Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Berubah


__ADS_3

"Yang, ini ada titipan!" ujar El, ketika ia sedang mengganti bajunya sepulang sekolah siang ini.


"Dari siapa?" tanya Kinar, yang kini sedang membolak-balikan Amplop coklat besar yang diberikan El padanya.


"Dari kakek kamu,"


"Kakek siapa, yang mana?"


"Itu lho, kakek Adiguna."


"I-isinya apaan?"


"Itu amanat dari kakek kamu buat kamu sayang, aku nggak berani Buka-buka, jadi aku nggak tahu isinya apa."


"Kapan kamu ketemu sama dia?"


"Waktu kamu masih koma dirumah sakit."


"Kok dia bisa tahu kalau aku di rumah sakit?"


"Ck, kamu lupa ya, kalau kamu jadi begini karena nolongin dia." Ujar El, yang membuat Kinar berpikir seketika, mengingat-ingat kejadian sebelum ia mengalami kecelakaan satu minggu yang lalu.


"Kakek Adiguna sama kakek Hardi, belum siap ketemu kamu lagi katanya yang, karena mereka merasa sangat bersalah karena udah menjadi penyebab kamu celaka."


"Dan soal penabrak kamu, maaf banget ya sayang, karena sampai sekarang aku belum nemuin siapa pelakunya." lanjut El dengan raut wajah yang penuh penyesalan.


"Nggak apa-apalah El, jangan terlalu dipikirin, lagian kan aku juga udah sehat lagi kan sekarang?"


"Bukan masalah soal sehat atau nggak nya yang, tapi ini_"


"El, please!"


"Yaudah, aku nggak bakal bahas lagi soal itu,"


"Udah makan siang, minum obat?"


Kinar menggeleng, sembari tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Tunggu bentar ya, aku ambilin dulu makannya."


"Hmmm!"


10 menit kemudian, El kembali ke kamarnya dengan membawa nampan yang berisi sepiring nasi dan satu gelas air putih untuk Kinar.

__ADS_1


"Aku suapin ya?"


"Aku bisa sendiri El, kan yang sakit itu kepala, bukan tangan!"


"Pokoknya aku yang suapin!"


"El?" rengek Kinar.


"Katanya janji mau jadi istri penurut?"


Akhirnya Kinarpun hanya bisa pasrah, dan menerima suapan demi suapan makanan yang diberikan El, hingga tandas tak tersisa, lalu meminum obatnya, yang juga di bantu oleh El.


Setelah menyimpan piring dan gelas bekas makan Kinar, El pun kembali ke kamarnya dan menghampiri Kinar, yang kini duduk bersila diatas kasur.


"Sayang, aku punya sesuatu buat kamu," ujar El mengeluarkan sebuah kotak sedang dari dalam tas sekolahnya.


"Apa ini?" Tanyanya saat memegang kotak tersebut yang diberikan El, yang dibungkus dengan kertas kado bergambar bunga-bunga.


"Buka aja." jawabnya santai.


"Handphone!" ujar Kinar yang kini menatap El, sesaat setelah membuka kotak tersebut.


"Maaf ya sayang, aku bingung musti ngasih kamu hadiah apa, mau ngasih kalung, udah pernah, jadinya ya aku beliin kamu handphone baru aja." ujarnya sembari menggaruk tengkuknya.


"Makasih banyak ya hadiahnya, tapi lain kali nggak usah beliin aku hadiah kaya gini El,"


"Kenapa, nggak suka ya?" raut wajah El sudah berubah murung.


"Bukan gitu!" Kinar beringsut mendekati El yang duduk dihadapannya.


"Kamu nggak perlu kasih aku barang mewah atau apapun, karena aku udah merasa cukup dengan memiliki kamu yang selalu berada disamping aku El,"


El terdiam, namun detik kemudian ia menyunggingkan senyum seraya membalas pelukan istrinya.


"Aku sayang kamu El."


Lagi-lagi El tersenyum, menggambarkan perasaannya yang sedang bahagia saat ini.


