Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Bertemu Frans


__ADS_3

Pagi-pagi sekali El dan Kinar pun kembali ke Jakarta, sesuai rencana, El sempat ingin melanjutkan liburannya, namun Kinar menolak, karena baginya menemui sahabat El lebih penting dari pada liburannya.


"Bobo aja sayang, nanti aku bangunin kalau udah nyampe rumah!" ucap El yang merasa kasihan melihat istrinya menguap beberapa kali.


"Hmm, boleh emangnya, kamu nggak kesepian?" ujarnya dengan suara serak.


Sebelah tangan El terangkat, mengusap Lembut kepala istrinya. "Nggak apa-apa sayang, bobo ya?" ucapnya yang kemudian diangguki oleh Kinar.


Mobil El pun akhirnya sampai di depan rumahnya, setelah menempuh perjalanan selama 2,5 jam lamanya.


"Yang, bangun! sayang?" El berusaha membangunkan Kinar, namun gadis itu hanya menggeliat pelan, sama sekali tak terganggu dengan tangan El yang menepuk pipinya berulang kali.


Dipandanginya wajah Kinar, lalu dirapikan nya rambut Kinar yang sedikit Acak-acakan.


"Lagi tidur aja cantik banget sih, aku tuh jadi makin sayang tahu nggak?" gumam El, sembari mendaratkan satu ke cupan hangat di dahinya, sebelum kemudian menggendong tubuh mungil itu hingga kekamarnya.


Setelah merebahkan tubuh Kinar di atas kasur dengan penuh kehati-hatian, El pun segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, dan saat ia keluar Kinar sudah bangun, duduk di sisi ranjang, dengan wajah bingung.


"El kok aku nggak di bangunin sih,?" rengek Kinar.


"Mau aku bangunin nggak tega, jadi aku gendong aja sampe sini!" balasnya seraya terkekeh.


"Kamu gendong aku sampai sini?"


El mengangkat sebelah alisnya, "Menurut kamu?"


"Maafin aku udah ngerepotin, pasti berat ya!" tanpa sadar Kinar pun memeluk tubuh El yang hanya menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya, dan wajahnya berubah merona saat merasakan sesuatu yang mengeras di balik handuk yang dikenakan El tersebut.


Gegas ia beranjak berlari ke kamar mandi, karena khawatir membangunkan sesuatu yang akan menyerangnya sewaktu-waktu, sedangkan El hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya sambil terkekeh geli.


"Aku boleh ikut nggak?" ucap Kinar, setelah selesai mandi dan mengenakan pakaiannya, memeluk tubuh El yang sudah berpakaian rapi dan kini sedang menyisir rambutnya.


"Tumben mau ikut, biasanya kalau di ajak juga kadang mau kadang nggak?"


Kinar sama sekali tidak berniat melepaskan pelukannya dari El, justru kini semakin mengeratkan nya, ia sudah mengesampingkan malunya, entah mengapa ia ingin terus berdekatan dengan El, seolah El memiliki magnet kuat yang membuatnya ingin terus menempel di tubuhnya.


Alih-alih merasa kesal, justru hal itu membuat El merasa sangat senang, dan berharap perasaan nya tidak salah, bahwa kini Kinar benar-benar sudah mencintainya.


"Lagi pengen ikut aja, emang nggak boleh?" mata Indah itu kini menatapnya cemas.


"Siapa yang bilang nggak boleh, boleh dong!"


"Tapi katanya perginya sore?"


"Nggak jadi, kalau sore si Yoga ada urusan, biasalah nganterin ibunya belanja."


"Tapi bajunya di ganti ya sayang, jangan pake yang ini!" ucap El sembari menyentuh ujung dress yang dikenakan Kinar.


"Emangnya kenapa, ini masih baru kok, nggak jelek!"

__ADS_1


"Bukan itu, tapi bajunya terlalu ngetat, terlalu pendek juga." protesnya.


"Ini tuh nggak pendek El," Kinar menunjuk ujung dress nya yang tepat berada di lututnya.


"Cari yang dibawah lutut, atau semata kaki!"


Ck!


Tanpa berkata apa-apa lagi gegas Kinar pun mengganti bajunya sesuai keinginan El, yang membuat El tersenyum senang.


"Penurut banget sih, jadi makin sayang kan aku." El hendak menempelkan bibirnya namun tangan Kinar sudah lebih dulu menahannya.


"Kenapa?" ucap El dengan dahi berkerut.


Kinar mendelik, "Kamu tuh kalau cium suka keterusan, ujung-ujungnya minta yang lebih, terus nggak jadi deh keluarnya." ujar Kinar mengerucutkan bibir membuat El tergelak keras.


"Gemesin banget sih sayang, yaudah yuk sekarang kita berangkat, sebelum aku bener-bener buktiin ucapan kamu." lanjut El di sela kekehannya.


***********


"Pake mobil aja ya!"


"Biasanya pake motor?"


