
"Saya rasa urusan kita sudah selesai yah, apalagi yang ingin Ayah tuntut dari saya, bukankah selama 18 tahun ini saya sudah mengikuti semua kemauan ayah tanpa terkecuali, ingat yah, 18 tahun itu bukan waktu yang sebentar bagi saya, yang harus menyimpan sendiri kepahitan yang saya alami, dan ayah tidak akan tahu rasanya." ujar Surya, saat Adiguna baru saja masuk kedalam ruangan kecil yang ia anggap kantor barunya itu.
Dan untuk beberapa saat Surya memijat dahinya yang terasa berdenyut, ia merasa bingung dengan Adiguna yang telah begitu mudahnya menemukan dirinya di tempat yang sekarang sudah ia tempati beberapa bulan terakhir ini.
"Kembalilah kerumah, urus dan ambil bagianmu." ujarnya dengan raut wajah datar tanpa ekpresi.
"Ck, maaf yah, saya tidak bisa, saya akan tetap disini, karena ini hidup saya yang sekarang, tolonglah mengerti!" ujar Surya dengan nada memohon.
Adiguna menghela nafasnya dengan kasar, matanya menerawang jauh, dengan tangan yang berpegangan pada sudut jendela yang berada diruangan itu, ingatan nya kembali pada saat dimana waktu pertama kali ia melihat bayi mungil yang kini telah menjelma menjadi sosok Kinar gadis cantik yang kini telah bersuami itu.
Ahh rasanya ia seperti kehilangan momen berharga, yang seharusnya ia lewati bersama cucu Satu-satunya itu, tapi semuanya sudah terlambat, dan kini ia hanya bisa menyesalinya.
Di usianya yang kini semakin beranjak tua, Adiguna semakin berpikir, bahwa sampai saat ini ternyata ia belum menemukan kehangatan keluarga yang sesungguhnya.
Dirinya yang menjadi seorang ayah pemaksa untuk hidup anaknya, tanpa sadar telah membuat kehidupan anaknya hancur sampai akhir.
Bahkan seluruh harta kekayaan yang ia miliki saat ini sama sekali tak memiliki arti apa-apa, semuanya terasa hambar, berganti dengan rasa sesal yang tiada habisnya.
"Apakah Ayah masih memiliki kesempatan untuk berubah Sur?" ujarnya tanpa mengalihkan tatapannya dari jendela.
Surya memandangi punggung sang ayah yang posisinya membelakangi dirinya itu dengan dahi berlipat, apakah ia tidak salah dengar? pikirnya.
"Ayah sudah bertemu Kinar, cucu ayah!"
"Tapi sampai sekarang ayah sama sekali tidak memiliki cukup keberanian untuk lebih dekat dengannya, karena ayah merasa diri ayah ini terlalu hina untuk dia, ayah merasa ayah bukanlah sosok kakek yang pantas menjadi panutan untuk cucu ayah, ayah terlalu buruk Sur." ujarnya, terlihat punggung nya bergetar, apakah ayah menangis? Lagi-lagi sebuah pertanyaan muncul di benak Surya.
Sikap Adiguna kali ini benar-benar diluar dugaannya, tak menyangka jika hati ayahnya yang sekeras batu itu, pada akhirnya dapat melunak juga.
"Yah..sudahlah, Surya yakin Kinar bukanlah seorang gadis pendendam." ujar Surya menenangkan.
"Kalau ayah mau, bagaimana kalau hari ini kita berkunjung ke rumahnya." tawar Surya.
"Tapi_"
"Kalau kita terus menjauh seperti ini, bagaimana bisa Kinar merasa dekat dengan kita yah,"
Adiguna terdiam sejenak, menimbang-nimbang ajakan Surya, sebelum kemudian mengangguk mengiyakan.
***********
"Ayah, K-kakek!" ujar Kinar dengan suara tercekat, saat melihat siapa yang bertamu ke rumahnya pagi ini.
"Maaf kalau kedatangan ayah kesini sangat mendadak nak!" ujar Surya, dengan tatapan penuh kerinduan.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan mu?"
Kinar mengangguk kecil, kemudian mengulurkan tangan untuk menyalami keduanya.
"Masuk yah, kek!" ujarnya mempersilahkan kedua orang penting sekaligus terasa asing itu, lalu memimpin langkah agar keduanya mengikuti Kinar menuju ruang tamu, dan mempersilahkannya untuk duduk diatas sofa.
