
Sinar mentari pagi yang masuk dari celah jendela terasa hangat menusuk indra penglihatan seorang laki-laki muda yang tengah terbaring diatas ranjang, yang memaksanya untuk membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali menyesuaikan penglihatannya yang masih terasa berat dan rapat.
Ia menoleh kesebelahnya dan Tersenyum manis, melihat pemandangan yang baginya begitu indah, dan tiada duanya.
Diliriknya kembali kekasih tercintanya Prisa Kinara Prameswari yang masih tertidur lelap menikmati mimpi indahnya.
Lalu tangan nya terulur, menggeser helaian demi helaian rambut yang menutupi wajah menawan istrinya tersebut, ia menatap dalam dengan sorot mata penuh cinta, lalu tiba-tiba ia tercengang dengan nafas tercekat memandangi patung indah, yang dibuat hanya untuk dirinya sendiri itu.
Jari-jari panjang nan kokoh El mengusap lembut kedua kelopak mata milik Kinar yang masih tertutup rapat, 2 bola mata yang selalu memancarkan dengan berbagai bintang didalamnya, yang kini berhasil membuat El terhanyut dalam cahayanya.
Tiba-tiba bayangan indah tadi malam melintas dalam ingatannya, membangunkan kembali gejolak rasa menginginkannya lagi, namun tertahan kala kilasan matanya tak sengaja melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul 7:01 pagi.
Dengan gerakan pelan, Ia pun mulai beranjak menuju kamar mandi, lalu mengenakan seragam sekolahnya secepat kilat.
"K-kenapa?" ucapnya panik, lalu menghampiri istrinya yang meringis beberapa kali, saat hendak menggerakan tubuhnya.
"Sakit!" jawabnya dengan suara lirih, sembari memegangi ujung selimut, untuk menutupi tubuhnya yang masih polos.
"Mau aku gendong?" tawarnya.
"Nggak El, kamu pergi aja, nanti kamu telat lagi kesekolahnya."
"Aku nggak usah masuk aja ya!"
"Ihs apaan sih, nggak-nggak, pokoknya kamu harus tetep masuk sekolah, saya nggak mau punya suami yang suka bolos." mendorong pelan tubuh El yang sedang memegangi bahunya.
"Ok, aku pergi, tapi kamu jangan kerja ya, entar aku yang cari alesan ke bu Sandra."
"T-tapi El?"
"Mending aku yang bolos, apa kamu yang bolos?"
"Ck, iya!"
"Gitu dong, nurut sama suami." El tersenyum puas.
"Yaudah, aku pergi dulu, hubungi aku kalau kenapa-kenapa." ucapnya, lalu mencium keningnya lama.
"Baik-baik ya, aku pergi dulu!" mengusap kepala Kinar lembut.
Setelah kepergian El, Kinar kembali mendadak berdebar, dengan wajah merona, mengingat kegiatan tadi malam, juga kejutan yang diberikan El pagi ini.
Rasanya Ia seperti bermimpi dalam tidur panjangnya, saking tidak percayanya pada perubahan sikap El dalam waktu kurang dari 1x24 jam saja.
Setelah bergelut dengan pikirannya, Kinarpun beranjak memaksakan diri memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah membersihkan tubuhnya, Kinarpun mulai memasak, lalu bergegas untuk sarapan.
..
__ADS_1
Didalam rumah yang lumayan luas itu, Kinar kebingungan harus melakukan apa, pasalnya keadaan rumahpun masih sangat bersih dan rapih.
Yang ia butuhkan saat ini adalah teman mengobrol, untuk saling bertukar cerita.
Namun mengingat tak ada siapapun, Kinar pun memilih untuk kembali merebahkan tubuh dikamarnya.
Ia sempat melirik ponselnya yang tergeletak diatas nakas, yang kemudian berkedip tanda kehabisan daya, yang kini membuat moodnya semakin buruk.
.................
Sedangkan ditempat lain, El merasa gelisah, karena sang istri tak kunjung membalas chatnya, bahkan Ia berulang kali mendapat teguran dari gurunya saat berada dikelas, karena dianggap tidak fokus dan banyak melamun.
Jelang istirahat El pun tak bisa lagi menunda-nunda untuk tidak menemui istrinya, Ia meminta izin untuk pulang, dengan alasan sangat darurat.
