
"Elo ngerasa aneh nggak sih sama tuh cewek, gue perhatiin beberapa hari ini dia kelihatan murung gitu, nggak sih?" ujar Yoga yang kini tengah menikmati minuman kaleng dingin di kantin sekolah saat jam istirahat, Bian yang berada di sampingnya pun sontak mengikuti arah pandang Yoga.
"Maksud lo titisan dewi ular?" balas Bian, dengan tangan yang menunjuk kearah Jihan dan kedua temannya.
"Siapa lagi, lo tahu sendiri kan biasanya tuh cewek biang rusuh, apa lagi kalau deket sama si El, bawaannya nemplok terus kaya ulet."
"Iya juga sih, napa ya tu cewek!"
"Ck, ditanya malah balik nanya lagi, kamvret lo emang!" Yoga berdecak kesal, sembari beranjak kembali mengambil minuman kaleng keduanya pada pemilik kantin.
"Entar siang lo berdua pada kemana, ada acara kagak, main yok bosen gue jadi anak rumahan terus, sekali-kali keluar kek, siapa tahu nemu yang bening-bening ya kan?" lanjut Yoga penuh semangat.
"Boleh, ide bagus tuh, kalau lo gimana El?" Bian menyentil kening El yang sejak tadi hanya diam, dan lebih banyak melamun.
"Oh eh, G-gue, sorry gue kagak bisa keknya."
"Napa lo, masih sibuk sama kerjaan, Ck susah emang ya kalau temenan sama jiwa pebisnis kek lo, otaknya isinya saham semua iya nggak Ga?" cibir Bian, dengan tawa garingnya.
"Duh elah, harusnya sih kita berdua contoh si El Ian, jadi pebisnis, sukses di usia muda, cakep lagi, kagak bakal deh yang namanya susah dapetin cewek, yang ada cewek-cewek tuh yang ngejar-ngejar, keren nggak sih?" balas Yoga sembari membayangkan ucapan nya sendiri.
"Ck gaya lo, jadi gimana nih, mau maen apa kagak sih?"
"Sorry Ian, sebenarnya sih ini bukan soal kerjaan." El kembali bersuara.
"Lah terus?"
"Cewek gue ngambek,"
"Gue tahu nih kenapa si cantik ngambek, pasti lo kebanyakan ditempat kerjaan kan, terus lo lupa perhatiin dia, bener kagak ucapan gue!"
"Iya sih!" balas El lirih.
"Beuuuh, nah kan bener!" Bian merangkul bahunya, "Eh El, lo denger ya, menurut pengalaman pribadi gue nih ya, cewek itu perasaan nya Lembut, jadi kek sensitif gitu, kalau lo sedikit aja bikin dia kesel, wah berabe entar, bisa-bisa dia ngamuk dan kagak mau ngomong berminggu-minggu."
"Sok tempe lo!" sambar Bian, dengan sedikit mendengus, mendengar ucapan sok bener dari mulut sahabat nya.
"Ye,, dibilangin juga!"
"Kagak percaya gue, soalnya yang gue tahu elo tuh kagak pernah pacaran."
__ADS_1
"Ck!"
**********
Sepulang sekolah siang ini El tidak berniat mampir kemanapun, karena memang seluruh pekerjaannya sudah hampir selesai semua.
Hari ini ia ingin lebih memperhatikan Kinar, terlebih saat mengingat Kinar yang menangis tadi malam, membuat perasaannya kini berdenyut sakit.
El memarkirkan motornya dihalaman rumahnya, dan bergegas masuk kedalam.
"Kinar dirumah kan bi?" tanyanya, pada bi Rumi yang sedang menyiapkan makan siang.
"Eh, si Aden udah pulang, ada kok den, tapi dari pagi nggak mau makan den!"
"Nggak mau makan bi, kenapa?" lanjut El sedikit panik.
"Aduh bibi nggak tahu den, tapi bibi perhatiin non Kinar sering melamun."
"Yaudah bi kalau gitu saya ke kamar dulu ya."
"Baik den, silahkan!"
El meletakkan tasnya, dan melangkah pelan memeluk tubuh Kinar dari belakang.
"Aku pulang sayang!" ucapnya dengan suara lirih, memejamkan mata menikmati kenyamanan yang tak tertandingi saat memeluk tubuh istrinya.
