
"Kak, semalem ada yang godain nggak?" celetuk Satria pada Kinar, ketika pagi ini mereka sedang berkumpul dimeja makan, untuk sarapan bersama.
"Semalem ada yang ketar-ketir lho kak, nungguin kak Kinar pulang, sampe-sampe bunda aja pusing ngelihatnya." Timpal Satya, yang langsung meringis karena kakinya diinjak seseorang.
"Tanya aja sama Kinar, semalem ada yang godain nggak, kalau setahu ayah sih, si Andra aja anak tirinya pak Surya semalem minta nomor handphonenya Kinar lho, iya kan Nar?"
ucap Ando, yang membuat Kinar menelan makanannya susah payah.
"Wah, bakalan ada yang kesaing nih!" lagi-lagi Satria mencibir.
"Tuh denger El, bunda bilang juga apa, jangan ketus-ketus sama istri, karena yang suka sama Kinar itu banyak, istri kamu di ambil orang aja, baru tahu rasa nanti." ujar Nada, memanasi putra sulungnya tersebut.
"Terus buat kamu Satria, jangan main pacar-pacaran terus, sekolah yang bener, ingat lho kamu itu baru kelas IX, masih kecil, belum waktunya buat pacaran,!" ujar Ando memperingatkan.
"Denger tuh, makanya jangan bangga punya banyak pacar!" bisik Satya dengan nada mengejek.
....
Saat didalam perjalanan menuju Arsenio Cafe, El nampak diam, tak mengucap satu patah katapun, matanya lurus, fokus melihat kearah depan, dengan tangan yang mencengkram erat kemudi.
Tidak seperti biasanya memang, El membawa mobil saat sekolah, karena selama ini ia lebih suka menaiki motornya kemanapun ia pergi, dengan alasan praktis dan hemat waktu.
"El?" ucap Kinar, karena El tak kunjung melirik kearahnya saat mobil itu sudah berhenti ditempat biasanya Kinar turun.
"Saya pamit ya!"
"Tunggu!" El menarik tangan Kinar, yang hendak membuka pintu mobil.
"K-kenapa?"
Tanpa menjawab pertanyaan dari Kinar, El segera menarik tubuhnya kedalam pelukannya.
"Hati-hati!" ucapnya setelah mencium keningnya lama.
"Entar sore gue jemput!"
"I-iya!" Kinar turun dari mobil dengan tubuh yang mendadak lemas, pasalnya pagi ini ia disuguhkan dengan sikap El yang begitu manis dan tak biasa tentunya.
....................
"Sore-sore jalan yuk, kemana kek gitu, bosen tahu nggak sih dirumah mulu, please deh tiang listrik aja diluar kali bro! " keluh Bian pagi ini.
"Ajak aja cewek lo jalan, apa susahnya coba!" Yoga memberi saran.
"Itu dia masalahnya, kalau cewek yang ngajak jalan, ujung-ujungnnya malah tambah ngebosenin, cewek itu pengenya kalau jalan tuh keMall, butik, terus yang lebih parahnya nih ya, ujung-ujungnnya itu pasti minta dibayarin, plus minta dibawain, Bt kagak tuh!"
"Ya itu sih resiko!"
"Kagak kagak, pokoknya, gimana kalau entar malem kita nongkrong, pada setuju kagak lo berdua."
__ADS_1
"Kagak!" ucap keduanya bersamaan.
"Elaahh, lo berdua pada kenapa sih sekarang, kalau diajakin jalan pada kagak mau mulu deh!" decak Bian.
"Sorry ian gue punya urusan lain, akhir-akhir ini." sahut El.
"Tahu gue, si Kinar kan?"
"Itu tahu, kenapa lo nanya?!"
"Ck!"
"Kalau lo kenapa ga?"
"Ada deh!"
"Anjiirr"
.................
Hari mulai sore, dan sudah saatnya para karyawan Cafe untuk pulang, Cafe yang satu ini memang tidak buka hingga malam, dikarenakan karyawannya yang memang terbatas, terlebih di area ini memang tidak terlalu ramai pengunjung jika malam hari.
Berbeda jika disiang hari, karena banyaknya anak-anak sekolah yang nongkrong disana.
