resepsinya lo undang gue!" lanjut Danang.
"Siap, semuanya bakal gue undang, eh ngomong-ngomong sampai kapan nih mau berdiri disini terus, cari tempat makan yuk, lagi kasian anak gue nih!" ujar Ando melirik putranya yang mulai terlihat bosan.
Mereka pun bergegas mencari Cafe, untuk makan, sambil mengobrol santai.
__ADS_1
.