"Kamu pake dress gitu sayang, aku nggak rela tubuh istriku jadi bahan tontonan orang-orang." balasnya seraya membukakan pintu untuknya, sedangkan Kinar mengulum senyum dengan sikap suami SMA nya itu, yang semakin hari sikapnya semakin manis padanya.


El melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ArsenioCafe letaknya memang tidak jauh, hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk menempuhnya.


Bian, Yoga, dan juga Frans, tampak sudah berada disana, dan telah menghabiskan separo makanan yang dipesannya, untuk sarapan pagi ini.


"Anjirr yang ditungguin dateng juga, lama banget sih lho!" ucap Bian dan beranjak dari duduknya.


"Lo bawa cewek lo juga?" sambung Yoga, melirik kearah Kinar yang tersenyum canggung.


"Seru nih, jadi tambah seger suasananya, nggak sih?!" lanjut Yoga.


"Kagak usah godain cewek gue!"


"Iya iya, posesif amat sih lo, kalau gue jadi lo mungkin gue juga iya!" balasnya yang kemudian terkekeh sendiri.


"Eh Frans, gimana kabarnya, kangen banget gue sumpah!" ujar El yang kemudian memeluk sahabat lamanya itu.


"Gue juga kangen banget sama lo, sorry ya liburan lo sampe harus ke ganggu kek gini, gue pengen banget ketemu lo soalnya, sahabat gue yang paling cakep se SMP Pelita." balas Frans sambil terkekeh.


"Bisa aja lo, kagak nyangka juga sih wujud lo berubah 100% gini, udah mirip bule aja lo sekarang." lanjut El setelah memperhatikan tubuh Frans yang jauh berbeda saat terakhir bertemu dengannya 3 tahun yang lalu.


"Anjir wujud, lo kira gue apaan!" ucapnya yang kemudian ikut terkekeh.


"Oh iya, kenalin nih cewek gue,"

__ADS_1


"Sayang, kenalin ini Frans temen lama aku!" El merangkul bahu Kinar agar sejajar dengannya.


Deg!


"K-kinar!" Kinar mengulurkan tangannya kearah Frans.


"Frans!" balasnya, dengan tatapan penuh arti, sembari meremas pelan tangan Kinar.


"Cewek lo cakep, lo beruntung banget bisa dapetin dia El!" ucapnya tanpa mengalihkan tatapannya dari Kinar.


Sedangkan Kinar, ia berusaha untuk tidak terlihat gugup dihadapan El.


"Yaudah yok sarapan dulu, abis itu kita bisa lanjutin ngobrolnya." ujar Bian, yang membuat Kinar merasakan sedikit lega.


"Lo bertiga boleh pesen apa aja, kagak usah bayar, Hitung-hitung gue yang neraktir lo bertiga." ujar El sembari mulai mengambil salah satu buku menu yang diberikan nya pada Kinar, dan perhatian kecil yang diberikan El pada Kinar, tak luput dari pandangan Frans walau sedetikpun.


"Gue punya berita baru nih El, lo tahu si Yoga udah jadian sama si Lana?" Ujar Bian, setengah berbisik.


"Lana anaknya pak Hendra guru BK itu, seriusan lo Ga, udah kuat mental lo deketin anaknya, apalagi ini sampe pacaran, kalau bener wah gila keren, salut gue!" ucap El tak percaya.


"Ck, yang namanya cinta itu ya harus di perjuangin, dan dari awal gue udah siap nanggung resikonya." Balas Yoga dengan kepercayaan dirinya yang tinggi.


"Terus pak Hendra udah tahu kalau elo sama anaknya pacaran?" lanjut Bian penasaran.


"Belum sih!"


"Ck, Siap-siap aja lo!" sindir Bian.


"Elo sendiri gimana Frans, lo udah punya pacar?" ujar Bian, yang seketika membuat Frans mengalihkan pandangannya dari wajah Kinar.


"Ah eumz, lo ngomong sama gue?" jawab Frans sedikit gelagapan.


"Kagak, gue nanya gelas yang ada di depan gue nih!"


Frans tergelak, "Nasib gue kurang beruntung bro, dulu sebelum gue pergi ke London, gue nyatain perasaan gue sama cewek yang gue suka dari sejak kelas VIII, dia bilang dia butuh waktu, terus gue sempet balik kesini satu tahun yang lalu, dia bilang dia belum siap pacaran karena masih trauma, tahu-tahunya pas ketemu lagi udah bawa gandengan, sakit nggak tuh!" ujar Frans panjang lebar, dan melirik kearah Kinar yang juga tengah menatapnya gugup.


"Udah bro, ikhlasin aja, cewek masih banyak kali!" sahut Yoga.


"Bener tuh, mau gue bantu cari?" tawar Bian.


"Sok-sok an mau bantu nyari cewek lagi, lo sendiri aja sampe sekarang statusnya masih jomblo!" timpal El.


"Anjirr, lo kalau ngomong bohong dikit napa El,"


"Biar apa?"


"Biar gue seneng gitu!"


Ck!

__ADS_1


.


.


__ADS_2