Kinar bergeming di posisinya, enggan protes atau bergerak, dan masih dengan tatapan kosongnya.
"Yang?"
"Aku minta maaf sayang, aku sadar selama beberapa hari ini udah nyuekin kamu, dan lebih banyak menghabiskan waktuku di tempat kerja itu semua karena aku nggak_"
"Kamu jahat!" sergah Kinar, berbalik menatapnya dengan air mata yang sudah berurai.
"S-sayang!"
"Kamu jahat El, aku benci kamu!" pekiknya, sembari memukuli dada El, mengeluarkan segala rasa yang terpendam dalam hatinya beberapa hari inii, sedangkan El hanya mematung, memilih diam, membiarkan istrinya melampiaskan kekesalannya padanya.
hingga ia merasa cape sendiri, terjatuh lalu duduk diatas lantai.
__ADS_1
"Maaf sayang!" El berusaha membantu Kinar untuk berdiri, namun tangannya di tepis kasar oleh Kinar, akan tetapi El tak mau menyerah ia menggendong paksa tubuh Kinar dan merebahkannya diatas kasur.
Kinar beranjak, memposisikan tubuhnya untuk duduk disisi ranjang, dengan suara yang terisak-isak.
Begitupun dengan El yang kini ikut duduk disamping Kinar, diraihnya satu tangan mungil milik Kinar, kemudian ia Menggenggamnya lembut, dan menge cupnya berulang kali.
"Maaf, maaf, sayang maaf!" ucapnya, terus menerus.
Lalu setelahnya suasana pun mendadak hening, Kinar diam dengan pikiran nya sendiri, sedangkan sejak tadi El terus mencari cara agar Kinar mau berbicara lagi dengannya.
"Sayang mau kemana?" tanyanya, saat melihat Kinar beranjak dari duduknya, dan berjalan kearah lemari bajunya, mengambil salah satu dress miliknya, kemudian memasuki kamar mandi, tanpa menjawab pertanyaan dari El.
"Yang mau kemana?" ucapnya mulai panik, saat Kinar sudah keluar dari kamar mandi dan menguncir rambutnya rapih.
"Sayang tunggu dong, mau kemana sih?" El terus mengejar langkah Kinar yang kini terus berjalan keluar dari kamarnya, menuruni tangga, dan langkahnya semakin cepat membuka pintu gerbang rumahnya, lalu menaiki sebuah Taxi yang tidak El ketahui sejak kapan istrinya itu memesannya.
El mengacak rambutnya frustasi, saat ia gagal menghentikan Taxi yang ditumpangi istrinya, ia pun berlari kecil menuju halaman rumah lalu menaiki motor miliknya, dan bergegas mengejar Kinar, namun terlambat saat sampai dijalan raya Taxi yang ditumpangi Kinar sudah tak terlihat lagi, membuat El mengumpat berulang kali.
**********
"Yaampun nak, bunda kangen banget deh sama kamu, maaf ya bunda belum sempat nengokin lagi, bunda sibuk banget akhir-akhir ini maaf ya sayang, terus ini si El nya kemana?"
"Umm, Kinar pergi sendiri bund naik Taxi!" ujar Kinar setelah menyalami ibu mertuanya tersebut.
"Sendiri, Ck gimana sih anak itu bisa-bisanya istrinya pergi nggak dianterin, udah tahu baru sembuh!" gerutu Nada.
"Nggak apa-apa bun, Kinar udah sehat kok!"
"Nggak nggak, pokoknya nanti bunda bakalan omelin tuh anak."
"Bunda please, Kinar kesini mau minta pendapat bunda!"
"Hah, pendapat soal apa sayang?" Nada pun menggiring Kinar berjalan menuju sofa yang berada di ruang tamu, lalu ia bergegas mengambil minuman di belakang.
"Jadi apa, Kinar mau minta pendapat apa sama bunda?" ujarnya, sembari meletakkan minuman dihadapan Kinar.
"Minum dulu sayang!"
"Iya bun, makasih ya maaf Kinar ngerepotin." ucapnya tak enak hati.
__ADS_1
"Sama sekali nggak repot sayang, jadi gimana, ayo cerita sama bunda nak!"