"Nar, aku duluan ya!" ujar Mia, yang sudah di jemput adik laki-lakinya.
"Iya Mi hati-hati!"
"Gue anterin pulang ya Nar, udah lama lho kita nggak pulang bareng." ujar Agung, yang berjalan disamping Kinar.
"Eh, nggak usah gung, aku ada yang jemput."
"Siapa?"
"Ada deh pokoknya."
"Nar?"
"Kenapa gung?"
"Minggu depan lo ada waktu nggak, gue mau ngajakin lo kesuatu tempat, atau kemanapun yang lo mau."
"Minggu depan ya, aduh kayaknya aku nggak bisa deh gung, soalnya minggu depan ada acara."
"Yaudah nggak apa-apa, tapi lain waktu bisa kan?"
"Euhmz gimana entar aja ya."
"Ok."
__ADS_1
Setelah kepergian Agung, Kinarpun mulai berjalan menuju ruko, ke tempat biasa El menjemputnya.
Dan benar saja, mobil yang dibawa El tadi pagi sudah terparkir disana.
"Buruan, masuk!" ujar El, sembari membukakan pintu untuk Kinar.
Hening..
Meski perasaan Kinar sedikit gelisah, karena tidak tahu El akan membawanya kemana saat menjemputnya sore ini, ia tetap diam, tak berani untuk bertanya, terlebih melihat raut wajah El yang kembali berubah dingin dan datar.
Hingga mobil yang dikendarai El berhenti didepan sebuah Apartemen.
"Ayo!" El menarik paksa tangan Kinar agar mengikutinya.
"Nggak usah ditarik-tarik gini dong El, sakit!" ujar Kinar dengan suara lirih, sembari meringis kesakitan, pasalnya cengkraman tangan El ditangannya begitu kuat, terlebih El berjalan dengan langkah lebar dan tergesa-gesa, hingga tubuhnya hampir terseret karena tak mampu menyamai langkahnya.
Namun El tak menghiraukan ucapan serta rintihan Kinar yang memohon, untuk minta dilepaskan.
Kemudian El memasuki lift dan menekan tombol dengan angka yang akan membawanya ke lantai 17, dengan tidak sabaran.
. .
El mendorong tubuh Kinar hingga terduduk di atas sofa, setelah ia membuka pintu apartemennya, lalu memasuki kamar mandi, tanpa mengucapkan satu patah katapun.
Didalam kamar mandi El menjambak rambutnya berulang kali, ia bingung harus bersikap bagaimana pada istrinya, sulit ia percaya bahwa beberapa hari ini gadis itu sudah berhasil mengganggu dan memenuhi pikirannya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, El keluar dari kamar mandi, dan ia tertegun saat mendapati istrinya tengah menangis tersedu-sedu, diujung sofa.
Ia pun bergegas menghampirinya, dengan langkah ragu.
"Nar?" ucapnya yang langsung membuat Kinar menoleh kearahnya.
"G-gue minta maaf soal tadi." El menyentuh sebelah tangannya yang kemudian ditepis kasar oleh Kinar.
"Nar, sorry G-gue nggak bermaksud kasar tadi."
"Terus apa?" bentak Kinar, yang membuat El seketika terdiam, tidak menyangka bahwa gadis manis yang selama ini dikenalnya pendiam, kini berani untuk membentaknya.
"Kamu tahu nggak sih El, kalau kamu tuh nyebelin banget, dikit-dikit baik, dikit-dikit marah, dasar suami SMA labil!" ujar Kinar, mengeluarkan seluruh unek-uneknya, dengan suara yang masih terisak-isak, yang tanpa sadar membuat El terkekeh geli.
El menarik Kinar kedalam pelukannya, kemudian mencium puncak kepalanya berulang-ulang.
"Sorry Nar, gue akuin gue salah, nggak seharusnya gue marah-marah sama elo kaya tadi, gue kaya gitu, karena gue nggak terima lo Deket-deket sama cowok lain, selain gue,"
"Gue sayang sama elo Nar!"
"Bohong!"
"Bilang ke gue, gue harus buktiin dengan cara apa?"
__ADS_1
"Kenapa harus nanya, kenapa nggak mikir sendiri!" ucap Kinar sembari mengulum senyum, dengan wajah yang ia sembunyikan di dada El."
..