*************


Dua minggu setelah Kinar pulang kerumah, El sama sekali tidak pernah memeluk atau menciumnya saat hendak tidur, meski di pagi hari ia tak lupa untuk pamit dan berprilaku manis terhadapnya, namun ia lebih sering pulang malam, dan terkadang ia pulang, saat Kinar sudah tertidur, dengan alasan banyak pekerjaan yang tidak bisa ia tunda.


Dan perubahan El tentu membuat Kinar bertanya-tanya dan menganggap El telah berubah, dan berpikir bahwa El kini sudah tak menginginkan nya lagi.

__ADS_1


Malam ini Kinar merasa gelisah menatap jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 22:00 malam, namun kini suami mudanya itu tak kunjung pulang, membuat perasaan nya di penuhi kecemasan, dan tanpa sadar ia meneteskan air mata, dan semakin lama, Isakan-isakan kecilpun mulai terdengar.


Bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka, menampilkan sosok El dengan baju kotor dan wajah lelahnya, ia mengerjap bingung menatap istrinya yang sedang sesenggukan sembari mengusap air matanya yang terus keluar.


El melangkah panik menghampiri Kinar, yang sepertinya belum menyadari keberadaannya.


"Hei, sayang kenapa?" tanyanya, sembari menarik dagu Kinar dengan tangan kanannya.


"El?"


"Kenapa nangis, ada yang sakit, apa lukanya terasa lagi?" El memberondong berbagai pertanyaan pada Kinar, yang kini tengah menatap nya penuh kerinduan.


"S-sayang?" El menahan tubuh Kinar yang hendak memeluknya, yang membuat Kinar memalingkan wajah semakin sedih, sekaligus merasa kesal dengan sikap El.


"Aku mandi dulu bentar ya," ucapnya Lembut, menyimpan ranselnya diatas sofa, lalu bergegas memasuki kamar mandi.


Didalam kamar mandi El segera menyelesaikan acara mandinya dengan sangat terburu-buru, bayangan Kinar menangis barusan membuat pikiran nya kini dipenuhi berbagai macam pertanyaan.


Usai mengenakan pakaian tidurnya, El pun bergegas menghampiri Kinar yang kini telah memejamkan mata dengan posisi tidur yang membelakangi nya.


Lama El memandangi punggung Kinar, yang bergerak halus, yang menandakan bahwa Kinar telah tertidur, Cape karena sudah menangis mungkin! pikirnya.


Karena malam sudah semakin larut, El pun tak kuat lagi menahan perih di matanya rasa lelah setelah bekerja dari pulang sekolah hingga malam, membuatnya merasakan kantuk yang teramat kuat.


"Selamat tidur sayang, mimpi indah ya, maafin aku!" ucapnya dengan suara lirih, sebelum ia benar-benar terhanyut dalam mimpinya sendiri.


Kinar yang sejak tadi pura-pura tidurpun, membalikkan badannya, menatap El yang kini sudah tertidur nyenyak.


Tangannya terulur mengusap poni El yang sudah mulai panjang dan hampir menutupi matanya, seketika perasaan sedih mulai kembali menerpa hatinya, terlebih saat mengingat kata maaf yang diucapkan El barusan.


Pikiran nya kini sudah berkecamuk memikirkan arti dari kata Maaf El untuknya.


Seperti biasa, pagi ini El sudah rapih dengan seragam sekolahnya, dan sudah selesai sarapan.


"Hati-hati dirumah, aku berangkat dulu, jangan lupa makan dan minum obat ya!" El menge cup keningnya sekilas, kemudian melangkah pergi meninggalkan Kinar yang enggan membuka suara atau sekedar menjawab ucapannya.


Setelah kepergian El, Air mata Kinar kembali berjatuhan, sembari memegang dadanya yang mendadak terasa sesak, saat merasakan sikap El yang terasa semakin dingin terhadapnya.


Bahkan pagi ini El tidak bertanya yang menyebabkan ia menangis tadi malam.


.


.

__ADS_1


__ADS_2