"Kakek sama ayah mau minum apa?" tanyanya, dengan suara yang terdengar senormal mungkin.
"Tidak usah Repot-repot nak," balas Surya.
"Tidak apa-apa yah, kopi atau teh, atau yang_"
"Air putih saja." kali ini Adiguna yang menjawab, membuat Kinar mengangguk lalu berjalan ke belakang untuk mengambil 2 gelas air putih dan beberapa cemilan ringan.
Hening...
Keduanya terdiam dengan pikiran nya masing-masing, begitupun dengan Kinar, yang sejak tadi hanya memilin ujung kaosnya, karena canggung, sekaligus bingung harus mengatakan apa.
"Untuk resepsi pernikahan, Kinar mau menggunakan tema yang seperti apa?" ujar Surya angkat bicara.
"Eh?"
"Katakan saja nak, apapun dan berapapun budget yang harus dikeluarkan, kakek sama sekali tidak masalah." timpal Adiguna.
*************
Di tempat lain, Nada tak henti-hentinya, meminta pendapat Ando untuk membantu memilihkan tenda pelaminan untuk acara resepsi pernikahan El, yang akan digelar 2 minggu lagi, tepatnya 3hari setelah kelulusan sekolah El.
"Ihs abang, coba deh bagusan yang mana,?" Nada menunjukkan beberapa foto tenda pelaminan pada Ando, dengan model yang berbeda-beda.
"Warna gold kombinasi putih terang, bagus kayaknya!"
"Kok putih sama gold sih, nggak pink putih aja gitu!" protes Nada.
"Tuh kan, dari tadi minta pendapat aku terus, giliran ngasih pilihan salah lagi," ujar Ando, seraya menggeleng.
"Ihs yaudah deh nggak jadi minta pendapat abang deh!"
"Gue duluannn..!"
"Gue duluaann..!"
Terdengar kegaduhan dari dua anak kembarnya yang tak lain adalah Satya dan Satria.
__ADS_1
"Ini ada apaan sih, Satria Satya?" Nada sudah berkacak pinggang diambang pintu, menatap kesal kearah kedua putra kembarnya yang sama sekali belum menyadari keberadaannya.
"Gue kan tadi yang ambil duluan, bukan salah gue dong kalau gue yang pake."
"Tapi kan minggu kemarin elo udah pake, sekarang giliran gue dong!" protes Satya.
"Kalian bisa diem nggak sih?"
"Nggak!"
"Eh, B-bunda?" ujar keduanya tergagap, saat melihat tatapan dari bundanya yang seperti ingin menenggelamkannya ke dasar laut, dan sontak Satria pun menyembunyikan benda yang sejak tadi menjadi rebutan itu, kebelakang tubuhnya.
"Kalian ini memprebutkan apa sih, bisa nggak sih sehari aja nggak bikin gaduh, bunda pusing ini dengernya."
"Tahu tuh abang bun, masa cela na da lam aja direbutin, emang nggak ada yang lain apa?" sahut Cantika, yang sejak tadi memang berada dikamar Satya, duduk diatas sofa dipojok kamar, menyaksikan tingkah absurd kedua sang kakak.
Nada menghela nafas, kembali menatap keduanya "Benar begitu Satria, Satya?"
"Ummz_"
"Benar begitu?" ulang Nada dengan suara yang berubah meninggi.
"I-iya bun!'' jawab keduanya dengan wajah yang tertunduk.
sementara Nada kini menghampiri keduanya dengan perasaan geram.
"Memangnya nggak ada yang lain, sampai satu celana aja jadi rebutan, bukannya 1 bulan yang lalu Bunda sudah membelikan banyak celana untuk kalian, kemana semua itu, kalian bagikan ke Teman-teman kalian?"
"Eh nggak, b-bukan bun,!" sahut Satria.
"Terus?"
"Yang ini beda aja bun!"
"Beda gimana?"
Keduanya pun hanya bisa saling pandang, dan Berbisik-bisik, hingga membuat nada merasa semakin kesal dibuatnya.
Dan dengan satu kali tarikan Nada berhasil merebut celana yang berada dibelakang Satria, namun saat ia melihat bentuk celana itu kedua matanya melotot tak percaya.
Kembali menatap keduanya dengan ekpresi tak terbaca, dari mana anaknya itu mendapatkan celana dengan model tonjolan hidung gajah begini batinnya.
.
__ADS_1
.