Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Kesedihan El


__ADS_3

Didepan ruang IGD El menunggu dengan harap-harap cemas, dan sesekali melirik pintu dimana ada Kinar didalam nya, yang kini tak kunjung terbuka.


El meremas jari jemarinya, lalu menghembuskan nafasnya kasar, dan mulutnya tak berhenti merapalkan doa agar Kinar dalam keadaan baik-baik saja.


Begitupun dengan mang Wawan, ia terus berdoa dalam hati untuk keselamatan dan kebaikan majikan mudanya tersebut, dan sesekali menenangkan El yang terlihat sangat frustasi.


Satu jam kemudian pintu ruangan tersebut terbuka, menampilkan sosok seorang laki-laki paruh baya yang bersetelan jas putih keluar seperti sedang mencari seseorang.


"Adakah keluarga pasien disini?" ujarnya.


"Saya Dok_" ujar Hardi.


"Saya kakeknya Dok!" timpal Adiguna, berjalan menghampiri sang Dokter.


"Saya suaminya Dok," ujar El, menyela ditengah-tengah kedua laki-laki yang sudah berumur tersebut.


Untuk sesaat Dokter pun terdiam, hingga ucapan El selanjutnya membuat sang Dokter Kembali tersadar dari lamunannya, dan kembali dengan ekpresi seriusnya.


"B-bagaimana keadaan istri saya Dok, dia baik-baik aja kan?" lanjut El dengan suara bergetar, dan tanpa sadar menggenggam tangannya.


"Silahkan ikut keruangan saya!" balas Dokter tersebut, sembari berjalan terlebih dahulu, yang kemudian diikuti oleh El dibelakang nya.


Setelah sampai di ruangannya Dokter itu pun bergegas mempersilahkan El untuk duduk dihadapannya.


"Jadi begini mas, istri Anda mengalami benturan yang cukup keras di bagian kepalanya, dan mengakibatkan ia kehilangan banyak sekali darah."


Deg!


"Tapi beruntung kami memiliki persediaan darah dengan golongan yang sama, akan tetapi saat ini istri anda mengalami koma."


Deg!


Bagai di sambar petir di siang bolong, saat El mendengar pernyataan dari sang Dokter mengenai keadaan istrinya saat ini, hatinya terasa sesak dan berdenyut nyeri.


"Mohon bersabar, dan bantu doa untuk kesembuhan istri Anda ya." lanjut Dokter tersebut, Seraya tersenyum ramah.


"A-apa Dok koma, bagaimana bisa Dok?" ujar El kemudian, masih enggan mempercayai ucapan Dokter, bahkan kedua bola matanya kini sudah mulai berkaca-kaca.


Dokter pun menjelaskan keseluruhan penyebab koma yang dialami oleh Kinar.


.... ....


"Den, bagaimana keadaan non Kinar, apa katanya den?" ujar mang Wawan saat melihat El baru saja keluar dari ruangan sang Dokter.

__ADS_1


"Iya bagaimana keadaan Kinar dek?'' ujar 2 lelaki tua yang juga tengah berlari kecil menghampirinya.


El tak menjawab ketiganya, justru ia berjalan gontai menuju kursi besi yang berada di depan ruang IGD, dengan kedua pipi yang telah basah.


Meletakkan wajahnya diatas lutut dan mulai terisak, kini ia dipenuhi rasa penyesalan yang sangat dalam, karena telah membiarkan Kinar keluar tadi siang.


Hingga kedatangan Nada, Ando, dan juga Oma Sarah membuat perasaan El semakin di penuhi dengan ketidak berdayaan.


"Gimana keadaan Kinar El,?" ujar Nada sembari menarik El kedalam pelukannya, untuk sedikit menenangkan putra sulungnya yang terlihat sangat kacau dan tak berdaya itu.


"Kinar bun!" El menyembunyikan wajahnya dipelukan Nada, dan menumpahkan tangisnya disana.


"Ssshhh, Kinar kenapa El?'' ujar Nada Lembut.


"Kinar koma bun." balas El semakin terisak, dan suasana pun mendadak berubah menjadi tegang.


"Bunda tahu dari mana El ada disini?" ujar El yang masih berada didalam pelukan sang bunda.


"Tadi bunda dihubungi mang Wawan nak!"


"Perasaan baru tadi Oma pergi berdua dengan Kinar, tertawa lepas, makan bareng sama dia." ujar Oma yang duduk disamping Nada, sembari mengusap sudut matanya yang berair.