Ketika perjalanan pulangpun El mengendarai motornya dengan kecepatan diatas rata-rata, bahkan tak peduli dengan keselamatan nya sendiri, yang Ia pikirkan saat ini adalah, bagaimana keadaan istrinya?
...
Ketika sampai di depan rumahnya, El menjatuhkan motornya begitu saja, bahkan ia sama sekali tak memperdulikan pintu gerbang rumahnya yang masih terbuka lebar, segera berlari menuju kamar nya, lalu mengguncang tubuh Kinar yang sedang terlelap tidur.
"Yaampun El!" ucap Kinar dengan kepala pening karena dikagetkan disaat baru saja terlelap tidur.
"Kamu nggak apa-apa kan sayang?" ucapnya sembari memeluk erat tubuh Kinar.
Sayang? apa lagi ini, batin Kinar semakin dibuat bingung.
"Kamu kok udah pulang sih El, ini kan baru jam 10 pagi?" tanyanya heran.
"Buat apa?"
"Aku takut kamu kenapa-kenapa, abisnya aku chat kamu nggak ada balasannya sama sekali!" membuat Kinar menepuk jidatnya frustasi.
"Iya maaf El, aku lupa ponselnya belum sempat di charger tadi, tapi kamu nggak harus izin juga kali El!" ucap Kinar dengan wajah kesal.
"Masih sakit?" tanyanya, tanpa menghiraukan ucapan Kinar yang lain.
"U-udah nggak."
"Maaf buat yang semalem ya, aku janji selanjutnya nggak akan sesakit itu kok!" ucapnya seraya tersenyum tipis.
"Ihs ngomong apaan deh!" balas Kinar dengan wajah yang mulai berubah merona.
"Kenapa?" lanjutnya, sembari menggenggam tangan Kinar, dan menciumi jemarinya Satu persatu.
"El?"
"Aku cinta kamu Nar, banget!" sambungnya, seraya mencium jemarinya sekali lagi.
"K-kamu ng-ngomong apaan sih!" ucap Kinar yang semakin gugup.
__ADS_1
El sedikit mencondongkan wajahnya, kemudian mengarahkan telapak tangan Kinar keatas dadanya,
"Kamu bisa ngerasain kan, bahwa ada yang nggak beres, didalam sini, jantung aku suka nggak karuan kalau deket kamu Nar." ujar El dengan raut wajah serius, namun terkesan tenang.
"Aku sayang kamu Nar, sayang banget!"
"El?"
"Kenapa hm.?" tanyanya seraya tersenyum geli.
"Kamu serius?"
"Hah? jadi kamu pikir aku bohong?"
"M-maksud sa_ hmmppp"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, El pun terlebih dahulu membungkam bibir Kinar dengan bibir miliknya, menghujaninya dengan ciuman lembut dan menuntut.
"Masih belum percaya hm?" tanyanya, sembari mengelus pipi putih itu menggunakan punggung tangannya.
"S-saya_"
"Kamu sayang nggak sama aku?" ucapnya seraya mengangkat dagu Kinar agar menatap kearahnya.
"S-saya."
"Jangan tinggalin aku Nar, aku udah titipin seluruh hati aku ke kamu, cuma buat kamu!" lanjutnya, dan kembali memeluk tubuh Kinar erat.
Sedangkan Kinar ditengah keterkejutannya yang menumpuk, hanya bisa diam, tidak tahu harus bagaimana, baginya semua ini terlalu mendadak dan terkesan terburu-buru.
Hening..
Keduanya pun berbaring, sembari menatap langit-langit kamar, tenggelam dengan pikirannya masing-masing.
"El?"
"Apa sayang?"
Deg!
"K-kenapa kamu ubah panggilan kamu ke saya?"
"Maksudnya?"
"M-maksud saya kenapa sekarang, jadi aku-kamu.?" ucapnya, yang membuat El terkekeh geli.
El pun kembali merangkul tubuh Kinar, dan menariknya kedalam pelukannya.
"Satria bilang, kalau ke pacar itu lebih asik kalau manggilnya aku-kamu, dan ternyata omongan tu bocah ada benernya juga, apa lagi kita suami istri, lebih romantis nggak sih?" El menggesekan ujung hidungnya mengenai pipi Kinar, yang seketika menciptakan kembali gelenyar asing dalam dirinya.
__ADS_1
.
.