"Terus Kita udah boleh jenguk Kinar belum sekarang?" lanjut Oma.


"Kinar masih dalam pemeriksaan Oma!" balas El yang masih enggan untuk beranjak dari pelukan sang bunda.


El berusaha menguatkan hatinya, setelah mendapat izin dari Dokter yang menangani Kinar, untuk memasuki ruang ICU.


El membuka dan menutup kembali pintunya dengan sangat pelan dan perlahan, dan detik kemudian tubuhnya semakin terasa lemas, kala melihat tubuh sang istri yang teramat dicintainya itu sedang terbaring lemah diatas kasur pasien, dengan beberapa alat medis yang menempel ditubuhnya.


El menyeret langkah demi langkahnya untuk menghampiri Kinar, lalu duduk di sampingnya, dan seketika tangis El pecah, tak tertahan.


Ia mengambil sebelah tangan Kinar yang tidak tertempel jarum infus, meletakkan nya di pipinya, lalu ia memejamkan mata berharap bahwa ini hanyalah sebuah mimpi.


Namun saat ia kembali membuka mata, keadaannya masih tetap sama, Kinar masih di posisi semula dalam keadaan tidur, dan tak bergerak.


"Kenapa sayang, kenapa harus kamu yang ngalamin kaya gini, kenapa nggak aku aja yang, bangun sayang, aku tahu kamu cewek yang kuat, tolong bangun!" ujar El, dengan diiringi tangisnya yang semakin kuat.


"Aku nggak bisa lanjutin hidup tanpa kamu yang, aku nggak akan sanggup!"


"Aku kangen semua tentang kamu sayang!"


"Apa artinya aku tanpa kamu."

__ADS_1


Dan menit berikutnya, El merebahkan kepalanya disamping Kinar, dengan posisi duduk.


.... ....


"Pak Adiguna?" ujar AndoAndo menghampiri nya, setelah berusaha menenangkan Nada dan juga Oma Sarah yang tak berhenti menangis setelah kepergian El yang memasuki ruang ICU untuk melihat keadaan Kinar.


"Eh P-pak Ando?" balas Adiguna, dengan raut wajah terkejut.


"Bapak sedang apa disini?" tanya Ando basa-basi, padahal ia sebenarnya sudah tahu yang membuat Adiguna berada disana, karena mang Wawan sudah menceritakan semuanya.


"S-saya, sedang menunggu giliran untuk menemui cucu saya di ruang ICU, pak Ando sendiri.?"


"Saya juga disini sedang menjenguk Kinar, menantu saya!"


Deg!


"M-menantu?"


"Betul pak, Kinar itu menantu saya, istri dari El, putra sulung saya, kabarnya tadi siang dia mengalami kecelakaan, karena telah menyelamatkan seseorang."


Deg!


Nafas Adiguna mendadak tercekat, sama sekali tak menyangka jika cucu Satu-satunya itu telah menikah, dan menjadi menantu dari keluarga terpandang dan pebisnis hebat seperti Ando, yang tak lain adalah rekan bisnisnya yang sudah beberapa bulan ini menjalin kerja sama dengan perusahaan miliknya.


"B-benarkah pak Ando, sudah berapa lama Kinar menikah?" ujarnya dengan suara bergetar.


"Mungkin sudah mau tiga bulan ini, ya setelah ibunya meninggal beberapa hari." balasnya tenang, sedangkan Hardi yang berada disamping Adiguna pun mendengar sangat jelas obrolan keduanya.


Deg!


Adiguna menatapnya dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Anak saya sangat mencintai Kinar pak, dan saya yakin saat ini dialah yang paling merasa terpukul dengan kejadian ini."


Deg!


"Saya juga ikut sedih, karena yang saya dengar dari mertua saya, dari kecil gadis itu sudah sangat menderita, dibuang oleh keluarga ayahnya sejak lahir, lalu hidup berdua dengan ibunya, dan 3 bulan yang lalu dia kehilangan ibunya, karena sakit yang dideritanya sangat parah, dan akhirnya tidak tertolong."


Deg!


Adiguna sudah tidak sanggup lagi mendengar semua cerita Ando tentang Kinar, hatinya kini merasa tertusuk ribuan belati yang menusuknya berulang-ulang.


.

__ADS_1


Sedangkan ditempat lain seorang gadis memasuki rumahnya dengan raut wajah ketakutan.


.


__ADS_2